Semakin hari

1141 Kata
[ N A T A L I E ] Aku memang bersikeras tuk libur, tapi aku tak bisa diam menikmati kesenggangan setelah membaca pesan Harold. ‘Aku sudah memastikan kalau yang kita incar bukan spirit, tapi monster. Dark Elf masih berada di daftar tersangka.’ Apa dia pergi ke apartemen Yune Kadric semalam dan berkawal sendirian? Apa dia gila? Untuk pertanyaan terakhir kurasa iya. Jadi, aku pergi ke rumahnya di jam delapan pagi dengan berjalan kaki dengan blouse hitam berkerah rumbai putih bersama pita dan rok span leather di atas lutut berwarna hitam. Kupakai boot bermodel militer, siapa tau aku perlu menginjak pria itu. Kutekan tombol bel di depan, menunggu suara langkah kaki mendekat. Tak terdengar langkah, tapi pintu terbuka dan Dean terlihat di baliknya. Rautnya cerah seperti biasa. “Pagi, Nat.” Kuangkat tangan kanan tak begitu tinggi. “Mornin’. Majikanmu ada?” “Sedang mandi, tunggu saja sambil menyantap waffle buatanku.” Mataku membulat membayangkan hidangan manis itu. “Aku datang di waktu yang tepat.” Waffle yang dibicarakan sudah tersedia di atas meja makan, disandingkan bersama potongan strawberry, krim manis dan siraman sirup maple. “Aku boleh bergabung sarapan bersama kalian?” tanyaku meyakinkan. Suara pintu terbuka terdengar tak jauh dari tempatku berdiri di susul suara seruan, mengalihkanku dari Dean. Kudapati Harold dengan celana olahraga putih longgar, bertelanjang d**a dan handuk di leher. Aku memang kaget melihat otot-otot itu, tapi tidak. Yang membuatku kehilangan kata-kata adalah bekas luka dan jahitan nyaris di seluruh punggung, lengan, d**a, bahu dan perut. Harold segera berlari ke lantai dua. Aku diam termenung mengulang apa yang kulihat. Bekas lukanya banyak sekali, seperti dia adalah pasukan militer yang selamat dari perang dingin dua negara. Dean dan aku saling bertukar pandang. Dia mengalihkan mata dengan awkward. “Apa itu luka karena melawan monster?” tanyaku. “Ya. Yang jahitan di pinggang dan masih baru itu setelah melawan Nixe minggu lalu.” “Nixe?” ulangku. “Mermaid sungai.” Huh, ada ya? Harold kembali dengan kaos dan jaket biru donker. “Pagi, Nat.” Dia tertawa singkat. “Aku kaget melihatmu di sini sepagi ini.” “Kau pikir gara-gara siapa?” lontarku, menunjuknya dengan pisau makan. Dia duduk di sebelah. Dean langsung menaruh sepiring waffle dan teh campur s**u di hadapannya, lalu mulai sarapan. “So, dari mana kau bisa yakin kalau targetnya bukan spirit?” tanyaku juga memulai sarapan. “Nanti saja kujelaskan jika kita sudah sampai di apartemen Yune Kadric.” “Aku ke sini hanya tuk bertanya, tidak untuk bekerja,” lontarku. “Kita tidak bekerja, aku hanya akan menunjukkan padamu lalu setelah itu kita pulang. Bagaimana?” tawarnya. “Lagi pula, kau perlu dengar kronologinya langsung dari Miss Kadric kalau kau tidak bisa mempercayaiku.” Omongannya ada benarnya juga. “Baiklah.” “Apa waffle-nya enak, Nat?” tanya spirit laki-laki itu. Aku mengacungkan dua jempol di udara karena sedang mengunyah dan spirit itu terkekeh senang. Kami berdua berangkat ke Northwood saat matahari sudah semakin terik. Sampai di dalam apartemen, kami berpapasan dengan seorang wanita paruh baya dengan kaos polo dan celana training panjang berwarna pink sedang memeluk karpet yoga di ketiak. “You again?” lontarnya ke kami. Harold tertawa. “Pagi, Ma’am.” “Aku mengawasimu, young man. Jangan buat gara-gara di sini,” tekannya sambil berlalu. “I will not.” Kutatap pria itu. “Kau mengenalnya? Kenapa dia begitu?” “Dia yang menjaga Yune Kadric karena perempuan itu tinggal sendirian di sini dan dia mengira aku tak stalker.” Pintu apartemen 3B diketuk lalu terbuka. Seorang perempuan yang terlihat tak jauh usianya dariku dengan surai cokelat terang menunjukkan diri. Dia tersenyum lebar ke Harold, tangannya langsung meraih lengan pria itu. “Oh, Harold!” “Pagi, Miss Kadric. Bagaimana tidurmu?” “Berkatmu aku bisa tidur dengan tenang.” Berkat Harold? Manik kami bertemu. “Halo, teman Harold?” “Dia cenayang hebat, rekan Frederick juga,” tutur Harold yang seenaknya merangkulku. Aku langsung menepis lengannya dan menepuk-nepuk bahu bermaksud sarkas. “Salam kenal, aku Natalie Austryn, Miss Kadric. Aku ingin menanyakan beberapa hal soal keluhanmu.” Kami diizinkan masuk ke dalam. Seperti yang terlihat, apartemen ini tak begitu luas, tapi cukup untuk satu orang. Perabotannya didominasi warna pink gelap, pink pastel dan lilac. “Kau sampai rumah jam berapa semalam?” tanya Kadric ke Harold, dia duduk di sebelahnya sementara aku duduk di sofa pendek tanpa punggung, memisah dari mereka. “Sekitar jam satu.” Telapak tangan Kadric mendarat ke atas punggung tangan Harold. “Harusnya kau tak perlu datang hari ini.” Kuhela napas, memandang yang lain. Oh, dude, aku kemari bukan tuk menghabiskan waktu dengan ini. “Tadi malam, aku ke sini tuk mengawasi dari kejauhan karena kuduga klien kita diserang saat malam.” Aku mengangguk. “Lalu?” “Untungnya semalam tidak terjadi apa-apa.” “Dan kau mengawasinya sampai larut malam di sini?” tanyaku. “Ya ....” Harold menunjuk cermin di pojok ruangan yang berbentuk bulatan abstrak tanpa bingkai. “Karena aku sudah melakukan sesuatu dengan cerminnya.” Alisku mengerut. “Apa?” “Suara-suara yang kau dengar juga tidak terdengar sejak semalam?” tanya Harold ke Kadric. Perempuan itu mengangguk. “Kau melakukan apa memangnya dengan cerminku?” Harold menyentuh dagu dengan gaya dan senyum. “Magic.” Aku mengerutkan wajah. “Tolong jangan begitu, kau melukai perasaanku,” gumam Harold bertingkah seperti biasa. Aku pun mendengar detail soal Kadric dan Skye yang dua hari lalu bermain bersama sampai malam dan sejak itulah mereka berdua merasakan halusinasi—cukup terkejut saat tau kalau mereka berdua berteman. Aku tak bertanya hal lain karena aku malas berlama-lama di sini sambil menyaksikan Kadric yang melancarkan aksinya tuk mendekati Harold. “Sebentar lagi Timothy datang,” gumam Kadric melirik jam dinding. “Kalau begitu, kami akan mengundurkan diri.” “Kau di sini saja,” lontar perempuan bersurai cokelat itu. Pria itu membalas dengan penuturan lembut. “Tidak, Miss. Kau klien Frederick, bukan klienku. Aku sadar kalau tidak patut untukku ikut campur dengan klien cenayang lain tadi malam. That’s my bad, dan aku sudah meminta maaf pada Fred.” Harold keluar dari apartemen lebih dulu. Sebelum pintu tertutup, kulihat ekspresi Yune Kadric berubah, tampak menaruh dendam padaku. Dear lord, kau perlu menenangkan diri, sister. Harold membawaku ke suatu tempat yang kusadari bukan jalan menuju ke rumahku atau ke rumahnya, tapi ke perkumpulan cenayang. “Kau bilang kita langsung pulang.” “Aku harus menunjukkan sesuatu padamu. Soal cermin tadi. Aku tidak bisa menunjukkannya di apartemen Kadric tadi “ “Lalu kenapa kau bilang kita harus ke apartemennya? Kenapa tidak ke sini langsung?” protesku. “Bukti kalau kau mendengar hasilnya langsung dari mulut Yune Kadric. Berkatku, tak ada hal aneh yang terjadi padanya semalam.” Jadi kau hanya ingin menyombongkan diri?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN