Ucapan dan tindakan yang berlainan,

1216 Kata
Harold tidak membalas dan berjalan ke area dapur, duduk di meja makan. Aku pun mengikuti. “Bagaimana soal Dark Elf, ada kemajuan?” seru wanita itu, masih di tempatnya duduk. “Kau mengatakan itu padanya?” bisikku ke Harold yang duduk di depanku. Dia menghela napas berat. “Jangan ikut campur.” Ucapan itu untukku atau untuk wanita di sana? Kami tak banyak bicara selama makan siang itu. Entah kenapa rasanya aku perlu menjaga lisan saat ada Mrs. Gabriel. Lagi pula, dia orang luar. Bisa memperbanyak urusan kalau dia bergosip soal urusan cenayang. Sebelum jam tiga sore, aku pamit pulang dengan berjalan kaki. Sampai di lampu merah depan zebra cross, mendadak kurasakan tempias air yang mendarat di wajah. Kutatap langit cerah bertanya-tanya. “Hujan?” Tepat setelah berkata demikian, hujan langsung lebat. Aku menutupi kepala dengan dua tangan, menuntut lampu segera hijau untuk menyeberang. “Belakangan ini sering hujan, ya?” Kumenoleh, membelalak ke wanita bermanik tosca yang sudah ada di sebelah dan memayungiku dengan payung putih berenda. Wanita Asia itu tersenyum. “Biasanya hujan saat cerah begini yang bikin sakit.” Tengkukku meremang. S-sejak kapan dia sudah ada di sini? Aku yakin selama berjalan dia tidak ada di sekitarku. Dia bicara selagi aku menatap ke sekitar. "Kau cari siapa, sih? aku ada di sebelahmu." Pendapatku soal hujan siang berbeda dengan Mrs. Gabriel. Hujannya pasti tidak lama, hanya mampir seperti badai lalu pergi. Jadi aku tidak mempermasalahkannya jika terkena air barang sejenak. Lampu sudah hijau, aku menunggu dia pergi duluan, tapi dia malah diam bersamaku sementara pejalan kaki lain melewati kami. “Silakan jalan lebih dulu,” kataku kaku. “Tidak, mari jalan bersama.” Aku tidak mau tau. “Tidak jadi menyeberang?” lanjutnya. Kutarik napas dalam-dalam, mulai melangkah. Cepatlah pergi dariku, siapa pun kau. Aku tak mau berurusan denganmu. “Ngomong-ngomong soal sakit, kerabatku ada yang mengalami halusinasi berat dua hari ini,” ocehnya saat kami sampai di seberang dan dia masih mengikutiku. “Aku sempat membawanya ke psikiater, tapi dia mengaku waras meski sikapnya begitu agresif. Sifatnya itu jadi mengingatkanku pada anak Mrs. Isaac.” Mungkin sebentar lagi sir Graham akan memberitahu identitas klien baru jika orang yang wanita ini maksud memiliki masalah serupa. “Tapi tadi pagi dia sembuh berkat seorang cenayang. Padahal aku sama sekali tidak mengira kalau dia kerasukan. Kau pasti mengenalnya. Dia juga bekerja sendiri dan tinggal di sekitar sini,” lanjutnya. Tunggu, aku tidak dengar soal cenayang yang bekerja tanpa tim di London selain diriku. Lalu, dia bilang cenayang ini berhasil menyembuhkannya? “Siapa namanya?” tanyaku yang agak kusesali karena aku tak berniat meladeninya. Mrs. Gabriel menjawab, “Billy. Billy Knox.” “Aku tidak mengenalnya.” Dan jika ingatanku tidak eror, dia juga bukan salah satu senior cenayang. “Sungguh? Kalau begitu, mau kukenalkan?” Ucapannya membuatku berpikir dua kali. Aku ingin tau tapi aku tidak mau berlama-lama bersama wanita ini. “Ah, itu dia.” Wanita itu mengulurkan tangan, miring ke arah samping kiriku. Kulihat seorang laki-laki bersurai oranye berliuk-liuk di arah Mrs. Gabriel tunjuk. Dia memakai kacamata bulat yang terlihat tebal. Dia berjalan berlawanan arah di trotoar sebelah. “Billy!” seru Mrs. Gabriel cukup kencang, membuatku tersentak di tempat. Laki-laki itu berhenti di jalan, lalu melambai pada kami dengan wajah terkejut, segera menyeberang jalan dan mendekat. Penampilannya semi formal dengan blazer cokelat terang dan celana panjang hitam serta sepatu kulit gitam. Dia menjadikan tas kulit berbentuk koper sebagai pelindung kepala dari hujan. “Sore, Mrs. Gabriel,” salamnya. “Sore, Natalie Austryn, sudah lama aku tak melihatmu.” Dahiku mengerut. “Kau mengenalku?” “Kau lupa padaku?” Tentu. Bukan wajah yang sering kutemui. Dia menyentuh diri sendiri. “Aku pernah ikut seleksi calon cenayang tahun ini bersamamu.” Aku bergeming sesaat, lalu membelalak. “Aaaah! Tapi aku tetap tidak ingat.” “Ujian seleksi baru tiga bulan lalu dan kau sudah lupa?” sarkas Mrs. Gabriel. Hei, tidak usah menceramahiku, ma’am. Dia mengibaskan tangan di udara. “Pastinya lupa. Kita hanya bicara beberapa kali dan tidak bertemu lagi. Meski aku gagal, aku senang kau lolos, Natalie. Maaf aku tidak sempat mengucapkan selamat setelah pengumuman.” “Tidak apa.” Sungguh, dia bicara seperti mengenalku, tapi aku sedikit pun tidak mengingatnya. Maaf, ya. “Sebenarnya aku sedang menuju rumah klien, jadi aku harus segera permisi.” Dia melambai dan berjalan kembali ke trotoar sebelah. “Dia cenayang yang kau maksud tadi?” tanyaku mengkonfirmasi. Mrs. Gabriel memasang mata malas. “Sudah berapa kali aku bilang iya.” Dia merogoh tas selempang, mengeluarkan sebuah kartu nama. “Ini nomornya.” Mataku membulat menerima kartu putih yang terlihat mengkilap itu. Dia sudah punya kartu nama? “Gagal di ujian tidak menyoroti semangatnya tuk menjadi cenayang. Sungguh anak yang hebat,” puji Mrs. Gabriel. Ya, dia bilang dia gagal di seleksi. Lalu, bagaimana bisa dia menjadi cenayang dan disewa jasanya—tunggu, kenapa aku bersikap seperti orang iri? Peruntungan setiap orang berbeda-beda, Natalie. Lalu kenapa kalau kau sampai ujian dua kali dan tetap belum sukses? Itu artinya ‘kejayaan’ belum datang! Jadi kapan datangnya? “Ah, kalau begitu aku juga pergi. Pas sekali di depan jalan raya menuju rumah teman. Bye-bye, Natalie!” katanya yang juga mengundurkan diri, menyeberang jalan. Segera kututupi lagi kepalaku dengan tangan, baru kusadar kalau hujan menjadi gerimis lembut saat airnya tidak mendarat sekuat tadi. Kutatap sekali lagi kartu nama Billy Knox yang disertakan alamat serta nomor telepon. Besok, kucoba tanyai dia soal klien kesurupan itu. Jika benar dia sudah berhasil mengatasinya, perkumpulan cenayang punya harapan tuk mengakhiri wabah ini. Baru sampai di rumah dan berganti pakaian, ponsel pribadiku berbunyi. Nama Lizzy tertera di layar. Aku langsung mengangkatnya. “Hello—“ “NAT! HELLO! NAT?” Ponselnya tergelincir dan nyaris mendarat ke lantai kayu. “Ya, ya?” “Kau menjadi tim bersama Mr. Harold?” pekiknya. Aah, iya. Aku tidak memberitahunya soal ini. “Ya ....” Apa dia marah karena aku berpotensi bisa mengganggu PDKT-nya? Kudengar helaan napas. “Pantas saja.” “Huh?” lontarku tak mengerti. “Dia sama sekali tidak tertarik padaku,” protesnya. “H-huh?” Aku mendaratkan b****g ke tepi kasur. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Masih ingat hari saat dia mengantarku pulang? Kau tau, dia sama sekali tidak bicara. Sekalinya merespons, dia terdengar bosan,” jelasnya. Dahiku mengerut. “No waaay,” ujarku. “Sungguh! Aku juga sering mengirim chat, tapi dia sangat jarang membalas! Demi dewi cinta, dia sesibuk apa sih?” “Kau tau sendiri pekerjaannya serupa dengan kita.” Dia mengeluh. “Intinya dia tak menunjukkan reaksi positif. Kesalnya. Kupikir dia mudah diajak berpacaran karena selalu dikelilingi wanita.” Ingatan soal Mrs. Forrest dan Yune Kadric melintas di pikiran. Kalau diperhatikan, dua perempuan itu yang menyentuh Harold, tapi dia tak membalas sentuhannya. Itukah yang Lizzy maksud ‘bosan’? “Bagaimana sikapnya denganmu?” tanyanya. “Biasa saja.” Lizzy mendecak. “Kau mana tau.” “Aku tau. Justru bagiku dia sangat menyebalkan.” "Aku tidak akan kaget kalau kau berakhir dalam pelukannya." Aku mengentakkan napas sarkas. "Aku tidak akan jatuh segampang itu. Kau pikir aku menilai orang dengan fisik saja?" "Aku tau. Namun, apa kau akan menerimanya kalau Mr. Harold mengajakmu pacaran?" "Never." Pacaran menyita waktu yang harusnya kumanfaatkan untuk mengembangkan popularitas jasaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN