aku merasa menjadi orang lain.

1141 Kata
Kami sampai di perkumpulan di hari yang semakin siang. Masuk ke hallway utama yang mewah sekaligus misterius seperti biasa, kami tak menaiki tangga, masuk ke area kanan dan masuk ke lorong lurus yang mengarah ke sayap barat mansion. “Ke ruangan siapa?” tanyaku. “Ke ruanganku.” Wajahku mengerut. Enak, ya, punya ruangan sendiri di perkumpulan. Ruangannya berada di paling ujung sayap yang pintu tingginya langsung terlihat dari kejauhan. Di depan pintu, Harold mengeluarkan kunci berwarna perunggu, tersangkut di lingkaran bersama satu kunci duplikat dan sebuah salib. Pintu terbuka, ruangan di dalam gelap dan terasa agak dingin. “Wah, debu di mana-mana,” tuturnya sembari berbatuk-batuk, mengibaskan tangan di udara, melangkah maju membuka tirai tebal yang menghalangi sinar matahari ke dalam. Tembok dan lantainya sama seperti ruangan-ruangan lain—termasuk ruangan sir Graham—, bergaya dark academia dengan lampu menempel di tembok, rak buku kayu cokelat gelap yang setinggi ruangan, tak lupa dengan meja kayu berwarna serupa. Yang membedakannya adalah ruangan ini kosong melompong. “Ini hanya sebagai kantor resmi dan tempatku tidur jika ada kasus yang lokasinya berdekatan dari sini, makanya ruangannya jarang sekali kutempati.” Dia duduk di meja utama sementara aku melangkah ke dekat jendela melihat pemandangan apa yang ditangkap dari sini. “Lalu, apa yang ingin kau tunjukkan?” kataku menuntut. Harold masih merelakskan diri di kursi berpunggung tinggi, dia mengarahkan bagian ujung bawah salib ke telapak tangan kiri, dengan cepat menggores kulitnya sendiri dan meneteskan darah di lantai tempatnya duduk. Belum sempat aku berkata, kudengar suara ricuh di belakangku, tepatnya di balik sebuah kain hitam besar yang menutupi sesuatu di sisi kanan ruangan. Kutebak itu sebuah kurungan karena terdengar suara pagar besi yang digoncang-goncangkan. “Tarik tirai itu, Natalie.” “Kau yakin?” ulangku, merasa tindakan yang dia pinta bakal berbahaya. “Tenang saja, kurungannya kuat. Dia tidak akan bisa menyerang kita.” Kuulurkan tangan ke tirai hitam sambil bertanya-tanya soal siapa yang dimaksud dengan ‘Dia’. Tirai tersampir, menunjukkan kurungan jeruji besi dan sesosok makhluk berwujud manusia ikan. Tubuh bersisik tebal hijau bergradasi kuning. Di daun telinga dan siku terdapat bagian tubuh memanjang transparan seperti sirip dan dia bisa dibilang wanita tanpa mengenakan busana di area atas tubuhnya—sedangkan dari pinggang ke bawah berbentuk seperti ekor. Manik hijau neon itu menatap fokus ke Harold meski aku ada di dekatnya. Dia masih mengguncang-guncangkan jeruji, tak berkata apa-apa. Namun, ekspresinya bukan menunjukkan amarah atau dengki. Rautnya memelas dan memohon dengan sangat, seperti putus asa. “Ini ...,” gumamku tak bisa berkata-kata. “Nixe. Tersangka yang sudah melenyapkan beberapa laki-laki dari tahun-tahun sebelumnya, di musim panas. Dia menggunakan form wanita cantik tuk memancing mereka ke area sungai atau genangan.” Aku melangkah mundur, terkejut ketika Nixe itu mulai mengguncang-guncangkan jeruji lagi, kali ini lebih kencang. “Kenapa dia di sini?” “Aku sedang mencari tau segalanya soal dia, berhubung dia termasuk monster cerdik yang susah ditangkap.” Dia bangkit dari duduk, berjalan mendekat tanpa peduli darah di telapak tangannya mengotori lantai. “Soal berapa lama dia bisa mempertahankan form, berapa lama dia bisa bertahan di area kering, dan lain-lain.” Semakin mendekat, raut Nixe semakin cerah dan senang. Apa makhluk ini tertarik pada Harold? Pria itu mengulur masuk tangannya yang berdarah. Nixe langsung memegang tangan itu, dan menjilati darah yang menurutnya sangat sayang tuk terbuang. Kulihat ekspresi datar Harold yang membiarkan monster itu menekan lukanya agar darah terus keluar. Dia tampak tidak merasakan sakit. Dia memberikan mermaid sungai itu makanan berupa darah manusia, setidaknya itu yang kupikirkan sampai Nixe mendadak tersedak. Batuknya terdengar menyakitkan, sampai memuncratkan darah ke sisi jeruji dan terbaring lemas di lantai. Barulah setelah tak terdengar napas lagi, aku tau kalau dia mati. “Darahku bekerja seperti aphrodisiac. Monster yang mencium aromanya akan tergiur, mendekat dan menginginkannya. Lalu, setelah mereka menyesap dan menghirup aromanya terlalu lama, otot-otot mulai melemas lalu kehilangan kuasa untuk mengontrol tubuh dan otak. Lalu, ini akhir yang mereka dapat,” tuturnya yang berjalan menjauh dariku, kembali ke meja. Dia bicara demikian seolah tewasnya monster karena pengaruh darahnya adalah hal biasa yang sering terjadi. “Kau percaya, Nat?” Kini suaranya terdengar lebih senang dibanding tadi. Aku menatapnya lurus. “Tidak.” Dia melebarkan senyum sejenak. “Aku meneteskan sedikit darah di tepi cermin milik Kadric dan dalam sekejap darah itu terserap. Itu jelas membuktikan kalau yang membuat orang-orang tewas akhir-akhir ini adalah monster. Bukan spirit.” “Jadi, Dark Elf?” kataku. Dia mengangguk yakin. “Sekarang kita mesti menangkap basah dia sedang beraksi sebagai bukti kuat. Jika kesempatan berpihak, aku akan menghabisinya di tempat,” katanya, menggulung kain perban ke telapak tangan. Aku menatap Nixe yang tak berkilah lagi. Beberapa hal mulai jelas, meski sebagian besar soal Harold yang tak begitu kupedulikan. Soal kenapa dia terus memakai baju panjang meski musim sudah hangat dan posisinya di perkumpulan. Kurasakan lengannya di bahu kiriku, sementara dia berada di sisi kananku. “Bagaimana kalau kita makan sebentar sebelum pulang?” Segera kuraih telapak tangan kiri dengan gulungan perban itu, kudekatkan ke hidung dan kuhirup aroma yang ada. Tak mendapat jawaban yang kucari, kutepis tangan itu jauh-jauh. Kudengar dia tertawa jenaka. “Darahku tidak berlaku pada manusia.” “Kau bisa saja mengarang. Bisa saja Nixe sudah dibius sejak kau menangkapnya dan dia baru mati sekarang karena tak berada di habitatnya,” lawanku sembari menatap manik gelap itu. Dia menjauhkan diri, berjalan ke arah pintu. “Kuserahkan itu pada imajinasimu, Miss Natalie.” *** Dean menelepon dan bilang pada Harold tuk mengajakku makan siang di rumah pria itu. Aku langsung setuju. “Kau tidak ke makam Levine sebentar?” tanyaku mengingatnya. “Dia tidak dikubur di sana.” Ya, memang. Dia sendiri yang bilang kalau jasadnya tidak ada di sana. “Kebetulan sekali kau membahas itu. Aku ada pertanyaan,” katanya. “Apa?” “Waktu itu kenapa kau marah padaku?” Jemariku berhenti menscroll layar ponsel sejenak. “Tidak apa-apa. Aku hanya bad mood saat itu.” “Apa karena aku tidak memberitau yang sebenarnya soal Levine?” “Mungkin?” balasku dengan malas. Sungguh, aku tidak mau membahasnya. “Tapi apa kau percaya kalau aku mengatakannya?” “Tidak.” Jawabanku tidak berubah. Semua yang kudengar darinya masih meragukan, kecuali kalau aku sudah melihatnya sendiri. Aku tidak percaya soal keberadaan Dark Elf kalau aku tidak menangkap wujudnya. Dan jika benar Dark Elf, maka aku akan mengundurkan diri dari tim ini. Toh, aku bukan cenayang monster. Aku tidak bisa melawannya. Sesampainya di rumah Harold, aku mendapati wanita itu ada di sana. Ah, maksudku, Mrs. Gabriel. Aku sempat lupa namanya. Baik aku, Harold dan Dean sama sekali tak menunjukkan ekspresi yang baik. “Bisa kau pergi?” kata pria di sampingku dengan frontal. Moirai yang duduk di sofa hitam berkaki besi menopang dagunya, bertumpu ke paha. “Kau masih merajuk setelah aku memberimu hadiah kemarin?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN