Kasus Spesial
POV Bima
Hidup adalah pilihan. Apa yang menurutku menyenangkan, itulah yang akan kulakukan. Seperti dua hal dalam hidupku. Yang pertama studio kayu, yang kedua stalkerdotcom. Dua bisnis yang kujalankan bersama orang-orang pilihan. Namun, tahukah kamu, bahwa salah satunya adalah bisnis rahasia?
Ya. Stalkerdotcom, begitu aku menamainya. Itu adalah bisnis rahasia yang kusembunyikan di balik studio kayu. Dari luar, orang hanya tahu kalau tempatku memproduksi barang-barang furnitur dengan desain unik, multifungsi dan portabel. Tapi jika masuk ke dalamnya, mereka akan tahu kalau di sana ada kantor detektif. Tempat untuk menjalankan bisnis sampingan yang tidak diketahui banyak orang. Dan kali ini, stalkerdotcom mendapat misi baru dari akun email bernama Venus.
“Venus? Venus?!” ulangku sembari memelototi layar komputer. Nama itu sungguh tidak asing. Sekali lihat, pikiranku langsung tertuju pada Venus yang kukenal. Karena penasaran, untuk memastikan kebenaran dugaanku, aku lantas mengklik email masuk itu untuk melihat pesan yang ada di dalamnya. Begitu dibaca, ternyata benar bahwa itu adalah Venus yang kukenal. Aku lalu termenung setelah membaca isi email itu. Setelah mencermati semua informasi yang diberikan, dengan berat hati, aku lalu memanggil Sagi ke ruang kerjaku.
Tak berapa lama, Sagi datang. Cewek berambut ekor kuda itu masih mengenakan apronnya saat datang kemari. Bahkan, satu tangannya masih memegangi alat pengukir kayu. Begitulah Sagi. Kalau sedang asyik dengan apa yang dikerjakannya, ia tak mau melepas benda itu walau sesaat.
“Ada apa, Pak Bos?” tanya Sagi saat memasuki ruanganku.
“Duduk dulu, nanti aku jelasin!” pintaku sambil mempersiapkan laptop untuk dibawa ke hadapan Sagi.
“Lama ya? Studio kita lagi sibuk sekarang. Banyak pesanan yang harus segera dikirim,” katanya lagi. Sagi terlihat enggan untuk membuang waktunya di sini.
Memang, satu bulan ini studio kayu kami sedang sibuk-sibuknya. Kami mendapat orderan dari pelanggan dalam maupun luar negeri. Kami juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan mebel skala besar. Jadi, setiap harinya semua pegawai di sini harus berpacu dengan waktu. Bahkan, Sagi sampai turun tangan untuk membuat furnitur. Padahal biasanya ia hanya mendesain saja.
“Sebentar,” aku meyakinkan. “Duduklah!” pintaku sekali lagi.
Lantas Sagi duduk di sofa. Disusul aku yang membawa laptop untuk menunjukkan sesuatu.
“Cepat, cepat! Aku sibuk sekarang!” Sagi tidak sabar. Ia ingin aku mempercepat pertemuan kali itu.
“Lupakan sejenak tentang studio kayu! Aku punya kasus spesial yang harus dibahas,” kataku.
Otomatis Sagi mengkerutkan kening. “Kasus spesial? Sekarang?” tanyanya.
“Iya, sekarang. Ini penting!” kataku lagi.
Sedikit menimbang, Sagi pun akhirnya merelakan sebagian waktunya untuk mendengarkan penjelasan tentang kasus yang akan kuberikan. “Oke deh, aku ngalah. Kasus apa kali ini?” tanyanya kemudian. Ia lantas meletakkan alat pengukir kayunya di meja.
“Kali ini kasus dugaan perselingkuhan,” jawabku mantap. Tapi Sagi terlihat menghela napas begitu mendengar kalimat itu. Raut wajahnya berubah tak senang. Dia pun protes padaku.
“Dari sekian banyak kasus, kasus semacam itulah yang paling aku gak suka,” kata Sagi. “Kasih ke Kevin aja!” sarannya kemudian. Nada bicaranya mulai terdengar sinis. Membuatku tidak mengerti kenapa suasana hatinya bisa berubah secepat itu hanya karena mendengar kata perselingkuhan.
Namun, di sisi lain aku juga sudah menduga bahwa Sagi akan menolak kasus ini mentah-mentah. Ia tak akan mau menyelidiki kasus berbau perselingkuhan, dan berakhir dengan melemparkan tugas tersebut kepada rekannya. Meski begitu, aku tetap berupaya supaya Sagi mau menerima kasus ini.
“Sagi, jangan hanya karena kamu pernah diselingkuhi, lantas bikin kamu jadi gak suka sama kasus-kasus perselingkuhan. Tolong pisahkan antara pekerjaan dan perasaan pribadi!” jelasku memberi nasihat. Tapi Sagi menanggapi lain nasihat itu.
“Bima, tolong dipahami! Ini gak ada kaitannya sama pengalaman pribadi. Aku hanya gak suka sama kasus receh yang gitu-gitu aja. Aku butuh kasus yang lebih menantang,” balas Sagi dengan serius. “Udah, suruh Kevin aja yang selidiki!” terusnya setengah memaksa.
“Tapi aku maunya kamu yang selidiki kasus ini,” ungkapku tegas. Membuat pandangan Sagi bergerak secepat sinar laser. Sagi menatapku tajam sekarang.
“Kenapa aku? Kamu kan tau aku gak tertarik sama kasus begituan. Kenapa harus aku, sih?” tanya Sagi heran sekaligus kesal.
“Karena kasus ini spesial. Kamu tau di mana spesialnya? Itu ada di klien dan targetnya.”
Mendengar itu, tatapan Sagi berubah menjadi tatapan curiga. “Memangnya, siapa mereka?” tanyanya kemudian.
“Lihat ini!” Tanpa basa-basi, aku langsung memutar posisi laptop ke arah Sagi. Aku menunjukkan foto seseorang yang sangat kami kenal. Tentu saja, hal itu membuat Sagi sangat terkejut begitu melihatnya.
“Ini ... Leo?!” ucap Sagi yang tak lepas memandangi foto itu. Ekspresinya persis seperti melihat penampakan hantu yang membuatnya tak bisa bergerak.
“Benar,” jawabku singkat.
“Dia target atau kliennya?” Sagi mulai penasaran.
“Itu foto yang dikirimkan klien. Jadi tentu dia adalah targetnya,” jawabku pasti.
Seketika pandangan Sagi beralih lagi kepadaku. “Jadi maksudmu, Leo selingkuh?” tak yakin, Sagi mempertanyakannya.
Lalu dengan santai, aku pun menjawab. “Itu baru dugaan. Klien meminta kita untuk menyelidikinya.”
“Siapa kliennya?”
“Aku yakin kamu sudah bisa menebaknya. Tapi lebih baik, kamu lihat sendiri nama pengirim email itu,” saranku. Sagi pun bergegas memeriksanya.
“Venus?” ucapnya membaca nama si pengirim email. Lagi-lagi Sagi dibuat terkejut saat tahu bahwa klien itu adalah orang yang ia kenal. Dia adalah kakaknya sendiri.
Ya. Venus adalah kakaknya Sagi. Dan Leo adalah suami Venus. Jadi dengan kata lain, Leo adalah kakak ipar Sagi. Venus mencurigai Leo selingkuh dengan wanita lain. Dia sampai menyewa detektif untuk menemukan jawaban atas kecurigaannya itu.
“Nggak. Gak mungkin lah! Leo gak mungkin selingkuh!” sangkal Sagi pada informasi yang diterimanya. Ia tetap meyakini bahwa Leo bukan orang seperti itu. Meski status Leo adalah mantan yang berubah jadi kakak ipar, Sagi tetap mempercayainya sebagai orang baik-baik. Itu sebabnya, dia terlihat lebih membela Leo daripada terpengaruh kabar yang ia lihat.
“Jadi kamu lebih percaya Leo daripada kakakmu?”
Sagi terdiam.
“Gak ada yang gak mungkin di dunia ini. Jika ingin tahu lebih jelas, maka kita harus menyelidikinya,” terusku. Mencoba membuka jalan pikiran Sagi.
Sagi masih terdiam. Ia tetap membisu di tempat duduknya, sembari menatap layar laptop. Lalu tiba-tiba, Sagi mengusulkan sesuatu. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku duga. “Gak bisakah kasus itu ditolak aja?”
“Ditolak? Kenapa?”
“Aku gak mau ikut campur urusan rumah tangga mereka,” jawab Sagi memberi alasan. Membuatku tak tinggal diam ketika mendengar alasan tersebut.
“Sagi, tolong dibedakan! Dalam kasus ini, kita tidak sedang ikut campur urusan rumah tangga orang. Mereka bahkan gak tahu kalau kita agen mata-mata. Kita hanya disewa untuk membantu urusan klien. Ini adalah bentuk profesionalitas dalam bekerja,” jelasku panjang lebar. Aku berusaha meyakinkan Sagi supaya mau terlibat dalam penyelidikan kasus itu.
Lalu entah dari mana datangnya, kalimat itu pun muncul di kepala Sagi. Dan ia tak segan untuk mengungkapkannya padaku. “Kenapa kamu tertarik banget sama kasus ini? Kamu ... lagi nyari celah buat kembali ke Venus?” tanyanya saat itu.
Sontak aku terdiam. Aku sungguh tak menyangka bahwa Sagi akan berpikir seperti itu. Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku punya alasan khusus, tapi aku tak bisa memberitahunya. Tak dapat mengatakan sesuatu, aku pun memilih untuk menunduk. Aku tak berani lagi menatap mata Sagi yang kini mulai terbawa perasaan. Terbawa emosi sesaatnya.
“Setidaknya, pertimbangkanlah gimana perasaan aku saat harus menerima tugas itu,” ungkap Sagi kemudian. “Aku ... aku gak peduli kamu mau balik lagi ke Venus atau enggak. Tapi tolong, jangan libatkan aku dalam kasus ini! Selidiki sendiri kalau gak mau Kevin yang mengurusnya!” kata Sagi. Lalu ia pergi meninggalkan ruanganku. Suasana hatinya mendadak tidak baik sekarang. Seperti ada yang mengganjal di benak terdalamnya. Dan aku paham, itu membuatnya tidak nyaman. Tapi, haruskah kutolak kasus ini sesuai permintaan Sagi? Demi menjaga perasaan Sagi?
(*)