Chapter 88

1123 Kata

Ketika Fatir menggangkat bahu sebagai jawaban bahwa dirinya tidak yakin, Aldi kemudian beralih kepada Ale. “Dosen FPIK yang temen bokap lu itu punya jabatan di Rektorat, nggak?” Ale menggeleng. Aldi mengembuskan napas dengan kasar. “Angel (susah). Mikirin ginian sekarang cuman bikin puyeng. Mending, kita cari cara buat konfrontasi si b******n pea yang satu itu. Gatel juga gue.” “Orangnya jauh, Aldi,” timpal Galih yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik sang sahabat. “Kalau deket mah kita kagak bakal ngejogrog di sini. Udah kita samperin itu bocah.” Aldi menggaruk-garuk kepalanya meski tidak gatal. Sungguh. Permasalahan ini begitu pelik. Satu-satunya hal yang dia syukuri adalah kenyataan bahwa Ilham belum menyebarkan foto tersebut kepada teman-temannya di jurusan. Atau bahkan di inte

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN