Tenang,

1555 Kata
Esoknya, di hari minggu tanggal dua puluh tiga, masih di bulan kedelapan, aku bangun saat dering ponsel berkali-kali berbunyi. Padahal aku yakin aku sudah mematikan alarm malamnya karena hari ini aku ingin libur. Dengan mata menyipit, kudapati foto Harold yang sok keren di layar. Urg, dia lagi, dia lagi. Kumatikan panggilan, lalu aku kembali tidur. Mari bangun jam sepuluh— Ponsel berdering lagi. Aku mengangkat kepala, melihat foto yang sama. “Berisik!” bentakku, mematikan panggilan sekaligus mematikan ponsel, lalu berbaring memunggungi ponsel, menarik selimut sampai menutupi kepala. Bukannya aku tak ingat kalau hari ini aku dan pria itu ada kegiatan, tapi ini masih jam enam kurang di hari minggu! Suara klakson mobil membuat tubuhku tersentak hebat, langsung bangkit, terserempet karpet, lalu melangkah ke jendela kamar yang langsung mengarah ke jalan di luar. Harold turun dari mobil begitu melihatku yang masih berselimut, membuka jendela. Dia melambai ramah. “SHUT THE HELL UP OF THIS!” bentakku emosi, menerbangkan burung gereja yang tadinya berkicau di atap rumah. Dia kaget mendapat sumpah serapah di pagi begini. “Aku mengajakmu sarapan bersama di rumah.” A-apa dia bilang? “IT’S STILL SIX IN THE MORNING!” “Ayolah, kau boleh tidur lagi di sana, sekalian mandi juga tak apa. Aku tak keberatan.” Aku yakin sudah memasang kerutan emosi di wajah, tapi senyumnya tidak pudar juga. “Shall we?” Kututup kembali jendela, lalu melempar diri ke kasur. Kalau kudiamkan, dia akan pergi. Ya, biarkan saja dia di sana, I’m done with him. “Morning, hot guy!” seru seseorang di luar, suara wanita. “Morning,” balas Harold yang terkesan ramah, lalu pekikan ala fan girl terdengar. Ada lebih dari satu wanita. “Mau ikut bareng? Kita mau sarapan juga.” “Oh, really?” Mataku membulat, kembali melangkah dan membuka jendela. Telunjukku menyalang padanya dengan mata melirik sinis ke arah tiga cewek di mobil seberang. “Aku akan bersiap, jangan ke mana-mana,” tekanku. Harold berbalik. “Sorry, girls,” balasnya ke mobil lain. Terdengar seruan kecewa. “Next time, ‘kay?” “Sure!” Pria bersurai hitam yang hari ini tidak di pomade itu kembali menatapku. “Aku tak masalah kau tidak mandi.” “Diam,” ketusku. Jadi, untuk pertama kalinya, aku mandi di jam enam lewat di hari minggu, kemudian masuk ke mobil Harold. Sekarang aku menyesal sudah menyetujui ajakannya kemarin. Kami sampai di rumah dengan ruang hijau indoor. Dean kaget melihat kedatanganku. “Maaf, aku sudah melarangnya untuk tidak mengganggumu ...,” kata spirit laki-laki itu. Aku mengangguk pasrah. “Kau yang paling perhatian, Dean.” “Tidak, aku hanya merasa bakal lebih menyenangkan jika mengajakmu sarapan bersama. Apalagi di hari minggu,” lontar Harold yang mencoba duduk di sebelah. Aku menaruh kakiku di sana agar dia pindah duduk di seberang. “Aaaah, kau benar. Sangat menyenangkan,” sarkasku. Spirit penghuni rumah itu menaruh piring di depanku. “Nasi goreng.” “Buatku apa?” tanya Harold. “Sama, kok. Sebentar, kutuangkan.” Aku menatap nasi kecokelatan dengan tiga potong ham dan telur mata sapi di samping. Yah, tidak buruk juga. Aku bisa menghemat uang sarapan hari ini. “Nat, ada tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Harold. Aku mengunyah, menggelengkan kepala. “Kenapa?” “Aku teringat laporan Irma dan homeless lain yang Miss Joy tangani. Mereka berontak di terang hari, kan? Sudah begitu, di tempat ramai.” “Lalu?” lontarku, meraih segelas air. “Bagaimana kalau seharian ini kita hampiri tempat-tempat ramai itu, mengamati sekitar. Belum ada klien yang diterima, pasti mereka akan berburu lagi,” lanjutnya. Aku merajuk, “di musim panas begini kita mengamati sekitar?” “Ya, terus? Kau mau berkeliaran semalaman?” Tidak. Itu lebih buruk. Namun, sekarang aku memakai atasan tanpa lengan berbahan wol warna putih cream, dengan rok leather hitam selutut dan topi baret sama warna. Untungnya, pakaian yang tidak begitu gerah jika berjalan di bawah terik matahari. “Kau tidak gerah nanti? Kau kan selalu memakai pakaian panjang.” Sejak kemarin, bahkan sejak aku pertama kali melihatnya, aku belum pernah melihat dia memakai baju dan celana musim panas. Melihatnya saja rasanya aku ingin buka baju—saking gerahnya. “Aku sudah terbiasa,” angguknya. “Mr. Harold sendiri, tidak ada tempat ramai yang terlintas di pikiranmu?” Dia tersenyum penuh maksud. Hell no, spontan aku merasa tidak enak. *** Aku dan Harold pergi ke Natural History Museum yang jaraknya tiga puluh menit dari rumah. Kutatap kerangka dinosaurus dengan ekor panjang dan sepertinya punya culah seperti gajah purba—maafkan pengetahuanku soal makhluk purba yang cuma tau Brontosaurus—yang di gantung di langit-langit lantai dasar dan dikelilingi lorong-lorong lantai dua. Di sebelahku, Harold—yang memakai hoodie ungu stabilo dan celana linen cokelat terang—memotretnya dengan kamera yang dia bawa. Kami sama-sama mendongak. “Kau belum pernah ke sini, Nat?” “Ya. Aku tidak sempat ke sini karena sibuk mempromosikan kantorku.” Dan juga, aku tidak setertarik itu mengunjungi museum. “Mari lihat-lihat sebentar sebelum pergi ke tempat lain.” Aku lihat ke arahnya, terdiam sejenak dan sadar begitu dia menurunkan kamera dari wajah, tersenyum jahil. Dia baru saja memotretku. Tak lama memandangi beberapa tulang belulang dan patung hewan di sana, kami pergi ke alun-alun Trafalgar. Hari sudah menjelang terik, memaksaku menatap sekeliling sambil menyipit. Harold menarikku sampai berdiri di dekat patung singa berwarna cokelat gelap yang terlentang mirip pose spinx, setelah itu dia berjalan mundur dengan kamera di depan wajah. Aku memasang wajah datar, mengangkat dua jari telunjuk dan mengarahkannya di sisi kepala—pose tanduk iblis. “Lagi!” serunya. Aku mengangkat dua jari dari masing-masing tangan, masih dengan wajah datar. “Senyumlah.” Kutarik sisi pipi, dan dia tertawa di sana. “Bagaimana kita mencari Dark Elf kalau bersenang-senang begini?” protesku saat dia mendekat. Dia berbisik. “Kita harus terlihat sealami mungkin. Bukankah Dark Elf menyerang orang-orang yang lengah?” Aku mengerjap. “Memang mereka sepintar itu?” “Jika situasi terlihat aman, mereka akan beraksi.” Harold mengangkat kamera, mengarahkannya pada diri sendiri dan aku yang berdiri di sebelahnya lalu segera mengambil foto. Pria itu mendadak tertawa. “Kau—prfft! Hanya puncak kepalamu yang tertangkap.” Aku memasang wajah kesal padanya yang mengejek. Kau saja yang terlalu tinggi, dasar serakah. “Kalau begitu, coba kau berdiri di tepi air pancur.” Kami kembali berfoto di sana, kali ini aku bersandar di bahunya, agak menundukkan badan. “Nah, begini bagus. Nanti aku kirimkan padamu lewat chat.” “Terserah—Uwoo!” Kakiku tergelincir tepian kolam air pancur dan tubuhku hendak pasrah jatuh ke air jika Harold tidak dengan cepat menarik dan menangkapku ke depan. Topi baretku jatuh di belakang kakinya, tubuh kami bertemu dan tanganku menjadi penghalang di tengah. “Natalie?” Aku mendorong diri agar bisa menatapnya yang agak mendongak padaku. “Kau tidak apa-apa?” Mataku jelalatan ke sekitar, mendapati beberapa pasang mata sempat melirik pada kami. Tangan kanan pria itu ada di balik lututku, alhasil aku ada di posisi gendongan. “Y-ya. Kameranya?” “Ada di tangan kiriku.” Aku ingin turun, tapi dia masih diam di tempat, menatap. Kubalas tatapan itu dengan jengkel. “Mau sampai kapan kita begini?” “Ah, iya.” Dia mendenguskan senyum setelah memakaikan baret di atas kepalaku. “Bagaimana kalau kita ke cafe sebentar? Atau kau mau makan siang langsung? Aku dapat izin dari Dean untuk makan di luar.” “Kau ini taat sekali sama spirit peliharaan sendiri,” celetukku, berjalan ke restoran terdekat dengan Harold mengekori. Kusisir rambutku asal, merapikan topi. Tidak, aku tidak merasakan apa pun. Aku tak canggung, aku tidak malu. Sungguh, biasa saja. Sejak awal, kita berencana mengamati sekitar, berharap menangkap sosok Dark Elf terang-terangan. Semakin angka jam bergeser, semakin ragu aku dengan keberhasilan rencana itu. Hari sudah sore, kami memutuskan tuk menghentikan mobil dan berjalan di trotoar jembatan menara, menunggu malam datang. “Apa kau berbohong padaku soal mencari keberadaan Dark Elf di tempat ramai? Mana mungkin dia menunjukkan diri,” protesku yang sudah lelah seharian di luar. “Sungguh. Kau mungkin tidak pernah melihat, tapi monster ular berkepala tiga saja sudah pernah tertangkap manusia di taman saat terik,” balasnya. Mataku berpaku curiga. Aku tidak pernah dengar beritanya. Mungkin ada, tapi aku tak dengar soal itu. “Ck, kenapa tidak kau pancing saja dengan darahmu?” Dia membelalak. “Dan monster lain pun berbondong-bondong ke sini, menciptakan kekacauan dan kita yang akan bertanggung-jawab jika ada kehilangan jiwa,” tuturnya. Ah, benar. Dia bilang semua monster terobsesi dengan darahnya, meski aku masih meragukan itu. Bloodlust, sedikit saja darah yang terekspos di udara, aromanya akan mengoar dan memancing pemangsa energi khususnya monster. “Apa ada orang lain yang sepertimu?” tanyaku iseng. “Tentu. Namun, beliau baru-baru ini wafat. Seminggu yang lalu. Dia tinggal di Norwegia.” “Kau kenal dengannya?” “Tidak. Aku hanya tau namanya dan belum pernah bertemu. Soal berita wafatnya pun aku dengar dari sir Graham yang punya akses informasi luas.” “Lalu, kalau tidak kenal, bagaimana kau tau kalau darahmu itu berbeda dan cara menjaganya?” Pria itu tersenyum sampai matanya menyipit. “Apa?” ketusku karena dia tak memberi jawaban. “Aku tau banyak hal soal monster dan kutukan ini berkat Ayahku. Levine,” katanya. Aku mengerjap. Levine?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN