jika bersamamu terus.

1337 Kata
[ H A R O L D ] “Mr. Harold?” panggil Nat. “Y-ya?” sahutku yang sedang menyetir. “Ada apa, Austryn?” Dia mengerut alis. “Kau biasa memanggilku ‘Nat’, kenapa mendadak jadi kaku begitu?” I ask you the same thing ( Aku juga mau nanya itu ). Kenapa mendadak kau memanggilku dengan formal begitu? Otomatis aku pun berbuat serupa. “Kau juga,” timpalku. Perempuan dengan manik kuning itu menggaruk kecil sisi wajahnya. “Aku selama ini tidak sopan karena memanggilmu tanpa formalitas, jadi aku memperbaiki sikap.” “Erm, ‘kay then, tapi aku tidak keberatan. Lagi pula, kita se-tim.” “But i am.” Dia menatapku. “Kau sepuluh tahun di atasku. Lebih tua dari kakakku.” “You have brother?” kataku agak membesarkan nada, baru kali ini dia bersikap terbuka padaku. “Satu? Dua?” “Dua, kembar. Mereka kuliah di Wolverhampton, lalu ada satu adik laki-laki yang masih duduk di bangku sekolah dasar.” “Dan kau jadi Putri di antara kesatria gagah itu,” tambahku. Kudengar dia tertawa jenaka. “Tidak begitu, tapi, yah, kami sama seperti saudara biasanya. I miss them ( Aku merindukan mereka ).” Dia menopang sisi wajah dengan lengan yang bertumpu di pintu tanpa jendela, tersenyum begitu hangat. Kami sampai kembali ke apartemen Yune Kadric sebelum langit petang datang. Aku sudah meminta izin padanya tuk menetap semalaman dengan Natalie—bukan berarti aku akan tidur di dalam apartemen, aku tidur di mobil dan mengawasi dari luar. Sebelum Nat datang, aku sempat bicara dengan Mrs. Forrest di dalam apartemen. “Aku, sih, tidak protes kalau kau mengambil klientku.” Dia mendekat dari sisi kiriku, menaruh siku di atas pundakku lalu bergumam, “tapi aku tak senang pada hal lain.” Aku meliriknya dari ujung mata. “Apa?” “Kau dikerubungi banyak perempuan,” tuturnya menekan kata terakhir. Kudapati Frederick membelakangi kami dan menatap Miss Kadric yang beristirahat di kasurnya. “Lalu kenapa?” tanyaku. “Aku yakin kalau aku yang terbaik untukmu.” “Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dengan ucapan itu, Mrs. Forrest.” Senyumnya sirna. “Kau berubah. Lihat kilat di mata itu, ke mana perginya Harold yang kukenal?” tuturnya. “Aku tidak berubah. Aku hanya datang dan pergi dari kehidupan banyak orang. Tergantung peranku di kehidupan mereka seperti apa.” “Aku pikir hubungan kita mulai spesial.” Lucu mendengarnya, tapi tidak pantas untukku bersikap sarkas. “Memangnya ada apa di antara kita?” Lalu aku menelepon Nat karena kupikir sudah waktunya dia datang. Di apartemen itu hanya ada aku, Nat dan Kadric. Dia sudah bangun karena haus dan sudah membersikan diri setelah menangis dan berteriak dari malam sampai pagi. Perempuan bersurai cokelat terang itu menatapku sebentar, lalu mengusap wajah sembari menghela napas. “Aku tak bisa lagi melihatmu, Mr. Harold. Setelah apa yang terjadi pagi tadi ....” “Itu, kan, bukan kau,” kataku. “Saat itu kau bisa melihat semuanya meski tak bisa mengontrol sikap?” tanya Natalie. Kadric mengangguk. “Aku tak mengerti kenapa begitu.” Kutanya lagi Kadric selagi Nat memikirkan sesuatu dengan serius. “Apa kau memimpikan atau mendengar sesuatu malam tadi sebelum lepas kendali?” Maniknya bergeser ragu. “Tidak. Aku ....” Tangannya meremas ujung bawah bajunya. Mungkin ada sesuatu, tapi dia tidak siap tuk mengatakannya. “Kau sudah makan?” tanya Natalie ke Kadric. “Aku akan memasakkanmu sesuatu kalau kau tidak keberatan.” “Tidak perlu repot-repot. Aku sudah memesan chicken untuk kita bertiga, kurirnya sedang di jalan,” ucapnya tertawa lugu. “Aku agak terkejut mengetahui Kak Natalie akan menginap di sini.” Perempuan pirang itu membulatkan mata. “O-oh, apa aku merepotkan?” “Tidak! Maksudku—“ “Dia ingin akrab denganmu, Nat,” selaku. Kadric mengangguk cepat dengan senang. “Semenjak Skye pergi, rasa kesepian dan kehilangan terus membuatku kalut. Apalagi, saat ini aku tak bisa bertemu dengan teman lain karena belum pulih.” “Tentu, seseorang dengan gender yang sama dan usia yang tidak jauh pasti akan membuatmu nyaman,” timpalku menatap lurus ke Natalie yang duduk di sebelah. Entah kenapa dia tak memberi respons seperti senyum atau tawa. Dia hanya diam, seperti menyelidiki Kadric. Sebelum aku sempat berkata, pintu kami diketuk. “Poppin' Chicken!” seru seseorang dari luar. “Itu dia makanan kita.” Kadric bangkit dan menghampiri pintu. “Harold, Dark Elf masih mempengaruhinya, kan?” tanya Nat dengan suara cukup pelan. “Kurasa iya, tapi sekarang dia tidak begitu. Kenapa?” Nat membalas, “Aku yakin sebenarnya dia tak ingin aku di sini.” *** Empat jam berlalu, hari sudah gelap di Northwood, meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan sesuatu yang terlihat maupun tidak. Namun, kami sedang bermain monopoli sembari meminum cola di saat yang bisa dibilang agak genting. Hey, bukan berarti kami lari dari tugas. Belum ada tanda-tanda Kadric kembali memberontak. Darah yang sudah kuteteskan di bingkai cermin juga tidak terserap sejak tadi dan sudah hampir kering. Itulah mengapa kami bertiga menghabiskan waktu seperti ini. Well, serupa seperti petugas jaga malam. “Aku beli Singapura,” kataku meraih uang kertas mainan, menghitungnya sesuai harga yang dikocek. Natalie terus mengernyit sejak awal permainan. “Kenapa kau membeli terus?” “Karena pemenangnya adalah ia yang punya paling banyak tanah,” timpalku, menaruh uang di tengah papan monopoli dan menaruh pion catur bentuk kuda sebagai tanda kalau itu milikku. Nat memakai kelopak bunga marigold kering yang dia bawa, sementara hanya Kadric yang memakai penanda dari monopoli. “Memang begitu peraturannya?” “Tidak ada peraturan. Yang ada pelanggaran dan uang,” tambahku dengan angkuh. “Kadric, kau jalan.” Kadric melempar mata dadu. “Tiga.” “Berarti siapa pun yang menang suit pertama, dia pemenangnya,” lontar Natalie yang melepas uangnya dari tangan dengan ekspresi ‘i’m done!’ di wajah. Aku suka melihatnya. “Yah, tidak selalu tapi sering terjadi.” “Baiklah, berarti tinggal aku dan—“ Mendadak Kadric menengadah sampai wajahnya menghadap langit-langit mulutnya yang terbuka, manik matanya seolah memaksa berputar ke dalam kepala. Melihat itu, Natalie membelalak, langsung bangkit, merentangkan tangannya ke depan, membentuk cakar. “H-harold, dia datang!” Aku tatap arah tangannya terulur. “Tapi tidak ada apa-apa,” kataku. Mendadak dia bergerak seperti ditarik ke arah Kadric. Perempuan pirang itu meringis. “Lakukan sesuatu!” Aku membuka kain perban, menunjukkan luka yang masih basah dan meremas telapak tanganku agar memunculkan sedikit darah. Mendadak Kadric jatuh ke samping, Natalie terjungkal ke depan. Aku memegangi tangannya, membantunya bangun. “Kau sungguh tidak melihatnya?” tanyanya. “Y-ya ....” Dia meraih kelopak Marigold di papan monopoli, mengeluarkan korek api dari dalam tas selempang lalu membakarnya. “Dia berwujud seperti manusia, tapi semuanya gelap kecuali matanya yang berkilat kuning,” tuturnya selagi mengarahkan asap dari bahu kanan ke bahu kiriku berkali-kali. “Terima kasih—“ “Tidak, jangan pergi.” Dia menarik napas, membuang kelopak sebelum membakar jemarinya. “Dia sudah lenyap. Spirit kalau sudah lenyap susah dikejar.” “Kau yakin dia spirit?” Natali masih terlihat tegang. “Mungkin itu yang kau sebut monster-spirit. Kulihat dia juga terpengaruh sama lukamu itu.” “Dark Elf.” Aku berdiri, mengibaskan tirai menatap ke luar. “Kita nyaris mendapatkannya.” “Tadi dia menyerap energi Miss Kadric. Itu gila, dia menyerapnya besar-besaran,” kata Nat. “Bagaimana kondisi Kadric sekarang?” tanyaku sembari berbalik. Nat memangku kepala perempuan bersurai cokelat terang itu, mengusap dahinya. “Tidak apa-apa. Dia masih bersama kita, hanya pingsan karena energinya terkuras sekaligus.” Kudengar dia meringis, menatap ujung jari tangan kirinya. Kulihat ada darah menetes dari di ujung jari manis, tengah dan telunjuk. “Tanganmu kenapa?” “Aku mengikatnya dengan benang spirit tadi, tapi dia menarik benangnya dan karena itu kulit jemariku robek sedikit. Tidak apa, aku biasa mengalami ini.” Aku meraih tangannya, menggulung tiga jemari itu dengan perban yang tadi kupakai sementara aku mencari anti septik. “Kau juga sangat brutal, ya,” lontarnya. “Baru tau, ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN