Anastasia dikawal oleh beberapa orang prajurit. Sang duke serius mengatakan kalau akan memastikan Anastasia untuk kembali ke ruang belajar. Memang tidak ada celah untuk kabur karena dia seperti seorang tahanan yang digiring memasuki arena pertarungan.
Setelah pintu ruang belajar berhasil ditutup, Anastasia menghampiri tempat duduknya. Tentu saja dengan sikap elegan agar tidak dikomentari banyak oleh Gilda yang mana hanya akan membuat durasi pelajaran sangat panjang nantinya. Dia duduk di sana setelah dipersilahkan.
Buku yang ada di hadapannya kini menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Kulit luar buku itu mengingatkannya pada kejadian di mana Gilda memerlukan buku yang letaknya berada jauh. Harus menggunakan tangga untuk mencapainya.
Perpustakaan di Morning Glory memang luas atau bahkan sangat luas. Rak buku besar lengkap dengan isinya. Perlu tangga untuk mencapai buku yang letaknya di bagian rak paling atas.
Anastasia membuka halaman pertama hingga beberapa halaman selanjutnya. Lama kelamaan sikap santai menjadi tegang ketika membaca tulisan yang arahnya tertuju pada kehidupan pasangan suami istri. Sungguh membuatnya malu dan segera menutup buku tebal itu dengan sekali gerakan cepat. Kini Anastasia menatap lurus ke arah Gilda seolah ingin memberontak untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku tidak ingin belajar."
"Apa yang nyonya lihat merupakan hal umum untuk dipelajari seorang bangsawan." Gilda menjulurkan tangan ke depan dan membuka buku itu kembali. "Duke Lucherne juga mempelajarinya."
Anastasia melirik halaman yang dibuka memperlihatkan gambar sepasang kekasih tengah berdiri saling menatap. Meskipun hanya sebuah gambar namun dia bisa melihat rasa cinta di dalamnya. Suatu saat dia akan bertemu dengan kekasih hatinya, bukan? Cepat atau lambat dia akan mempelajarinya juga, bukan?
Dia memajukan tubuh yang menghindar mundur tadinya, lalu mencoba untuk menahan malu ketika mulai membaca buku tersebut. Di dalamnya terdapat bagaimana tahap hubungan pasangan yang saling mencintai, lalu membinanya masuk ke dalam kata pernikahan.
Rona merah di wajah semakin merah saja ketika halaman yang baru dibuka mengingatkannya pada malam pernikahan yang dijalani bersama sang duke. Begitu pula malam-malam selanjutnya yang mereka habiskan bersama. Cepat-cepat dia membuka halaman yang baru dan seketika dia terpaku melihat gambar wanita sedang memeluk seorang bayi dengan penuh kasih sayang. Tangannya tanpa sadar mengusap perut yang sepenuhnya datar itu. Apa nanti dia juga akan memilikinya?
Pernikahannya dengan sang duke sudah jelas bukan bertujuan untuk saling mencintai. Tetapi bukan berarti dia tidak akan memiliki anak dari pernikahan itu, bukan? Mereka sudah melakukan hubungan intim berulang kali. Bagaimana kalau dia mengandung bayi sang duke?
Suatu saat nanti mereka akan berpisah setelah kasus kematian putri Haura terungkap. Dia jelas tidak ingin berpisah dengan anaknya. Belum tentu jika sang duke berbaik hati untuk merelakan darah dagingnya begitu saja.
Terlebih tidak mungkin dia membesarkan anaknya tanpa kasih sayang seorang ayah. Sangat sulit mencari pria yang menerima wanita yang sudah memiliki anak. Kalau begitu setelah lepas dari sang duke apakah dia akan menjadi seorang wanita tanpa suami seumur hidup?
Tidak! Semua itu tidak boleh terjadi. Dia masih ingin bertemu dengan pria yang dicintainya. Memupuk kebahagiaan di tempat tinggal mereka. Memberikan kasih sayang kepada anak-anak mereka.
"Nyonya," panggil Gilda setelah berulang kali tidak direspon. "Apa nyonya mendengarkan saya?" Imbuhnya kemudian. Dia yakin jika apa yang disampaikan sebelumnya tidak didengar karena Anastasia sibuk dengan pikiran sendiri. Pada akhirnya dia harus mengulang ucapannya untuk yang ke dua kalinya. "Dalam pernikahan melakukan hubungan intim diperlukan karena akan meningkatkan kadar hormon bahagia. Bukan berarti sering melakukannya adalah jawaban yang tepat. Satu kali dalam seminggu sudah cukup untuk menjaga hubungan dengan pasangan. Frekuensinya akan menurun seiring usia bertambah." Gilda tersenyum melihat bagaimana merahnya wajah Anastasia sekarang namun tetap bersedia mendengarkannya. "Hubungan intim bukan satu-satunya indikator kebahagiaan. Ada banyak pasangan yang hubungannya bahagia tanpa melakukan hubungan intim atau jarang melakukannya. Beberapa di antara mereka tidak mengalami ketertarikan untuk itu. Semuanya bergantung pada masing-masing individu. Lebih baik jika nyonya membangun komunikasi yang mendalam dengan duke Lucherne. Termasuk membicarakan tentang seberapa sering hubungan intim akan dilakukan."
Bagaimana bisa dia membicarakan tentang 'Seberapa sering hubungan intim akan dilakukan' pada musuhnya sendiri? Sungguh saat ini satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah menolak melakukan itu semua agar dia tidak hamil yang mana hanya akan menyulitkan nantinya ketika mereka berpisah.
Bahkan sekarang saja setelah mereka melakukan hubungan intim, dia tidak tau apakah di dalam perutnya kini mengandung anak sang duke atau tidak. Bagaimana cara dia untuk mengetahuinya? Dia membawa tatapan mengarah pada Gilda yang duduk di hadapannya.
"Bagaimana c-cara untuk mengetahui kehamilan?" Ucapnya terbata-bata merasa begitu aneh menanyakannya.
"Umumnya gejala kehamilan akan dimulai saat seorang wanita terlambat haid yaitu sekitar minggu ke empat kehamilan. Sebagian wanita akan merasakan kram perut, mendapatkan bercak darah disusul mual, muntah, dan gejala awal kehamilan lain pada minggu-minggu berikutnya."
Untungnya Anastasia tidak mengalami semua itu. Dia bisa bernapas lega sekarang. Satu hal lagi yang membuatnya khawatir adalah bagaimana cara dia menghindari sang duke? Mereka tidur di kamar yang sama setiap malam. Tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukannya lagi.
Untuk sekarang yang harus dipikirkannya adalah bagaimana cara menghindari sang duke. Berulang kali mereka melakukan hubungan intim tanpa penolakan karena dia sudah lebih dulu jatuh pada pesona sang duke. Dia tidak bisa memungkiri kalau pria yang kekar itu begitu tampan ketika memperlihatkan bentuk tubuh berotot itu padanya.
Dia melirik gambar terakhir yang dilihatnya dari buku itu. Sebenarnya dia sangat ingin memiliki seorang bayi namun demi kebaikan bayi itu kelak, dia harus memendam keinginannya. Sebentar saja sampai kasus kematian putri Haura terungkap.
***
Diam-diam tanpa sepengetahuan Anastasia, hari itu sang duke mendatangi distrik Syringa. Memang sebelumnya dia mengatakan akan pergi lusa namun semua itu hanya tipuan saja. Dia tidak ingin repot jika Anastasia berusaha melakukan pelarian lagi.
Tepat setelah Anastasia dikawal oleh prajurit, dia dan Flint langsung berangkat. Tidak membuat celah untuk Anastasia mengetahui. Kepergiannya juga dibuat secepat mungkin agar nanti tidak ada kata menginap yang hanya akan menimbulkan kecurigaan ketika pulang nanti.
Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, di depan sebuah rumah kecil itu keberadaan mereka sekarang. Rumah yang pernah disinggahi Anastasia ketika mereka menyamar di distrik Syringa. Kemungkinan besar memang di tempat itu Anastasia tinggal sebenarnya.
Dia mengetuk pintu dengan beberapa ketukan saja. Bukannya pintu yang terbuka, melainkan jendela rumah yang terbuka tirainya menampakkan dua sosok anak kecil yang mirip rupanya. Salah seorang mengerutkan dahi dan salah seorang lagi menyipitkan mata memperhatikan mereka.
"Bisakah kalian membukakan pintunya?" Tanya sang duke memberikan isyarat dengan menunjuk ke arah pintu.
Kini kedua anak kembar itu sama-sama mengerutkan dahi. Sepertinya cara sang duke tidak berhasil karena tidak ada pergerakan sama sekali. Tetap bergeming memperhatikan mereka dari jendela rumah.
"Sepertinya mereka tidak bisa mendengar apa yang tuan katakan."
Jendela rumah itu menggunakan kaca biasa yang tidak tebal. Mustahil jika tidak mendengar suara dari luar. Ketakutan tidak mungkin menjadi alasan kenapa pintu tidak kunjung dibuka karena tatapan itu persis seperti Anastasia yang menantangnya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, tuan?"
Mereka bisa saja mendobrak pintunya, tetapi tidak mungkin dilakukan karena anak kecil itu akan ketakutan nanti. Sang duke yang hendak membuka tudung kepala itu langsung membuat Flint tergerak memperhatikan sekeliling. Memastikan kalau tidak ada orang yang melihat. Bahkan tidak segan-segan memgacungkan pedang.
Sang duke bisa melihat bagaimana ekspresi kedua anak itu tiba-tiba berubah ketika Flint menarik pedang. Bukan ekspresi ketakutan, melainkan ekspresi ketertarikan. Dia juga bisa mendengar suara tepukan tangan dari dalam rumah. Kini pintu rumah itu terbuka sepenuhnya.
"Perlihatkan pada kami pertunjukannya!!" Teriak anak kecil itu serempak dengan nada riang.
Nyatanya Hana dan Hani berpikir kalau apa yang mereka lihat adalah sebuah pertunjukan. Pedang adalah apa yang mereka lihat di dalam buku dongeng yang mana sering menjadi penampilan lengkap seorang pangeran. Begitu pula di festival ketika seorang pria berpenampilan layaknya seorang kesatria sedang membuat pertunjukan.
Sang duke menarik pedang pula dari sarung, lalu mengacungkannya pada Flint. Dia bisa melihat bagaimana antusiasnya kedua anak itu saat ini. Begitu polos tanpa ada kekhawatiran sedikit pun mengusik raut yang begitu lebar tawanya.
"Mungkin kita akan memainkan sedikit pertunjukan tanpa harus mengundang perhatian." Mengguncang sedikit pedang itu agar Flint segera mengangkat pedangnya kembali.
Flint menuruti perintah dengan mengacungkan pedangnya pula. Pada saat itu juga dia menangkis serangan yang menimbulkan suara gesekan. Pertunjukan terhenti dan mereka melihat sekeliling memastikan jikalau tidak ada yang mendengar.
Sungguh dia sangat terkejut ketika pedang itu tiba-tiba melayang ke arahnya. Membuat insting kesatrianya bekerja untuk menangkis serangan. Padahal setelah pedang menyatu, dia tidak merasakan ada tekanan sama sekali dari yang menyerang. Hanya dia saja yang menggunakan kekuatan besar untuk menahan serangan tidak mengenainya.
"Aku akan menamakannya dengan latihan tanpa mengeluarkan suara."
Sang duke membiarkan Flint untuk memimpin penyerangan hingga ketika sudah terbiasa, mereka saling menyerang, saling menangkis, dan saling menghindar. Pertarungan itu sengaja digiring masuk ke dalam rumah agar tidak mencuri perhatian jika kedapatan seseorang melihat. Pintu dan juga tirai jendela ditutup dengan gerakan yang seirama mengikuti jalannya pertarungan.
Meja, kursi, dan tangga dinaiki tanpa menimbulkan suara. Setiap sudut disapu oleh pertarungan. Mereka bisa melihat bagaimana penonton begitu terkesima sampai tidak lagi bersorak gembira. Hanya mengikuti arah gerakan mereka saja tanpa ingin berpaling menatap ke arah lain.
Suasana begitu hening sampai suara pintu menjadi penghalang jalannya acara pertunjukan. Semua mata kini mengarah pada seorang wanita yang berdiri di depan pintu. Tampak sangat terkejut melihat pemandangan itu.
"Ibu!" Seru Hana dan Hani menghamburkan diri ke dalam pelukan ibunya.
"Kami menonton pertunjukan yang sangat bagus. Ibu harus melihatnya juga bersama kami." Ucap Hana kemudian disusul oleh anggukan Hani.
Liana yang berjongkok segera bangkit dan menjadikan dirinya sebagai tameng menutupi kedua anaknya. Meskipun dia juga takut menghadapi dua orang pria dengan pedang tajam namun demi anak-anaknya dia memberanikan diri. Menatap lurus tanpa memperlihatkan rasa ketakutannya.
"Mau apa kalian datang ke mari?"
Sang duke menyimpan pedang disusul oleh Flint. Mereka turun dari tangga menghadap wanita yang baru datang tersebut. Melihat bagaimana cara kedua anak kembar itu memanggil sepertinya mereka sedang berhadapan dengan ibunya Anastasia saat ini.
"Kami datang untuk mencari tau informasi mengenai kehidupan Alicia."
"Eli?" Ucap Hana ketika mendengar nama itu.
Hani ikut mengintip dari balik tubuh ibunya. "Eli pergi mencari pangeran tampan."
Liana membawa kedua tangannya untuk menuntun anak-anaknya bersembunyi kembali. Lama dia menatap pria yang ada di hadapannya sebelum meminta Hana dan Hani naik ke lantai atas. Setelahnya kedua anak itu berlari pergi menuju lantai atas seperti yang diperintahkan menyisakan mereka bertiga saja di sana.
Bagaimana Liana harus bersikap menghadapi mereka? Alicia sudah mengatakan padanya untuk menjaga diri beserta Hana dan Hani. Saat ini orang yang mencari Alicia adalah musuh. Seperti dua orang yang ada di hadapannya saat ini. Ternyata lebih sulit dari yang dikira untuk mengatakan kalau dia tidak mengenal anaknya sendiri. Bibirnya seakan berat untuk berucap.
"Kenapa kalian mencari seorang pembunuh ke tempat ini?" Menguatkan diri untuk tetap berdiri tegak dalam keruntuhan hati.
Sang duke mengernyitkan alis bingung akan respon yang diterima. Dia yakin jika wanita di depannya adalah ibunya Alicia. Perawakan ibu dan anak itu setidaknya memiliki sedikit kesamaan jika diperhatikan. Ditambah dia tidak mungkin salah mengira kalau dua anak kembar tadi adalah kedua adik yang sangat ingin Alicia lindungi.
"Bagaimana bisa seorang ibu meyakini anaknya sebagai pembunuh?" Dia saja menyimpan keraguan akan predikat pembunuh yang melekat pada diri Alicia.
"Apa maksudmu?" Liana merasa sangat aneh karena semua orang menganggap Alicia pembunuh namun apa yang didengarnya barusan tidak mengarah pada anggapan itu. "Bukankah kau datang untuk memenjarakan Alicia?"
Flint paham akan situasi itu dan segera mengambil langkah. Tidak ingin jika kesalahpahaman terus berlanjut karena kedatangan mereka hanya untuk mencari informasi, bukan berbuat gaduh atau semacamnya. Apalagi memenjarakan Alicia yang mana adalah istri sang duke sendiri.
"Anda sudah salah mengira, nyonya. Kedatangan kami hanya untuk mencari informasi saja dan," menunjuk sang duke dengan semua jemari yang terbuka sepenuhnya. "Beliau adalah duke Lucherne. Pemimpin distrik Edelweiss."
Liana membeliak tatkala nama itu disebut. Bagaimana tidak? Orang yang menikahi anaknya tiba-tiba ada di depan mata. Sang duke yang paling dekat dan paling berkuasa akan Alicia. Salah langkah bisa saja anaknya menjadi korban. Dia tidak mempercayai sang duke dan juga tidak bisa memperlakukan sang duke dengan buruk. Pengaruhnya akan berdampak pada Alicia nanti.
"Terima kasih telah memberikan tempat berlindung untuk putriku, duke Lucherne."
Terjawab sudah kebingungan sang duke yang sempat membuatnya khawatir kalau Alicia juga tidak dipercayai oleh keluarga sendiri. Terlebih dari itu mendengar ucapan terima kasih mengartikan kebenaran kalau wanita di depannya adalah ibunya Alicia.
"Sepertinya Alicia sudah menceritakan perihal Morning Glory."
Bukan pertama kali Liana mendengar nama kediaman resmi seorang duke di distrik Edelweiss itu. Sebelumnya dia sudah mendengarnya dari Alicia secara langsung. Bagaimana kehidupan anaknya di sana serta perlakuan yang didapatkan namun itu semua tidak mengubah cara pandangnya terhadap sang duke. Musuh tetaplah musuh dan sang duke adalah musuh yang paling dekat.
"Alicia sudah menceritakan semuanya, termasuk pernikahan terselubung yang kalian jalani."