Sang duke membuka kedua matanya dan menyingkirkan tangan yang memeluk tubuh Anastasia. Saat bangun dia bisa melihat kalau wanita yang tidur di sampingnya dengan posisi telentang itu begitu lelap. Raut wajahnya polos tidak menampakkan perbuatan dosa sama sekali.
Seperti informasi yang dia kumpulkan sejauh ini, Anastasia bukan hidup sebatang kara. Ada sebuah keluarga kecil di rumah itu. Rumah yang berbeda dari informasi yang Flint dapatkan. Apakah dia harus menggali informasi lagi dari sana?
Kaki dibuat berpijak di lantai keduanya. Dia bangkit dari ranjang peristirahatan menuju kamar mandi. Menyegarkan pikiran dengan air yang begitu dingin pagi itu. Sebelum mengusiknya kembali dengan berbagai macam persoalan mengenai Anastasia.
Setelah selesai urusannya menyegarkan pikiran, dia keluar dari kamar mandi. Langsung mengarahkan tujuannya pada lemari pakaian. Tubuh yang lembap hanya dibaluti handuk itu diganti dengan seragam lengkap kini. Tidak lagi malu menunjukkan eksistensinya sebagai seorang pemimpin.
Sekali lagi dia melihat Anastasia yang posisinya tidak berubah meski beberapa waktu lamanya berlalu. Hal itu memunculkan kecemasan tersendiri di hati sang duke. Dia meletakkan telapak tangannya pada dahi Anastasia.
Suhu tubuh adalah apa yang ingin diperiksa. Dia takut jika hal yang sama ketika pertama kali melakukan malam pernikahan terjadi lagi. Waktu itu Anastasia pingsan saat dia tidak berada di Morning Glory. Untungnya kali ini suhu tubuh Anastasia terbilang normal.
Dia tidak langsung menyingkirkan tangannya dari sana. Dengan sikap lembut telunjuknya disentuhkan ke pelipis itu hingga helaian rambut yang menempel di bibir dapat disingkirkan. Dia mencondongkan tubuh hingga bisa memberikan sebuah kecupan di dahi itu. Kemudian selimut dinaikkan hingga menutupi seluruh pundak yang terbuka bebas.
Setelahnya dia keluar tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar Anastasia tidak terbangun. Seperti biasa yang dilakukannya setiap kali meninggalkan kamar. Lalu, langkahnya dibawa menuju ruang kerja.
Tepat di ujung sana tampak Flint juga berjalan menuju arah yang sama. Tidak seperti langkah santainya, justru sebaliknya langkah Flint begitu terburu-buru. Kali ini kabar mengejutkan apa lagi yang akan dia dengar?
"Tuan," lebih mendekat agar bisa membisikkan kabar mengejutkan yang dia dapat. Kemudian menjarak untuk memberikan waktu bagi sang duke mencerna kabar tersebut. Dia bisa melihat bagaimana ekspresi serius yang tertanam jelas di wajah itu kini.
Tidak lama kemudian seorang prajurit datang menghampiri mereka. Menyerahkan sebuah kertas bersegel pada sang duke. Cap lilin yang menimbulkan gambar bunga Orchid itu menandakan bahwa undangan diberikan langsung oleh kerajaan.
Sang duke membawa surat tersebut masuk bersamanya ke ruang kerja. Dia duduk terlebih dahulu sebelum membuka surat dan melihat apa isi di dalamnya. Seperti kabar yang disampaikan Flint padanya, surat itu adalah sebuah undangan pernikahan.
Dia meremas surat undangan tersebut hingga remuk semuanya. Pernikahan yang akan diselenggarakan dua kerajaan itu benar adanya. Pangeran Darius dan putri Kanaya dari kerajaan Wisteria.
Di saat penyebab kematian putri Haura masih belum ditemukan dan duka masih mendalam dirasakan kerajaan Orchid, apa yang dilakukan raja Sargon dengan kabar pernikahan itu? Bahkan dia mendapatkan undangan resmi untuk hadir di kemeriahan.
Kemarahan itu harus segera dicegah sebelum membesar. Flint tidak ingin kehidupan pribadi sang duke yang disembunyikan dengan rapat sampai melebar jika menunjukkan sikap emosional lebih akan kematian putri Haura.
"Apa tuan akan menghadirinya bersama nyonya Anastasia?"
Sang duke memang harus mencari jawaban atas pertanyaan itu. Dia masih harus memikirkan bagaimana Anastasia nanti jika dibawa bersamanya ke istana kerajaan. Apakah sudah waktunya bagi Anastasia tampil secara terang-terangan?
***
Anastasia menggerakkan tubuhnya tanpa membuka mata. Dia hanya mengubah posisi tidurnya saja. Masih berada dalam zona nyamannya bergelung di ranjang besar itu seorang diri.
Tanpa disadari kenyamanan yang sedang dirasakan Anastasia sedang dipantau oleh orang lain. Orang itu tentu saja adalah Gilda. Sungguh dia sangat kesal dengan Anastasia yang terus-menerus terlambat.
Myla yang juga ikut menyaksikan semakin kebingungan memikirkan alasan apa lagi yang harus dia katakan agar Anastasia tidak dihukum. Melihat bagaimana marahnya Gilda tampaknya kata pujian tidak akan mempan.
Hingga suara mendengkus seolah sudah habis kesabaran itu membuat Myla harus mengambil tindakan untuk menenangkan. "Nyonya Anastasia pasti sangat lelah setelah kejadian kemarin." Ucapnya sambil memindai perubahan ekspresi Gilda.
Gilda masih ingat jelas ketika dia kemarin kesulitan mencari Anastasia. Sampai bisa menemukannya, dia harus berlari sambil mengangkat rok di hadapan semua orang. Menghilangkan citranya sebagai seseorang yang mengajarkan arti kesopanan.
Di samping itu dia juga ingat ketika malam itu dihardik sang duke akibat kelalaiannya sendiri. Membiarkan istri seorang duke bertaruh nyawa dengan memanjat tangga yang begitu tinggi. Meskipun semua itu bukan murni keinginannya sendiri, tetapi tetap saja dia mengambil andil dalam kemungkinan mencelakai Anastasia.
Anastasia mengubah posisi tidurnya kembali. Di saat itu pula dia membuka mata melirik ke arah dua orang wanita yang berdiri di dekat kaki ranjang. Dia yang pada saat itu tidur telentang langsung membawa tubuhnya duduk menghadap mereka.
Masih terkejut akan keberadaan dua orang tersebut, dia sekali lagi harus dibuat terkejut ketika helaian rambut yang tadi menggantung di pundak jatuh ketika dia bangkit. Menyentuh permukaan kulitnya secara langsung.
Gilda juga ikut terkejut dan segera memicingkan mata. Berbeda dengan Myla yang membalikkan badan. Mereka tidak tau jika Anastasia pada saat itu tidur tanpa mengenakan pakaian.
Anastasia menaikkan selimut sampai batas lehernya. Sungguh dia sangat malu saat ini. Padahal sang duke berjanji untuk membangunkannya ketika bangun nanti. Tetapi dia dibiarkan tetap tertidur tanpa sempat mengenakan pakaian kembali.
"Sudah waktunya untuk bangun, nyonya Anastasia." Ucap Gilda mengalihkan suasana yang sangat memalukan.
"B-baiklah. A-aku akan bersiap-siap."
Gilda diam sejenak. Dia tidak ingin mengulang kembali kecerobohan hari ini. Kamar itu ditempati pasangan suami istri dan sudah pasti akan ada banyak hal yang tidak boleh mereka lihat di dalamnya. Mungkin dia juga akan memberitahukan pada para pelayan untuk tidak masuk ke dalam kamar sang duke sebelum diperbolehkan masuk sekalipun untuk menjalankan tugas.
"Saya akan menunggu nyonya di ruang belajar." Gilda beranjak pergi lebih dulu. Setelah membalikkan badan baru dia membuka mata kembali.
Berbeda dengan Myla yang masih tetap berdiri di sana. "Duke Lucherne meminta kami para pelayan untuk menyediakan air hangat ketika malam saja, tapi pagi ini sangat dingin dan sebaiknya nyonya mandi menggunakan air hangat." Dia diam sejenak masih menahan malu yang semakin menggelapkan rona merah di wajah. "Apa ada hal lain yang nyonya butuhkan? Seperti es batu untuk meredakan nyeri?"
"T-tidak. Sudah cukup, Myla. Terima kasih." Ucap Anastasia terbata-bata semakin malu saja ketika disuguhkan pertanyaan itu.
Myla yang menghadap ke belakang itu menganggukkan kepala. "Kalau begitu saya akan menunggu nyonya di luar."
Sepeninggal mereka akhirnya Anastasia bisa melemaskan kedua bahunya yang tegang. Dia mengintip bagian dalam selimut. Tentu saja masih bersih tanpa sehelai pakaian menempel di tubuhnya.
"Sungguh memalukan." Ucapnya kemudian menghela napas panjang.
***
Anastasia celingak-celinguk mencari keberadaan sang duke. Bertanya-tanya pada prajurit dan pelayan hingga pada akhirnya dia berhenti di depan ruang kerja. Tempat di mana dia bertemu sang duke pertama kali. Di dalam sana kejadian memalukan pernah terjadi ketika dia bersusah payah menyembunyikan identitasnya.
Sebelum mengintip dia melihat sekeliling yang mana ada prajurit di mana-mana. Kalau begitu bagaimana dia akan mencuri dengar? Dia meletakkan telunjuknya sampai menempel pada mulut. Mengisyaratkan agar semuanya tidak memberitahukan keberadaannya pada sang duke nanti. Bahkan sambil memelotot dia menggunakan ibu jari sebagai pedang tajam dengan mengitari lehernya lambat-lambat. Persis seperti apa yang pernah dia lihat ketika berada di istana kerajaan.
Para prajurit menganggukkan kepala. Mereka sama-sama menuruti permintaan yang menjurus pada ancaman itu. Lebih baik mereka tidak ikut campur dalam urusan sang duke kalau masih ingin selamat.
Kini Anastasia bisa dengan leluasa mencuri dengar. Dia menempelkan telinganya di pintu dan berusaha mendengar perbincangan yang terjadi di dalam sana. Pintu itu sangat tebal sampai sulit untuk menemukan posisi yang cocok. Dia terus menggeser tubuhnya hingga berhenti di bagian tengah yang mana menjadi tempat kedua sisi pintu berpisah. Dari celah itu dia bisa mendengar suara sang duke sedang berbicara.
Samar-samar dia bisa mendengar kata -menyamar, informasi, salah, mencari, rumah, anak kembar- kata terakhir yang membuatnya gelisah adalah Syringa. Semua kata itu tertuju pada keluarganya. Apakah sang duke sudah tau di mana keberadaan keluarganya? Bukankah anak kembar yang di maksud Hana dan Hani?
"Apa yang nyonya lakukan di sini?"
Anastasia menolehkan kepala. Di hadapannya kini Gilda sedang berdiri tegak. Memang dia kabur lagi dari pelajaran Gilda namun saat ini bukan ketahuan yang menjadi kegelisahan. Sepenuhnya dia memikirkan keluarga yang terancam karena sudah diketahui sang duke posisinya.
Kapan sang duke tau di mana keberadaan keluarganya? Mungkinkah ketidakwaswasannya ketika mengunjungi distrik Syringa? Pada saat itukah sang duke melihat Hana dan Hani?
"Saya sudah sabar menunggu dan sekali lagi nyonya berusaha kabur. Sekarang saya tidak akan membiarkannya." Memegangi lengan Anastasia untuk ditarik bersamanya.
Pintu ruang kerja yang tertutup itu kemudian terbuka memperlihatkan sosok sang duke dan juga Flint. Lantas Gilda langsung melepaskan pegangannya agar bisa memberikan penghormatan. Dia menunduk dalam sebelum mengangkat kepala. Tetapi tidak serta merta menatap langsung ke arah sang duke.
"Maafkan saya, duke Lucherne. Nyonya luput dari pengawasan dan sekarang saya akan membawanya ke ruang belajar kembali."
Sang duke masih tidak melepaskan tatapannya dari Anastasia sejak mengetahui keberadaan wanita itu di luar ruang kerjanya. Seperti yang dia lihat raut wajah Anastasia begitu terkejut. Kemungkinan besar mendengar pula apa yang dibicarakannya dengan Flint tadi.
"Anastasia tetap tinggal di sini. Nanti aku yang akan memastikan dia kembali ke ruang belajar."
***
Sekarang hanya tinggal Anastasia dan sang duke saja di dalam ruang kerja tersebut. Sang duke menyandarkan pinggulnya di meja sembari melipatkan tangan di d**a mengamati ekspresi wanita di hadapannya. Sedangkan Anastasia menahan panas di matanya karena terbakar kemarahan bercampur tangis yang berusaha ditahan pula.
"Lusa aku dan Flint berencana pergi ke distrik Syringa untuk menemui keluargamu."
Sang duke berhenti sejenak ketika melihat pergerakan tangan yang menggengam erat pakaian. Hal apa yang membuat Anastasia begitu gelisah? Apa Anastasia masih berpikir kalau dia akan menghukum orang yang tidak bersalah?
"Untuk apa kau datang ke mari? Aku yakin bukan hanya karena kau ingin mencuri dengar pembicaraanku dengan Flint." Alih sang duke memberikan waktu pada Anastasia untuk mengatakan alasan keberadaannya.
Dari mana Anastasia harus memulai? Apakah dia harus memulainya dari mencaci maki sang duke yang tampak santai ketika ingin menghukum orang yang tidak bersalah? Dia jelas bukan berada dalam posisi bisa menggunakan kata makian untuk mengurungkan niat sang duke pergi ke distrik Syringa. Semua itu akan percuma saja karena sang duke hanya akan menganggapnya sebagai patung yang bisa berbicara.
Dia harus memikirkan cara yang tepat. Apa yang diinginkan sang duke darinya? Penyebab kematian putri Haura? Dia sendiri juga tidak tau bagaimana hal itu terjadi. Hingga matanya yang sibuk berkeliaran menatap tanpa tentu arah akhirnya menemukan sebuah solusi. Meskipun solusi itu sangat memalukan, tetapi setidaknya dia bisa membuat sang duke berhenti mengincar keluarganya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa dia lalukan dan juga yang bisa terpikirkan baginya saat ini.
Menahan malu Anastasia memajukan langkah hingga bisa berdiri dekat. Sang duke yang bersandar santai langsung melepaskan lipatan tangan. Berdiri dengan sikap yang tegang karena Anastasia terlalu dekat jaraknya. Bahkan kini meraba dadanya tanpa permisi.
Sang duke menangkap tangan yang sangat berani menyentuhnya. Menghentikan gerakan yang hampir membangunkan seluruh hasratnya. "Apa yang kau lakukan? Untuk inikah kau datang menemuiku?" Mereka sudah melakukan perbuatan intim itu tadi malam dan sekarang apakah Anastasia masih belum puas sampai harus terang-terangan mendatanginya?
Anastasia tidak kehilangan akal. Menggunakan tangan satunya lagi dia memeluk sang duke. Di jarak yang kian dekat itu dia mendongakkan kepala sembari memelas penuh harap.
"Sampai besok jadwal pelajaranku dengan Gilda sangat padat dan baru lusa nanti sedikit senggang. Saat itu tiba apa kau ingin menghabiskan waktu bersamaku?" Ucapnya dengan nada menggoda.
Mata yang redup itu sedang merayu sekarang namun sang duke seperti kesulitan menahan tawa setelah memahami alasannya. Ternyata sikap aneh itu ditujukan untuk menghalanginya pergi ke distrik Syringa. Dia ingin menggunakan kesempatan dengan membiarkan Anastasia dibaluti kegelisahan akan keluarganya yang terancam. Melihat bagaimana nanti Anastasia bersusah payah memuaskan dirinya.
Sang duke melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Anastasia, lalu menangkup kedua pipi itu sebelum menciumi bibir yang sudah meruntuhkan dinding pertahanannya sejak tadi. Lambat-lambat seirama dengan pertautan yang mereka buat, sang duke memutar tubuh Anastasia hingga kini beralih dekat pada meja. Membuat wanita itu mendapatkan pegangan sandaran.
Ciuman itu terlepas seiring sang duke memberi waktu agar oksigen yang menipis penuh kembali. Sang duke meletakkan kedua tangannya di atas tangan Anastasia yang memegang tepi meja. Tidak membiarkan tali hasrat itu lepas jika menjauh. Bahkan napas mereka yang terengah-engah dipadu menjadi satu dalam dekatnya jarak pandangan.
"Aku menyukai fantasimu." Sang duke mendongakkan wajah Anastasia yang sudah merah ronanya. "Tapi sayangnya aku lebih menyukai kerelaan di dalam hubungan intim kita." Dia mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir itu kemudian. "Aku tidak akan menyakiti keluargamu. Kau bisa mempercayaiku."
Anastasia yang baru pulih napasnya, langsung berbicara. "Atas dasar apa aku harus mempercayaimu?"
Sang duke menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan tatapan mereka. Saat ini Anastasia tidak lagi takut jika bertatapan dengannya. Dia bisa melihat kalau Anastasia bergeming.
"Atas dasar pernikahan kita."