saat dia rapuh,

1267 Kata
[ N A T A L I E ] Dua minggu berlalu. Memasuki minggu awal Agustus jasa cenayangku mulai dikenal masyarakat sekitar. Tentu tidak mungkin berjalan mulus. Ada beberapa panggilan iseng, juga klien yang hanya membayar setengah dari harga yang sudah disepakati. Aliza mengomeliku begitu tau aku beradu mulut dengan orang-orang itu. Padahal mereka yang salah. “Aku mengerti, tapi pikirkan lagi caramu mengatasi mereka demi karier cenayangmu. Ibarat tukang sayur—“ “Pajang sayuran yang bagus, yang jelek dinikmati sendiri. Yaaa, yaa, aku kenyang mendengar preposisi itu,” ketusku yang kembali menyeruput Milktea boba. Dia menghempas napas lelah padaku. “Lalu, soal Sir Harold—“Lizzy menggeser bangku besi tempatnya duduk tuk merapat padaku. “Apa yang terjadi setelah itu?” Ya, aku menceritakan tentang pria itu juga. Kuaduk Milktea lalu menggidikkan bahu. “Aku tak pernah melihatnya lagi. Mungkin sudah tewas karena spirit yang dia bawa pulang itu.” “Kau sama sekali tidak datang kembali mengeceknya?” lontar Aliza dengan mata membulat. “Buat apa? Itu sudah bukan urusanku.” “Tak heran orang-orang tak mau berurusan denganmu,” sarkasnya dengan nada manis. Aku tersenyum tipis. “Terima kasih banyak buat pujiannya.” "Aku serius, Natalie austryn!" Waitress datang, menaruh nampan kecil berisi sepotong strawberry shortcake di depan Aliza. Dia pelayan cafe yang sering mengajakku mengobrol singkat, namanya Fania Shane. Dia tersenyum pada kami. “Silakan nikmati kuenya.” “Thanks, Mrs. Shane,” kata Aliza. “Milktea lagi? Kau tidak pernah mencoba rasa lain?” ucapnya padaku. Aku melebarkan senyum. “Ya, Milktea Youth cafe tidak ada lawannya.” Fania berlalu sambil terkekeh. Aliza berkata, “Bagaimana kalau kau datang ke sana sekedar untuk mengecek?” “Seperti aku tidak punya kesibukan saja,” gerutuku pelan. “Kalau kau takut sendirian datang ke rumah pria dewasa, aku mau menemanimu.” “Bilang saja kalau kau memanfaatkanku tuk punya alasan ke rumahnya. Aku tau kau gampang tertarik pada laki-laki tiga puluhan dengan wajah dua puluhan.” Aliza menampar pelan lenganku. “Aku bukan wanita yang haus nafsu begitu. Bukankah bakal gawat kalau tetangganya menemukan dia sudah membusuk di rumah? Nanti kau juga yang diminta keterangan!" Jadi, sesuai dengan apa yang dia mau, aku kembali ke rumahnya saat siang sudah terik, dengan celana panjang kulot berwarna cokelat nyaris hitam bersama kemeja lengan pendek putih porselen. Rambut pirang yang bergelombang seperti mie kubiarkan tergerai karena setelah urusan itu selesai, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. “Hanya mengecek, oke? Setelah melihat dia masih hidup, kita pulang,” tekanku saat kami mendekati pintu belakang rumahnya. Aliza tak mendengarku, matanya sudah terpaku pada bentuk rumah milik Harold yang cukup unik. “Dia pasti sangat kaya,” bisik perempuan itu dengan mata membulat. "Ya, tidak heran." Kutekan tombol bel di sebelah pagar kayu area belakang rumah Harold. Tak lama suaranya keluar dari Interkom. “Halo?” “Selamat siang, Mr. Harold,” ujarku. “Suara ini ... Nat?” Aliza membulatkan mata mendengar panggilan itu, mulutnya bergerak ikut mengucap namaku dengan dahi mengerut. “Ya, erm, aku hanya ingin mengecek kondisi saja. Sepertinya kau masih hidup. See you then.” “Tunggu!” Tak lama setelah seruan itu, pintu belakang terbuka. “Masuk,” ujarnya ke arah kami. Kini aku yang membelalak. Wait, apa benar dia pria lunglai yang kutemui dua minggu lalu? Ke mana pria dengan wajah cekung dan tatapan tak bernyawa itu pergi? “Hei, kau bilang dia mirip tengkorak hidup!” bisik Aliza saat kami berdua berjalan mengekori Harold di lorong sebelah taman indoor. “Ya. Entah kenapa dia menjelma jadi Hot Sugar Daddy sekarang,” timpalku pelan. Aliza bereaksi kagum sepertiku saat pertama kali datang ke sini. Baru saja memasuki ruang tamu, aku mendapati Dean yang langsung tersenyum lebar padaku dengan nampan penuh di tangan. “Nat!” Rasanya sangat mengerikan mendengar spirit memanggilmu dengan akrab. “Y-ya ... Hai, Dean.” Aliza memekik tertahan begitu melihat Dean. Alih-alih mundur karena takut, dia maju menatap lekat spirit laki-laki berwajah Asia itu dari dekat. Dean mengerjap kaku. “Maaf?” lontarnya lambat. “Kau Dean? Salam kenal, aku Aliza. Satu-satunya dan hanya seorang, teman Natalie.” “Aku tidak semiris itu,” protesku sambil duduk di kursi yang sama seperti semalam. "Aku sudah dengar soalmu dari NAtalie, wah, ternyata benar kau tidak seseram spirit lain." Aliza melirik terus menerus ke Harold yang mempersilakannya duduk di sofa yang berdekatan dengannya. Yep, dia sedang jatuh cinta pada lirikan pertama. Harold tampak sangat segar, sangat senang dan sangat hidup—maaf atas deskripsi yang agak tidak selaras. Tubuhnya sekarang sangat berisi, bukan gemuk, tapi seolah otot-ototnya diisi oleh pompa angin. Surainya juga ditata rapi sekaligus santai. Intinya dia seperti foto-foto hot daddy yang bersebaran di P*nterest—tanpa anak janggut. “Kalian sudah makan? Dean sedang memasak pasta kerang untuk makan siang,” tawar Harold. “Belum. Kami melewatkan jam makan siang tadi,” sela Lizzy sebelum aku hendak menjawab. “Right, Nat?” Bukan, ‘right, Nat?’. Kita ke mari setelah memakan kue tadi. Namun, benar, sih, kue bukan makan siang. “Ya.” “Bagus kalau begitu. Kita berbincang di meja makan saja.” Dapurnya ada di balik tangga besar menuju lantai dua. Ada meja makan untuk empat orang di sana. Harold menghampiri Dean yang sedang memasak, merangkulnya akrab. Aliza yang melihat itu mendadak menganga senang. Kutatap dia, mulai meragukan kewarasannya. “Apa melihat pria tampan membuatmu hilang akal?” gumamku. Dia mengipasi diri sendiri, telinganya agak memerah entah karena apa. “I’m feel blessed,” katanya sambil tersenyum lebar. Aku tak pernah memakan makanan yang dibuat spirit, tapi masakan Dean membuat kelima indraku meremang saking enaknya. “Apa rasanya sesuai dengan lidah kalian berdua?” tanya Dean yang berbalik sebentar di tengah kegiatannya mencuci panci. Aliza mengerang kala mengunyah. “Ini masakan high-class, Dean. Kau lebih jago masak dariku.” “Lebih dari Ibuku,” kataku menimpali. Spirit itu terkekeh. “Lega mendengarnya.” “Kau datang hanya ingin mengecek aku masih hidup?” tanya Harold yang menggulung mie pasta dengan sendok dan garpu. “Ya. Kau tinggal sendiri, bisa saja kau tewas dan membusuk di sini selama dua minggu.” Lizzy merotasikan mata. “Bisa kita bicara yang lain? Kau membuatku enek.” “Kan memang aku datang untuk itu.” Aliza meminum air. “Kau sedang berkencan saat ini, sir Harold?” tanyanya. Uwooow, dia mulai menjalankan aksi. Go girls. Harold tersenyum lebar, menyantap pasta. “Kalau berkencan, tidak, tapi aku dekat dengan banyak wanita.” Kedua alisku terangkat, itu pasti para sugar baby-nya. Mendengar itu bukannya surut, semangat Lizzy makin berkobar. “Apa boleh kalau aku dan Nat ingin berteman denganmu?” “Sure. Aku senang berteman dengan siapa pun.” Jangan bawa-bawa aku, dong. Kan, kau yang menginginkannya. "Tapi agak disayangkan kau setampan ini tapi sedang tidak ada pacar," ucapnya lagi. AKu meringis diam, niatmu ketara sekali, Lizzy. Setelah aksi maut Lizzy selesai, kami berdua mengundurkan diri sebelum jarum jam pendek menyentuh angka dua. “Aku harus pergi. Aku ada janji dengan orang tuaku.” Harold ikut bangkit dari bangku. “Biar kuantar kalian pulang.” Lizzy tampak sangat senang mendengarnya. Baiklah, lebih baik kutinggalkan mereka berdua. Lagi pula, lokasi yang kutuju sangat jauh. “Kalau begitu, aku titip temanku yang ribet ini padamu, Mr. Harold. Aku akan pergi naik kereta,” kataku sembari mencantolkan tali tas di pundak. “Kenapa tidak ikut saja biar sekalian kuantar sampai stasiun?” Kulirik Lizzy yang Mengerucutkan bibir diam-diam. Gestur yang kukenal kalau dia tak mau mengalah. Aku tersenyum tipis. “Tak perlu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN