terasa menyakitkan.

1212 Kata
[ N A T A L I E ] Ketentuan dalam perkumpulan jelas tertulis kalau cenayang dilarang mengusik, memanggil, berkomunikasi dengan arwah manusia kecuali jika dia penyebab keluhan klien. Denda, cenayang yang bersangkutan dilarang menerima klien selama satu bulan. Itu yang akan terjadi jika aku ketahuan oleh cenayang lain. Aku tidak tau Harold bisa diajak kerja sama atau taat pada ketentuan. Toh, dia juga terlibat, dia juga akan kena akibatnya bersama denganku. Asap tak menyengat dari kelopak bunga marigold kering sudah tersebar. Aku menutup mata sejenak, mengosongkan pikiran, lalu kembali melihat ruang kamar Mr. Owen. “Mr. Owen, kau ada di sini?” tanyaku. Sepi, Harold malah yang memberi respons lewat pertanyaan. “Aku bakal bisa melihatnya juga, kan?” “Ya. Jika kau ada pertanyaan, kau boleh bertanya pada Mr. Owen nanti,” balasku dengan mata menatap sudut dan sisi kamar yang tak begitu luas itu. “Memangnya arwahnya ada di sini? Tidak di pemakaman?” “Ibuku selalu bilang kalau manusia yang baru meninggal masih memiliki empat puluh hari di dunia sebelum dihapus memorinya dan masuk ke alam lain. Berbeda dengan spirit, arwah manusia atau hewan tidak begitu besar hingga mereka sulit terlihat. Beberapa hanya ada suara saja, atau penampilannya terlihat sepersekian detik saja, itu pun kalau mereka sendiri yang ingin menunjukkan keberadaannya,” kataku, mengatakan apa yang Ibuku katakan. Lalu bagaimana dengan hantu? Apa hantu bukan arwah manusia? Bukan spirit? Hantu itu arwah manusia yang dikuasai emosi jahat, bisa jadi meninggal karena tindakan yang disengaja orang lain atau masih ada dendam yang tertinggal. Yah, pandangan masing-masing cenayang berbeda-beda. Ada juga yang menganggap hantu sama dengan spirit. “Mr. Owen?” panggilku lagi. “Aku ada pertanyaan penting untukmu, yang lupa kutanyakan sebelum kau ... pergi.” Agak berat mengucapkan kata terakhir. “Bisa kau muncul sejenak saja? Balasan darimu akan sangat membantu,” ucap Harold, kemudian dia bergumam pelan padaku. “Rasanya aneh bicara pada arwah.” “Belum, kita baru bicara pada tembok karena tak ada respons,” lontarku mulai jengkel. Bisa jadi dia tak ada di sini dan berkeliling ke tempat lain seperti sekolah atau rumah pacarnya dulu. “Kalau kau tidak menjawab, aku akan menetap di sini sampai—“ ‘Yang benar saja, sana pulang!’ Aku dan Harold membelalak. “S-su-suara tadi—“ Pria itu takjub, menutup mulutnya, melihat ke sekitar. “Dari mana?” “Mr. Owen,” panggilku lagi. Dia menyahut emosi, ‘Ya, ya, ya! Duh, bawel sekali.’ Baguslah. “Ada yang ingin kutanyakan.” ‘Aku menolak tuk menjawab.’ Alisku menukik kesal. “Kenapa?” ‘Karena kau benar dan aku salah. Aku kerasukan, Natalie, lalu aku mati. Maaf aku tidak mempercayaimu,' balasnya, terdengar datar. Aku teringat ekspresinya yang bersandar di kerangka tempat tidur dan menolak keberadaanku. “Tapi itu memang bukan kerasukan, Kak,” balasku. ‘Apa?’ “Halusinasi yang kau alami, boleh kami mengetahuinya? Korban semakin banyak jatuh dan mereka punya kasus sama sepertimu,” kata Harold. ‘Oh, kau cenayang juga? Kupikir kau pacarnya.’ Aku mendecak. “Jawab saja, jangan buat aku kesal.” ‘Aku rasa aku pernah menjelaskannya padamu.’ “Apa? Halusinasi? Kan, kau bilang waktu itu kau tidak kerasukan tidak berhalusinasi juga.” ‘Itu bantahan karena aku tidak mempercayai keduanya. Aku merasa apa yang kulihat dan kualami nyata, Austryn. Sama sekali bukan halusinasi. Malah, aku merasa hidupku di sini, bersama Ibu dan Ayah adalah mimpi.’ Suaranya terdengar berkeliling di seisi kamar. Apa dia sedang berjalan di langit-langit? Aku membulatkan mata. “Mimpi?” ucapku ragu. ‘Ya. Mimpi. Aku ingat, aku sudah memiliki istri dan anak di sebuah rumah di wilayah Inggris yang masih sedikit ditinggali orang. Namanya Mary dan putra kami Zack. Kami menghabiskan berminggu-minggu, berbulan-bulan bersama. Sampai suatu hari, aku ada di sini, bersama orang tuaku yang terlihat lebih muda dari sebelumnya, lalu Mary dan Zack tidak ada di mana pun.’ “Itu halusinasi berat, Mr. Owen—“ ‘Kau benar. Aku baru menyadarinya setelah itu.’ Cukup berbeda dengan yang Kadric alami. Perempuan itu menjelaskannya. Sejak dulu, dia memang iri pada Skye yang mudah populer dan berbakat. Namun, hanya itu. Hanya iri biasa. Lalu, di malam setelah mereka bermain, Kadric ingat kalau dia bangun pergi ke sekolah dan mendapati dirinya tidak terdaftar sebagai siswa di sana. Tidak ada yang mengenalnya di sekolah. Meski begitu, dia melihat Skye disapa banyak orang, disukai banyak orang, dan yang membuat Kadric naik pitam adalah ketika dia melihat laki-laki yang belum membalas perasaannya sudah berpacaran dengan sahabatnya. Dia pulang dengan ketakutan dan kemarahan hebat. Tetapi, setelah itu, dia sadar kalau dirinya tidak ke mana-mana. Kadric ketakutan, berteriak-teriak sendirian di kamar, masih di malam yang sama, tak berpindah tempat. Jadi, dengan asumsi kerasukan, perempuan itu menyewa jasa cenayang. Namun, aku tidak mendengar kalau halusinasi itu dia alami saat tidur. Ah! Skye! Kemungkinan dia juga mengalami mimpi dan halusinasi. Duh, apa aku mesti menanyainya? Bertanya pada satu arwah saja sudah cukup berat—dari segi tenaga yang terkuras dan hukuman yang bakal di dapat jika ketahuan. ‘Kalian sudah mendengar jawabannya. Sekarang, pergi.’ Ucapan Mr. Owen yang terdengar bergaung memecahkan lamunanku. “Terima kasih, Mr. Owen,” kataku. “Jika ada yang ingin kau sampaikan ke orang tuamu—“ ‘Tidak ada,' selanya. ‘Aku ingin mereka melupakanku secepatnya, agar tak ada lagi yang sedih. Baik aku juga orang tuaku.’ Kami berpamitan setelah itu. Aku tidak menolak tawaran Harold yang ingin mengantarku sampai rumah—karena uangku menipis dan aku lelah. “Jangan beritau ini pada siapa pun. Dengar, Mr. Harold?” tegasku. “Baiklah, Miss Austryn,” ucapnya dengan tolehan sejenak dilengkapi senyum. “Termasuk sir Graham dan Mrs. Forrest.” Dia mendengus. “Kenapa Mrs. Forrest termasuk? Dia bukan pihak yang mesti tau soal ini.” Aku bersedekap, menatap ke luar dari mobil tanpa atap dan jendela. Kau tau sendiri kenapa. Aku tidak peduli ada kedekatan macam apa di antara kalian, tapi jelas, jika sudah dekat maka apa saja dibicarakan. “Aku sudah memutus hubungan dengannya,” ucap pria bermanik hitam itu mendadak. “Apa?” sahutku tanpa melihatnya. “Aku dan Mrs. Forrest tidak seperti yang kau pikirkan,” jelasnya. Aku menatapnya dengan raut tidak setuju. “Aku tidak bertanya dan aku tidak peduli.” Harold tertawa. “Terima kasih.” Ada jeda beberapa menit. “Belum ada klien terbaru. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu tuk menyelidiki Dark Elf dari luar klien?” tawarnya. “Maksudnya?” “Dark Elf juga ada di siang hari. Jika benar musuh kita lebih dari satu, bukankah mereka memiliki tempat tuk dijadikan markas atau tempat tinggal,” jelasnya. Aku mengangguk paham. Aku lupa kalau yang kita hadapi adalah monster-spirit. Jelas mereka terlihat di siang hari. Dengan penampilan serba hitam itu, Dark Elf bersembunyi di suatu tempat di London, tapi .... “Bagaimana kalau mereka berada di bawah kendali penyihir?” kataku spontan. Udara dingin mendadak melintas ke tengkuk, membuatku bergidik karena ucapan sendiri. “Lain kali pakai mobil beratap saja,” ketusku sembari memeluk diri. "Harusnya hari ini aku memakai jaket. Agar aku bisa memberikannya padamu sekarang." Mataku berotasi. Dia mulai lagi. "Dengar, aku tidak akan suka padamu meski kau mengatakan semua itu, Mr. Harold." Dia diam begitu lama, sampai aku merasa ucapanku salah. Namun, sungguh. Aku tidak ingin apa yang orang bilang tentang kami menjadi kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN