Masih Jam sebelas, bakal menyusahkan dan makan waktu untuk pulang ke rumah menunggu sore—aku sudah menumpang mandi di rumah Harold misal ada yang penasaran. Maka dari itu, aku, Harold dan Frederick yang belum pulang, makan siang bersama di apartemen kecil Yune Kadric.
Kadric yang sadar kalau aku belum pulang ke rumah, menawarkan pakaiannya. Aku menolak tegas, untuk beberapa alasan, termasuk kehigienisan. Tentu aku tidak menolak dengan bilang ‘Kau jorok’. Itu kasar.
Lagi-lagi, kita memesan makanan. Kali ini pizza dan Harold yang membayarnya sebagai alasan perayaan. Dasar, padahal semuanya belum berakhir, apa yang mau dirayakan.
Kutepis jauh-jauh anggapan soal Kadric yang tak suka padaku. Bisa jadi itu pengaruh Dark Elf. Halusinasi yang dia alami bisa jadi terkait dengan Harold, alhasil aku yang ada di dekatnya karena terpaksa menjadi target tatapan sinis.
“Besok aku akan kembali sekolah. Mungkin bakal berat dan orang-orang akan mengatakan hal-hal jelek padaku terkait Skye ...,” gumam Kadric.
“Mereka tidak tau apa yang terjadi, tak usah diambil hati,” ucap Frederick datar. Dia memakai hoodie biru dongker dan jeans hitam longgar, sejak kemarin dia memang berpenampilan santai.
Harold menggulung dua pizza menjadi satu, lalu menyantapnya. “Apa kau boleh makan junk food sama Dean? Aku ingat dia mengoceh saat kau bilang ingin memesan burger tadi pagi.”
“Aku sudah bilang kalau ini untuk Kadric. Lagi pula, dibanding burger, pizza lebih sehat. Lihat, ada brokoli, tomat, keju, acar—“
“Burger juga ada tomat, acar, selada, bawang, tapi tetap dibilang jung food,” selaku.
Harold mengusap sisi mulutnya yang terdapat keju. “Tidak masalah jika sesekali, ototku tidak akan hilang karena makan beberapa potong pizza.”
Kadric tersenyum penuh maksud saat mendengarnya. “Oh,” timpalku tak peduli.
"Aku sungguh ingin memastikan ini lagi. Apa kalian berpacaran? Kalian sangat serasi."
Aku mengerut alis. Apa matamu buram, Kadric?
Harold bukannya menjawab, malah menyikutku. "Apa, sih? tentu saja tidak. Mana mau aku sama dia."
Kukeluarkan ponsel, membuka grup khusus perkumpulan, mencari informasi soal cenayang lain yang kliennya juga wafat.
Cenayang itu bernama Mr. Aiden Roux, bergabung dalam tim cenayang senior sir Joseph Claire yang kantornya berada di kota Croydon, selatan London.
Aku lihat foto terbaru yang masuk. Di sana sir Joseph berfoto di bawah Chandelier area aula depan sebelum tangga besar ke lantai dua bersama Mrs. Forrest dan sir Gusman. Dua senior pertama terlihat senang dan cerah, sementara ekspresi sir Gusman yang dihimpit mereka berdua mirip kucing merengut. Bisa dijelaskan kalau pria bermanik abu-abu pensil itu dipaksa tuk ikut berfoto.
“Mr. Harold, keberatan kalau kita ke perkumpulan sekarang?” ajakku.
“Tidak, tapi masih terlalu awal.”
Kumasukkan ponsel ke tas kulit selempang. “Aku ingin menanyai bawahan sir Gusman dan sir Joseph soal klien mereka yang tewas.”
“Aku tak bermaksud menyela, tapi bisa kalian membicarakan itu di tempat lain?” Frederick benar. Ada Miss Kadric dan dia terlihat kebingungan.
Aku memperbaiki sikap, tersenyum tipis. “It’s was careless of me.”
Tepat tengah hari, aku dan Harold—tak lupa dengan Frederick yang menumpang—pergi ke perkumpulan cenayang. Untungnya, dengan mobil hanya menempuh satu setengah jam ke sana.
“Aku lolos di seleksi kedua saat umurku enam belas tahun,” kata Fred, sedikit menceritakan awal mula dia masuk ke perkumpulan. Kami berdua duduk di belakang.
Aku menunjuk diri. “Aku juga dua kali.”
Dia mengangguk lambat-lambat. “Agak sulit dipercaya mendengarnya darimu karena kau mendapat banyak pujian dari juri saat pengumuman lolos seleksi.”
“Itulah yang terjadi.” Saat itu aku juga sudah berpikiran tuk kuliah jika tidak lolos lagi. Memang, tak ada yang bisa menebak rencana tuhan.
“Apakah karena tuntutan orang tua?” tanyanya laki-laki bermanik biru laut itu.
“Tidak juga. Aku melakukannya karena mau. Memang, sih, buyutku juga cenayang yang terkenal di masanya, tapi itu bukan jadi motivasiku untuk masuk ke dunia cenayang,” kataku.
Aku ingat betul apa yang Ibu sering ceritakan soal kakek dari ibunya yang bernama Julian Easton. Katanya dia satu-satunya cenayang laki-laki di masa itu yang bekerja bersama Adam Olivier—pendiri perkumpulan cenayang—dan berhasil mendidik bibit-bibit cenayang baru yang tersebar luas hingga belahan dunia lain.
Setelah mendengar itu, tidak heran kalau aku berharap kegeniusan sang buyut turun padaku.
Mungkin kegeniusan itu semakin berkurang seiring banyaknya keturunan—mungkin, okey.
“Buyutmu juga dari perkumpulan?” tanya Harold.
“Ya. Aku rasa dia tak punya foto atau lukisan, tapi aku pernah lihat namanya di buku besar perkumpulan. Cari saja, namanya Julian Easton.”
Harold hanya ber-hmmm sebagai balasan. Aku yakin dia akan sok-sokan mencari tahu dan nanti akan membanggakan pengetahuannya akan cenayang terdahulu padaku.
Sampai di mansion megah yang memanjang ke samping di dekat sungai Avon, kami bertiga masuk, mendapati pintu ruangan di bawah tangga besar dibuka.
Sewaktu aku masih training, aku sering berlalu di depan pintu itu tanpa tau dalamnya seperti apa. Mrs. Jane bilang itu ruang rapat khusus cenayang senior. Baru kali ini kulihat ruangan itu terbuka.
Keseluruhan ruangan persegi panjang yang sangat lebar itu adalah kayu—tembok, lantai sampai ke meja dan bangku—yang tak begitu gelap warnanya dan berkilau memantulkan dua lampu gantung panjang dibalik pernak-pernik mirip permata yang menambah keindahannya.
Ada tiga puluh kursi berpunggung tinggi mengelilingi meja oval. Sir Graham berdiri di dekat sir Gusman dan satu laki-laki yang kuduga dari timnya, mereka berbicara secara rahasia di pojok kanan ruangan depan jendela yang mengarah ke jejeran pohon maple halaman belakang mansion.
Mrs. Forrest langsung mendekat ke Harold yang berdiri di sebelah ambang pintu, seperti biasa, bersikap seolah di ruangan ini hanya ada mereka berdua.
“Apa semua cenayang senior akan dikumpulkan di sini?” tanyaku ke Fred yang masih bersamaku.
“Mungkin. Jika iya, kemungkinan tuan Graham akan meminta semua cenayang senior tuk ikut serta dalam tim kalian.”
“Kalau, iya, maka aku akan keluar dari tim.” Jika ada banyak cenayang senior, keberadaanku tentu tidak dibutuhkan.
“Kenapa? Kau tidak suka ada orang lain selain kau dan Harold?” lontarnya.
Aku melotot padanya. “Pemikiran gila macam apa itu.”
“Keberadaan satu orang saja pasti akan menimbulkan jarak di antara kalian.”
“Aku tak peduli soal jarak. Kita ini rekan kerja, untuk apa mempermasalahkan jarak,” ketusku.
“Kalau aku bergabung, kau tidak keberatan?”
“Tidak.” Tapi bakal lebih bagus kalau cenayang senior yang bergabung. Seseorang yang lebih bijak dan lebih dewasa dari aku dan Harold.
Aku mendekati sir Gusman saat tuan Graham pergi ke luar ruangan. Ekspresinya tetap sama seperti yang kulihat tadi di foto. “Rapatnya dimulai jam empat, jika kau ingin menanyakan itu, Austryn,” ucapnya.
“Tidak. Aku ingin menanyai salah seorang dari timmu yang mengatasi kasus kerasukan,” bantahku sambil menatap perempuan yang ada di sebelahnya, setinggi diriku, dengan surai yang sama dengan sir Gusman meski maniknya hitam legam.
“Oh, dia yang kau cari. Joy Gusman. Putriku.”
Ya, aku tak terkejut soal itu, melihat ekspresi kalian yang sama-sama masam dilihat. Dan juga, dari mana Joy (senang) yang terpancar darinya?
Dia agak menundukkan kepala dengan mata terpejam dan tangan di bawah leher, pose anggun bak wanita inggris terhormat. “Maaf atas kelalaianku yang menyebabkan kegemparan ini,” tuturnya.
Aku tersenyum tipis, mengikuti posenya bermaksud meledek Ash Gusman. “Kematian adalah misteri, Miss Joy.”
“Kau aneh bersikap begitu, Austryn. Kusarankan agar tidak melakukannya di depan orang lain,” kata tuan Gusman.