Esok paginya, kudapat telepon dari sir Graham di tengah sarapanku di restoran Brunch milik sir John.
Kuteguk jus, melegakan tenggorokan. “Pagi, sir Graham.”
“Sudah seminggu, Natalie. Datanglah siang nanti bersama Harold tuk menjabarkan informasi yang sudah kalian dapat,” tutur pria dengan suara bijak itu.
Aku terdiam. Ah, benar, sudah seminggu. “Baik, sir.”
Telepon berakhir, aku kembali melanjutkan sarapan. Selama seminggu ini, apa yang sudah kita dapatkan? Tidak ada.
Aku dan Harold hanya tau kalau si dalang beraksi di malam hari, bukan spirit, dan mengincar orang-orang di bawah lima puluhan. Namun, dua di antaranya tidak ada bukti, sama saja seperti omong kosong.
Kubilang juga apa, aku dan Harold tidak bisa mencari benang merah masalah ini. Meski aku cenayang, aku masih terhitung baru. Harold sendiri tidak mengerti apa-apa soal kerasukan sebelum aku memberitahunya.
Jika nanti orang-orang mencemoohku, harusnya mereka mencoba mencari juga. Mereka pikir gampang melacak makhluk yang bergerak seperti kabut?
Bukan salahku kalau aku tak mendapatkan petunjuk.
Aku memang menyesal membuat banyak orang tewas tanpa kejelasan yang setidaknya bisa membuat arwah mereka tenang di alam sana, tapi aku sendiri hanya anak sembilan belas tahun dan baru terjun ke dunia kerja. Apa yang kalian harapkan?
Ponsel berbunyi lagi, kali ini dari Harold. “Apa?” balasku.
“Masih ada waktu sebelum kita melapor ke tuan Graham, jadi ayo kita pergi ke apartemen Yune Kadric lagi. Semoga saja ada sesuatu yang lebih pasti dan bisa dijadikan hasil pengamatan,” tutur pria bersurai hitam itu dengan seenaknya.
Berhadapan dengan orang ini benar-benar menguras kesabaran. “Dia klien Frederick, kau sendiri yang memutuskan tuk tak ikut campur lebih jauh.”
“Fred meneleponku sebelum sir Graham, memberi kabar soal Kadric yang kembali ketakutan hebat semalam.”
Aku langsung bangkit, membuat bangku yang kududuki terpental ke belakang. Mataku menatap sir John di meja kasir yang menyalang padaku.
“I’m so sorry, sir ...," cicitku. “Bukankah tadi pagi dia sudah baik-baik saja?”
“Ya, itu yang kita tau. Kau ikut, kan?”
“Apa kau mau melakukan sesuatu dengan cermin itu lagi?”
“Jika diperlukan.”
Aku masih tidak percaya soal kemampuannya. “Baiklah, aku ada di depan restoran Brunch yang menghadap jam crouch end.”
“Aku akan menjemputmu.”
Harold datang dengan mobil tanpa atap yang berbeda dari sebelumnya. Kulihat dia memakai atasan rajut warna putih gading dengan celana linen berwarna cokelat caramel.
“Masih musim panas dan kau sudah berpenampilan seolah sekarang musim gugur,” kataku sembari masuk ke mobil.
“Kau cantik seperti biasa,” balasnya, mulai kembali menjalankan mobil.
Lihat, dia mengatakannya dengan sangat mulus. “Ya, aku tau aku cantik. Perihal Yune Kadric, apa sekarang Fred ada di sana?”
Harold membalas. “Iya, bersama Mrs. Forrest juga.”
“Nyonya Forrest ikut turun tangan?”
“Tentu. Dia perfeksionis, tak ingin ada kasus gagal baik untuknya dan untuk timnya.”
“Kau sangat mengenalnya, ya,” celetukku asal.
Kutolehkan wajah, dia tak menunjukkan perubahan emosi, menatap ke depan, menyetir sambil menaruh tangan di atas bingkai pintu. “Begitulah.”
Mungkin ini yang Lizzy bilang dengan ekspresi bosan.
Kami sampai dua jam setengah kemudian. Apartemen Yune Kadric terlihat agak ramai dengan beberapa wanita paruh baya yang sedang berbincang di sebelah pintu masuk apartemen dengan ekspresi yang serius.
Kudengar sedikit percakapan ibu-ibu itu sembari melewatinya. “Dia masih berteriak-teriak.”
“Dua cenayang ada di kamarnya saat ini. Anak itu pasti kerasukan banyak arwah jahat.”
Masuk ke dalam, menaiki tangga, berhenti di lorong depan kamar 3B yang tidak tertutup. Di dekat ambang pintu, laki-laki dengan manik biru berdiri membelakangi, berbalik begitu mendengar langkah kakiku dan Harold.
Ibu-ibu tadi benar, Kadric masih memekik di dalam, bicara dengan bentakan.
“Nyonya, Mr. Harold dan Natalie datang,” ucapnya agak lantang.
Nyonya kucing hitam yang hari ini berpakaian formal dengan jas merah anggur yang dikancing serta rok span selutut senada teralih perhatiannya.
“Kenapa kalian kemari?” tanyanya sambil melangkah mendekat lalu bersedekap.
“Sudah tau kalau kami berdua tim resmi tuk menyelidiki kasus kerasukan tanpa spirit?” kata Harold, melangkah melewatinya.
Lagi-lagi aku mendapati tatapan dingin dari wanita cantik itu. Malas berurusan dengannya, aku berdeham, memilih mengikuti Harold.
Kasur tempat Yune Kadric kini berada tepat ada di sisi kanan apartemen, di depan area sofa dan pantry. Surai cokelat terangnya berantakan, wajahnya berkeringat dan pucat, basah juga karena air mata.
Aku melihat dua anak kecil yang tubuhnya agak menembus. Mereka kembar perempuan dengan pakaian mirip boneka Annabelle, bersurai sepinggang. Matanya yang keseluruhan gelap langsung membuatku yakin kalau mereka spirit. Kemungkinan besar peliharaan Mrs. Forrest. Dua spirit ini memegang rantai yang mengikat kedua tangan Miss Kadric dengan kasat mata.
“Aaah, Mr. Harold,” raut dan nada suaranya berubah melembut. “Aku senang melihatmu lagi.”
Dia benar-benar seperti dirasuki. Iseng, kucoba arahkan benang spirit ke arahnya.
“Tidak ada spirit dalam dirinya, Austryn.” Mrs. Forrest berdiri di sebelahku. “Ini murni kemarahan dia, bukan pengaruh energi jahat.”
Meski begitu, kami berempat paham kalau dia memberontak tiba-tiba dan itu tidak akan terjadi jika bukan karena ter-trigger sesuatu.
“Kenapa kau semalam tidak datang tuk menginap?” tanya Kadric. “Padahal aku sudah menunggu.”
Harold menoleh ke cermin, kemudian membuka perban di tangan kirinya. Kulihat lukanya sudah tertutup meski masih bergaris merah bekas goresan. Dia meraih pisau di dekat talenan area pantry, tanpa ragu menggores tangannya lagi dengan luka baru.
“Harold!” pekik Mrs. Forrest segera mendekati pria itu. Aku juga meringis dalam hati melihat itu.
Darah m*****i lantai kayu apartemen, Harold menunjukkan darah yang keluar ke arah Kadric.
“Kemarin kau hanya mencicipi setetes. Bagaimana kalau kali ini kuberi lebih?” tawarnya.
Yune Kadric membelalak, mendadak melawan. Si spirit kembar tidak bergeming karena kekuatan mereka lebih besar.
“Mrs. Forrest, dia memang tidak dirasuki, tapi dia di bawah kendali Dark Elf,” ucap Harold.
Wanita elok itu mengerjap. “Dark Elf?”
“Ya.”
“Monster?”
“Monster-spirit. Kami berdua memang belum memergoki monster itu, tapi kami yakin.”
“Kau yang merasa yakin. Aku masih meragukannya,” timpalku dengan pandangan masih fokus ke Miss Kadric.
“Kalau begitu kubuktikan sekarang.” Harold, mengibaskan tangannya, mencipratkan bercak merah ke tembok, rak dan cermin tanpa bingkai di pojok ruangan.
Aku menantikan sesuatu terjadi, sedetik kemudian aku mengeluh. “Tidak ada apa-apa.”
Cermin menyerap darah, lalu kudengar tangisan sendu dari Miss Kadric. “Aku minta maaf,” cicitnya lemah, menundukkan kepala.
Dia sudah kembali?
Frederick mendekatinya, menanyakan keadaannya. Kuberalih ke Harold yang menatap bingung ke cermin. “Tidak menampakkan diri. Dark Elf itu masih bersembunyi. Aneh, padahal biasanya monster lain bakal gila dan ingin meminta lagi darahku ....”
“Memang semua monster begitu?” celetukku.
“Ya. Kan sudah kubilang darahku seperti—“
“Dan mereka bukan Vampire yang haus darah,” selaku.
Pria itu menggaruk kecil sisi wajahnya. “Benar-benar aneh ....”
“Sudahlah.”
Yune Kadric mengaku dia mendadak merasa marah pada Skye. Pernyataan itu didukung kesaksian Frederick yang mendengarkan bentakan dan cacian yang Kadric lontarkan pada sahabatnya yang sudah wafat dua hari lalu itu.
“Aku tidak memiliki kuasa atas tubuhku. Apa yang keluar dari mulutku benar-benar bukan dariku. Aku sayang pada Skye ...,” lirihnya, kini dia duduk di kasur dengan selimut di punggung dan surai diikat rapi.
“Apa bisa monster melakukan itu?” tanya Nyonya Forrest ke Harold yang duduk di sebelahnya.
“Tentu, ada beberapa yang bisa menaruh ilusi dan mengendalikan pikiran manusia.”
“Terima kasih sudah datang,” ucap Frederick dengan pelan. Dia berdiri di sebelahku yang berdiri membelakangi jendela besar di belakang sofa.
“Kalau tidak karena Harold, aku tidak bakal kepikiran untuk ke sini,” kataku.
“Huh, kau bisa menghargai orang ternyata,” balasnya dengan dengusan, tapi aku tak merasa dia benar-benar menyinggung.
Aku ikut mendengus sarkas. “Aku bukan manusia bedebah.”
“Tapi kau tidak memanggil Harold dengan sebutan Mr..”
Aku tak bisa membantah. “Err ... aku masih belum terbiasa dengannya.”
Kudapati Mrs. Forrest dengan santai mengalungkan tangan ke Harold selagi bicara dengan Yune. "Mereka begitu serasi," ucap laki-laki di sebelahku, padahal dia tidak melihat mereka berdua.
Cemburu?