[ N A T A L I E ]
Kutatap plester luka di tiga jari tangan kiri, melihatnya teringat waktu lampau saat aku gagal dalam seleksi calon cenayang. Karena frustrasi, aku terus mengasah kemampuanku ini sampai kulit jari dan telapak tanganku banyak robekan kecil dari dalam. Aku juga ingat waktu itu ibuku bukannya memeluk dan menyemangati, tapi menceramahiku dengan urat menegang di pelipis.
Benci mengakuinya, tapi hanya benang spirit yang paling kukuasai. Aku bisa jadi komunikator, tapi tak begitu bisa jadi shield atau protektor.
Makanya, aku juga mendalami pengetahuan soal ramuan floral untuk spirit—meski ini juga pengetahuan dasar cenayang dan pasti mereka sudah tau.
Harold merebahkan Kadric di kasurnya, menyelimutinya sampai leher. “Aku tak mengerti,” gumamku spontan selagi membereskan papan monopoli.
“Soal apa?”
“Kenapa Dark Elf itu menampilkan diri sebagai spirit.” Dia selalu bersembunyi, tak pernah menunjukkan diri. Lalu kenapa baru sekarang, di situasi ini dan tidak menampakkan diri sebagai monster?
“Terburu-buru?” Sir Graham bilang kalau ada dua klien baru yang serupa kasusnya. Apa dia hendak membereskan Kadric dulu baru dua orang itu?
Kalau dipikir-pikir lagi, memang Kadric yang bertahan lebih baik dibanding klien sebelumnya.
Aku mendecak, kembali melanjutkan gerakan tangan yang berhenti karena berpikir dalam-dalam. “Tau, deh. Aku pusing.”
Sosok yang kulihat tadi berwujud manusia, tapi semuanya hitam dan dikerubungi kain-kain berwarna serupa, seolah lengan sampai ke tubuh dililit dalam kain yang sangat panjang. Aku tak menangkap adanya rambut atau wajah, hanya mata hitam, bermanik kuning.
Aku tidak bilang kalau spirit seperti itu tidak ada. Bahkan yang anggota tubuhnya terpotong dan saling terhubung dengan asap pun ada. Manik berwarna terang juga bukan hal asing dalam dunia spirit.
“Tadi kenapa kau mengerahkan asap padaku?” tanya Harold di sofa, sementara aku duduk di tepi kasur, takut Dark Elf datang lagi.
“Agar kau bisa melihatnya semisal nanti dia kembali. Meski kemungkinannya kecil.”
Keheningan datang, kutatap Harold yang kembali menggulung lukanya dengan perban baru.
Aku bertanya, “kenapa darahmu bisa begitu? maksudku bisa memiliki efek tertentu pada monster?”
“Kau tidak jijik padaku setelah tau ini?” kata pria bersurai hitam itu, mengangkat lengannya.
“Aku juga punya darah, untuk apa aku jijik. Dari pada itu, aku hanya heran saja. Kenapa kau punya dan aku tidak.” Aku bisa lebih gampang masuk perkumpulan jika aku memiliki darah itu.
Dia tersenyum. “Ini bukan berkah, melainkan kutukan.”
Kutukan?
“Bloodlust namanya. Tentu bukan hanya aku yang punya dan bukan diturunkan dari kakek moyang. Seperti yang kubilang, ini kutukan juga penyakit,” sambungnya.
“Jadi, kau bisa terkena efek aphrodisiac-nya juga?” tanyaku dengan takut.
Dia tak menjawab, tapi senyumnya menjadi senyum miring. Aku mengerutkan dahi. “A-apa?”
“Tentu tidak,” Kelakarnya. “Aku sudah lama bunuh diri kalau memang iya. Kau tau fungsi bahan itu apa, kan?” Dia tertawa geli.
Orang ini, aku bertanya dengan serius!
“Intinya, jika kau bertanya apakah aku menginginkannya, jawabannya tidak. Aku hanya ingin jadi orang-orang pada umumnya.”
“Apa Ayahmu tau soal itu?” tanyaku.
“Aku tak punya Ayah. Mungkin ada, tapi aku tidak tahu siapa. Ibuku juga. Aku belum pernah melihat mereka dari kecil.”
Aku merapatkan bibir merasa salah bicara. Tak usah bicara lagi, Natalie.
Pagi datang tanpa hambatan. Sedikit disayangkan kalau semalaman tidak terjadi apa pun setelah itu.
“Kalian tidak sarapan dulu?” tanya Kadric.
“Tidak. Kami akan pulang sebentar, lalu kembali ke sini sekitar jam sembilan,” kata Harold yang keluar lebih dulu, membawa kunci mobil.
“Aku akan meminta tolong pada Frederick tuk datang dan menjagamu sampai kami datang,” timpalku.
“Tunggu—a-aku ingin mengatakan sesuatu,” ucapnya tepat saat aku berbalik.
Aku menatapnya dari bahu. “Ya?”
“Terima kasih. Aku bisa saja mati jika tidak ada kalian,” gumamnya yang diakhiri senyum.
Kutepuk sisi lengannya dengan bersahabat. “Sama-sama, Miss Kadric.”
Aku menguap saat masuk mobil, duduk di sebelah Harold. “Bagaimana kalau kau tidur dulu di rumahku?”
“Boleh?” tanyaku dengan mata tertutup. Kursi ini juga rasanya nyaman kalau sudah lelah.
“Tentu. Sekalian kita sarapan bersama.”
Aku mengangguk lelah. “Dean ...,” gumamku.
Kudengar tawanya saat tangan besar itu mendarat di puncak kepala. Dia segera menarik tangannya sebelum aku menepis. “I’m not a child ( Aku bukan bocah )."
“Aku yakin kakakmu sering melakukan ini. Anggap saja aku kakak yang sedang menyemangatimu,” ucapnya.
Aku membuka mata, menyambar telapak tangannya yang terluka, lalu menyatukan telapak tangan kami. Astaga, seperti tangan anak bersama Ayahnya. “Tanganmu lebih kasar dan tebal dari Mat dan At,” timpalku yang tau betul.
Eh, tapi Mat dan At juga suka angkat beban—Off course, they do!—, terkadang banyak kapalannya.
“Sama. Tangan kalian sama,” timpalku lagi.
“Err, Nat? Aku tidak bisa menyetir dengan satu tangan ....”
“Ah, iya.” Kulepas tangannya.
***
Aku terperangah mengetahui diri ini ketiduran. Dengan gerakan cepat, aku mengangkat kepala dan mengusap mata.
Wait a second, kasur besar, tembok putih, Chandelier di atasku, serta jendela besar di belakangku jelas memberitahu kalau ini bukan di rumah.
Kupejamkan mata, meringis kesal. “Ya, aku tadi sedang di jalan pulang dan ini pasti kamar Harold,” rutukku.
Aku keluar, melangkah turun, melihat Harold yang merebahkan diri di sofanya. Dean langsung menyadariku dan melambai dengan sebelah tangan memegang penyedot debu. “Pagi, Nat.”
“Pagi, Dean. Apa Harold sudah sarapan?”
“Tidak. Dia juga tidur setelah memindahkanmu ke atas.”
Kutatap jam dinding yang tak memiliki angka dan hanya ada empat garis hitam di utara, timur, selatan dan barat menggantikan angka dua belas, tiga, enam dan sembilan. Sudah jam delapan lewat. i***t itu ... kenapa tidak membangunkanku? Kita kan janji ke sana jam sembilan!
Aroma sedap menarik perhatian menuju meja makan. Aku mendapati roti tawar panggang, dengan telur, sosis, alpukat dan potongan spam. Aw, lihat dia ....
“Kau boleh tambah. Kebetulan tadi Harold berbelanja banyak, entah kenapa,” timpal Dean yang masih menyedot debu lantai.
Tanpa dipaksa, aku duduk di depan piring dengan anggun dan tertawa kecil. “Terima kasih banyak, Dean.”
Dean terkekeh. “Sebaiknya kubangunkan Harold.”
Aku mendapati Harold duduk di depanku setelah aku menghabiskan setengah roti di piring. Dia menopang dagu dengan sebelah tangan, mata masih setengah terbuka.
Aku menatapnya sinis. “Cepat sarapan, kita janji ada di sana jam sembilan,” ketusku.
“Jus, teh, s**u?” tanya Dean yang memegang gagang kulkas.
“Teh,” balasku dan Harold bersamaan.
“Tidurmu nyenyak, Nat?” tanya Harold, suaranya terdengar berat.
“Ya. Aku tak keberatan kalau kau membangunkanku atau merebahkanku di sofa.”
“Aku tidak akan melakukan itu pada perempuan. Aku ini lelaki yang tau manner.”
Kubalas dia dengan ekspresi tidak percaya dan tidak peduli.
Aku lebih peduli soal apa yang kita lakukan selanjutnya. Tidak, sebelum itu aku ingin tau kondisi klien lain dan bertanya apa semalam terjadi sesuatu pada mereka.
Tanpa berpikir panjang, kutelepon sir Graham. Agak lama menunggunya mengangkat. “Selamat pagi, sir,” salamku, meletakkan ponsel di samping piring, mode loudspeaker.
“Pagi, Natalie. Ada laporan baru?”
“Ya, tapi aku akan mengirim laporan itu seperti biasa—lewat pos. Sekarang, aku ingin menanyakan tentang dua klien kerasukan lainnya, tuan.”
Terdengar helaan napas panjang. “Sayang sekali, dua-duanya wafat semalam.”
Aku menegang. Sudah tewas? Keduanya?
“Dua klien ini yang paling singkat masa halusinasinya,” tambah tuan Graham.
Benar, aku baru mendengarnya kemarin dan mereka sudah wafat sekarang. “Apa cenayang yang disewa melihat sesuatu?”
“Satu cenayang bawahan Gusman sedang tak berada di sana malam itu. Satu lagi menyaksikan segalanya sampai akhir tapi tak melihat adanya spirit atau monster.”
Kebiasaanku menggigit bibir saat situasi genting muncul. Dua orang gugur dalam semalam. Kupikir kami mengalami kemajuan, tapi malah kemunduran. Langkah lawan lebih di depan dari kami.
“Aku berencana mengumpulkan semua cenayang yang terkait nanti sore. Kuharap kalian berdua menyempatkan diri tuk datang,” tuturnya sebelum menutup panggilan.
Dean yang ikut mendengarkan sampai kaget begitu ketel bersiul di atas kompor. Harold dan aku sama-sama melepaskan alat makan dari tangan. Sudah hilang nafsu makanku mengetahui keadaan semakin gawat.
Kami segera berangkat, sampai di apartemen Kadric sekitar jam sebelas karena kemacetan. Untungnya Frederick masih di sana.
Namun, terjadi sesuatu. Cermin di pojok ruangan pecah. “Mendadak pecah saat aku sedang sarapan,” jelas Kadric.
Menatap sisi tembok yang kini kosong memberikanku perasaan tenang dan lega. “Cermin Skye juga pecah saat dia pergi. Aku rasa Dark Elf itu tidak akan mengganggumu lagi.”
Frederick masih berekspresi datar seperti hari-hari sebelumnya. “Bagus kalau begitu.”
Mendadak perempuan bersurai cokelat terang itu menangis dan memelukku, nyaris membuatku jomplang membentur pinggiran meja pantry jika Harold tidak menangkap punggungku.
“Thank you ... thank you so much ...,” lirihnya di dekat telingaku.
Aku membalas pelukannya. “Kau sudah bertahan sejauh ini, Kadric,” gumamku.
Kesal memang mendengar dua klien wafat, tapi aku lega karena mungkin kami sudah berhasil menyelamatkan satu klien dari wabah supranatural ini.