Aku gila

1539 Kata
Siangnya, aku dan Harold pergi ke mansion tuan Graham. Kalau begini, aku sudah menduga bahwa tidak akan ada pembubaran. Aku dan Harold bakal terus menjadi tim, memecahkan misteri dan menangkap pelaku seperti Sherlock dan Watson. Klise, huh. Harold mengetuk pintu besar ruangan sir Graham. “Silakan masuk,” respons pria itu dari dalam. Surai beruban, wajah dan tubuh agak gempal terlihat sama seperti sebelumnya. Pria itu tersenyum, seolah telah menanti-nanti kehadiran kami. “Kudengar kalian berhasil menyelamatkan Miss Yune Kadric tadi pagi,” katanya yang berdiri di belakang kursi setelah menatap pemandangan dari jendela besar di belakang. “Saya rasa kami baru menghadang si dalang, belum benar-benar berhasil,” timpalku sopan. Sir Graham duduk di kursinya. “Kalau begitu aku berharap besar pada kalian. Silakan tuturkan hipotesis-hipotesis yang kalian dapatkan selama seminggu menjadi tim.” Aku dan Harold saling melirik. “Kau atau aku yang mengatakannya?” tanyanya. “Kau saja dulu, aku akan menambahkan dan mengoreksi,” balasku. “Oke.” Harold berdeham. “Setelah pengamatan dalam seminggu, kami menduga kalau dalangnya adalah tipe monster-spirit, Dark Elf, tuan. Dia memang monster jinak, tapi dia memiliki kemampuan tuk mengganggu pikiran lawan, apalagi manusia.” “Sudah ada bukti?” tanya sir Graham. “Belum. Namun, dari responsnya pada darahku, tidak salah lagi kalau dia monster.” Sir Graham juga tau soal bualannya soal darah itu? Berarti dia jujur? “Aku paham betul kemampuan yang kau miliki itu sangat menarik perhatian monster.” Pria yang usianya sudah setengah abad lewat itu terdiam sejenak. “Ada tambahan, Nona Natalie?” Maaf saja, otakku mendadak blank dan gagasan yang hendak kuutarakan pergi entah ke mana. “Tidak ada, sir.” Kalau begini kesannya aku tidak berbuat apa-apa selama pengamatan. Duh, aku harus bicara sesuatu. “Sir, apa boleh kami mengambil alih klien dari senior lain untuk pengamatan?” tanyaku. “Siapa yang mau kalian ambil? Aku lupa memberitahu, ada dua tambahan klien dengan kasus serupa dan mereka berdua sama-sama di London.” “Miss Yune Kadric. Jika dihitung-hitung, rata-rata waktu klien bertahan tidak sampai seminggu. Aku ingin setidaknya menyelamatkan satu orang,” tuturku. Sir Graham tersenyum. “Aku lega mendengarnya darimu. Baiklah, aku beri izin. Kalian sekarang yang menangani Miss Yune, jadi tolong maksimalkan kinerja kalian.” Mendengarnya membuat bulu di lenganku meremang sampai ke leher. Rasanya serupa saat kudengar aku lolos seleksi cenayang beberapa bulan lalu. Mungkin ini rasa yang dinamakan ' Tanggung jawab ’. “Terima kasih, sir,” balas Harold sementara aku kehilangan kata-kata. “Oh iya, karena sudah resmi, aku ingin kalian menyerahkan laporan setiap ada perkembangan.” “Baik.” Saat kami berdua keluar dari ruangan, Harold langsung mendekapku erat. Pandanganku jadi gelap karena terhalang lengan dan badannya. “I’m glad we’re still a tim (Aku lega kita masih dalam satu tim).” “Well, i’m not,“ sarkasku. Aku mendongak, kalau berdiri berdekatan begini, dia benar-benar seperti raksasa. Mata hitamnya menyipit karena senyuman. “Mulai sekarang aku akan serius.” Aku menarik diri dan memperlebar jarak. Dia pikir aku seperti wanita-wanita lain yang mudah luluh karena itu? Huh! Mimpi sana. “Mau ke mana, Nat?” tanya Harold. “Pulang,” lontarku. “Kita perlu ke apartemen Kadric—“ “Aku lapar, lagi pula aku ada keperluan.” Aku sudah diberi tanggung jawab langsung oleh sir Graham, akan jadi aib besar jika aku tidak bisa memberikan hasil yang diharapkan. Benci mengakuinya, aku mesti merendam emosiku selama masih bersama Harold. Karena itu, aku ingin pergi ke tempat Billy, menanyakannya soal klien kerasukan yang dia tangani. Harold berhasil membalapku. “Kuantar pulang. ” “Kau ke Kadric saja. Keruk semua informasi yang ada.” Dia berhenti, lalu kudengar dia berkata. “Oke.” *** Rumah atau kantor Billy Knox berada di depan Cleveland Park dan karena cukup jauh dan lama jika ditempuh dengan transportasi umum, aku memesan taksi—dan uang jajanku selama tiga hari lenyap seketika. Tempatnya tidak juga besar, sama seperti rumah yang kusewa, cuma modelnya lebih lama dibanding yang kutempati—membuatku teringat seperti rumahku di Stratford-upon-avon. Kuketuk pintu rumah bertembok putih agak kuning itu. Harusnya aku meneleponnya dulu, siapa tau dia tidak ada di rumah. Pintu terbuka, laki-laki bersurai warna wortel muncul dibaliknya dengan ekspresi kaget. “Austryn, ya ampun. Ada perihal apa kau sampai jauh-jauh ke mari?” “Ada yang ingin kubicarakan, terkait pekerjaan.” Dia melangkah ke depan dan menutup pintu saat menyadari aku memegang kartu bisnisnya. “Mestinya kau menelepon saja dan kita janjian di tempat terdekat.” Billy benar. Aku merapikan suraiku. “Y-ya, harusnya begitu.” Harusnya aku berbuat demikian, tapi aku terlalu cepat memutuskan tadi. Damn, aku kelihatan konyol. Laki-laki berkacamata itu mendenguskan senyum. “Mari masuk.” Rumahnya cukup gelap karena minim jendela dan dia pun tidak menyalakan lampu. Namun, ruang tengah terang karena terdapat sepasang jendela di belakang, menyinari sampai ke area dapur dan tangga lantai dua. “Ingin minum sesuatu? Ada teh, s**u dan jus jeruk,” tawarnya. “Teh dengan s**u jika kau tidak keberatan.” Aku duduk di sofa polos biasa yang agak keras busanya, menatap sekitar selagi Billy menyiapkan minuman. “Sedang tidak ada klien?” tanyaku iseng, mendapati dirinya berpakaian santai dengan kaos lengan panjang biru stabilo dengan celana linen putih selutut. “Ya. Susah tuk mendapat klien jika tak memiliki tim dan tidak berasal dari perkumpulan.” “Yang dari perkumpulan pun tidak sejahtera, Billy,” keluhku seraya merebahkan punggung ke sofa. “Liar. Kau pasti sering dipanggil klien, kau lebih terampil dariku.” Dia datang menaruh mug putih di depanku dan di depan tempatnya duduk. “Apalagi sekarang kudengar banyak sekali masalah. Kurasa musim gugur nanti bakal merepotkan.” Billy cenayang, tentu dia tau apa yang terjadi meski bukan dari perkumpulan. “Bicara soal masalah, kudengar kalau kau berhasil menangani klien kerasukan tanpa spirit,” celetukku, menyeruput teh bercampur s**u. “Ah, soal kerabatnya Mrs. Gabriel? Aku tidak tau kalau kau dekat dengan wanita direktur itu.” “Tidak. Aku tidak mengenalnya. Kami hanya kebetulan bertemu di pemakaman Isaac Owen, salah satu klienku yang meninggal.” Rautnya berubah serius. “Meninggal?” Kutaruh cangkir di depan. “Dia kerasukan, tapi tak ada spirit, dan aku tak sempat menyelamatkannya,” tuturku sendu. “O-ow, maaf membuatmu mengingatnya ...,” tuturnya ikutan sendu. Aku agak membesarkan suara karena tak mau hanyut dalam duka. “Jadi, kau berhasil menangani kasus seperti itu?” “Tapi, mungkin kerasukan yang kutangani berbeda. Aku mengusir spiritnya, lalu barulah orang itu sembuh,” katanya. Kalau ada spirit, berarti berbeda. “Spirit apa yang merasukinya kemarin?” Billy mengusap dagu. “Mungkin karena pengetahuanku masih minim, jadi aku tidak tau spirit apa. Namun, yang kuingat spirit itu sangat gelap. Matanya—“ Dia menatapku dengan alis bertaut, “Berwarna kekuningan.” Aku mengerjap. “Ketika kau bicara begitu sambil menatapku, aku jadi merasa kau menganggapku spirit,” kataku datar, mengingat tujuh puluh persen tubuhku berwarna pirang terang dan agak kekuningan di alis, manik dan bulu mata. Billy terkekeh. “Tak mungkin, manikmu betah dipandang dan tak pantas disandingkan dengan mata spirit.” Terima kasih, kukatakan dalam hati sementara kuteguk habis secangkir teh. Tidak mendapat apa yang kucari, aku tak berlama-lama dan segera pulang dengan kendaraan umum tuk menghemat uang. Yah, apa yang kuharapkan datang ke sana? Yang lebih pentingnya lagi, kenapa aku mempercayai ucapan wanita mengerikan itu? Benar. Kenapa aku tidak berpikir ulang sebelum pergi, sih. Menghabis-habiskan uang saja. Ponselku berbunyi saat kumenunggu bus datang. “Halo, Mr. Harold,” salamku, mengingat ucapan Frederick tadi pagi yang bilang aku tak sopan pada pria se-timku itu. Ada hening sejenak sebelum dia kembali berkata. “Bisa kau ke apartemen Yune Kadric malam ini?” “Harus?” keluhku. “Harus, kalau kau ingin lihat dan memastikan langsung siapa lawan kita.” Kuhela napas, menatap uang di dompet yang tak seberapa sementara tanggal uang jajan dari ibu masih seminggu lebih akan dikirim. Bagaimana caranya aku ke sana dan tetap bisa makan besok? Ada. Aku tau caranya, tapi ... tapi—aaaarg, apa tak ada cara lain? Aku bernapas dalam-dalam. Jangan mendrama, Natalie. Ini bukan apa-apa. Ini bukan hal besar. Kau bisa melakukannya. Kutepuk diriku kuat-kuat lalu mengangguk mantap. “Mr. Harold, erm, kau keberatan tuk menjemputku?” Lagi-lagi ada jeda. “Kalau tidak mau, tidak apa—“ “Mau! Tunggu, kau sekarang di mana?” serunya mendadak, membuatku terperanjat. “Tempat pemberhentian bus di dekat Cleveland Park.” Kudengar ada suara kegaduhan dan napasnya tersenggal. “Jangan ke mana-mana, okay? Stay there.” “Okay.” Kumatikan panggilan, lalu aku mengeluh. “Padahal aku saja tidak pernah meminta jemput pada Ayah atau dua abang kembarku karena bagiku itu memalukan.” Ngomong-ngomong soal empat laki-laki di keluargaku itu, apa kabar mereka sekarang? Kuharap Stratford-upon-avon tidak serawan London dan mereka tetap beraktivitas seperti biasa. Kalau sampai dua hari kemudian aku tidak mendapatkan titik terang juga, aku akan minta bantuan Ibu. Tak sampai dua jam, mobil biru terang tanpa jendela milik Harold berhenti dengan cepat di depanku yang asik menscroll sosial media. Senyum yang mengangkat pipi dan membentuk lesung pipi yang panjang menyalamiku. "Kau terlihat mungil sekali duduk sendirian di sana." Sumpah, kalau aku tidak peduli soal uang, aku sudah melempar ponsel ini ke pria itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN