POV Bima
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru studio kayu. Namun, sosok yang kucari tak kutemukan keberadaannya. Aku tak melihat Sagi di mana-mana. Lantas, aku bertanya kepada Kevin yang tengah mengamplas meja portabel.
“Sagi ke mana, Vin?” tanyaku masih sembari mencari-cari.
“Oh, Mbak Sagi lagi keluar,” jawab Kevin.
“Bilang mau ke mana gak?” tanyaku lagi.
“Enggak tuh. Tapi, tumben Bos gak tau? Lagi berantem ya?” Kevin mulai kepo.
“Enggak kok.”
“Masa sih? Bohong ya? Mbak Sagi kok mukanya berubah pas balik dari ruangan Bos?” goda Kevin dengan kekepoan yang makin menjadi.
“Berubah gimana?” aku pura-pura tak paham.
“Sebelum dipanggil, Mbak Sagi tuh semangat banget ngerjain lampu hias itu,” jelas Kevin sembari menunjuk pada sebuah lampu di atas meja. “Tapi begitu balik, dia jadi murung dan langsung nyuruh aku buat selesaikan sisanya. Udah gitu, dia langsung pergi deh.”
“Berarti perginya udah lama?”
“Ya lumayan. Dua jam setengah, ada kayaknya,” jelas Kevin dengan tingkat keyakinan yang perlu dipertanyakan.
Mendengar itu, aku langsung berpikir. Aku memikirkan ke mana kira-kira Sagi pergi. Dalam situasi seperti ini, aku paham bahwa Sagi butuh waktu untuk sendiri. Tapi dalam situasi ini juga, aku tahu betul Sagi tak pernah meninggalkan studio kayu selama itu. Dia selalu peduli pada bisnisnya, melebihi aku sebagai partnernya. Jadi, ke mana dia pergi kali ini?
“Yee ... si Bos, malah bengong,” komentar Kevin yang lantas memindahkan meja yang baru selesai diamplasnya. “Dicari, Bos. Dicari ...! Nanti hilang diambil orang,” terusnya yang entah bermaksud apa. Memang, Kevin kalau ngomong suka asal ceplos saja kadang-kadang.
“Sagi udah gede, gak bakalan hilang!” komentarku yang langsung pergi. Menuju sebuah tempat.
***
Aku memarkir mobilku tepat di seberang rumah Venus. Dari dalam mobil, kupandangi rumah itu sambil bertanya-tanya apakah penghuninya ada di dalam atau tidak. Aku ingin sekali menemui Venus. Aku ingin melihatnya dan bicara banyak hal. Terutama tentang kasus itu. Kasus dugaan perselingkuhan yang ia tuduhkan kepada suaminya. Namun, aku sadar betul kalau aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak mungkin datang dan tiba-tiba mengatakan kalau aku tahu masalah yang tengah menimpanya. Oleh sebab itu, aku hanya memandangi rumahnya sambil memutar ingatan tentang kisah lalu.
Masih terlintas jelas di ingatanku, saat aku hendak menelepon Venus untuk mengajak bertemu. Namun sebelum aku menekan tombol panggil, panggilan masuk dari Venus sudah lebih dulu nampak di layar ponselku. Ia menelepon dan meminta bertemu. Kami pun bertemu di sebuah cafe.
Saat itu, sebenarnya aku hendak menyatakan cinta kembali. Aku ingin meminta Venus untuk kembali menjadi pacarku. Namun, yang terjadi adalah aku tak sempat mengatakan itu. Aku belum sempat mengutarakan perasaanku. Karena waktu itu, kubiarkan Venus berbicara lebih dulu dan memberiku sesuatu. Venus memberikan kartu undangan pernikahan yang membuatku membeku hingga kehilangan kata-kata. Aku sungguh terkejut saat itu. Aku tak menduga bahwa Venus akan segera menikah.
Setelah pertemuan itu, aku lantas mendatangi Sagi yang tengah lembur di studio kayu. Aku memarahinya karena tak memberitahuku tentang rencana pernikahan Venus. Aku meluapkan kekesalanku, namun Sagi diam saja. Sagi tak menanggapi ocehanku sama sekali. Ia malah asik dengan kayu yang sedang dipahatnya. Hingga akhirnya, aku menggebrak meja dan membuat Sagi menghentikan pahatannya.
“Sagi!” teriakku spontan. Itu adalah ungkapan kekecewaan yang berlipat karena Sagi mengabaikanku.
Sagi lantas menatapku tanpa bicara. Tapi tatapan itu terasa agak aneh bagiku. Tatapan datar tanpa ekspresi.
“Kenapa kamu gak bilang kalau Venus mau menikah?” tanyaku sekali lagi. Mengabaikan raut wajah Sagi.
“Haruskah aku kasih tau?” tanyanya pelan.
“Ya harus lah! Kamu kan tau aku gak bisa move-on dari dia,” kataku.
Sagi tak merespon lagi. Ia membuang pandangannya dariku. Kembali pada karya yang sedang dibuatnya.
“Kalo kamu ngasih tau aku lebih awal, endingnya mungkin gak akan kayak gini. Tadi Venus ngasih aku kartu undangan, dan aku gak bisa berkata-kata. Aku terlalu kaget ketika Venus bilang mau menikah,” terusku.
“Kartu undangan?!” Kali ini Sagi merespon lagi. Tapi sepertinya ia belum tahu tentang kartu undangan itu.
“Iya. Undangan pernikahan. Nih lihat!” Aku lantas mengambil kartu undangan yang kuselipkan di saku jaket dan menunjukkannya kepada Sagi. Sagi pun meraihnya.
“Mereka sudah menentukan tanggalnya? Enggak. Mereka gak boleh menikah!” ucap Sagi berkata sendiri. Sembari memandangi kartu undangan itu.
Lantas, Sagi melepas apronnya dan buru-buru pergi. Meninggalkan studio kayu dengan lagi-lagi mengabaikan keberadaanku.
“Hei, Sagi! Mau ke mana? Aku belum selesai!” ucapku spontan begitu melihatnya pergi tanpa pamit. Aku benar-benar kesal dibuatnya.
Selang beberapa detik, aku menyadari sesuatu. Aku menyadari ada yang salah dengan itu semua. Aku lantas mengambil kembali kartu undangan yang kini tersimpan di meja. Lalu, kutemukan kejanggalan yang ada di sana.
“Leonardo?” bacaku. Membaca sebuah nama yang tertulis di kartu itu.
“Leo?” ucapku yang otomatis teringat pada seseorang yang kukenal.
Saat itulah aku menyadari bahwa calon pasangan Venus adalah Leo, mantan pacar Sagi. Aku memang sudah tahu kalau hubungan Sagi dan Leo berakhir. Aku juga dengar kalau mereka putus karena Leo mau dijodohkan. Tapi aku sungguh tak menyangka kalau yang dijodohkan dengan Leo adalah Venus. Seseorang yang membuatku gagal move-on selama bertahun-tahun. Untuk kesekian kalinya, hatiku patah dan hancur lagi. Aku merasakan sesak yang membuatku tak bisa berucap. Aku merasa lebih lemas lagi sekarang. Setelah tahu kebenaran yang tidak diungkapkan Sagi.
Begitulah aku mengingat kenangan menyedihkan di masa silam. Tak lama setelah itu, aku melihat mobil Leo berhenti di depan rumahnya. Aku melihat Leo turun dan masuk ke rumah itu. Lantas, aku menghidupkan mesin mobilku dan segera berlalu dari tempat itu. Aku memilih pergi untuk kesekian kalinya.
***
Sesampainya di apartemen, aku mendapati kenyataan bahwa Sagi belum pulang. Seluruh lampu dalam keadaan padam, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku lalu berinisiatif meneleponnya. Tapi ponsel Sagi tidak aktif. Entah karena kehabisan baterai, atau memang sengaja mematikan ponsel. Dalam pikiranku, mungkin Sagi masih marah padaku hingga menyebabkan pulang terlambat. Lantas, kulihat jam waktu itu yang tengah menunjukkan pukul sembilan malam.
Untuk sesaat, aku teringat ucapan Kevin tadi sore. Aku teringat ucapannya yang menyuruhku untuk mencari Sagi dan mengatakan sebelum hilang diambil orang. Sontak aku jadi berpikir macam-macam. Bagaimana kalau Sagi diculik, atau kecelakaan di suatu tempat? Tanpa pikir panjang, aku bergegas pergi untuk mencari Sagi. Namun, begitu aku hendak keluar, sudah ada seseorang yang berdiri di balik pintu apartemenku. Kedatangannya membuatku terkejut sampai tubuhku mematung di tempat.
(*)