Bab 6: Identitas Baru

2142 Kata
Kedua mempelai membacakan ikrar janji pernikahan di depan pendeta. Saksi yang menghadiri pernikahan adalah Flint dan Myla saja sebagai perwakilan masing-masing mempelai. Pernikahan sengaja dibuat tertutup karena tidak boleh ada yang mengetahui kapan mereka menikah. Untuk gaun yang dikenakan Alicia kini pun dipersiapkan langsung oleh Myla. Pernikahan mendadak itu dilakukan seadanya tanpa ada kemewahan di dalamnya. Bahkan sang duke memakai seragam militer yang sama seperti yang dilihatnya tadi. Hanya Alicia yang mengganti piama dengan terusan berwarna biru muda. Warna khas pernikahan yang melambangkan kemurnian. Cincin yang dipilih sebagai pengikat janji pernikahan disematkan ke jari manis kiri. Mereka yang hidup di zaman itu percaya kalau pembuluh darah di jari manis kiri mengalir langsung ke jantung. Mereka menyebutnya sebagai vena amoris yang berarti vena cinta. Lambang akan cinta abadi dan keterikatan dengan pasangan hidup. Setelah pernikahan ini Alicia resmi menggugurkan namanya dan menggantinya dengan identitas baru. Bukan lagi sebagai Alicia yang menjadi tulang punggung keluarga atau orang yang diburu karena dituding sebagai seorang pembunuh, melainkan sebagai istri seorang duke yang dihormati yaitu Anastasia. Meninggalkan inti pernikahan yang telah dilaksanakan, mereka beranjak ke ruang pertemuan. Tempat di mana pesta penyambutan akan digelar. Di sana Anastasia akan diperkenalkan ke semua penduduk Distrik Edelweiss sebagai istri sang duke. Anastasia sedikit tegang memikirkan akan bagaimana respons orang-orang terhadapnya. Dia sedang menghamburkan diri ke kolam buaya sekarang. Bisa saja tampilnya dia di depan khalayak ramai dapat membongkar identitasnya. Padahal tujuan semula adalah bersembunyi sampai tidak ada orang yang tahu mengenai keberadaannya. Tanpa terkecuali semua penduduk yang sudah dikumpulkan tidak percaya mendengar kabar yang datang secara mendadak itu. Pemimpin mereka menikah tanpa sepengetahuan. Siapa yang tidak terkejut akan berita tersebut? Mereka saling bertanya-tanya sehingga membuat satu ruangan itu dipenuhi oleh bisikan. Kehebohan di dalam ruang pertemuan yang cukup menampung sekitar ratusan orang itu berhasil ditepis oleh sang duke. Bermodalkan identitas yang sudah disusun secara matang sampai dari mana Anastasia berasal dan di mana pernikahan diselenggarakan, mampu mendiamkan bisikan yang tadinya menjalar ke mana-mana. Pada awalnya para penduduk memang terkejut. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang duke secara keseluruhan, mereka menaruh simpatik akan kisah cinta yang dibatasi oleh ruang dan waktu tersebut. Kebahagiaan akhirnya membanjiri pesta penyambutan istri sang duke. Mereka bersukacita menerima Anastasia menjadi bagian dari Distrik Edelweiss. Dalam rangkulan tangan yang melingkar di lengan sang duke, Anastasia melemparkan senyuman terbaik kepada semua orang. Di dalam hati dia melonjak kegirangan karena ternyata tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Akhirnya dia menemukan ruang kebebasan di mana tidak perlu bersembunyi lagi. Tidak sengaja dia bertemu pandang dengan seorang anak kecil. Penyelamat di kala kematian mencekiknya. Anak kecil itu yang memberikan air minum padanya. Senyum lebar langsung mengembang di wajah Anastasia. Mengirimkan sinyal rasa terima kasih yang tulus karena sudah membantunya waktu itu. Lengkungan di bibir yang begitu hangat itu sudah terpatri jelas di ingatan anak kecil tersebut. Senyaman yang sama setelah air minum diberikan. Anak kecil itu langsung menarik pakaian ibunya agar diberi perhatian, "Ibu, bukankah kita pernah memberikan minuman pada kakak itu?" Sang ibu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang mendengar pertanyaan anaknya, "Hush! Jangan bicara sembarangan. Dia adalah istri Duke Edelweiss." Hanya anak kecil itu yang sadar kalau Anastasia adalah wanita asing yang meminta-minta ke rumah penduduk tempo lalu. Wajar saja karena penampilan Anastasia yang kumal sangat berbeda dengan penampilan sekarang. *** Alicia merebahkan diri di ranjang setelah melalui berbagai proses resmi yang memakan hampir seluruh tenaganya. Dia sangat mengantuk dan nyaris tidak bisa menunggu acara sampai selesai. Kini lelah merayapi seluruh tubuh dan dia ingin terlelap sesegera mungkin. Sayang sekali hal itu hanya berujung pada harapan yang tidak kesampaian. Para pelayan tiba-tiba muncul dari balik pintu. Mereka membentuk barisan panjang di samping ranjang Anastasia. Mewakili pelayan yang lain, Myla mengatakan apa tujuan mereka datang ke kamar wanita yang sudah resmi menjadi nyonya di Morning Glory tersebut, "Nyonya, silakan ikuti kami." Anastasia mengembuskan napas kuat-kuat dan tubuhnya bergeming dari posisi telentangnya, "Untuk sekarang biarkan aku beristirahat," ucapnya lemah tidak ingin membuka mata. Myla mengangguk yakin ke arah pelayan yang berbaris. Para pelayan yang sudah mendapatkan isyarat secara serempak bergerak menghampiri dan mengangkat tubuh Anastasia bersama-sama. Hal itu membuat tubuh yang diangkat bergerak, meronta sambil berteriak agar segera dilepaskan. Namun sayang, permintaannya tidak didengar meski telah memberikan perintah atas nama istri sang duke. Anastasia dibawa ke kamar lain yang ruangannya lebih luas. Tidak jauh beda isinya dengan kamar yang ditempati sebelumnya. Hanya ada beberapa tambahan bagian seperti perapian besar yang mendominasi area duduk dan lemari-lemari kaca yang memamerkan berbagai macam koleksi minuman keras. Baru saja sampai di kamar itu dia digiring masuk ke kamar mandi yang ukurannya juga sangat luas. Dia langsung bertemu bejana yang terbuat dari kayu. Ada kelopak bunga mawar yang bertebaran di permukaan air yang mengisinya. Para pelayan mengambil tempat masing-masing dan bersiap untuk melakukan pekerjaan selanjutnya. Ada yang bertugas memegangi handuk, terpisah dengan pelayan yang memegangi pakaian, sedangkan dua orang pelayan lainnya memegangi kedua tangan Anastasia. Tidak memberikan kesempatan pada orang yang dipegang untuk lari dari mereka. "Apa yang kalian lakukan?!" Anastasia berusaha lepas dari cengkeraman para pelayan, "Hentikan!" teriaknya sambil menendang-nendangkan kaki, menolak Myla yang hendak melepaskan gaun pengantin. Rupanya tanpa mereka semua ketahui, di luar sana sang duke mendengar suara teriakan dari kamar mandi yang sepenuhnya ribut. Dia baru saja muncul setelah mengutus seseorang untuk mengirim surat ke Kerajaan Viscaria. Ingin beristirahat di kamar, tetapi telinganya harus dimaki dengan teriakan Anastasia yang tidak ingin dimandikan oleh para pelayan. *** Harusnya Anastasia merasa segar setelah menikmati pijatan dan aroma menyegarkan yang diterimanya setelah berendam, tetapi baru keluar dari kamar mandi raut wajah kesal yang menempel di wajahnya. Anastasia sangat kesal karena dia tidak didengarkan. Dia tetap dimandikan sampai tuntas oleh para pelayan. Para pelayan juga turut keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan urusan mereka. Menyadari kehadiran sang duke, para pelayan langsung menunduk hormat dan undur diri. Mereka yang tadinya berbaris dengan rapi pergi meninggalkan kamar. Anastasia menyatukan kedua ujung jubah luarnya yang mana tidak didesain dengan tali pengikat. Tidak mengizinkan sepasang mata lain untuk melihat. Lalu, dia melirik tajam ke arah sang duke. Sudah pasti para pelayan memaksanya atas perintah sang duke. Kalau tidak, mana mungkin dia diabaikan. Anastasia membuka mulut ingin mendebat keputusan seenaknya yang membuat tubuhnya dijamahi oleh orang lain meski sesama wanita sekalipun namun jika dia membahasnya hanya akan mempermalukan diri sendiri. Mulut dikatupkan kembali, lalu kaki dientakkan menuju ranjang. Tanpa memedulikan apa pun lagi dia berbaring di sana dan menyelimuti seluruh tubuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Sang duke hanya diam saja memandangi tingkah laku Anastasia. Dia yang sejak tadi bersantai di area duduk seketika bangkit menuju kamar mandi. Di dalam sana dia membersihkan tubuhnya dengan air baru yang sudah disediakan oleh para pelayan setelah Anastasia selesai berendam. Sementara sang duke berada dalam kamar mandi, Anastasia baru sadar kalau dia ada di kamar yang sama dengan sang duke. Kekesalan telah menciptakan kabut tebal di depan kesadarannya. Matanya kembali terbuka lebar seiring kegelisahan mulai menghantui. Dia masih memindai setiap detik suara apa saja yang dia dengar dari arah belakang punggungnya. Bunyi air, kemudian kamar mandi sangat tenang untuk beberapa waktu, kemudian suara pintu terdengar. Ketegangan semakin menjadi-jadi dan ludahnya ditelan lambat agar tidak menimbulkan suara yang bisa didengar. Bayangan mengerikan mengenai sang duke akan tidur di ranjang yang sama dengannya sungguh membuatnya gila. Dia harus menyingkirkan pikiran terlarang tersebut. Dalam keadaan yang terancam dia harus berpikir positif agar hasil yang didapatkannya positif pula. Berulang kali dia berharap kalau sang duke tidak akan melakukan hal gila padanya. Anastasia bisa merasakan kalau sisi sampingnya sedikit bergerak turun. Sungguh dia tidak bisa berpikir waras lagi dan dia sulit untuk menahan diri agar tidak berteriak minta pertolongan. Sebisa mungkin dia menggerakkan tubuhnya yang membeku setelah itu ke sisi lain. Sayangnya dia terlalu lamban karena sang duke telah menyentuh pundaknya. Napasnya seolah berhenti saat itu juga. "Bisakah kau bergeser sedikit? Aku tidak memiliki ruang untuk berbaring." Anastasia mengejapkan mata sebelum menengok ke atas. Tetesan air jatuh ke permukaan wajah membuatnya spontan menutup mata. Tadi baru saja dia terpesona oleh ketampanan sang duke kalau tidak disadarkan oleh tetesan air yang menyegarkan pikirannya kembali. "Maafkan aku," mengusap air yang membasahi wajah Anastasia, lalu beranjak dari ranjang. Handuk diusapkannya kembali mengeringkan rambut yang airnya masih menetes. Mungkin sebelum tidur sang duke akan menunggu rambutnya kering sedikit lagi. Anastasia menggeserkan tubuhnya ke tepian ranjang dengan gerakan kaku. Wajah dibenamkan dalam selimut dan gigi dirapatkan dengan kuat. Dia kesulitan mendinginkan wajahnya yang kini sangat panas. Sentuhan lembut ketika sang duke mengusapkan jari di pipinya telah meruntuhkan kewarasannya. Tidak! Dia tidak boleh lengah terhadap pemangsanya! Kesadaran ditarik untuk mengalahkan pikiran gilanya. Anastasia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengeluarkan suara, "Tuan L-lucherne," tidak ada sahutan ketika dia memanggil nama itu sehingga mau tidak mau dia harus menoleh ke arah sang duke. Mungkin suaranya terlalu pelan atau memang sang duke yang terlalu sibuk memilih sampanye. Niatnya diurungkan ketika kebimbangan meliputi. Mungkin bukan saat yang tepat untuk membicarakan topik serius di waktu yang seharusnya dipakai untuk beristirahat. Dia merebahkan tubuh yang sedikit terangkat itu. Mencoba untuk memejamkan mata kembali. "Luce." Anastasia yang sebenarnya masih berusaha terlelap langsung melirik ke kaki ranjang di mana sang duke sedang berdiri sekarang. Sementara itu sang duke meneguk sampanye yang sengaja dibuat memenuhi setengah gelas khusus yang sudah disiapkan dalam lemari-lemari kaca. Mereka tidak melepaskan tatapan sampai seteguk sampanye memasuki tenggorokan. Semua indranya telah terlatih untuk mendengarkan suara terkecil sekalipun. Tidak mungkin sang duke tidak mendengarkan panggilan pelan yang berada dalam satu ruangan dengannya. Apalagi malam itu sangat sunyi dan bisa terdengar jelas suara yang melintang bebas di sana. "Kau bisa memanggilku Luce," menimang-nimang gelas yang ada dalam genggamannya, "Tanpa tuan," melihat wanita yang berbicara dengannya masih diam saja menariknya untuk bertanya, "Kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" mengamati wajah yang masih tampak bingung itu, "Tadi kau memanggil namaku." Anastasia lupa kalau dia ingin membicarakan sesuatu. Dia segera mengangkat tubuhnya dan duduk sambil menimbang-nimbang apakah pertanyaannya nanti adalah sesuatu yang baik atau buruk untuk dikatakan. Rasa ingin tahunya lebih besar daripada kebimbangan, "Kenapa kau ingin sekali mencari kebenaran kematian Putri Haura?" Alis sang duke sedikit mengernyit. Dia tidak pernah berpikir kalau apa yang ingin ditanyakan akan berhubungan dengan kematian Putri Haura, "Kebenaran adalah segalanya dalam dunia kemiliteran," gelasnya diletakkan di atas meja nakas, lalu dia duduk di samping Anastasia. "Dan aku adalah bagian dari kemiliteran." "Tapi kau menyembunyikan seorang pembunuh." Tidak seharusnya seseorang yang berpihak pada hukum menyembunyikannya. Apa yang dikatakan sang duke jelas bertolak belakang dengan tindakan yang ada. Hanya karena alasan prinsip kemiliteran, sepertinya bukan alasan yang masuk akal untuk menyembunyikan seorang pembunuh. Pasti ada sesuatu yang menjadi dasar kuat kenapa sang duke sangat ingin menguak kasus kematian. Bibir mengedut sehingga menciptakan sedikit kerutan di sana, "Kau mati-matian untuk tidak dituduh sebagai pembunuh dan sekarang kau mengakui statusmu," helai rambut yang terurai di pipi itu diselipkan ke belakang daun telinga, "Aku sedang mencari kebenaran itu, Anastasia." Mata biru Anastasia mengikuti gerakan tangan yang menyingkirkan helaian rambutnya. Setelah itu dia menatap sang duke kembali. Jarak mereka terlalu dekat untuk berbicara dan dia baru sadar kalau perbincangan mereka sebenarnya telah usai. Sang duke membuat malunya kian membesar ketika sebuah ciuman baru saja mendarat di bibirnya. Jubahnya diturunkan seiring tubuhnya dibaringkan kembali. Dia seperti terhipnotis sampai menuruti perintah sang duke tanpa membantah. Akal sehatnya telah hilang membiarkan pemangsanya menguasai. "Ini malam pernikahan kita." Mereka sudah mengucapkan ikrar janji pernikahan di depan pendeta dan sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Anastasia sampai melupakan hal itu dan sekarang dia dihadapkan pada komitmen pernikahan. Dalam tradisi yang menjadi salah satu syarat pernikahan adalah perkawinan. Pernikahan tidak akan berarti tanpa terlaksananya syarat tersebut. "T-tapi kita tidak saling mencintai," langsung kaku saat melihat sang duke yang berada di atas tubuhnya menurunkan jubah yang dikenakan. Memperlihatkan d**a bidang dengan otot yang kukuh. Otot-otot itu pasti didapatkan dari latihan kemiliteran selama ini. Sang duke membimbing sebelah tangan Anastasia melingkar di lehernya, "Tidak semua orang menikah atas dasar cinta." Anastasia tampak canggung dengan posisi mereka sekarang. Dia belum pernah begitu dekat dengan seorang pria sampai harus menatap langsung ke arah bola mata yang sangat dekat jaraknya. Apalagi sentuhan fisik yang tidak pernah diterima sebelumnya membuat kulit seakan memanas dan darah mengalir deras ke jantung. Menghilangkan tombol pengontrol dalam jiwanya. Sang duke menarik tangan sebelah lagi dan mengusapkan bibirnya ke telapak tangan Anastasia sebelum menjalar sampai ke lengan bagian dalam. Dia bisa merasakan kaki Anastasia sedikit bergerak ke atas, menandakan kalau kenikmatan telah dirasakan oleh orang yang disentuh. "L-luce ...," perlakuan intim itu membuat Anastasia ingin berhenti dari pergolakan jiwa dan sensasi aneh yang seakan membakar seluruh tubuhnya. Napasnya hampir tidak stabil kalau tidak ditahannya agar tetap seirama. "Anastasia ...," betapa dia sangat ingin mengucapkan nama itu, entah mengapa. Kini kedua tangan telah lengkap melingkari lehernya. Dia mengusapkan tangannya ke pipi Anastasia. Merasakan kehangatan yang sudah mendiami wajah itu. Sama dengan hangat wajahnya saat ini, "Pegang leherku erat-erat. Ini akan sedikit sakit," menambahkan pendapatnya sendiri kemudian, "Atau sangat sakit."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN