menyesakkan,

1149 Kata
Jika dia bukan cenayang senior dan jika saat ini kami tidak sedang berada di perkumpulan, aku sudah mencaci maki sir Gusman. “Apa yang terjadi?” tanyaku ke Joy. Perempuan itu menurunkan tangan, menyilangkan punggung tangan di depan perut seolah dia hendak menyanyi seriosa. “Klienku bernama Mr. Beckham yang tidak memiliki tempat tinggal dan suka berkeliling di sekitar kantor Papa. Warga sekitar yang melaporkan saat dia tiba-tiba meledak dalam amarah dan menyerang gerombolan anak muda. Aku dan anak-anak muda itu membawanya ke kamar inap di kantor.” Ya ampun, di sana ada kamar inapnya? Kantor kalian kantor Cenayang atau rumah sakit? “Dia bertahan kurang dari empat puluh delapan jam. Di akhir, dia tidak menjerit atau berkata. Hanya membuka mulutnya tanpa suara, lalu jatuh lemas tak bernyawa,” lanjutnya. Sama seperti yang Kadric alami. “Tapi kamu tidak melihat apa pun? Wujud hitam dengan manik kekuningan misalkan?” Joy menggeleng lamat-lamat. “Kantor kami sudah terpasang segel, jadi spirit setara poltergeist tidak bisa masuk.” Itu aku juga tau. Memang semua kantor cenayang begitu. Namun, musuh kalian monster setengah spirit, jelas dia bisa melakukannya. “Terima kasih, Joy. Berkatmu, aku bisa memastikan sesuatu.” Dark Elf yang kita hadapi lebih dari satu. Aku belum sempat menanyai sir Joseph Claire dan bawahannya karena dia datang bersamaan dengan dimulainya rapat. Teh dituang, piring keramik kecil dengan macaroon dan kue kering ditaruh di dekat cenayang yang menghadiri rapat. Langit sudah sore, tirai besar ruang rapat ditarik, lampu dinyalakan. Tak ada berkas, tak ada kertas, aku dan Harold diminta menjabarkan rentetan peristiwa kerasukan aneh ini dari masing-masing timeline, ditambah dengan jabaran masing-masing cenayang yang terlibat. Sir Graham duduk di tengah depan meja, sementara sisanya menempati bangku di sisi kanan dan kiri dan tidak meninggalkan satu kursi di tengah. Aku dan Harold di sisi kanan dekat tuan Graham. Setelah mendengar penjelasan terbaru tentang Miss Kadric, sir Gusman berkata. “Jadi sudah pasti kalau dalang masalah ini adalah si Dark Elf?” Harold mengangguk yakin. “Aku sangat yakin dengan itu, Sir.” “Tapi, kenapa? Kau bilang sendiri dia bukan monster yang biasanya memancing perhatian.” Harold malah melempar tatapan padaku. Apa? Kau tidak bisa menjawabnya? “Soal itu, kami belum memastikannya. Menangkap basah Dark Elf saja sangat sulit,” tuturku. “Kau terkesan menggerutu, Austryn,” timpal pria yang terlihat paling tua di ruangan ini. Memang, itu karena Dark Elf dan kau. Mendadak terdengar siulan. “Sihir yang Harold miliki berhasil memengaruhi Dark Elf, membuatnya mengundurkan waktu tuk menyerang Kadric dan menyerang fisiknya dari dalam. Begitu maksudnya?” kata Mr. Joseph dengan senyum. Joseph Claire adalah pria yang setahun lebih tua dari sir Ash Gusman, meski dia terlihat lebih muda darinya. Surai cokelat gelap dengan manik berwarna serupa, serta kulit yang tak begitu terang, dia memiliki pesona modis di umurnya. Sementara bawahannya, Aiden Roux, adalah pria yang sebaya dengan Harold, bersurai pirang tak seterang diriku, memiliki bintik-bintik kecokelatan yang tak begitu kentara jika dilihat dari jauh di area pipi, serta manik biru gelap mirip Frederick. Dia tertinggi kedua di ruangan ini setelah Harold. Aiden mengangkat sebelah tangan agak tinggi. “Boleh kutanya sesuatu terkait itu? Mr. Harold manusia atau ....” Sir Joseph menelepaknya. “Konyol sekali, kau menganggapnya bukan manusia karena punya sihir seperti itu?” “Tak salah juga dia berkesimpulan begitu, hanya sedikit yang tau soal ini, tuk menghindari pihak-pihak yang ingin memanfaatkan Harold sebagai umpan,” tambah sir Graham. Benar juga, buat monster, Harold bisa dianggap big feast untuk mereka. Jika darahnya bisa membuat kecanduan, apa kabar dengan dagingnya? Kenapa malah memosisikan diri sebagai monster! Mataku dan Harold bertemu lagi. Dia mendadak mendekat dan membisikkanku sesuatu saat perhatian berfokus ke sir Joseph dan sir Gusman yang mengeluarkan pendapat. “Kau lapar?” Aku membelalak. T-tunggu, kenapa itu terkesan seperti dia barusan membaca kata hatiku soal darah dan dagingnya? “Berisik,” tekanku pelan, mendorongnya menjauh. “Jumlahnya? Apa sudah dipastikan?” “Belum. Namun, jika hanya satu Dark Elf, meski dia monster setengah spirit, tetap saja menghabisi dua orang sekaligus dalam semalam agak sulit dipercaya. Mereka jarang sekali berburu energi karena sekalinya memangsa, mereka mencari monster lain yang energinya setara dengan manusia dan menghisap energinya sampai habis, setelah itu dia tidak akan berburu sampai seminggu ke depan,” ucap Harold. “Lalu apa rencana kalian selanjutnya, Harold dan Natalie?” tanya sir Graham. Kami berdua belum memikirkan itu. Harold juga tampaknya baru memikirkannya sekarang. “Aku ingin Harold terus memakai metodenya ke klien lain sambil mengorek informasi lebih dalam terkait pergerakan Dark Elf,” balasku. Tatapan serius sir Gusman memberiku kesadaran. “Maksudku, Mr. Harold.” Sir Graham berkata, “Sudah diputuskan. Mulai sekarang, kalian berdua yang mengambil alih seluruh klien kerasukan di London.” “Tanpa bantuan kami?” ujar sir Joseph. Seketika bahuku terasa berat. “Tentu tidak. Kami butuh kerja sama seluruh cenayang yang ada di London karena kasus ini bisa mencemarkan nama baik perkumpulan yang sudah dibangun dari dua ratus tahun lebih. Bahkan, kalau kalian tidak keberatan, aku berniat mencari informasi sampai ke cenayang solois yang bukan dari perkumpulan,” tambahku. “Kita tak bisa melibatkan pihak luar, Natalie,” tutur sir Gusman. “Tidak, jika ada salah seorang dari mereka yang berhasil mengatasi kasus ini, ajak dia bekerja sama, Natalie.” Jemari sir Graham yang sejak tadi mengetuk meja berhenti. “Tapi sebelum itu, kirim dulu identitasnya sebelum kau membeberkan apa pun.” Tak ada yang menyanggah. “Joy, Aiden dan Frederick, kalian tidak ada pertanyaan?” tanya sir Graham. “Tidak, tuan,” jawab Frederick tanpa emosi. Joy menyahut dengan sopan. “Tidak ada, sir.” “Sangat dimengerti jadi tak ada yang bisa kutanyakan,” timpal Aiden. “Aku bingung hendak mengatakan kalian terlalu penurut atau terlalu tidak mau ikut campur,” sarkas sir Joseph. Dia beralih ke Mrs. Forrest. “Miss Forrest?” Wanita itu menyimak sejak tadi dan tidak mengeluarkan pendapat. “Aku tak memiliki sanggahan karena aku yakin mereka berdua bisa menyelesaikan ini.” “Kalau tidak ada sanggahan atau pendapat lain, rapat akan kututup.” Mrs. Forrest berdiri, menatap lurus ke Harold yang malah menoleh padaku dengan kedua alis terangkat. “Ada apa?” Aku menatap surai hitam panjang nyonya kucing hitam yang berbalik dan berjalan pergi ke luar diikuti Frederick. Tolong, jangan libatkan aku dalam masalah kalian berdua. *** “Sir Joseph!” panggilku di area parkir. Pria bermain cokelat gelap bersama Aiden itu berhenti sebelum mencapai mobil hitamnya, berbalik padaku. “Aaaah, pahlawan kita, Natalie Austryn. Bantuan apa yang kau inginkan dari prajuritmu ini?” tuturnya seolah dirinya penjaga Yang Mulia Ratu. Sikap yang nyeleneh ini juga jadi penyebab kenapa aku malas bertanya padanya. “Aku ingin tau detail soal klien yang wafat—“ “Oh, Aiden, giliranmu kali ini.” Sir Joseph mendorong punggung Aiden tuk maju mendekat. “Dia yang tau, silakan interogasi dia, Miss Austryn. Aiden, aku tunggu di mobil.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN