Bab 5: Berita Besar

2081 Kata
Pedang bergerak maju mengikis dinding bangunan dengan bilah tipisnya yang tajam. Alicia bisa melihat bagian yang dikikis menjatuhkan serpihan tidak beraturan. Membuktikan kalau ketajaman pedang tidak main-main. Tanpa sadar tangannya mencubit sedikit daging lehernya. Tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika bilah tipis itu mengikisnya. Padahal luka sayatan yang diterimanya tadi baru saja diobati dan masih belum kering sama sekali. Seluruh tubuh seakan membeku ketika mengetahui siapa sosok dari pemilik pedang tersebut. Alicia menelan air liurnya yang pada saat itu sangat sulit untuk ditelan. Dia tidak bisa beranjak ke mana-mana dengan tubuh gemetarnya. Bahkan untuk memalingkan tatapan saja tidak sanggup untuk dilakukan. "Aku sudah memperingatkanmu, Alicia." Sang duke adalah pemilik dari pedang tersebut. Tadi dia sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Menghadap taman sambil menikmati waktu sebelum beranjak tidur. Tidak sengaja dia melihat pergerakan dari bawah jendela. Mulanya dia berpikir ada penyusup yang masuk ke Morning Glory namun ternyata dugaannya salah. Sang duke yang lebih tahu tentang rute kediaman mengambil jalur lain untuk memergoki. Dia sengaja membiarkan Alicia mengendap-endap seperti seorang penyusup sebelum menangkapnya. Sebagai seorang panglima militer yang tidak hanya sekali terjun ke lapangan, menangkap seekor tikus kecil seperti Alicia bukan sesuatu yang patut dipusingkan. "Nona!" Myla yang baru saja datang berlari ke arah mereka dengan napas terengah, "Saya pikir Nona tersesat. Maafkan saya terlalu lama. Kamar mandinya terlalu jauh. Jadi saya ..," baru sadar akan keberadaan sang duke yang mengacungkan pedang, Myla terperanjat hingga kedua kakinya lemas harus bersimpuh di lantai. Sementara itu tangan Alicia ditarik agar mengikuti pergerakannya. Mata pedang diacungkan tepat ke depan mata kini. Pupilnya bergetar mendapatkan serangan peringatan kematian, "M-maafkan atas kelancangan saya," ucapnya terbata-bata sembari menghapus keringat yang mengucur di wajah, "S-saya pantas menerima hukuman karena telah membawa Nona Alicia keluar dari kamar." Alicia tahu betul bagaimana rasanya mendapatkan peringatan itu. Dia juga sudah mengalaminya lebih dulu di ruang kerja dan sekarang adalah kali ke-dua. Ketakutannya masih sama saja seperti di awal pertemuan. Dibandingkan itu semua ada yang lebih takut daripada dia kiranya. Suara Myla bergetar seakan setiap kata-kata mengandung ketakutan lebih. Pakaian itu juga dicengkeram erat sambil menahan gemetar. Kalau Myla dibunuh maka pelariannya akan memakan korban. Dia tentu saja tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Melibatkan orang baik seperti Myla yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kasus pembunuhan Putri Haura. Alicia memberanikan diri mengangkat tubuhnya dan berdiri tegak. Berusaha sekuat tenaga menopang tubuhnya dengan kaki yang gemetaran. Dia harus menyelamatkan Myla agar tidak dibunuh, "I-ini bukan kesalahan Myla," sebelah tangannya didekatkan ke d**a mengacu pada diri sendiri, "Aku yang memintanya untuk berjalan-jalan bersamaku karena bosan berada di kamar." Sang duke mengangkat sebelah alisnya, "Berjalan-jalan? Dengan status yang kau sandang kini?" Alicia sadar kalau dia masuk ke dalam daftar pencarian. Berjalan-jalan bukan hal yang bisa dilakukan oleh seorang pembunuh. Tetapi dia berada di rumah seorang duke yang menahannya sekarang. Pasti dia akan dilindungi agar statusnya tidak diketahui. Pikiran yang seolah menjadikannya sebagai pelindung kejahatan itu terbaca oleh sang duke, "Aku menahanmu bukan untuk melindungimu selama dua puluh empat jam. Selain itu apa kau kira hanya akan ada kita saja di sini? Ada banyak orang luar yang hadir di Morning Glory, termasuk tamu dari kerajaan," menunjuk Alicia dengan mata pedang sebelum menggantungkan bilah tipis itu ke atas pundak, "Aku akan membiarkanmu untuk kali ini, tapi jika kau berpikir kabur lagi, tidak akan ada lain kali untuk nyawamu." Penyebab kematian Putri Haura masih belum ditemukan. Membunuh Alicia sekarang hanya akan membuat semua rencana berjalan sia-sia. Oleh sebab itu sang duke memutuskan untuk melepaskan Alicia. Lagi pula pelarian tanpa persiapan itu tidak menjadi masalah besar baginya. Setelah sang duke tidak tampak lagi punggungnya, Myla akhirnya bisa berdiri tegak. Dari tadi dia hanya terpaku sambil mencerna topik yang didengar. Dia mengerti kalau Morning Glory tidak hanya dijadikan sebagai tempat tinggal duke seorang. Namun, yang tidak membuatnya mengerti adalah perihal status yang dibicarakan. Memangnya apa kaitan status Alicia dengan tempat tinggal sang duke? Setelah mencernanya dengan baik, sedikitnya Myla mengerti akan situasi yang mana Alicia seakan sengaja disembunyikan oleh sang duke, "Siapa sebenarnya Nona?" menatap Alicia dari ujung kaki sampai ujung kepala sembari menebak-nebak jawaban dari pertanyaannya. Alicia yang termenung tadinya langsung mendapat kesadarannya kembali. Ketakutan dan semua kegelisahan yang bergelut di dalam pikiran sirna sekejap mata. Titik fokusnya bukan lagi pada sang duke, melainkan pada Myla yang seperti sedang menyelidikinya. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Myla? Apa dia harus mengatakan siapa dia sebenarnya? Tetapi dari sekian banyak orang sangat sulit mencari seseorang yang percaya padanya. Apalagi reaksi orang biasa pasti akan langsung menjauhinya setelah mengetahui ada pembunuh di sekitar mereka. Melihat sikap sang duke tadi juga sepertinya status yang dia punya saat ini tidak boleh diketahui oleh penghuni Morning Glory. Jika sang duke yang lebih tahu bagaimana keadaan Morning Glory saja sampai berhati-hati tidak membocorkan identitasnya, sang pemilik identitas itu sendiri seharusnya juga begitu, bukan? Dia harus menuruti keputusan sang duke agar tetap selamat. "Apa Nona memiliki hubungan terlarang dengan Duke?" "A-apa?" "Duke Edelweiss memang sempurna tanpa cela. Tidak ada wanita yang tidak akan jatuh hati setelah melihatnya. Bahkan wanita dari kalangan atas beberapa kali datang ke Morning Glory hanya untuk bertemu dengannya," Myla melebarkan kedua mata ketika menyadari apa yang diucapkan. Seharusnya dia tidak membicarakan wanita lain di dalam hubungan kedua sejoli itu, "M-maaf, Nona. Saya tidak bermaksud menyinggung." "Tidak mungkin!" menghiraukan reaksi Myla yang terkejut akan nada tingginya, "Kami tidak memiliki hubungan yang seperti itu. Kami ...." Sebentar saja Myla terkejut dan langsung menganggukkan kepala sehingga tali percakapan putus begitu saja, "Saya mengerti," dia paham kalau hubungan terlarang itu tidak boleh diketahui. Wajar kalau Alicia berusaha menyembunyikannya. Sekarang dia sebagai pelayan setia harus menutup mulut karena telah mengetahui rahasia itu, "Lebih baik kita kembali, Nona," pintanya sopan sembari memeluk tubuhnya yang terkena embusan dinginnya malam. *** Keesokan harinya Flint berjalan tergesa-gesa mendatangi ruang kerja. Ekspresi wajahnya sangat tegang sampai-sampai membuat para pelayan dan prajurit didera rasa penasaran. Sikap Flint yang seperti itu biasanya menandakan akan ada sebuah berita besar. Pintu dibuka setelah dipersilakan masuk oleh orang yang ada di dalam ruangan. Flint menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang lain. Setelah dirasa aman baru kaki dilangkahkan masuk dan pintu ditutup rapat setelahnya. Dia bergegas menghampiri sang duke yang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di meja. "Tuan, ada berita buruk," menahan berita besar itu hingga dia tiba berada tepat di depan sang duke, "Penyisiran seluruh wilayah akan dilakukan besok untuk mencari di mana keberadaan pelaku pembunuhan Putri Haura. Untuk memperkecil kemungkinan pelaku kabur, penyisiran masing-masing distrik akan dilakukan secara serempak." Ekspresi yang tegang itu tertular kepada sang duke. Dahi mengerut dalam memikirkan apa yang harus dilakukan pada Alicia. Kecil kemungkinan Morning Glory akan diperiksa namun tidak menutup kemungkinan kalau hal itu terjadi. Terlebih penduduk Distrik Edelweiss baru-baru ini digemparkan oleh tamu asing yang mana akan mengundang kecurigaan prajurit kerajaan jika mereka mengatakan hal tersebut. Mengirim Alicia ke tempat lain sudah sangat terlambat. Akses wilayah pasti sedang dijaga ketat agar memudahkan penyisiran besok. Sang duke sudah tahu kalau keputusannya menyembunyikan seorang pembunuh berisiko besar. Dia sudah mempersiapkan diri untuk itu. Tetapi dia tidak pernah menyangka jika penyisiran secara besar-besaran akan dilakukan dalam waktu dekat dan tiba-tiba tanpa pemberitahuan. "Kumpulkan seluruh penduduk ke Morning Glory dan katakan pada mereka kalau akan ada pesta penyambutan. Jangan biarkan satu pun orang luar datang ke pesta itu. Hanya penduduk Distrik Edelweiss." Ketegangan yang menempel di wajah Flint tadi langsung hilang ketika sang duke memberi aba-aba, "Apa ada tamu yang harus disambut, Tuan?" dilanda kebingungan karena sepengetahuannya tidak ada tamu besar datang ke Distrik Edelweiss. Apalagi mereka memiliki perbincangan yang sangat penting namun sang duke memilih untuk menggelar pesta. Itu sama sekali tidak masuk akal. Sang duke mendekat pada Flint dan menepuk bahu yang tidak lagi tegang itu sambil lalu, "Kau akan tahu nanti." *** Alicia mendongkol jika mengingat kejadian tadi malam. Dia tidak hentinya diserbu oleh pertanyaan yang muaranya sama setelah kembali ke kamar. Myla tidak membiarkannya berbicara karena terlalu antusias menanyakan bagaimana hubungannya dengan sang duke. Selimut yang menutup setengah tubuhnya ditarik sampai mencapai dagu. Dia masih bergelung di ranjang tidak berniat bangun. Lagi pula tidak ada yang bisa dilakukannya ketika bangun nanti. Oleh sebab itu dia berniat untuk rebah di sana lebih lama. "Myla sudah gila. Bisa-bisanya berkata aku menyukai pria yang selalu mengacungkan pedang padaku." "Dia berniat membunuhmu kalau kau berani kabur." Alicia mengangguk setuju sebelum akhirnya bangkit dan melonjak kaget. Pria yang dibicarakannya ada di depan mata. Padahal dia tidak mendengar suara pintu atau suara orang melangkah. Bagaimana sang duke bisa masuk? Atau seorang panglima militer dilatih sampai berjalan saja tidak mengeluarkan suara? Dia menarik seluruh kesadaran kembali berfokus pada masalah utama. Bukan bagaimana cara sang duke masuk ke dalam kamar yang harus dia pikirkan saat ini. Orang yang berniat membunuhnya ada di depan mata sekarang. Matanya segera memindai apakah benda tajam yang selalu dipakai untuk mengancamnya ikut serta bersama pria itu. Untungnya dia tidak menemukan apa yang dicari. Selain itu ada kegelisahan lain yang mengusiknya. Reaksinya sungguh terlambat membiarkan ancaman berdiam lama menatapnya, "M-mau apa kau kemari?! Dasar tidak sopan! Masuk ke kamar seorang wanita tanpa permisi!" Sang duke tidak peduli cercaan yang ditujukan jelas padanya. Dia lebih memilih beranjak ke area duduk yang mana khusus disediakan di masing-masing kamar untuk bersantai, "Ada yang perlu aku bicarakan denganmu," memperhatikan Alicia yang kini duduk menyudut di ranjang sambil menutupi tubuh sepenuhnya dengan selimut," Lebih baik kau duduk bersamaku di sini ketimbang berbicara jauh di sana seperti seorang wanita yang habis dinodai." "K-kau!" meskipun kesal, tetapi Alicia membenarkan perkataan itu. Tadi tanpa sadar dia menarik selimut ketika menyudut sampai ke kepala ranjang. Seolah selimut dijadikan sebagai tameng tindakan kejahatan seorang pria. Diamnya cukup lama sebelum Alicia melirik sang duke yang tidak lagi melihat ke arahnya. Seperti sengaja memberikan waktu untuknya bersiap-siap. Dia bergegas mengambil kesempatan mengenakan blazer yang dipakainya tadi malam, lalu mengancingkannya keseluruhan. Piama berwarna putih yang dikenakannya memiliki bahan dasar sifon yang mana tipis dan transparan. Wanita bangsawan sering menggunakannya sebagai baju tidur karena dinilai nyaman untuk dikenakan ketika tidur. Oleh karena itu dia membutuhkan blazer untuk menutupi bagian tubuhnya yang bisa dipandang oleh orang lain. Apalagi dari pria asing yang selalu berniat membunuhnya. Alicia duduk di kursi lainnya dan secara lantang menatap lurus ke arah sang duke. Dia bisa berani lantaran tidak ada pedang yang membuatnya selalu diliputi ketakutan. Sekarang dia bisa melawan tindakan dominan apa pun yang mengancamnya. Dia ingin memperlihatkan kalau dia bukanlah wanita yang bisa ditindas begitu mudahnya. "Besok penyisiran seluruh distrik akan dilakukan untuk menangkapmu. Prajurit kerajaan juga telah dikerahkan sampai ke Distrik Edelweiss. Kau tidak bisa kabur lagi dan aku juga tidak bisa menjamin keselamatanmu seratus persen." "Kalau begitu untuk apa kau menahanku di sini? Apa kau berniat untuk menyerahkan aku pada mereka dengan cara mengelabuiku?" "Aku tidak perlu mengelabuimu untuk menyerahkanmu pada mereka." Alicia bergelut dengan pikirannya sendiri. Sang duke menahannya begitu mudah dan bahkan berulang kali memiliki kesempatan untuk membunuhnya. Menyerahkannya ke pihak kerajaan juga pasti tidak sulit, tetapi sang duke tidak melakukannya. "Lalu apa rencanamu?" "Aku berpikir mungkin kau memiliki jalan keluar yang lebih baik dibandingkan caraku," sang duke menyipitkan mata, "Bukankah kau seorang pembunuh? Kau pasti memiliki ide brilian seperti kau yang membunuh Putri Haura. Memusingkan dua kerajaan dengan tindakan tidak berperasaan yang kau lakukan," cercanya tidak tanggung-tanggung meski mencerca bukan tujuannya. Dia hanya ingin mengingatkan status yang mungkin sedang dilupakan oleh Alicia. Alicia membelalak dan bangkit menggeser kursi yang diduduki ke belakang. Tuduhan tidak terbukti itu membuatnya sangat marah, "Aku bukan pembunuh!" Sang duke memiringkan kepala dan menyandarkan punggung sambil memangku kaki, "Aku ingin bekerja sama denganmu." "Kerja sama?" "Menguak bagaimana pembunuhan Putri Haura terjadi. Jika kau memang bukan pembunuhnya, kau bisa diuntungkan. Nama yang sudah tercemar bisa kau perbaiki." Alicia tidak mendapatkan celah keraguan akan tawaran yang diajukan padanya. Memang bukti yang menyatakan kalau dia tidak bersalah adalah apa yang dicari selama hidup dalam lingkaran tuduhan. Dan lagi dia tidak mempunyai siapa-siapa saat ini. Kehadiran sang duke dengan kemampuan terlatih bisa menjadi pasangan kerja sama yang menguntungkan untuknya. "Baiklah. Katakan jalan keluar apa yang kau punya?" Sang duke diam sejenak sebelum berkata, "Pernikahan. Hanya itu satu-satunya jalan agar kau tidak ditangkap. Mungkin akan ada orang yang mengenali dirimu yang asli, tapi kau hanya perlu bersikap sebagai orang lain. Untuk itu aku akan membuat identitas baru untukmu." Wajah sampai ke telinganya merah padam. Menikah bukan sesuatu yang bisa dipermainkan dan hanya dilakukan satu kali seumur hidup. Alicia tidak pernah membayangkan akan menikah di usia dua puluhan. Di balik itu ada sesuatu yang mengusiknya yaitu dia harus menikah tanpa dasar cinta. Haruskah dia menerima jalan keluar yang jelas-jelas tidak diinginkannya itu? Menikah dengan musuhnya sendiri yang mana sewaktu-waktu bisa melenyapkannya. "Tidak ada jalan lain?" menggantungkan harapan pada pertanyaannya itu. "Kau bisa mengakui perbuatanmu pada mereka, tapi aku yakin kau tidak bisa melakukannya," wanita di hadapannya bersikeras untuk tidak dianggap sebagai seorang pembunuh, oleh karena itu sudah pasti tidak bisa mengakui perbuatan yang tidak dilakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN