nanti kuterima semua

1622 Kata
“Ayah?” ulangku dengan dahi mengerut. Harold menatap lurus ke depan. “Levine bukan temanku, tapi Ayah angkatku. Bersama wanita yang kau kenal sebagai Mrs. Gabriel.” “Kau mengada-ngada,” timpalku, memberikan tatapan datar. “Sungguh.” Kebingungan membuat wajahku mengerut. Jadi Mrs. Gabriel dan Levine itu suami istri? Lalu siapa wanita bersurai cokelat yang waktu itu bersamanya di hari seleksi calon cenayang? Kalau pun benar, Mrs. Gabriel tidak sesedih Harold. Tunggu dulu, apa mereka bercerai? “Jadi Mrs. Gabriel adalah Ibu angkatmu?” “Yep. Benci mengakuinya,” balasnya. “Dan dia istri Levine?” Dia melotot hebat padaku. “No way! Ya Tuhan, itu mengerikan!” “Apanya yang mengerikan? Mereka cocok, kok. Sama-sama rupawan.” “Tidak, sebenarnya Levine juga anak angkat Mrs. Gabriel sebelum aku.” “Whaaaaaat?” lontarku dengan nada suara yang melengking. “Pria itu hendak melompat!” “Hentikan dia!” Kami langsung teralihkan ke trotoar seberang, asal teriakan tadi terdengar. Dari dua jalan raya berlawanan yang tidak terlalu dipenuhi mobil, terlihat seorang pria yang kakinya menaiki pagar sisi jembatan, dikelilingi banyak orang. Seorang laki-laki memeluknya dari belakang, memintanya tuk segera melepas tangan dan menghentikan aksinya. Tunggu, laki-laki bersurai oranye itu, aku mengenalnya. “Kita menyeberang, Harold!” seruku yang bersiap menyeberangi jalan raya. Harold memegangi tanganku dengan tangan satunya yang terentang ke samping. “Ayo,” ucapnya, menarikku tuk berlari setelah mobil berhenti mempersilakan. Sampai di trotoar seberang, Harold langsung memeluk pinggang pria itu dan menariknya ke belakang. “Cengkeramannya kuat sekali!” serunya. “Tidak mungkin—“Mataku membelalak. Jangan bilang padaku kalau pria ini di bawah pengaruh Dark Elf. Saat laki-laki bersurai oranye itu menoleh, aku dapat memastikan kalau dia Billy. “Guys, help!” teriaknya ke orang-orang sekitar. Beberapa laki-laki yang terlihat sebaya dengan Billy memegangi tangan dan kaki pria yang masih bersikeras hendak lompat dari jembatan, lalu mereka menariknya bersama. Aku menarik Harold, dia langsung melepaskan diri begitu tau aku memeganginya. Dengan terengah-engah aku berkata, “darahmu—aku rasa dia dalam pengaruh Dark Elf.” “Aku tak bisa melakukannya di sini,” tekannya. “Lalu, apa yang mesti kita perbuat?” protesku. Tiba-tiba kerumunan laki-laki yang menarik pria itu jatuh ke belakang. Pria yang hendak melompat tadi jadi tidak sadarkan diri. Aku menghampiri Billy. Dia sangat kaget melihatku. “Austryn? Sejak kapan kau di sini?” “Barusan. Dari pada itu, aku ingin bertanya. Apa kau mengenalnya?” tanyaku menunjuk pria yang pingsan itu. “Ya. Dia guru kami.” “Kami?” Aku menatap laki-laki dan perempuan yang masih mengelilingi. “Kalian sedang reunian?” Dia menepuk-nepuk T-shirt lengan panjang dan celana gunung selututnya sembari bangkit berdiri di depanku. “Benar. Kami sengaja ingin mengantar guru ke rumah sebelum membubarkan diri. Beliau agak kurang enak badan hari ini.” Kutengok Harold yang mendekati pria yang pingsan dan menggendongnya di punggung sembari bicara pada teman Billy yang lain. “Pacarmu?” lontar Billy. Aku mengibaskan tangan di udara. “Dia cenayang juga.” “Aaah, benar. Aku pernah melihatnya saat seleksi kemarin. Dia yang dikerubuti cenayang perempuan senior kita waktu itu,” balasnya. “Billy, katanya dia dokter dan mau mengantar Pak Jill sampai rumah,” kata seorang laki-laki teman Billy. Alisnya mengerut, menatapku. “Tadi kau bilang dia cenayang.” Aku menatap Harold sejenak. Ah, aku tak bisa melewatkan kesempatan ini. “Ya, maaf, aku lupa kalau dia alumni jurusan kedokteran.” Laki-laki itu mengangguk meski wajahnya masih menunjukkan kebingungan. “Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke rumah bersama pak dokter ini. Kalian boleh pulang.” “Sungguh? Tapi, aku khawatir sama Pak Jill,” lontar salah seorang perempuan. “Dia tidak pernah begitu.” “Tenang, serahkan saja padaku.” Seorang teman laki-laki Billy menghampirinya dan melakukan salaman ala bestie. “Kalau begitu, kami pamit, ketua kelas.” Billy menepuk punggung temannya sebelum berpisah. “Hati-hati. Jangan mampir ke pub!” Beberapa terkekeh mendengar seruan Billy. “Dasar gila!” “Memangnya kau Ibuku?” “Kabari kami kalau Pak Jill sudah sadar!” “Ya!” Billy menatap gurunya yang digendong Harold. “Rumahnya cukup dekat. Apa dia tidak berat untukmu?” Harold menyombongkan diri dengan ber-squat sambil menggendong si pria guru. Kutepuk pria itu dengan kencang. “Awas saja kalau guru Billy jatuh.” “Oh, kau mengenalnya?” katanya padaku sambil melirik Billy. “Ya, kebetulan kita pernah sama-sama mengikuti seleksi cenayang tahun ini dan aku gagal,” kata laki-laki bersurai warna wortel itu. Kami berjalan dari pertengahan jembatan, kembali ke arah aku dan Harold datang, masuk ke mobil dan pergi ke rumah Pak Jill. “Bagaimana kejadiannya tadi?” tanyaku yang duduk di sebelah Harold ke Billy yang duduk di belakang bersama gurunya. Jemari Billy membetulkan posisi kacamata. “Aku ada di barisan depan, jadi aku tidak begitu tau awalnya. Saat teman-teman sudah gaduh, baru aku segera menarik Pak Jill dan, oh my lord, dia mendadak sekuat hulk.” “Ya, aku juga merasakannya. Dia tidak bergeming meski ditarik dua orang.” Padahal, Pak Jill itu badannya kecil, sama tinggi denganku dan Billy bilang dia sudah lima puluh lebih. Iseng, kuarahkan benang spirit ke Pak Jill. Tidak tersambung. Tidak ada spirit. “Ada apa?” tanya Billy yang melihatnya. “Tidak. Aku hanya—“ “Nat pikir dia salah satu korban kerasukan aneh yang belakangan ini marak,” sela Harold, aku langsung memukul lengannya. Apa dia tidak dengar kalau hal ini masih dirahasiakan dari cenayang di luar perkumpulan? “Yang Austryn pernah bilang soal kerasukan tanpa spirit?” balasnya. Aku meringis jengkel. Duh, iya, aku pernah bicara soal itu saat mengunjungi rumahnya. “Ngomong-ngomong soal spirit, apa kalian sempat melihat spirit berwarna hitam dengan mata kekuningan?” lanjut Billy yang membuatku kembali memiringkan badan padanya, menatap kaget. Sontak mobil menepi, mesin dimatikan, Harold ikut menoleh ke Billy. “Kau pernah melihatnya?” tanya pria itu. “Ya ... aku pernah menceritakannya pada Austryn saat dia berkunjung ke rumahku. Spirit hitam itu merasuki kerabat Mrs. Gabriel—“ “Mrs. Gabriel?” sela Harold yang terlihat jengkel. “—dan aku mengusirnya dari tubuh klien, tak sempat membasmi. Sampai sekarang aku masih mencarinya. Tapi, kalian bilang kerasukan tanpa spirit, berarti kerasukan apa itu?” sambung Billy. Aku juga baru ingat itu sekarang. s**t! Kenapa akhir-akhir ini aku sering melupakan sesuatu? Batinku sembari sengaja menubrukkan kepala ke kursi mobil. Usai mengantar Pak Jill sampai rumah—dia sadar tepat saat kami menggendongnya lagi ke dalam—, kami bertiga mengobrol di mobil menuju Halte bus dekat rumahku. Hari sudah malam, tapi kejengkelan masih berlangsung dari sore tadi. “Jadi, boleh ceritakan dulu soal klienmu yang tadi?” kataku, kembali duduk di sebelah Harold. “Kenapa segala sesuatu harus terkait dengan Moirai,” dumal Harold. “Mr. Harold, bisa tenang?” kataku. “Terima kasih.” Billy mulai berkata, “Namanya Miss Fanette. Tinggal di Wembley, masih delapan belas tahun. Mrs. Gabriel melaporkan kerasukan kerabatnya di hari Selasa, malamnya, dan mengantarku saat itu juga ke sana.” Hari yang sama dengan hari kepulangan Skye dan Kadric setelah bermain. Jangan bilang kalau mereka berdua dan Fanette ini adalah teman dekat juga. “Karena aku tak bisa menggunakan benang spirit, aku membakar marigold tuk mengusir spirit keluar. Tentu tidak segampang itu, maksudku, aku bahkan bukan cenayang yang memenuhi kualifikasi, tapi entah kenapa Mrs. Gabriel datang padaku dari sekian banyaknya cenayang di London,” katanya merasa tidak yakin dengan diri sendiri. “Tapi kau bisa mengusir spirit hitam itu. Dengan apa?” tanya Harold. “Cincin batu garnet. Begitu aku memegangi kepalanya dengan cincin itu di jari, spirit hitam keluar dan pergi.” dia mengangkat tangan kiri dan menunjukkan cincin besi dengan batu garnet merah gelap di tengahnya. Batu garnet memang sangat ampuh dan sering digunakan para shield dan protektor. Namun, barang ini cukup susah dicari belum lagi harganya yang melangit. “Cincinnya milik Ayahku dan kupinjam sejak seleksi cenayang. Kupikir dengan cincin itu aku bisa lolos,” katanya diakhiri tawa pasrah. Bisa jadi spirit Dark Elf di tubuh Pak Jill sudah pergi karena sentuhan dari cincin garnet itu. Kami sampai di halte bus dekat rumah, aku dan Billy turun dari mobil. “Nanti telepon aku jika sudah di rumah,” kata Harold yang langsung menutup jendela dan memutar mobil. Untuk apa? Memangnya kau Ayahku yang harus tau aku sampai rumah dengan selamat. Billy berkata setelah mobil Harold sudah jauh. “Kalian satu tim? Bukankah waktu itu kau bilang ....” “Bukan, aku tetap bekerja sendiri. Karena sesuatu, kami mesti menjadi tim. Itu pun hanya sementara.” Kami terdiam sejenak. “Aku pulang. Rumahku dekat sini,” kataku. “Tunggu, Nat.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Bolehkah aku meminta nomormu?” Aku menatap ponsel itu ragu. Namun, aku bakal memerlukan perannya nanti semisal sir Graham mengizinkan, jadi lebih baik kalau kita menjalin hubungan kerja dari sekarang. “Boleh.” Kuraih ponselnya, kuisi nomorku dan kukembalikan bersamaan dengan datangnya bus. Dia tersenyum lebar, menatapku bergantian dengan layar ponselnya sebelum memasukkan benda pipih itu kembali ke kantong celana. “Sampai nanti, Austryn. Mimpi indah,” salamnya yang kemudian naik ke dalam bus. Laki-laki itu melambai padaku sampai dirinya hilang oleh jarak. Aku menurunkan tangan dan berjalan menyusuri trotoar ke rumah. “Dia manis.” Malam itu, aku tidak menelepon Harold dan langsung tertidur setelah membersihkan diri. Dasar, ujung-ujungnya kami tidak mendapatkan Dark Elf. Tenagaku terbuang percuma. Senin pagi datang. Aku masih yakin kalau Harold mengelabuiku agar aku mau bersenang-senang bersamanya di hari libur. Aku tak punya rencana apa pun terkait Dark Elf, jadi langkah cepat yang kulakukan adalah menelepon sir Graham, menanyai apakah ada klien baru. “Belum ada, Natalie.” Duh, terus bagaimana cara menangkap monster-spirit itu kalau tidak ada klien?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN