Mr. Harold, bisakah kau pergi?

1215 Kata
[ H A R O L D ] Setelah mendatangi apartemen Frederick, aku memiliki beberapa asumsi yang disimpulkan dari kejadian wafatnya klien sebelum Yune Kadric. Apa pun itu—aku masih belum dapat bukti kalau Dark Elf yang jadi dalang—bergerak di malam hari, mengambil kontrol pikiran korban sampai mereka tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan. Rata-rata di atas lima belas tahun, satu korban merupakan pria berusia di atas lima puluh—korban pertama. Lalu, mereka semua ada di London. Harusnya dengan beberapa petunjuk, kita sudah bisa memecahkan riddle ini. Tenggelam dalam pertanyaan besar, aku yang baru selesai mengantar Natalie ke rumah langsung berputar balik, pergi mengunjungi apartemen Yune Kadric. Sebelum itu, aku kembali datang ke tempat Frederick, meminta alamat kliennya. “Mana Natalie?” tanyanya yang berdiri di ambang pintu masuk. “Sudah kuantar pulang. Terima kasih,” kataku yang segera masuk ke mobil. Apartemen yang dimaksud berjarak dua puluh menit dari apartemen Frederick. Bangunan lantai dua itu tak begitu besar, kurasa hanya menampung enam-delapan penghuni. Kukeluarkan rokok, membakar ujungnya, menghirup asap nikotin dan menghembuskannya ke luar jendela sembari memperhatikan sekitar bangunan apartemen dengan tembok dari susunan bata kemerahan itu. Aku lapar, tapi rasa penasaran ini lebih genting dari itu karena menyangkut nyawa orang. Melamun menatap langit biru marine yang bersih dari bintang, bulan, awan serta asap. Menunggu yang tak pasti datang dan bertingkah. Sudah dua bulan aku tak mengejar monster lagi. Untungnya, selama itu tidak ada pekerjaan—well, cenayang monster memang jarang mendapat job—atau sir Graham meminta orang lain menyelesaikannya selama aku berduka. Benar. Sebenarnya siapa saja bisa menggantikanku di bidang ini. Bahkan, seorang Natalie yang kecil itu juga bisa. Aku mendengus tawa. Haaaa, Natalie. “Natalie Austryn, Nat ....” Baru dua jam berpisah, sisi ekstrovert-ku sudah merindukan keberadaan seseorang. Di saat seperti ini bakal seru tuk berbincang tanpa arah. Namun, aku sendiri tak begitu sering bersosialisasi dengan cenayang lain karena mereka lebih sibuk dan susah diajak. Teman-teman kampusku yang dulu tidak tau soal pekerjaanku sebagai cenayang. Mereka cuma tau aku sekertaris Moirai. Bisa dibayangkan ekspresi mereka jika tau. Bisa dibayangkan juga kalau beberapa akan menjauh, entah karena tak percaya atau takut. Jeritan terdengar dari tepi trotoar tak jauh dari halaman depan apartemen, tempatku berada saat ini. Segera kubuka pintu mobil, keluar, berlari ke dalam, naik tangga dan berhenti di depan kamar nomor 3B. Satu penghuni apartemen di sebelah menunjukkan diri dengan wajah risau. “Kau siapa?” “Apa kau kenal dengan Yune Kadric?” Wanita dengan sweater dan celana tidur itu mengangguk ragu. “Tolong panggil dia.” Dia mendekat, mengetuk pintu. “Kadric, kau baik-baik saja?” Wanita dengan bando itu mengetuk lagi, masih tidak ada respons. Pintu apartemennya pintu besi dengan password, bakal sulit tuk didobrak. “Apa kau tau kata sandinya?” “Sebelum itu, beritau aku identitasmu, tuan,” katanya sembari bertolak pinggang. “Aku tidak mau dijadikan tersangka jika sesuatu terjadi.” “Aku Harold, cenayang. Aku rekan cenayang yang tadi siang Nona Kadric sewa jasanya.” Wanita paruh baya itu mendengus. “Cenayang? Apa itu nama lain untuk stalker?” “Apa?” kataku. Pintu besi di belakang wanita itu terbuka, seorang perempuan muda dengan surai cokelat terang panjang menyembulkan kepala. “Kadric, ada apa? Tadi kau berteriak,” tanya wanita itu. “Aaah, aku minta maaf, ma’am. Tadi ada ngengat masuk dari ventilasi jendela,” tuturnya sembari tertawa kaku. Wanita itu mengerutkan wajah kesal. “Kau kenal pria ini?” Perempuan itu menatapku dengan mata membulat. “Aku rekan Frederic Timothy. Namaku Harold,” ucapku. Dia membuka pintu cukup lebar, menunjukkan piyama pink yang dia kenakan. “Rekan Timothy?” “Aku dimintai tuk mengawasimu dari luar.” “Mengawasi?” ulang wanita paruh baya itu dengan curiga. Kadric menarik lengan bajuku dan mempersilakanku masuk. “Aku kenal dengannya. Mari masuk, Mr. Harold.” “Kalau terjadi sesuatu, teriaklah lagi, aku akan membawa laki-laki itu ke kantor polisi!” seru nyonya itu dari luar. Saat ini aku memang ada di posisi yang mencurigakan, tapi aku bisa jamin kalau aku di sini tuk melindungi. “Sebelum Anda datang, Timothy mengabariku soal kedatanganmu,” timpalnya. Aku lega mendengarnya. “Jadi ... bagaimana keadaanmu saat ini?” tanyaku yang duduk di sofa pendek tanpa punggung berwarna pastel merah muda. “Tidak baik.” Dia menggeleng padaku, maniknya menyiratkan kerisauan. “Aku mendengar berita kematian temanku tadi sore setelah Timothy pulang dan itu membuatku semakin takut.” “Teman dekatmu?” “Ya, kami satu sekolah. Namanya Skye.” Aku bergeming sesaat. “Skye Ronan?” “Ya. Anda kenal?” Dengan kata lain, mereka menjalankan aktivitas bersama sehari sebelumnya. Aku membalas, “Aku juga menghampiri rumah Mr. Ronan tadi siang untuk melihat kondisi Skye, tapi tidak lama dia ....” Gadis bersurai cokelat terang itu menutup mulut dengan kedua tangan. “Ya Tuhan, Skye. Ini salahku, ini semua salahku ...,” isaknya, mengutuk diri sambil menunduk. “Apa yang terjadi selama kalian bersama kemarin?” tanyaku dengan perlahan, sebisa mungkin membujuknya tuk bercerita. Yune mengusap air mata. “Kita hanya bersenang-senang. Mengobrol, makan di restoran, menonton Netflix.” “Mr. Ronan yakin kalau kalian minum alkohol karena Skye pulang dalam keadaan mabuk.” Dia terkejut aku mengetahui itu. “I-itu ....” Kuraih tangannya. “Katakan yang sebenarnya terjadi, Yune. Dengan begitu aku bisa menjagamu.” Dia terdiam sejenak. “Aku mengajaknya minum, itu salahku,” katanya yang kembali menangis. “Sekelompok laki-laki menawarkan kami tuk bersenang-senang di jalan pulang dan aku membujuknya tuk bergabung karena aku kenal salah satu orang di sana. Aku yakin kami hanya meminum soda. Lalu, sebelum keadaan semakin buruk, aku membawa Skye pergi dari sana, mengantarnya pulang sampai di trotoar seberang rumahnya.” Sekelompok laki-laki itu mungkin menambahkan sesuatu ke minuman dua gadis ini tanpa sepengetahuan mereka. “It’s my fault ... This is my fault ( Itu salahku ... Ini salahku ),” cicitnya, menutup wajah. “Beritahu aku laki-laki yang kau kenal itu,” kataku serius. “Nial. Nial Esther. Senior kami di sekolah.” Nial Esther, aku akan mengeceknya jika diperlukan. “Bukan salahmu, Kadric. Temanmu tewas karena hal lain.” “Apa?” tanyanya disela isakan. Aku bangkit berdiri, menepuk pelan puncak kepalanya. “Percayalah. Mengutuk diri terus hanya akan buat Skye sedih.” Kadric mengangguk cepat, mengusap air mata. “Maaf, aku harusnya menghidangkan sesuatu untukmu ....” “Aku ingin teh kalau kau tidak keberatan,” kataku tertawa kecil. Dia ikut tertawa. “Sangat memalukan tuk menangis di depan pria tampan,” gerutunya sembari bangkit dan mendekati area pantry yang tepat berada di sebelah pintu masuk apartemen. Kusisir pandangan ke sekitar, mendapati cermin tanpa bingkai di pojok ruangan. Kudekati cermin itu. Tadi siang, cermin di kamar Skye pecah. Jika benar cermin jadi media yang mereka gunakan tuk menaruh ilusi .... Aku menyentuh tepi cermin yang tajam, menekan ujung ibu jari di sana sampai berdarah. Bercak tertinggal di sudut atas, tak begitu banyak dan ketara agar Kadric tidak sadar atas keberadaannya. “Bagaimana dengan kue, Mr. Harold?” tanyanya. Aku berbalik. “Tentu.” Baru sejenak aku berpaling, kutangkap bercak darah yang kutinggalkan jadi lenyap. “Apa kau sedang mengagumi diri sendiri? Senyum itu sangat angkuh.” Tawa singkat lepas dariku. “Aku tersanjung mendengarnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN