Bab 34: Masakan Ibu

2018 Kata
Anastasia mengejap-ngejapkan mata berusaha memulihkan kesadaran. Dia yang tidur dalam posisi menyamping itu menjadikan sang duke sebagai pemandangan pertama yang dilihat ketika bangun. Di hadapannya kini sang duke tengah duduk berpangku kaki sembari membolak-balikkan buku. Dia bangkit dan saat itu pula tatapan mereka bertemu. Sang duke menyudahi bacaannya dan meletakkan buku tersebut di atas meja. Tangannya langsung beralih membuka penutup mangkuk yang sudah sejak tadi menunggu untuk diperlihatkan. Dia menyodorkan mangkuk itu disusul alat makan setelahnya. Kemudian dia mendorong tubuhnya agar bisa kembali bersandar di kursi. "Makan malam untukmu." Anastasia mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat isi dari mangkuk yang disodorkan. Dia merasa tidak asing melihat tampilan makanan itu. Ingin mencari tau lebih jauh, dia membawa mangkuk agar mendekat padanya. Makanan itu berupa kuah berwarna merah dengan kacang putih dan sayuran sebagai campurannya. Aroma yang tercium juga sangat tidak asing baginya. "Kau tidak menambahkan sesuatu ke dalam sup ini? Seperti garam untuk mengerjaiku?" Tiba-tiba saja disuguhkan makanan yang tampilannya menggiurkan, tidak mungkin hanya sekedar untuk memuaskan perutnya saja. Pasti ada maksud tersembunyi di baliknya. Apalagi orang yang menyuguhkanya adalah sang duke. "Aku tidak suka bermain-main dengan makanan." Sang duke beranjak dari area duduk, lalu menghampiri lemari pakaian. "Kau bisa meletakkannya kembali jika kau tidak ingin memakannya." Lemari itu dibuka dan dia menimbang-nimbang pakaian mana yang akan dikenakan untuk membuatnya nyaman ketika tidur nanti. Anastasia kembali menatap makanan yang masih bertahan di tangan. Dia mencicipinya sedikit untuk memastikan kalau sang duke tidak berbohong. Sup itu tidak asin dan sebaliknya sangat enak. Mengingatkannya lagi akan rasa sup yang sama persis dengan sup buatan ibunya. Memang dia sudah sejak lama sangat merindukan masakan ibunya. Walaupun masakan koki di Morning Glory sangat enak dengan bahan yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya namun bagi Anastasia sendiri masakan yang paling enak adalah masakan ibunya yang sederhana. Membawa rasa rindu untuk mencicipinya kembali. Terlebih kebersamaan yang menambah cita rasa masakan itu. Asyik menyantap makanan tidak sengaja dia melihat sang duke yang masih sibuk mencari pakaian. Seketika dia bangkit saat teringat akan perlengkapan menulis yang Nollie tinggalkan. Bergegas dia menuju tempat di mana sang duke berdiri sekarang. Memikirkan bagaimana cara untuk mengusir sang duke segera pergi dari sisi lemari pakaian. Sang duke berhenti mencari pakaian gantinya. Dia melirik Anastasia yang berada di sampingnya dengan mangkuk berisi sup yang kini hanya tersisa setengahnya saja. Untuk apa Anastasia menghampirinya? Apa ada sesuatu yang ingin dikatakan padanya? "Apa kau ingin mencicipi sup ini?" Tanya Anastasia memandang penuh harap agar sang duke bisa masuk dalam perangkapnya. Setelah ini dia akan memancing sang duke untuk menyingkir dari sana dan kembali ke area duduk menghabiskan sup bersama. Seperti itu rahasianya akan terjamin aman tanpa diketahui. Ternyata perkiraan sang duke meleset jauh karena rupanya Anastasia berniat untuk menawarkan sup itu. "Tidak. Aku sudah makan malam. Kau bisa menghabiskannya seorang diri." Sang duke kembali sibuk mencari pakaian namun dia masih tetap diliputi kebingungan karena Anastasia masih diam mematung. Tidak menyantap makanan yang seharusnya sangat dirindukan. Kalau Anastasia tau dari siapa makanan itu sudah pasti tidak akan ada percakapan tadi. "Tidakkah kau ingin mengetahui dari mana makanan itu berasal?" "Apa maksudmu?" Untuk apa sang duke menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya? Tentu saja para koki di Morning Glory yang membuatkannya. "Ibumu yang memberikannya padaku. Hari ini aku dan Flint mengunjungi distrik Syringa tanpa sepengetahuanmu. Kalau kau bertanya alasannya, aku tidak ingin kau menguntitiku." Anastasia ingin mendebat namun urung karena memang dia akan menguntiti sang duke jika tau. Melihat bagaimana sup kesukaannya sampai di depan mata, sepertinya tidak ada hal buruk yang terjadi pada keluarganya. Beruntung kata-kata sang duke bisa dipegang kalau tidak, dia tidak akan segan-segan melakukan pemberontakan. Bahkan tidak peduli apakah nyawa akan jadi taruhan detik ini juga. Menggunakan tangan yang kosong dia meraih sehelai pakaian yang menggantung. Pakaian itu diberikan pada sang duke, lalu pintu lemari ditutup. Seperti itu sang duke tidak akan membuatnya risau dengan rahasia yang disembunyikannya di dalam sana. "Kalau begitu sebaiknya kau tidak mencicipi makanan ini." Dia kemudian beranjak ke area duduk. Menyantap sup fasolada itu dengan lahap. Menikmati rasa minyak zaitun yang ikut merayap di lidah. Tidak ingin membaginya pada pria yang selalu membuatnya merasa jengkel. Sang duke mengganti pakaian, lalu beranjak hendak menempati ranjang. Kerutan tipis di dahinya muncul saat memandangi ranjang yang mana kosong hanya tersisa satu bantal saja. Dia melirik ke arah Anastasia yang tadi beristirahat di sofa. Di sana bantal dan selimut berdiam diri yang seharusnya berada di atas ranjang. Setelah selesai perjuangan menghabiskan makan malam, Anastasia menutup mangkuk yang isinya sudah kosong itu. Dia menekuk kedua lutut di atas sofa dan menutupinya dengan selimut. Bantal ditepuk-tepuk sebelum berbaring. Di saat itu pula dia melihat sang duke duduk di tepi ranjang dengan posisi menatap ke arahnya. Sepertinya pergerakan yang dia lakukan sejak tadi diperhatikan tanpa disadari. Padahal sudah waktunya untuk tidur, tetapi kenapa kedua mata itu masih saja terbuka lebar? "Apa yang kau lakukan di sana? Tidakkah kau tau kalau tempatmu di sini?" Apa sang duke sekarang sedang membahas persoalan ranjang? Terlebih dari itu kenapa sang duke sangat marah hanya karena dia tidak ingin satu ranjang? Tentu saja dia memiliki hak untuk menolak karena sebenarnya mereka memang tidak harus dekat sebagai musuh. Dia tidak boleh gentar hanya karena tatapan tajam atau gertakan tersembunyi di balik kata-kata yang terdengar sangat marah itu. "Kau bisa menggunakan ranjang yang luas itu seorang diri karena mulai sekarang aku akan tidur di sini." Dia membaringkan tubuhnya tanpa ingin lagi meneruskan percakapan. Baru saja menutup mata dia langsung membeliak ketika tubuhnya tiba-tiba saja diangkat. Dia meronta dan berteriak untuk segera dilepaskan. Sayangnya semua itu harus selesai karena gerakan cepat sang duke berhasil membaringkannya di ranjang. "Aku bukan seorang pria yang memaksa wanita untuk tidur denganku. Kau bisa menempati ranjang ini sendirian tanpa perlu merasa khawatir. Aku akan menggunakan kamar lain, tapi aku tidak bisa menjamin kalau kecurigaan mengenai siapa dirimu menyebar luas." Anastasia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Semua penghuni Morning Glory mengetahui mereka yang sudah menikah. Kalau pertengkaran terjadi pasti akan menimbulkan pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang mengulik bagaimana kehidupannya itu satu persatu identitasnya akan terungkap. "T-tunggu!" Cegahnya sebelum sang duke benar-benar pergi. "Kau bisa menempatinya bersamaku di sini." "Aku bisa menempatinya kapan saja tanpa perlu izin darimu, Anastasia." Ucapnya ingin memperjelas bahwa dia yang paling berkuasa di Morning Glory. Anastasia mengeratkan genggamannya pada selimut menahan enggan untuk meminta sang duke agar tetap tinggal. "Baiklah. Kau tidak pernah memaksaku untuk tidur denganmu." Sungguh licik sang duke menjadikan identitas aslinya sebagai ancaman. Dia jadi harus mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan. Sebenarnya sang duke ingin memanfaatkan Anastasia saja karena selama mereka bersama tidurnya jauh lebih nyenyak dari sebelumnya. Tidak tau mantra apa yang diberikan Anastasia padanya sehingga dia bisa menjadi seperti itu. Tetapi tetap saja sikap Anastasia hari ini membuatnya jadi bertanya-tanya. Apa yang Anastasia hindari darinya? Padahal selama ini wanita itu tidak pernah berkomentar saat disentuh. Bahkan sebaliknya dia bisa melihat bagaimana Anastasia menikmati waktu mereka. Apa terakhir kali dia melakukan kesalahan yang membuat Anastasia tidak menyukai perlakuannya? Jika diingat lagi dia selalu memperlakukan Anastasia dengan lembut dan tidak pernah terburu-buru. *** Keesokan harinya para pelayan menghidangkan makanan di kamar sang duke. Sengaja sarapan untuk dua orang ditata rapi di sana karena perintah dari sang duke sendiri. Setelah itu tanpa ingin mengganggu waktu kedua pasangan itu mereka bersiap menunggu aba-aba selanjutnya di luar kamar saja. Anastasia masih belum paham kenapa sang duke hari ini tidak seperti biasa menggunakan ruang makan sebagai tempat sarapan bersama penghuni Morning Glory lainnya. Apa sebenarnya yang sedang sang duke rencanakan? Dia sama sekali tidak bisa menebak. Makanan yang tersaji itu diliriknya. Apa mungkin karena makanan fokusnya jadi menghilang? Sang duke sungguh tau kelemahannya saat ini. Apa dia harus menolak makanan itu untuk berjaga-jaga? "Pangeran Darius akan menikah dengan putri Kanaya dari kerajaan Wisteria dan kita harus memenuhi undangan." Pangeran Darius? Sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Anastasia menyuap makanan ke dalam mulut. Mengunyahnya sebentar sebelum melebarkan mata. Memang fokusnya sudah menghilang sampai-sampai nama itu tidak lagi dikenali. "Bukankah kasus kematian putri Haura masih belum terungkap? Bagaimana bisa pangeran Darius menikah dalam kondisi seperti itu?" "Aku mendengar kabar kalau mereka dijodohkan." Sang duke meletakkan alat makannya, lalu menyeka mulut dengan serbet. "Kau akan tampil di depan khalayak ramai. Bukan sebagai Alicia, melainkan Anastasia. Apa kau sanggup untuk tidak memberikan celah bagi orang lain mengetahui identitasmu?" Sudah cukup Anastasia berlama-lama mengurung diri. Dia harus mencari siapa pembunuh putri Haura agar cepat terbebas dari tuduhan. Mungkin sekarang adalah waktunya dia untuk tampil secara terang-terangan. "Aku menyanggupinya." Ucapnya dengan penuh keyakinan. Sang duke terdiam untuk beberapa saat. Membangun kepercayaan terhadap Anastasia. "Nanti Pirsa akan datang dengan membawa gaun yang sudah dirancang untuk kau kenakan di pesta pernikahan. Sebelum itu Gilda akan mengajarimu beberapa hal mengenai pesta pernikahan. Aku harap kau tidak membantahnya kali ini karena apa yang akan diajarkan adalah apa yang kau butuhkan ketika berada di pesta nanti." Hanya mendatangi acara formal yang mana seharusnya untuk bersenang-senang, kenapa terlihat sangat rumit? Terlalu banyak aturan dan pelajaran yang harus ditaati. Terlebih dia tidak bisa membantah untuk hal rumit itu. Setelah sarapan usai, seperti apa yang harus dituruti, Anastasia beranjak menemui Gilda untuk mendapatkan pelajaran. Kali ini Anastasia benar-benar memperhatikan pelajaran dengan baik. Tidak membantah meskipun sikap tegas Gilda membuatnya jengkel. Hingga kedatangan Pirsa menjadi akhir dari pelajaran. Anastasia bergegas mendatangi kamarnya. Sebelum sampai memasuki kamar tampak dari arah yang berbeda Pirsa berjalan bersama beberapa orang pelayan. Menggeret dua benda yang mana ditutupi oleh kain berwarna hitam. Anastasia menunggu kedatangan mereka. Dia menyambut tangan Pirsa dengan senang hati. "Aku senang sekali kau datang." Tidak ingin tamunya menunggu di luar saja, dia membawanya masuk ke dalam kamar. Begitu pun para pelayan dengan barang bawaan mereka. Kain penutup berwarna hitam itu disingkirkan. Sebuah gaun dengan tampilan begitu indah melekat di patung tersebut. Begitupula dengan kain hitam satunya lagi setelah disingkirkan. Tampak satu setel pakaian yang sepertinya diperuntukkan sang duke. Anastasia memajukan langkah agar bisa melihatnya dengan jelas. Nuansa hijau membuat gaun tersebut memiliki kesan elegan. Apalagi lengan lonceng yang dipadukan dengan renda menambah nilai seni dari gaun itu. Belum lagi desain yang mewah namun tidak mencolok. "Bagaimana bisa aku mengenakannya jika di patung saja sudah terlihat sangat indah?" Ucapnya tidak menyiratkan kebohongan sama sekali. Memang bakat Pirsa sangat luar biasa dan membuatnya terkagum-kagum setiap kali melihat hasil rancangan pakaian. Pirsa menyentuhkan tangannya ke pipi tidak bisa menahan malu akan pujian itu. "Nyonya memuji terlalu banyak." Tidak ingin larut dalam pujian yang semakin membuatnya malu, dia meminta agar gaun dicoba terlebih dahulu. Berjaga-jaga jika ada kesalahan yang dia buat karena acara yang akan dihadiri sangat resmi dan harus memiliki persiapan sempurna. Anastasia tidak sabar untuk mencoba gaun itu rupanya. Lantas dia menuruti keinginan Pirsa untuk mengenakannya. Dibantu para pelayan yang masih berada di sana dan juga Pirsa, gaun itu dikenakan padanya. Tidak mengenakannya asal-asalan dan sangat rapi. Sekarang bisa dilihat bagaimana Anastasia tampil dengan gaun itu. Dari ukuran tidak ada kendala tampaknya. Begitupula dengan kecocokannya. Anastasia sangat menawan dengan gaun berwarna hijau. Membuat kulit putihnya tampak lebih segar. Semua tersenyum puas melihat hasilnya, termasuk Pirsa sendiri yang merancang gaun itu. Ketika dia mendapatkan pekerjaan dari sang duke, dia benar-benar mendedikasikan waktunya untuk gaun yang akan dikenakan ke pesta pernikahan itu. Demi mendapatkan hasil yang bagus untuk pelanggan yang paling dinanti. "Pirsa, apa aku benar-benar akan mengenakan gaun ini ke pesta nanti?" Seketika kepanikan singgah di diri Pirsa. Dia segera membuat jarak mereka menjadi dekat. Memperhatikan setiap bagian pakaian dengan teliti. Mencari kesalahan apa yang dia buat hingga mengecewakan Anastasia. "Apa gaun ini tidak nyaman dipakai, nyonya? Atau nyonya tidak menyukainya? Saya akan merancang gaun yang baru." Meskipun waktu yang dipunya untuk merancang gaun baru sangat sedikit setelah ini namun Pirsa akan berusaha untuk tidak mengecewakan pelanggan terhormatnya. Anastasia tertawa kecil hingga dia tidak bisa menahan lebih lama lagi kesalahpahaman itu. "Kau tidak perlu merancang gaun yang baru karena aku sangat menyukainya dan juga gaun ini sangat nyaman dipakai. Hanya saja aku merasa gaun ini terlalu indah untuk aku kenakan." Kepanikan memudar seiring perkataan itu dilontarkan. Pirsa tertawa membayangkan betapa paniknya dia tadi. Nyatanya apa yang membuatnya panik hanya sebuah kesalahpahaman saja. Untung saja tidak ada masalah dari gaun tersebut. "Gaun yang indah akan terlihat jauh lebih sempurna jika dikenakan oleh wanita yang indah hatinya seperti anda, nyonya." Ucapnya sungguh-sungguh tidak menyiratkan kebohongan sedikit pun. Anastasia mengurai senyum lebar di wajahnya. Dia melihat penampilannya kembali di depan cermin yang memperlihatkan seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah. Dia berputar dan juga berjalan untuk membuat dirinya terbiasa. Biar bagaimanapun baru kali ini dia mengenakan pakaian serupa gaun pesta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN