Entah kenapa, hal itu membuat dirinya senang bukan main. Seolah mendapat legitimasi dari penekanan pada kata kata tersebut. Statusnya sebagai pacar seorang Rita memang membutuhkan legitimasi dalam bentuk apa pun. Dia sangat mencintai Rita, sehingga rasanya seluruh dunia harus tahu bahwa mereka berpacaran. “Lebay banget, deh. Gue juga tahu lo pacar gue. Tapi, bukan berarti lo bisa seenak jidat ngabisin makanan gue. Kecuali gue yang nyuruh.” “Ya udah, gue ganti. Lo tunggu sini.” Galih beranjak, berniat masuk ke dalam Indojuni untuk membeli minuman serupa. Akan tetapi, lengannya ditahan oleh sang pacar. “Nggak usah, Ga. Gue nggak beneran kesal, kok.” Galih tersenyum simpul. Dia tahu sejak awal bahwa Rita tidak benar benar kesal karena minumannya dihabiskan. Bahkan yang sudah sudah pun s

