masa lalumu,

1260 Kata
[ N A T A L I E ] Benarkah monster-spirit macam Dark Elf bisa diatasi hanya dengan cincin batu garnet? Sejak sampai kembali di rumah satu jam yang lalu dan berpindah-pindah duduk, aku terus memikirkan itu. Dia monster, p*********n bentuk spirit seperti marigold kering saja tak mempan tuk menahan aksinya di kamar Mr. Owen. Lalu kenapa cincin garnet yang punya fungsi sama, bisa mempan? Kuraih ponsel, menekan nomor Ibu. Tak lama, dia mengangkat. “Senggang sekali sampai kau bisa meneleponku, Carrot?” “Bisa tidak menanyai kabar putrimu dulu sebelum mengejek?” lontarku. “Aku tau kau baik, makanya aku tidak menanyakannya. Ada apa?” Aku mengambil napas dalam-dalam. “Soal cincin batu garnet. Ibu tau sesuatu?” tanyaku. “Cincin mahal yang sangat kuat untuk proteksi selagi berkomunikasi dan berhadapan dengan spirit tingkat tinggi. Kau mau membelinya?” “Bukan. Apa cincin itu mempan pada monster-spirit?” “Monster-spirit?” ulangnya, lalu ada jeda. “Aku kurang tau. Kenapa tidak tanya ke Harold saja? Itu kan spesialisnya.” “Spesialis, dengkulku. Dia sendiri saja tidak tau,” rutukku. Kudengar helaan napas. “Kalau begitu, kalian berdua yang cari tau. Kalian kan tim.” “Ibu tau?” “Tentu aku tau. Sir Graham mengumumkan hasil rapat kalian dua hari lalu ke semua cenayang di perkumpulan.” Ah, iya. “Kakakmu menggila mendengarnya,” tambah Ibu. “Menggila?” ulangku dengan alis bertaut. “Pokoknya nanti kalau mereka menelepon dan kau sedang bersama Harold, jangan di angkat. Mereka bakal membuatku malu.” “Baiklah ...." Ibu berkata lagi sebelum aku berniat mengakhiri. "Dia pria baik-baik, Natalie. Kau juga harus baik padanya." Aku mendecak. "Aku tutup, ya, Bu.” “Berpacaranlah dengannya.” “HA—“ Ibu mematikan panggilan, aku melotot ke layar. “Ucapannya tidak masuk akal.” Jam empat lewat, Harold datang. Aku mempersilakannya masuk lebih dulu karena aku sedang mengeringkan rambut. Pria itu terus menatap ke jendela di depan sofa yang juga mengarah ke luar. Aku bangkit dari bangku meja rias yang ada di antara kamar dan ruang tengah, ikut melihat ke arah yang dia lihat. Hanya pemandangan biasa yang sering kulihat. “Kau ini lihat apa?” kataku sembari duduk kembali ke meja rias. Harold mendenguskan senyum. “Hanya melamun.” Aku mendecak, mematikan pengering rambut dan mulai menyisir surai panjangku yang kembali bergelombang secara alami. “Kuharap kau jangan melamun saat kita mengawasi nanti.” “N-nat?” “Hmm?” “Boleh kusisir rambutmu?” Manik kami bertemu, lalu dia langsung berpaling. “Aku rasa aku bisa mengepangnya. Entahlah, lupakan saja. Aku hanya bergurau.” Dasar tidak jelas. “Kau sentuh rambutku, kubuat ujung jarimu tak bisa merasakan apa-apa lagi,” ketusku, menarik surai ke depan bahu, menyisirnya dari tengah. Harold tertawa. “Ow, aku jadi takut.” Aku meliriknya dari ujung mata. Tangan itu kemarin memelukku, yang satunya sempat merapikan surai sebelum memakaikanku topi. Setelah interaksi itu, ada gejolak aneh yang memberontak, membuyarkan akal. Itu buruk. Mulai sekarang tidak akan kubiarkan adanya kesempatan sebuah rasa tuk tumbuh di antara kami, dan jika rasa suka tetap tumbuh, aku akan membunuh rasa itu sendiri. Karena aku sangat tau kalau aku membencinya. Aku akan membiarkan hubungan kami seperti itu seterusnya, tidak akan berubah. Rambut selesai dikepang satu. Aku memakai pakaian serba gelap seperti biasa, kali ini dilengkapi dengan sarung tangan hitam, karena aku membawa minyak asafoetida—baunya yang seperti bawang putih busuk sangat menyengat dan susah hilang jika sudah kena kulit—yang akan sangat berguna nantinya. Aku sudah memberitahu Billy soal ini. Laki-laki wortel itu masih bersama Pak Jill dan sekarang sedang menuju rumah setelah mereka makan bersama. Kami tidak akan terang-terangan muncul. Untungnya, Billy mau bekerja sama dan dia yang akan mengatasi Dark Elf dari dalam rumah dan jika monster-spirit itu keluar, dia akan berhadapan denganku dan Harold. “Kau sudah makan?” katanya. “Sudah. Kau sendiri?” “Ya. Dean memaksaku tuk makan sebelum berangkat.” “Enaknya punya peliharaan,” kataku. “Bagiku dia teman,” ucapnya. “Dean pernah bilang kalau tuan sebelumnya adalah Levine. Berarti kalian sudah kenal sejak kecil?” tanyaku yang tadinya berniat diam saja. Harold malah memberikan pertanyaan. “Dia sudah bilang soal apa saja?” “Tidak banyak. Dia juga bilang kalau Levine adalah tuannya selama dua ratus tahun terakhir. Ibuku juga bilang demikian. Namun, aku tidak percaya sebelum melihatnya langsung. Jadi, percuma juga kau bilang setuju,” timpalku tidak peduli. “Ya, benar. Itu memang benar. Dia bisa begitu karena perbuatan penyihir yang mengusik kehidupan seseorang,” katanya. ‘Harusnya dia tiada tapi karena perbuatan penyihir gila, dia tidak bisa mati. Sekarang dia wafat tanpa peninggalan.’ Ibu juga bilang begitu. “Lalu, dia berhasil menyelesaikan masalahnya dengan si penyihir dan wafat?” lontarku. “Benar.” Genggaman tangannya di kemudi mengencang. “Dia dan segala tentangnya, sampai orang terdekatnya.” Suaranya jelas menunjukkan tekanan. Kutopang dagu, menatap tangannya yang mencengkeram kemudi. Kupikir dia sudah sembuh dari per-Levine-an itu, ternyata belum. Apa sih yang tak bisa dia relakan? Aku tidak bermaksud mencela, tapi Levine adalah ayah angkatnya dan dia sudah sangat dewasa, usia yang wajar tuk kehilangan orang tua. Ibuku saja saat nenek wafat tidak sampai begini. Baiklah, Ibuku memang wanita kuat—lebih tepatnya keras—, tapi Ayahku juga demikian. Ini sudah dua bulan berlalu, mau sampai kapan dia baru merelakan Levine? Ayah angkatnya tidak bakal bisa tenang di sana. "Kalau santa datang dan bilang akan mengabulkan permintaanmu, apa kau ingin dia kembali?" "Kau ini benar-benar mengatakan apa saja, ya?" tuturnya, entah bermaksud memuji atau bermaksud bilang kalau aku melewati batas privasi. Aku mendelik. "Apa aku menyakitimu barusan? oh, maaf, maaf. Aku memang tak punya perasaan." Kami sampai di seberang jalan depan rumah Pak Jill yang berhadapan dengan pagar besi tinggi dan tanah lapang. Aku mengirim pesan ke Billy kalau kita sudah sampai. “Pak Jill masih tenang dan mereka sedang berbincang di meja makan,” kataku memberitahu Harold. Dia membuka jaket jeans. Dibaliknya, kaos hitam yang terlihat ketat menjiplak otot biseps, d**a, dan perut. Ada tali dari karet yang terikat dari depan ke punggung lalu tersangkut dua belati di tali karet di pinggang, lalu pisau yang lebih besar di punggung. Aku melotot melihatnya yang berubah menjadi semacam petarung. “Memangnya kau butuh semua itu?” Matanya mengerjap bingung. “Ini perlengkapan paling sedikit yang kubawa kalau berhadapan dengan monster.” Rahangku jatuh. Paling sedikit? Dude, ini bukan masa peperangan. “Kita hanya perlu darahmu.” “Dan semisal dia melawan?” “Kau tidak bisa menyentuhnya jika dia di mode spirit,” bantahku. Alisnya terangkat. “Kau benar.” Dia mencopot belati di pinggang, menaruhnya asal di dashboard mobil. “Setidaknya biarkan belati yang panjang ini kubawa.” “Baiklah ....” Kurogoh kelopak bunga marigold kering dari tas selempang, membakar ujungnya, membiarkan asap mengelilingi Harold. “Jangan lawan dia dengan fisik. Kita masih belum bisa membedakan mode spirit dan mode monsternya seperti apa,” tegurku. “Jika kulitku mengenainya, apa yang terjadi?” tanya pria itu. “Ototmu bakal mati rasa dan kulitmu ungu seperti memar. Pokoknya, saat kau merasakan dingin yang menusuk, segera menjauh dan hampiri aku.” "Dan kau akan menyembuhkanku? baiknya." Ibuku pernah bilang, dulu banyak yang mati karena terlalu banyak bagian yang disentuh spirit. Sejak itu, cenayang paham kalau kita tidak boleh melawan mereka dengan fisik. Satu-satunya cenayang yang bisa melawan spirit dengan fisik hanya sir Levine. Andai dia masih hidup, aku ingin sekali tau caranya. "Sudah tugasku. Meski begitu, kau jangan ceroboh." "Haa, sekarang ada orang lain yang terus mengomeliku selain Dean. Terima kasih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN