[ H A R O L D ]
Dean menghampiriku yang sedang melihat-lihat potret seharian tadi di komputer kamar. Dia tertawa jenaka. “Kalian bersenang-senang tadi siang? Aku pikir kalian bekerja.”
“Aku meyakinkannya soal itu. Dia bakal murka kalau kubilang yang sebenarnya. Natalie tidak mau menghabiskan waktu bersamaku jika bukan perihal pekerjaan,” kataku.
Kurasakan rambutku dielus. “Rambutmu sudah panjang, kau mau memanjangkannya?”
Aku tersenyum tipis. “Tidak cocok buatku. Paling nanti kurapikan sedikit.”
Kutekan kursor mouse, foto di layar bergeser, kini aku dan Natalie yang berdiri di tepi air pancur terlihat. “Menggemaskan,” lontar Dean.
“Umm, Nat menggemaskan.”
“Maksudku kalian berdua.” Mata monolidnya membulat. “Harold, kau ....”
Aku menatapnya, masih dengan senyum. “Apa?”
Dia menyipitkan mata, senyumnya bertambah lebar. “Ah, tidak. Aku tidak mau mengatakan sesuatu yang belum pasti, takut itu tidak terjadi,” balasnya yang kemudian berjalan pergi.
Aku mengangkat bahu singkat. “Kenapa, sih.”
Hmmm, aku ingin mencetaknya dan dipajang di atas laci tidur—ah, tidak. Tidak. Aku tidak mau Moirai melihatnya. Dia akan merusaknya. Dia akan membuat Natalie menjauh, sama seperti yang dia lakukan ke Fania.
Jemariku menyentuh layar, menyentuh surai pirang panjang miliknya. “Aku akan melindungimu. Tidak boleh ada Fania kedua.”
Paginya, aku mendapat panggilan dari Natalie. “Halo?” balasku dengan suara parau.
Tak ada suara di seberang. “Natalie?” panggilku lagi setelah memastikan kalau gadis pirang itu yang menelepon.
“Balasanku karena kemarin kau mengganggu di pagi hari.” Nat memutuskan panggilan.
Kutatap layar dengan bingung, lalu mendengus tawa. “Apa-apaan dia? Pagi-pagi begini ingin melawak?” kataku, bangun dan duduk di kasur, terus tertawa.
Saat aku turun, Dean bertanya. “Ada mimpi yang lucu semalam?”
Aku duduk di meja makan sembari menggeleng pelan. “Natali, dia—khhh, dia pikir dia akan menggangguku tidur jika menelepon pagi-pagi begini. Dia kesal karena aku datang ke rumahnya kemarin.”
Dean menoleh padaku sejenak, ikut tertawa. “You literally head over heels for her.”
Mungkin. Ucapannya tidak salah. Aku mulai memandang Natalie berbeda, tapi aku tak mau menganggap itu karena aku tahu kalau Levine—atau Julian Easton—adalah buyutnya.
Maka dari itu, aku akan memastikan. Apakah aku tertarik pada gadis itu karena Levine atau karena dia adalah Natalie Austryn.
“Cepat pakai bajumu. Aku ngilu melihat luka-luka itu,” kata Dean.
Karena tak ada pekerjaan, aku memilih tuk melakukan apa yang belum terpikirkan sejak lama. Ya, melukis.
Melukis membuat pikiran yang ruwet jadi bebas dan tertuang ke kanvas. Tak perlu perencanaan, aku tinggal menggores warna dan membuat bentuk apa pun yang kuinginkan.
Biarkan imajinasi menjadi liar ... tertuang menjadi kata, menjadi warna.
Aku tersentak saat ponsel berdering. Kulihat nama Natalie ada di sana lagi. Kuusap lengan kiri yang terdapat cat ke sapu tangan dan menarik benda pipih itu dari meja di belakang kanvas. “Halo, Nat?”
“Halo, Mr. Harold.”
Kenapa belakangan ini, mendengar dia memanggilku sopan begitu membuat bulu di tengkuk dan lenganku berdiri? Dude, dia bukan sedang merapalkan mantra, calm down.
“Apa kau ada pekerjaan selain pekerjaan terkait Dark Elf?”
“Tidak, kenapa ...,” Aku terdiam menatap lukisan yang delapan puluh persen selesai di kanvas ukuran lima puluh kali tujuh puluh senti.
Gadis dengan surai pirang bergelombang, wajah tegas, gaun putih yang menampilkan bahu kecilnya—
“Apa? Kok kau berhenti bicara?” katanya lagi.
Aku langsung bangkit dan berjalan cepat ke luar ruangan dengan banyak buku dan barang antik itu. “Tidak, aku senggang hari ini. Ada apa?”
“Aku ingin membicarakan sesuatu terkait Dark Elf. Aku akan ke rumahmu sekarang—“
“NO! No, no, don’t come here!” Tidak selama lukisan itu masih ada di sana dan belum selesai! Natalie bakal marah kalau sampai tau.
“Terus di mana? Atau mau ke Youth Cafe saja?”
Dari sekian banyaknya cafe di London, kenapa dia sampai setergila-gila itu dengan cafe milik Moirai?
“Baiklah, di sana,” balasku pasrah, menyadari empat jam berlalu dan hari sudah siang.
Aku masuk kembali ke ruangan tadi, bertolak pinggang di depan lukisan perempuan yang mirip Natalie. Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Gorgeous."
***
Natalie yang sudah memesan dua Milktea—satu untukku—langsung masuk ke mobil setelah aku menepi di depan cafe. “Kita tidak mengobrol di dalam saja?”
“Di dalam ada orang menyebalkan,” ucapnya terdengar jengkel. Sepertinya soal Fania. “Lagi pula, aku baru dapat kabar dari Billy. Pak Jill kembali jadi agresif, menyakiti diri saat jam pelajaran sekolah.”
“Billy? Kalian bertukar nomor? Kapan”
“Itu tidak penting. Cepatlah!”
Kapan? Dia semudah itu memberikannya?
Tak lama, kami sampai di Runrow High school di Harrow, sepuluh menit dengan mobil, menjumpai Billy yang sudah ada di dalam, di ruang seni yang sedang sepi.
Pria kurus dengan mata belo bermanik biru itu tak senang melihat kami. “Siapa kalian?”
“Sir, ini temanku. Mereka yang membantumu pulang ke rumah kemarin,” kata Billy, menahan gurunya tuk berdiri.
Kudapati perban di lehernya yang tebal di sisi kiri karena menahan semacam kapas di baliknya. “Apa yang terjadi?” tanyaku.
“Pak Jill menusuk lehernya sendiri dengan jangka yang dipakai saat pelajaran,” jelas Billy. Ya ampun, semakin hari semakin membahayakan saja Dark Elf ini.
“Kau sudah melakukan pembersihan?” tanya Natalie.
Pak Jill melotot. “Pembersihan? Apa maksud kalian?”
Billy menarik tangan Natalie dan mereka berbicara secara rahasia di pojok ruangan, begitu dekat. Hei, aku juga bagian dari tim kalau kau lupa.
Tak lama mereka kembali, lalu Natalie berkata. “Karena tidak ada hal yang gawat, kami akan pergi.”
“Maaf merepotkan kalian, semisal lukanya menjadi aneh, aku akan memanggil lagi,” kata Billy.
Nat menarik tanganku dan kami keluar dari ruangan. “Kenapa kita pergi?” gumamku.
“Pak Jill sangat menentang keberadaan hantu, cenayang dan semacamnya. Kalau kita mengaku, kita tidak punya kesempatan tuk mengatasi Dark Elf dari dirinya,” balas gadis pirang itu pelan-pelan.
“Jadi, dia menganggap kita dokter?”
“Kau. Billy akan bilang kalau kau dokter, jadi semisal sesuatu yang gawat terjadi, kita tetap bisa berada di dekatnya tanpa terjadi percekcokan tidak penting.”
Dia melepas tanganku saat kita sampai di depan mobil. “Billy belum mengusirnya? Dia bilang cincinnya itu ampuh,” kataku.
“Dia tidak memakainya sekarang.” Nat berpikir lamat-lamat. “Sekarang aku lebih bingung tuk mengajak Billy menjadi rekan atau tidak.”
“Bukankah bagus kalau dia bergabung? Masalah Dark Elf ini akan cepat tuntas dengan cincinnya itu,” ujarku, bersandar di mobil sambil bersedekap.
“Aku tidak yakin tentangnya tapi aku tidak tau itu apa.”
Aku menarik senyum. “Kita se-tim, katakan apa yang kau pikirkan, siapa tau aku bisa memberi saran.”
Manik kuning cerahnya melirik curiga. “Kau kenal aku. Apa untungnya aku membohongimu saat kita dipaksa bekerja sama begini?” timpalku.
“Kau benar. Aku juga ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah bodoh ini.” Natalie melangkah mendekat, ikut bersedekap dan mendongak. “Aku punya ide. Bagaimana kalau nanti malam kita mengawasi rumah Pak Jill bersama Billy tanpa bilang ke sir Graham dulu?”
“Ide bagus?” kataku yang lebih terdengar seperti bertanya.
“Baiklah. Mari saling mengingatkan untuk tidak membocorkan sesuatu terkait perkumpulan ke laki-laki wortel itu,” katanya yang kemudian berputar dan masuk ke mobil.
Aku ikut masuk, memasang sabuk. “Jadi, kau hendak pulang?”
“Untuk apa? Aku akan menunggu gelap di rumahmu—“
“Tidak!” potongku spontan .
Dia dan aku sama-sama terlihat kaget. Natalie mengerjap curiga. “Ada apa? Apa Dean melakukan sesuatu dengan rumahmu?”
“Tidak, erm,” Aku menjilat bibir karena kehilangan kata-kata, lalu teringat lukisan Natalie dengan gaun putih yang belum kuselesaikan. “Kusarankan kau ke rumah saja dulu. You know, mempersiapkan kelopak bunga marigold dan semacamnya. Siapa tau kita memerlukan itu. Saat sudah sore, aku akan menjemputmu.”
Gadis pirang menyipit curiga. "Aku tidak masalah kalau di rumahmu ada beberapa wanita--"
"Bukan," gelengku tegas, menyalakan mesin mobil dan pergi.