bab 1 laksmi dan bayangang senja

782 Kata
Langit sore di Bayung Batis membara keemasan, seolah menumpahkan rahasia hari yang belum sempat terucap. Di ujung sawah yang menghampar tenang, Laksmi berdiri dengan kain merah di tangannya, diam menatap cerminan langit di atas air. Angin dari utara membawa aroma canang dan asap dupa, samar seperti bisikan roh leluhur yang enggan pergi. Laksmi sudah lama terbiasa dengan senja yang bicara. Sejak ibunya meninggal tiga bulan lalu, tiap senja seakan menjelma menjadi waktu yang paling sunyi—waktu ketika segalanya terasa dekat, namun tak bisa diraih. Suara gemericik air di subak, lengking burung jalak, dan semilir gamelan yang entah dari mana berasal, membungkus tubuhnya seperti kabut kenangan. Ia merapatkan selendangnya ke d**a. "Ibu, aku masih di sini," bisiknya. Tapi hanya angin yang menjawab. Pura Desa yang terletak di balik pepohonan jati terlihat siluetnya, menara meru menjulang hitam di latar jingga. Di sanalah ia menari legong terakhir kali, malam sebelum ibunya meninggal. Sejak itu, panggung sepi. Tak ada lagi iringan gamelan, tak ada lagi penonton. Hanya Laksmi dan ingatan yang menari di dalam pikirannya. Di desa, orang-orang mulai berbisik tentang warisan pura dan tanah sawah yang akan dijual. Pamannya, Wayan Tarka, sudah mengajak para investor dari kota. Mereka ingin membangun resort yang “mengangkat budaya lokal”—tapi Laksmi tahu, itu hanya nama lain dari penggusuran diam-diam. “Laksmi,” suara lembut memanggil dari arah pematang. Ia menoleh. Ayu, sepupunya, berjalan dengan bungkusan di tangan. “Ini sisa bubuh dari dapur Pura. Kak Ida minta kau bawa ke rumah.” Laksmi menerima bungkusan itu dan tersenyum samar. “Terima kasih.” Ayu memperhatikannya sejenak, lalu berkata, “Mimpi lagi, ya? Tentang Ibu?” Laksmi terdiam. Matanya kembali menatap langit. “Tiap malam. Tapi semalam… dia tidak diam. Dia bicara padaku.” Ayu meneguk ludah. “Bicara? Apa katanya?” “Dia bilang… jangan biarkan mereka ambil tanah ini. Jangan biarkan tubuhnya dicabut dari akarnya.” Angin kembali bertiup. Dedaunan di pinggir pematang berdesir seperti sahutan pelan. Laksmi memejamkan mata. Ia tahu, mimpi-mimpi itu bukan hanya bunga tidur. Ibunya adalah penari legong suci, penjaga garis keturunan pemujaan di desa. Kematian mendadak itu… terlalu sunyi, terlalu aneh. Bahkan, tidak ada satupun ayam berkokok malam itu. Ayu menarik napas dalam-dalam, lalu duduk di atas batu yang ditumbuhi lumut. “Kalau begitu, kau harus bicara dengan Pak Gede. Dia satu-satunya yang bisa mencegah penjualan tanah pura.” Laksmi menggeleng pelan. “Pak Gede sudah terlalu tua. Suaranya tak lagi didengar. Lagipula, aku rasa ini bukan soal dokumen atau rapat adat… ini soal hal yang lebih dalam dari itu.” “Seperti apa?” “Seperti… roh. Sesuatu yang tidak bisa dilihat. Tapi terasa. Aku dengar langkah-langkah malam itu. Suara gemerincing gelang kaki. Tapi saat kulihat ke luar jendela, tak ada siapa pun di halaman. Hanya bayangan menari di ujung padi, seolah ibuku belum benar-benar pergi.” Ayu menggigil kecil. “Jangan bicara seperti itu.” Laksmi menatapnya dalam. “Kau tahu, Ayu. Ada alasan kenapa ibu tidak dikuburkan di pekarangan keluarga. Ada alasan kenapa upacara Ngaben-nya ditunda tiga kali. Mereka semua bilang karena dana. Tapi aku rasa, bukan itu.” Diam panjang menggantung di antara mereka. Suara tonggeret dan gesekan serangga malam mulai naik, menggantikan burung-burung sore. “Kau mau tinggal di sini malam ini?” tanya Ayu akhirnya. Laksmi tersenyum kecil. “Tidak. Aku harus kembali ke Bale Daja. Ada dupa yang harus kutaruh di altar. Dan… aku ingin bicara lagi dengan Ibu.” --- Langkah Laksmi menyusuri pematang perlahan, melewati rimbun padi yang hampir menguning. Ujung kainnya menyentuh genangan air tipis di pematang, menciptakan riak halus. Di kejauhan, suara kendang samar terdengar—bukan dari radio, bukan dari rumah siapa pun. Seperti berasal dari tanah itu sendiri. Malam turun cepat. Di rumah warisan yang sepi, Laksmi menyalakan pelita dan duduk di depan meja altar kecil. Foto ibunya terpajang di sana, mengenakan kebaya merah tua, tersenyum kaku dalam bingkai kayu ukir. Laksmi menunduk. “Ibu… jika ini benar, jika ada sesuatu yang belum selesai, tunjukkan padaku. Aku siap mendengarnya.” Lilin berkedip, dan api dupa yang semula lurus, mendadak berbelok ke kiri. Sebuah hawa dingin merayap masuk dari sela jendela. Laksmi menggigil. Angin membawa suara. Atau bisikan? Sesuatu terjatuh di belakangnya—sebuah bingkai foto tua yang tersimpan di lemari kayu. Ia mendekat, perlahan membuka lemari. Debu mengepul, dan di dalamnya ada foto yang belum pernah ia lihat. Seorang wanita muda, mirip ibunya, berdiri di tepi hutan dengan pria berpakaian adat, saling berpandangan. Tapi yang membuat Laksmi tertegun adalah latar belakang foto itu: pura tua yang telah runtuh, dengan satu batu nisan tertancap di depan gerbangnya. Dan di bagian belakang foto, tertulis dengan tinta hitam: “Jika ia kembali, darah akan menari di tanah ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN