"Iya. Aku melamarmu, Len." Ucap Ady dengan menatap Ellen secara intens. "Mana cincinnya, Mas?" Canda Ellen. Mencoba mencairkan suasana agar tidak tegang. "Melamar itu, biasanya ada cincin." Lanjut Ellen berucap tanpa rasa malu. "Iya, setelah ini kita beli cincin. Mau yang model bagaimana?" "Haduh! Mas... Mas. Dasar kanebo kering!" Rajuk Ellen. "Melamar saja, tidak tahu caranya." Lanjutnya protes sambil memukul d**a Ady. "Aku mendengarkan apa yang kamu ucapkan, Ellen. Maaf, aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang tadi saja, aku harus mencari di internet berhari-hari. Agar tahu, apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Saat ingin mengatakan kata-kata romantis." Ungkap Ady terus terang dan sedikit merasa bersalah. "Iyakah, Mas?" Ellen terkejut. "Sampai segitunya? Yang benar saja." Sudah

