Jam delapan belas lewat lima puluh empat, Billy mengirim chat bersamaan dengan suara geraman pria dari dalam rumah Pak Jill. ‘Pak Jill kembali agresif’, katanya.
Aku menepuk-nepuk Harold yang tertidur di bangku pengemudi. “Mr. Harold!”
Dia mengangkat kepala yang bersandar di lipatan tangan yang bertumpu pada kemudi. “Y-ya?” balasnya terdengar serak dan bingung.
“Ayo keluar dari mobil.”
Lampu jalan di dekat mobil sudah menyala, sayangnya lampu di rumah Pak Jill malah gelap seluruhnya. Aku menelepon Billy. Dia tak mengangkatnya dan geraman mendadak menjadi teriakan.
Karena perasaan tidak enak menghinggap, aku refleks berlari menyeberang jalan, masuk ke jalan setapak rumah guru Billy, membuka pintu, langsung mencari saklar lampu dan menyalakannya.
“N-nat ...,” Billy kehilangan napas sambil menahan dua tangan Pak Jill yang sudah mencengkeram lehernya.
Harold yang juga masuk langsung menarik Pak Jill, sementara aku merogoh tas selempang, membuka tutup botol kecil berisi minyak asafoetida. “Harold, minggir!” seruku.
Pria itu menyingkirkan, kutuangkan dengan cepat isi minyaknya ke punggung pakaian Pak Jill. Segera, api putih membakar dan pria bertubuh kecil itu berteriak, melepaskan tangannya, jatuh dengan punggung ke lantai lalu berguling-guling kepanasan.
“M-mempan!” Berarti Dark Elf sedang mode spirit!
Selaput hitam bangkit dari kulit wajah dan lengan Pak Jill yang menghadap ke udara. Selaput itu memekat, bangkit dan terbang ke luar begitu cepat.
Kukeluarkan benang spirit tuk meraihnya. Ujung benang menembus saat wujudnya semakin padat. Dia sudah ke mode monster.
Harold tanpa dibilang langsung keluar dan mengejar makhluk itu. Aku membuang botol minyak beserta sarung tangannya lalu menghampiri laki-laki yang terbatuk di dekat kaki sofa. “Apa yang terjadi tadi?”
Dia mengambil napas. Aku mengangguk mengerti. “Baiklah, aku akan tanya nanti. Kau bisa jaga diri, kan?”
Api putih langsung padam saat Dark Elf meninggalkan badan Pak Jill. Tenang saja, api itu hanya bentuk respons kalau ada energi jahat yang berkumpul, sama sekali tak melukai manusia. “Bisa dengan mudah berubah menjadi spirit dan monster. Dang it, ini bakal jauh lebih menyusahkan dari yang dikira,” kataku sembari mencari arah Harold pergi.
Aku panggil pria itu lewat ponsel. Kuharap ponselnya berbunyi. Aku berjalan lurus, mata menyisir sekitar. Mencari Harold dan Dark Elf yang sama-sama gelap di malam begini tentu tidak mudah.
Sebentar ....
Langkah berhenti, telingaku menangkap suara dari kesenyapan malam. Aku memutar, melangkah ke sisi lain jalan dengan cepat sembari terus mencari asal bunyi.
“Naaaat!”
Mataku membulat, langsung berlari ke jalan setapak setelah dua rumah samping Pak Jill. “Mr. Harold! Ingat, jangan sentuh—“
“Dia bau sekali!”
“Y-ya, itu karena minyak tadi!” balasku yang akhirnya mendapati laki-laki itu sedang menduduki dan memiting leher Dark Elf dari belakang. Lengan bawahnya sudah berdarah, lalu tangan satunya lagi memegang belati panjang, di arahkan ke depan mata monster yang memberontak itu.
Dalam mode monster, Dark Elf tampak menjijikkan. Wajahnya seperti belalang sembah dengan mata kuning menyala, tubuh dan kaki seperti manusia—berwarna abu-abu gelap nyaris menyamai hitam—, kurus, dan kain hitam panjang yang dililit asal menjadi pakaian serta penutup kepala.
“Apa dia bisa bicara?” tanyaku, mengernyit geli.
“Biasanya bisa. Hei, katakan. Di mana tempat kalian berkumpul,” tanya Harold dengan suara yang kesusahan karena menahan si Dark Elf.
Manik kuning monster itu menatap ke atas, dia terlihat terengah-engah, entah karena aroma tengik minyak asafoetida, cekikan atau darah Harold.
“Bagaimana dengan keadaan Pak Jill dan Billy?”
“Pak Jill tidak sadarkan diri, sementara Billy—“ Aku berhenti berkata saat melihat tangan hitam monster itu terentang ke depan.
“Tuan ....” Suaranya terdiri dari suara cempreng dan suara berat yang bersuara bersamaan.
“Tuan?” ulangku menatap ke Harold.
Mendadak monster Dark Elf meledak, menjadi potongan tubuh yang berserakan dengan tinta hitam muncrat ke sekitar, mengenai kami berdua.
“Iiiiiwwww,” seruku merinding geli di sekujur tubuh.
Tinta atau darah hitam mengenai setengah wajah bagian bawah Harold, dia bangkit sembari mengerut hidung. “Itu bukan pengaruh darahku,” katanya.
“Kau yakin? Bisa saja dia menghirup darahmu terlalu lama dan meledak,” kataku sembari membuka rajut hitam yang dijadikan luaran, menutupi kaos putih dan menentengnya dengan cubitan. Aduh, rokku jeans hitamku juga kena bagian depannya.
“Aku sangat yakin. Mereka tidak akan meledak begitu. Ini pasti karena ikatan dia dengan tuannya.”
“Jadi, mereka punya tuan?”
“Ingat apa yang dulu pernah kukatakan di rumah, ruang penuh buku? Dark Elf memiliki satu ketua tetap yang dipilih lewat sayembara. Ketua inilah tuan mereka,” tuturnya sembari melangkah pergi.
Aku mengikuti. “Ikatan yang kau maksud tadi apa?”
“Ikatan setia. Ketua akan menyebutkan sesuatu yang menjadi perjanjian kekal antara dirinya dan Dark Elf lain sampai dia mati. Bisa jadi sikap, tindakan, ucapan. Pelanggaran langsung menyeret yang terikat perjanjian ke kematian,” tambah pria itu.
Kalau begitu ....
“Mereka tidak boleh memberitahukan soal tuan mereka ke pihak lain.”
Harold menimpali, “kalau kita bisa menangkap ketua Dark Elf, masalah ini akan tuntas.”
Kami berdua kembali ke rumah Pak Jill. Pria itu kini terbaring di sofa panjang dan Billy duduk di sofa sebelahnya. Dia langsung menutup hidung rapat-rapat begitu kami masuk.
“Dark Elf tewas karena tuannya. Namun, sekarang kita punya informasi lebih lengkap,” kata Harold ke Billy.
“Itu bagus,” balasnya dengan suara aneh karena memencet hidung.
“Kami akan pulang dulu. Baunya bakal membuat Pak Jill pingsan lagi takutnya. Kau bagaimana?” tanyaku.
“Aku akan menunggu Pak Jill sadar dan pulang.” Billy melepas jemarinya, tapi menyesal sudah mengambil napas dengan udara beraroma tengik khas bawang putih busuk.
“Baiklah. Terima kasih sudah membantu, Billy,” kata Harold melambai, lalu menarik lenganku dan kami berdua masuk ke mobil.
***
Tidak mau rumahku diselimuti aroma tengik, aku menerima tawaran Dean tuk mandi di rumah Harold.
Untungnya, hanya sedikit yang mengenai kulit. Namun, baju yang kupakai sudah dicuci pun baunya tidak hilang meski darahnya sudah pergi entah ke mana. Aku mesti membuangnya.
Tak heran kenapa tak banyak cenayang yang menyarankan penggunaan minyak asafoetida ini meski termasuk ramuan ampuh.
Ada dua bathrobe, satu yang ukurannya cukup besar pasti punya Harold. Satu lagi dua ukuran lebih kecil dari milik pria itu, entah punya siapa, tapi si pemilik rumah mempersilakanku tuk memakainya.
Bisa jadi milik wanita yang pernah menginap di sini.
Yang jadi dilemaku selanjutnya adalah pakaian apa yang kukenakan tuk pulang?
Aku keluar dari kamar mandi yang langsung mengarah ke dekat dapur, ruang tengah dan taman indoor mengarah ke pintu belakang. Harold ada di meja makan, menunggu giliran mandi.
“Terima kasih,” kataku cukup pelan. Ya, maaf, gengsiku tinggi soal bercakap manis.
Dia menatap lantai, lalu bergerak gelisah. “Ini ada hoodie lama yang sudah tak kupakai karena kekecilan. Mungkin bakal pas. Tenang saja, tidak bau apak atau bau keringat, kok,” katanya menunjuk lipatan pakaian berwarna beige di meja makan.
“Baiklah, semisal kau tidak keberatan.”
Aku kembali masuk ke kamar mandi dan keluar setelah memakai hoodie dengan tulisan Manchaster di depannya.
Dia bilang kekecilan, tapi ‘kecil’ untuknya adalah ‘sangat longgar’ buatku. Panjangnya saja sampai mendekati lutut.
Aku menarik lengan baju yang menenggelamkan tangan dengan sebal. “Kalian boleh tertawa,” ketusku melihat Dean dan Harold yang mengalihkan wajah menatap ke arah lain dengan bibir dirapatkan.
"Kau terlihat bagus dengan itu, kok," lontar Dean di tengah tahan tawanya. Harold mengangguk setuju sembari menutup mata.
"Kalau itu sih, aku tidak meragukannya. Aku kan cantik."