Rumah orang tuaku berada di kawasan paling sepi di Stratford-Upon-Avon, bisa dibilang wilayah perkampungan karena banyak sekali lahan rerumputan liar. Rumah yang kami tinggali juga sudah berdiri dari abad ke-14—gaya Tudor—yang menurutku terlihat rumit dari luar.
Kutarik pagar besi setinggi pinggang dan masuk ke halaman depan penuh rumput hijau terawat. “Mooom, Daaad?” seruku sambil melangkah di batuan datar yang berbaris menjadi jalan setapak menuju pintu.
Seorang laki-laki berumur tujuh tahun dengan pakaian sekolahnya terlihat dibalik pintu. “Natalie!” serunya girang menyambutku.
“Hei, Green.” Dia memelukku. “Kau terlalu cepat tinggi, little captain.”
“At dan Mat juga pulang tadi,” ujarnya.
Mendengar nama panggilan kakak laki-lakiku, aku mengangkat alis. “Sungguh? Kebetulan sekali.”
Aku mengintip ke dalam ruang keluarga yang gelap karena gordennya ditutup. Kudapati sosok pucat dengan bibir hitam yang dijahit kawat karatan dan mata hitam, berpakaian ala suster gereja serba putih di sebelah lampu meja yang bersinar remang-remang.
“Sh*t,” umpatku. Sudah lama aku tak melihat Chelsea, jadi penampilan wah nya itu mengejutkanku lagi.
Greene berhenti melangkah di belakang, mengulang kata yang kuucapkan. “Sh*t?”
Aku melotot sambil menyalangkan telunjuk padanya. “Jangan ucapkan kata itu.”
Anak laki-laki itu merespons dengan kedipan polos.
“Oh,” lontar ibu yang memunculkan diri dari balik tirai kotak-kotak putih merah yang menjadi pintu dapur. “Kudengar seseorang bicara tidak patut di rumah ini, ternyata kau. Masuk, Natalie.”
Aku menyampirkan tirai sambil masuk. Pandangan yang pertama kutangkap adalah dua laki-laki berusia dua puluh tiga tahun yang rupanya mirip satu sama lain. Itu kakak kembarku, Athan dan Mathan.
Kalau dilihat sekilas, kami semua mirip. Aku, Ayah dan Greene memiliki rambut pirang terang, sedangkan Ibu, At dan Mat pirang kejinggaan. Setidaknya mereka masih terlihat alisnya dengan warna rambut demikian—aku seperti tak punya alis dan bulu mata dari jauh.
Mereka berdua melirikku. “Welcome home, carrot,” sambut At.
“Kau terlihat kurusan,” komplain Mat.
Aku duduk di antara mereka berdua, menaruh tas kecil di meja. “Bagaimana kuliah? Menyenangkan?”
“Yeah,” balas At.
“Cukup buruk tapi masih bisa ditolerir,” balas Mat.
Aku bisa membedakan mereka lewat jenis respons yang diberikan. At biasanya lebih positif, sedangkan Mat sering mengomel dan mengoceh. Mereka kuliah di Universitas Wolverhampton, mengambil Histori Militer.
Ibu bilang sejak kecil mereka selalu membahas perang dan pasukan di setiap permainan—bahkan permainan kartu, mungkin itu yang menginspirasi mereka tuk mengambil jurusan militer.
“Bagaimana soal klien?” tanya Ibu.
Aku menghela napas sambil bersandar lelah di kursi meja makan, sengaja melebih-lebihkannya agar terkesan seperti aku bekerja dari pagi sampai pagi tanpa upah layak. “Mereka baik sekali,” balasku dengan nada sarkas.
“Lega mendengarnya,” lontarnya dengan sarkas pula.
“Harusnya kau kuliah saja.” At membelai surai mirip mie instan milikku.
“Harusnya kau berhenti jadi cenayang,” lontar Mat yang menyodori tomat ceri.
Aku membuka mulut tanpa komplain. “Terima kasih, kalian sama baiknya.”
Keempat laki-laki di rumah ini tidak memiliki kemampuan tuk melihat atau mendengar spirit—tidak bisa dibayangkan betapa hebohnya rumah ini kalau mereka berempat dikageti oleh kehadiran Chelsea yang selalu mendadak.
“Ke mana Ayah?” Biasanya dia ikut berada di dapur jam segini, mengajak Ibu berbincang sembari melihat istrinya memasak.
“Dia sedang main catur dengan Mr. Polock, itu kegiatannya akhir-akhir ini. Dia akan pulang kalau ingat.”
Mendengar nada jengkel dari Ibu, Greene membisikiku. “Ayah suka lupa waktu dan berakhir makan malam di sana.”
Oh, jadi itu kenapa Nyonya besar keluarga Austryn sangat bad mood sekarang. Ibu paling tidak suka ada yang kabur dari acara makan malam bersama kecuali jika orang itu memang sudah pergi jauh sebelum waktu makan malam.
“Kau datang untuk meminta uang jajan?” tanya Ibu yang akhirnya ikut duduk setelah sibuk oleh peralatan dapur.
“Aku ada perlu dengan Sir Graham, jadi nanti malam aku ke sana.”
Sebenarnya tidak penting sekali. Hanya ingin menanyakan seputar promosi tempat jasa cenayangku dan Dean. Ah, soal sir Levine juga. Kalau bisa aku datang ke makamnya nanti. Sekedar tuk mengunjungi cenayang paling hebat di perkumpulan.
"Bagaimana dengan London, Natalie? apa di sana banyak hal-hal yang berbeda dari di sini?"
Aku tersenyum gemas karena antusiasmenya. "Hmm, di sana rumahnya sama semua dan berjejer memanjang sampai beberapa blok."
Dia terlihat kaget. "Apa tidak sulit membedakan rumah sendiri dengan rumah orang lain di sana?"
"Tidak, kok. Di sana juga banyak taman bermain dan tempat-tempat tinggi."
"Tempat yang bagus untuk meninggalkanmu di sana, Greeny," sarkas Mat yang kemudian ditampar lengannya oleh Mom.
“Ah iya, Ibu sudah dengar soal sir Levine? Dia meninggal,” kataku sambil menegakkan duduk.
“Ya. Begitu mendengarnya aku bingung tuk merespons dengan kesedihan atau kesenangan,” tutur Ibu dengan wajah serius.
“Ibu tau di mana makamnya? Aku ingin berkunjung nanti,” kataku, meraih garpu yang dipegang Mat dan mencuri sedikit makan sorenya.
Ibuku malah memberikan pandangan ragu padaku. “Apa?” tekanku.
“Kau benar-benar tidak mengenal siapa pun, ya?” sindirnya dengan logat Scottish.
“Maksudnya Sir Levine? Bagaimana aku bisa mengenalnya, dia wafat di tengah waktu trainingku di perkumpulan.”
Ketel air berbunyi di atas kompor, menginterupsi pembicaraan. “We’ll talk about this later, young lady. Pergi ke rumah Mr. Polock dan seret Ayahmu tuk makan malam.”
Apa aku salah bicara?
Selesai makan malam, aku membantu ibu mengelap piring yang dia cuci dan menaruhnya di lemari kayu. Sedangkan para laki-laki menonton acara komedi di ruang keluarga. Tawa mereka--terutama Mat dan Ayah menggelegar sampai terdengar ke dapur.
“Soal Sir Levine, tadi Ibu mau bilang apa?” tanyaku.
Dia menaruh piring basah di depanku, lalu mematikan keran dengan tangan yang masih memegang sponge berbusa. Rautnya kembali menjadi serius—raut wajah ibuku selalu serius, tapi kali ini kulihat dia lebih serius. “Dia memang telah wafat, tapi kau tidak akan menemukan kuburannya di mana pun.”
Aku mendelik, gerakan mengusap piring pun menjadi lambat ketika otakku berpikir. “Tubuhnya hancur atau bagaimana?”
“Dia sudah hidup dua ratus tahun,” tekan Ibuku lewat bisikan. “Harusnya dia tiada tapi karena perbuatan penyihir gila, dia tidak bisa mati. Sekarang dia wafat tanpa peninggalan.”
Sejenak sunyi, lalu aku tertawa. “Mom, you are so hillarious.”
“Ya, aku juga tak percaya sama sepertimu sekarang. Biarlah, toh, aku tak bisa membuktikannya. Namun, itu fakta di perkumpulan. Anak baru sepertimu mana tau.”
Kami tak bicara lagi sampai semua piring, gelas dan peralatan makan sudah bersih dan kembali ke tempat masing-masing.
Aku kembali bertanya, “Kalau Mr. Harold Ibu kenal?”
“Ah, dia? Cuma beberapa kali bertemu dan tegur sapa.” Dia mendengus senyum. “Aku merasa malu bicara dengannya karena sudah tak muda lagi.”
Aku jelas tau kenapa. “Oh lord, Ibu juga menyukainya?”
“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Ibu dan aku mengangguk. “Menurutmu apa dari dia yang bisa membuat wanita tak meliriknya?”
Aku bergeming cukup lama sampai Ibu kembali berkata. “Right? Kau saja setuju kalau dia menarik.”
Aku menjelekkan ekspresiku. "Tidak. Bagiku, dia terlihat menyebalkan karena terlalu beruntung."
Sesuai rencana, begitu sore berganti malam, aku berjalan ke perkumpulan dekat Royal Theatre Shakespeare. Masion putih model mediteranian itu masih saja membuatku kagum dan tak bosan tuk menyisirkan pandangan ke setiap sisi sampai sudut.
Aku masih ingat saat pertama kali menjalani tes di sini, aku terus menengadah menatap Chandelier kristal di langit-langit alih-alih menonton calon cenayang lain yang sedang menunjukkan kebolehan. Kalau boleh jujur, aku sudah lupa siapa yang tidak lolos waktu itu. Saking buruknya ingatanku soal mengingat orang juga saking senangnya aku karena sudah diterima.
Untuk sampai ke ruang sir Graham, aku mesti menaiki tangga lebar berkarpet merah sebelah kiri, lurus, dan masuk ke lorong sebelah kanan. Ruangan beliau berada di sayap kanan belakang bangunan kalau dilihat dari luar, jendelanya langsung mengarah ke sungai Avon.