terlihat berantakan,

1219 Kata
[ H A R O L D ] Baru aku hendak pergi menuju ruangan yang kujadikan kantor, seseorang menarikku masuk ke ruangan lain dan menahanku di balik pintu. Aku menertawakan sikapnya. “Kenapa kau begini, Mrs. Forrest?” Dia merapat, menekan tubuhnya ke tubuhku, menipiskan jarak kami. “Kau akan terus bersikap begitu padaku?” lontarnya, terlalu pelan sampai mirip dengan bisikan. “Begitu bagaimana?” “Pura-pura cuek padaku.” Kali ini aku benar-benar mendengus sarkas. “Kau lupa dengan apa yang kita sepakati.” “Persetan dengan itu.” Wanita itu menyerang, menyatukan bibir kami. Menyesap bibir bawahku, berharap aku akan membalas. Tidak. Aku hanya diam. Karena kalau aku meladeninya, aku hanya akan kembali menjadi laki-laki b******k yang dulu. Aku sudah bertekad tuk menjadi apa yang Levine harapkan, apa yang Ayah inginkan dariku— seorang putra yang pernah gagal dan mengecewakannya. Aku mendorong pelan Mrs. Forrest tuk menjauh, mengusap pakaianku yang tadi menempel padanya. “Mari hentikan semua ini, Mrs. Forrest. Kau jelas sudah lupa dengan perjanjiannya.” “Soal teman b******a tanpa melibatkan perasaan?” Dia tersenyum pahit. “Saat kau bilang begitu, bukannya kau sudah tau kalau itu tidak mungkin? Perempuan mana yang tidak menaruh rasa setelah diperlakukan dengan manis begitu?” “Itu konsekuensinya. Kau boleh dekat denganku, tapi kau tak bisa memilikiku,” balasku, menarik pintu yang ternyata adalah ruang kerjanya. Aku terdiam saat wanita itu menyelipkan tangan dari sela lenganku, memeluk dari belakang. Baru hendak berkata, kurasakan kehangatan lalu setruman di leher. Secepatnya aku berbalik, kali ini kudorong dia lebih kuat. Dia tertawa. “Yah, mari lihat apa ada perempuan lain yang tidak sakit melihat itu.” Kuusap leherku. Dasar jalang, dia bermaksud meninggalkan tanda. Aku berjalan keluar sembari menutupi leherku dengan tangan menuju kamar kecil. “Mr. Harold.” Aku mengentakkan napas, kaget mendapati Natalie di balik ujung lorong sebelah kiri. Manik kuning cerahnya yang bulat penuh mendongak padaku. “Kita harus segera pergi.” “Oh, ke mana?” Jangan sampai dia melihat hickey atau bekas gigitan, apa pun itu yang aneh di leherku. “Apartemennya Kadric. Aku ingin menanyainya lebih detail soal halusinasi yang dialami.” “Oke.” Kami berjalan menuju pintu keluar. “Urusan kau dan Mrs. Forrest sudah selesai tadi?” Mataku membulat. “Urusan?” ulangku. “Kalian tadi berbicara empat mata, kan?” Dia memberi tatapan yang bagiku terkesan menusuk, membuatku merasa terbongkar. “Kau tidak pakai parfum dengan aroma begini.” Lengan yang menutup leherku jatuh tak ada tenaga. Aku sudah kaget perihal buyut Natalie yang namanya sama dengan nama di—yang kata Moirai—makam asli Levine, lalu setelah itu, otak dan hatiku mulai membuat hipotesis-hipotesis soal sifat dan tingkah Nat yang serupa dengan buyutnya itu, gila memang, tapi mereka mirip! Baiklah, aku sudah gila. Sekarang, suaranya yang memanggilku dengan ‘Mr. Harold’ mulai suka terulang sendiri, bergaung di rumah siput dalam telinga. Gadis ini tidak baik untuk jantungku. Kami kembali ke rumah Kadric, sampai di sana saat langit jingga beraduk dengan langit biru malam. Perempuan itu agak kebingungan, tak mengira kami akan datang lagi setelah dia sembuh—dan sudah membayar ke Frederick. “Ada yang belum kau katakan pada kami, right?” kata Nat, kami masih di ambang pintu. Kadric mengerjap. “Saat kau berhalusinasi sebelumnya, kau bilang mendengar suara-suara. Apa yang mereka katakan?” lanjut Nat. “A-aku tidak bisa menangkapnya, suaranya terlalu kecil ....” “Bayangan, saat kau merasa sangat marah dan berhasil diambil alih, bayangan apa yang terus muncul di pikiranmu? Siapa atau apa yang memancing kemarahan itu?” lanjut gadis pirang itu lagi. Aku memegang pundaknya. “Kenapa memangnya kau bertanya soal ini?” “Aku hanya ingin memastikan apa yang membuat orang-orang ter-trigger. Pengaruh dari Dark Elf atau spirit lain tidak akan kuat jika orang yang ditargetkan tidak memiliki kebencian, trauma, atau sesuatu yang selalu diinginkan. Itu hipotesis-ku dan aku ingin kepastiannya,” tuturnya ketika berbalik menatapku dan berkata begitu cepat. “Wohoo, pelan-pelan, Natalie,” ucapku. Dia menelan ludah. “Intinya begitu.” Nat kembali menghadap Kadric. “Jadi? Kau tidak ingin mengatakannya? Aku tidak akan bilang pada siapa pun kalau kau khawatir.” Kulihat Yune meraih pergelangan tangan Natalie. “Kalau begitu, aku ingin mengatakannya pada Natalie saja. Aku ... tidak ingin Mr. Harold mendengar ini,” lirihnya. “Tak usah pedulikan dia. Mr. Harold tidak akan bisa membujukku tuk mengatakannya.” Jadi, aku dipaksa di luar sampai mereka selesai bicara selama belasan menit. Saat Nat mengizinkanku masuk, kulihat Kadric sedang menenangkan diri yang menangis sambil sesenggukan. Kutanya Nat lewat tatapan. “Urusan perempuan. Kau tak boleh tau,” katanya, menuangkan air tuk perempuan yang menangis. Aku duduk di dekat Kaldric, lalu Nat di sebelahku, di sofa bulat kecil. “Tapi hipotesismu terbukti?” tanyaku. “Ya ... bisa dibilang begitu. Aku perlu mewawancarai satu orang lagi.” Kita kembali ke London. Sebelum itu, Nat ingin aku mengantarnya ke area dekat rumahnya. Dia bilang itu rumah orang tua dari klien yang dia tangani, Owen Isaac. “Bukannya dia meninggal?” kataku, menghentikan mobil di trotoar seberang rumah yang dimaksud. Nat membuka sabuk pengaman dan membuka pintu sembari keluar. “Ya. Ini memang tindakan terlarang untuk cenayang, tapi aku ingin tau.” Dia berhenti di sebelahku sekejap dengan jari telunjuk menyalang. “Tutup mulutmu, jangan memberitahu siapa pun soal ini.” Aku pura-pura meresleting mulut, lalu kuangkat jempol. “Ayo.” Pintu diketuk, Natalie berbicara pada pria paruh baya pemilik rumah, lalu dia bertemu dengan istrinya. “Aku takut ada yang tertinggal di kamarnya dan akan mengundang sesuatu yang jahat tuk datang,” kata perempuan pirang itu. Awalnya Mr. Dan Mrs. Isaac ragu untuk mengizinkan Nat dan aku masuk ke kamar Owen. Namun, kemudian dia mengangguk. “Aku sungguh minta maaf, karena tidak bisa ....” Natalie kehilangan kata-kata. Mrs. Isaac memeluk singkat perempuan itu. “Kami tidak menyalahkanmu. Ini takdirnya, kita tak bisa menghalangi takdir.” Aku melihat punggung kecilnya yang agak layu, tapi sedetik kemudian menegak. “Kalau begitu, aku akan masuk ke kamarnya.” Senyumku otomatis mengembang. Iri sekali, dia bisa mengatasi kesedihan dengan mudah. Tak sepertiku yang melepas kesedihan berlarut-larut. Sampai di kamar seorang laki-laki yang kutebak berusia di atas Nat, aku melihat bingkai cermin tanpa kaca cermin. Ah, baru ingat kalau dia pernah bilang kalau tiba-tiba cerminnya pecah. Aku jadi penasaran tuk memastikan klien yang ditangani di rumah, soal cerminnya di saat-saat sebelum cerminnya pecah. Nat duduk di bangku meja belajar, di sisi kiri ranjang kosong karena penghuninya sudah pergi ke tempat peristirahatan terakhir. Dia meletakkan asbak yang dia minta dari Mr. Isaac tadi di atas meja, lalu mengeluarkan setumpuk kelopak bunga marigold kering dan membakarnya. Asap menyebar dengan lambat. “Jadi, kau ingin berkomunikasi dengan Owen?” tanyaku yang baru sadar tujuannya ke sini. “Ya. Entah bisa atau tidak.” “Memangnya tidak bisa?” “Aku bisa jadi komunikator, tapi harus ada protektor atau shield.” Aku tak mengerti apa yang dia maksud jadi aku mengangguk saja. "Jadi, apa kau membutuhkan sesuatu dariku?" "Mungkin, nanti. Sayangnya kau bukan cenayang spirit." Perempuan itu memejamkan mata sembari menghela napas panjang. Bulu matanya yang serupa pirang terlihat seperti benang sutra yang mengkilap terkena sinar lampu. Aku terus menatapnya, mumpung dia tidak tau. Karena kalau tau, dia bakal mengerut marah. Meskipun wajah marahnya juga tidak menyeramkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN