Anastasia masih duduk di kursi dengan posisi beringsut. Menunggu kedatangan sang duke yang tidak kunjung datang menjemputnya. Padahal dia sudah selesai dirias sejak tadi. Kebosanannya dalam menunggu tanpa bisa melakukan apa-apa sudah hampir mencapai puncak. Untuk keluar dari ruangan juga tidak bisa karena dia diharuskan duduk dengan rapi di kamar sampai sang duke datang. Mereka yang melarang tidak ingin jika nanti penampilannya menjadi rusak karena pergi ke mana-mana.
Sampai setelah lama menunggu sang duke akhirnya muncul. Mengenakan seragam yang menunjukkan jati diri sebagai seorang duke. Tidak meninggalkan lencana yang juga ikut dikenakan dalam balutan pakaian. Meskipun pakaian itu warnanya gelap namun tampak bersinar ketika sang duke yang mengenakannya. Penampilan yang dia lihat sungguh berbeda dari biasanya ketika sang duke mengenakan seragam. Bahkan potongan rambut itu juga dibuat berbeda. Kalau mendatangi pesta seperti itu hati siapa yang tidak akan goyah ketika melihatnya?
Sang duke berdiri tepat di hadapan Anastasia yang mendonggakkan kepala. Penampilan yang sudah diperhatikannya sejak memasuki kamar, kini bisa dilihat dengan jelas ketika dekat seluruhnya. Bagaimana penampilan Anastasia sekarang persis seperti apa yang diharapkan untuk dibawa ke pesta nanti.
Sang duke menegakkan tubuh Anastasia di kursi yang diduduki. Mendorong wanita itu untuk menepi sepenuhnya ke sandaran kursi, lalu menyusupkan tangan tanpa permisi memasuki bagian bawah gaun. Setelah berhasil menangkap apa yang diinginkan, dia mengangkat kaki kanan itu untuk kemudian ditopang pada bahunya. Gaun yang hanya terbuka sedikit dibuat menyingkir hingga paha kanan itu terlihat seluruhnya.
Anastasia yang dipermalukan secara tiba-tiba membuat wajahnya merah tanpa bisa ditahan. Bagaimana bisa sang duke memperlakukan wanita seenaknya seperti itu? Dia ingin meronta namun tubuhnya harus tetap seimbang agar tidak terjatuh. Dalam posisi itu dia hanya bisa berusaha menyingkirkan kakinya dari topangan bahu namun tidak mudah baginya melawan kekuatan sang duke.
"Kau memang tidak pernah berhenti bersikap kurang ajar!" Memelotot tajam ke arah sang duke yang tidak melihat padanya sama sekali.
Sang duke terkekeh dan memilih untuk tidak mendengarkan cercaan itu. Sebelah tangannya sibuk mempertahankan kaki Anastasia agar tidak beranjak, sedangkan tangan sebelahnya lagi mengambil sesuatu dari saku belakangnya. Benda itu selalu dibawa bersamanya, tetapi untuk kali ini Anastasia yang lebih memerlukannya. Apalagi di pesta nanti akan ada banyak musuh yang tidak bisa dilihat jelas. Mereka harus bersiap untuk segala kemungkinan yang ada.
Gerakan Anastasia berhenti ketika melihat benda apa yang dikeluarkan. Benda itu diletakkan di atas pahanya sebelum tali dari sarung diikat. Dia tidak pernah berpikir kalau sang duke begitu teliti sampai memberikan senjata untuknya.
Sang duke tidak buru-buru menurunkan kaki itu sepenuhnya. Dia menekuk kaki itu dengan lembut sebelum memberikan sebuah kecupan di paha yang masih terbuka bebas, lalu menaikkan dagu melirik Anastasia. Senyumannya tidak bisa ditahan ketika melihat bagaimana ekspresi wajah yang merona merah itu kini.
"Kita tidak bisa membiarkan orang lain mengetahui rahasia ini." Menyentuhkan tangan pada senjata yang sudah menempel di paha.
Anastasia menurunkan paksa kakinya dengan kasar. Membuat gaun itu jatuh menutupi bagian bawah tubuhnya yang terlihat tadi. Dia tentu tidak bisa membiarkan perlakuan kurang ajar itu berlalu begitu saja tanpa adanya perlawanan. Harga dirinya tidak boleh diinjak lagi sebagai seorang wanita.
"Apa kau sudah kehabisan akal sampai-sampai harus menggunakan cara yang tidak wajar untuk memberikan senjata itu padaku?" Ucapnya dengan nada suara meninggi.
"Lalu apa kau bisa mengenakannya seorang diri dengan gaun itu?"
Anastasia memperhatikan gaunnya yang mana panjang itu. Butuh waktu untuk menggulungnya ke atas agar bisa mencapai paha. Terlebih dari itu dia akan kesulitan ketika mengikatkan tali karena bagian gaun pasti akan jatuh menutupi pahanya kembali.
"Kau tidak bisa membantahnya." Ucap sang duke menyiratkan kepuasan di sela kalimat.
Setelah itu dengan mudah dia mengangkat Anastasia untuk menapaki lantai kembali. Dia menawarkan lengannya untuk bisa digandeng waktu mereka berjalan nanti agar tidak ada kata sulit bagi Anastasia yang mungkin masih harus menyesuaikan diri dengan gaun itu. Ditambah akan mencegah kata tersungkur jikalau hilang keseimbangan nanti.
Dua kali secara berturut-turut Anastasia dibuat malu. Pertama ketika sang duke menyingkapkan gaunnya dan barusan memegangi pinggulnya tanpa meminta izin. Sungguh dia sangat kesal pada sang duke saat ini. Lantas dia berjalan mengentakkan kaki dengan kasar tanpa menghiraukan tawaran sang duke untuk pergi bersama.
Sang duke menjatuhkan lengannya yang menekuk untuk ditawarkan tadinya. Memang Anastasia tidak bisa ditaklukan dengan mudah. Pelajaran yang diberikan oleh pengajar tegas seperti Gilda, bahkan dia sendiri yang sudah berpengalaman di bidang kemiliteran mengaku sulit membuat Anastasia patuh. Wanita itu tetap saja sama liarnya ketika mereka pertama kali bertemu.
Pada akhirnya dia melangkahkan kaki seorang diri. Menyusul Anastasia yang sudah berjalan lebih dulu. Dia bisa melihat bagaimana sulitnya ketika gaun itu diangkat sambil berjalan cepat. Hampir-hampir terjatuh jika tidak berjalan di tepi lorong yang mana menjadikan dinding sebagai pegangan. Seharusnya dengan gaun itu seorang wanita berjalan dengan anggun, tetapi sangat berbeda dengan Anastasia yang berjalan seolah sedang terburu-buru mengejar sesuatu.
"Nyonya Anastasia," di ujung sana tampak Gilda datang menghampiri.
Sang duke tidak lagi melangkah ketika Anastasia berhenti. Dia memutuskan untuk menjadi penonton saja di belakang. Membiarkan pertemuan yang tidak di sengaja itu terjadi.
Gilda memukul pelan kedua tangan yang mengangkat gaun sehingga kini jatuh sepenuhnya. "Saya sudah mengajarkan nyonya bagaimana sikap seorang bangsawan ketika mengenakan gaun." Dia memperbaiki posisi berdiri yang tidak tegak hingga bisa terlihat jelas bagaimana d**a itu kembang kempis dengan cepat. "Padahal nyonya tidak berlari, tapi sudah kesulitan bernapas. Jangan sampai gaun ini rusak atau gaun ini melukai nyonya jika hilang keseimbangan nanti." Kemudian dia berdiri di tempat semula menghadap Anastasia. Di saat itu pula dia menyadari keberadaan sang duke. Lantas dia langsung menunduk hormat.
Anastasia menolehkan kepala dan di sampingnya baru saja sang duke menghentikan langkah. Dia masih jengkel akibat kejadian tadi namun tidak bisa diperlihatkan secara terang-terangan. Alhasil mulutnya dibungkam dan dia harus menuruti keinginan Gilda agar berjalan sambil digandeng sang duke.
Senyuman terulas di wajah Anastasia seiring langkah beralih mengakhiri pertemuan. Raut wajah yang ceria tadi seketika berubah. Masih berjalan sambil bergandengan, dia melirik sang duke menyiratkan rasa tidak suka. Kalau tidak karena ingin kasus kematian putri Haura terungkap, mungkin dia tidak akan menuruti segala aturan menyulitkan di Morning Glory.
"Kau harus tersenyum, Anastasia. Di pesta nanti akan ada banyak orang yang harus kau temui dan peranmu sebagai istriku akan dimulai." Mengalihkan pegangan Anastasia ke tangan satunya lagi agar bisa menjadi topangan ketika menaiki kereta kuda. "Jangan membantah suamimu." Mempersilahkan untuk segera naik ke atas kereta kuda.
Anastasia tidak menolak tawaran itu karena memang tidak ada yang bisa dilakukan selain menurut. Untuk kali ini dia akan bekerja sama dengan sang duke. Mungkin sikap pemberontaknya akan direndam sesaat sampai nanti acara pesta pernikahan usai. Dia pun naik ke dalam kereta kuda disusul sang duke setelahnya.
***
Cermin rias pecah begitu pun dengan pernak-pernik yang berserakan. Bantal dan ranjang robek menciptakan serbuk kabut yang menyatu dengan udara. Kamar pengantin itu seluruhnya kacau balau. Orang yang membuat kekacauan itu adalah Caroline.
Pangeran Darius sungguh sangat marah saat ini. Di hari pernikahannya yang akan menjadi sorotan, Caroline tidak berhenti membuat kekacauan. Kalau sampai ada yang mengetahui kondisi kamar, sudah pasti akan timbul gosip buruk mengenai mereka. Apalagi jika raja Sargon tau, bisa-bisa Caroline diusir nantinya. Sudah pasti dia tidak ingin hal itu terjadi.
"Tidakkah kau bisa mengerti keadaan saat ini?" Ucapnya dengan nada tinggi menjelaskan rasa tidak suka terhadap sikap Caroline.
Caroline bergeming di atas ranjang yang sungguh sangat berantakan. "Mengerti? Suamiku akan menikah dengan wanita lain dan kau memintaku untuk mengerti?"
"Aku sudah katakan padamu kalau pernikahan ini tidak ada artinya bagiku." Sedikit banyaknya dia menjadi lemah ketika tangisan mengalir. Dia mendekat naik ke atas ranjang dan membawa Caroline ke dalam pelukan. "Putri Kayana hanya akan menjadi batu loncatan agar aku bisa menaiki tahta. Setelah aku berhasil menjadi raja nanti, hanya ada kau satu-satunya." Dia memandang wajah yang begitu sedih itu kini. Mengalirkan air mata untuk menangisinya dan hal itu membuat gemuruh di dadanya bergejolak. Membuainya dalam kehangatan yang begitu menggoda. Betapa dia sangat ingin memiliki Caroline yang sangat mencintainya. "Bersabarlah saat itu tiba."
Napas yang mengembuskan kesedihan disingkirkan dengan napas panas yang diburu oleh hasrat untuk memiliki. Pangeran Darius menjajahi setiap inci bibir itu. Menjalin kenikmatan menjadi satu kembali. Menelusuri diri Caroline tanpa ada kata ampun karena dia sangat mencintai, ingin memiliki, dan selalu ingin terjerat dalam pesona Caroline.
Caroline yang menggenggam erat gagang pisau di bawah bantal perlahan membuatnya mengendur. Dia sempat berpikir untuk menikam pangeran Darius saja sehingga mereka bisa mati bersama. Sungguh dia tidak ingin jika ada orang lain yang memiliki mainan kesayangannya.
Hingga genggaman pada pisau lepas sepenuhnya ketika dia dilumpuhkan oleh ketenangan yang dibuat pangeran Darius. Beralih menyusupkan jemari di rambut itu dan meremasnya dengan kuat. Membiarkan kata nikmat merayapi hatinya tanpa penolakan.
***
Tangan itu kembali bergandengan tanpa menyiratkan kata paksaan. Anastasia benar-benar menggunakan identitas barunya di dalam acara pesta. Bahkan senyuman bisa tampil dengan mudah dan hal itu membuat orang-orang berpikir kalau istri duke Edelweiss adalah wanita yang ramah. Terlebih sangat bersahaja dengan balutan pakaian yang membuat kekaguman tidak luput ketika melihat Anastasia.
"Apa kau bisa menangani mereka seorang diri? Aku akan pergi menemui raja Sargon."
Anastasia menatap ke arah para wanita bangsawan yang mana gerak-geriknya seperti ingin mendekat. Dia jelas tidak bisa bergantung pada sang duke terus-menerus, bukan? Dia harus maju jika ingin melawan musuh. Bukan diam meminta perlindungan dari pria yang mana adalah musuhnya sendiri.
Sang duke yang telah menerima anggukan sebagai jawaban, beranjak dari sana menuju tempat raja Sargon berada. Dia harus menanyakan perilah pernikahan yang digelar secara tiba-tiba itu.
Sepeninggal sang duke benar saja dia langsung dihampiri. Sebisa mungkin dengan bekal yang diberikan Gilda, dia memperkenalkan diri. Tidak sulit karena memang sudah dilakukannya berulang kali. Hanya saja sedikit gugup karena itu adalah kali pertama dia berbincang akrab dengan wanita bangsawan.
Melalui apa yang diajarkan Gilda padanya kemarin mengenai topik apa saja yang bisa dibahasnya, Anastasia tidak kehilangan ide untuk membuat perbincangan semakin panjang. Tampaknya hal itu berhasil membuat para wanita bangsawan jadi terkesima dan merasa senang berbincang dengan Anastasia. Mereka cepat akrab sebagai orang yang baru berkenalan namun hal itu tentunya tidak dirasakan Anastasia yang harus selalu waspada dan tidak mempercayai siapa pun.
"Kami mendengar bagaimana kisah cinta yang terjadi di antara nyonya Anastasia dan juga duke Lucherne. Sangat romantis sekali sampai membuat kami penasaran apa yang dirasakan Florence. Oh, ya ampun! Apa yang sudah aku katakan." Wanita yang bernama Amber itu langsung menutup mulut dengan kedua tangan.
"Florence?"
"Ya." Amber melirik ke satu arah yang mana Florence ada di sana. "Dia sangat menyukai duke Lucherne dan sekarang dijodohkan dengan seorang bangsawan. Oh, maafkan aku." Lagi-lagi dia harus menutup mulut setelah membeberkan sesuatu yang sensitif untuk disinggung di depan istri pria yang dibicarakan. "Seharusnya aku tidak mengatakannya." Memukul-mukul mulut sendiri menyesali perkataannya.
Di sana wanita yang disebut namanya sebagai Florence tengah berdiri bersama seorang pria. Raut wajah yang terpapar seakan enggan untuk berada di sana. Dari apa yang didengarnya tadi Florence dijodohkan. Apa sang duke mengetahui hal itu?
Lama memperhatikan sampai terlihat kalau Florence beranjak dari tempatnya berdiri. Tanpa pikir panjang Anastasia langsung pergi meninggalkan aula. Menyisakan raut kebingungan terpapar jelas di wajah Amber dan wanita bangsawan lainnya.
Lorong demi lorong ditelusuri dengan sikap waswas. Dia terus mengikuti langkah itu sampai akhirnya kehilangan jejak saat bertemu satu pintu berukuran besar. Lorong di sana sepi tidak ada yang melewati. Sepertinya semua orang sedang sibuk menikmati pesta. Dibandingkan itu ke mana arah Florence melangkah? Padahal dia hanya menunduk sebentar saja tadi untuk menghindari tatapan prajurit.
Dia melongok ke lorong lainnya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Florence. Terlalu cepat untuk seseorang yang hanya berjalan saja. Pintu besar di sampingnya dilirik kemudian. Kemungkinan besar jalan tercepat untuk menghilang dari pandangan hanya ruangan yang terdapat di balik pintu.
Tetapi dia tidak asing dengan pintu itu. Dia pernah bekerja di kerajaan dan setidaknya mengetahui sedikit mengenai tempat-tempat yang biasa dia lalui. Termasuk pintu yang ada di depan mata kini. Istana Primrose yang telah membawa dampak besar di kehidupannya.
Niatnya urung untuk melanjutkan pencarian karena dia tidak ingin lagi mendapatkan masalah jika mengunjungi istana Primrose. Menyampingkan rasa penasarannya terhadap hubungan sang duke dan Florence, dia berhenti mencari. Dia memutar arah tujuan dan di saat itu pula tiba-tiba suara pintu di belakangnya terdengar.
Dia membeliak setelah membalikkan badan. Dari sana muncul pangeran Darius dan juga Caroline sedang bergandengan tangan. Otaknya berputar keras menolak segala asumsi. Apa yang dilakukan Caroline di istana Primrose? Terlebih lagi bersama pangeran Darius. Bukankah pangeran Darius akan menikah dengan putri Kayana? Lebih pentingnya lagi bagaimana dengan putri Haura yang kasus kematiannya masih belum terpecahkan?
"A-alicia?" Ucap Caroline masih membelalakkan mata.