Bab 2 – Orang Asing di Tengah Ladang

938 Kata
Matahari belum sepenuhnya naik ketika suara sepeda motor tua menggema di sepanjang jalan tanah desa Bayung Batis. Debu mengepul, mengganggu ketenangan pagi yang biasa hanya diisi suara ayam dan gong kecil dari bale banjar. Warga yang sedang menyapu halaman pura menoleh, menyipitkan mata ke arah sumber suara. Di atas motor bebek pinjaman itu duduk seorang pria muda dengan kemeja lusuh, ransel besar di punggungnya, dan kamera tergantung di leher. Ia berhenti di bawah pohon kamboja, melepas helm, dan menyeka keringat di dahinya. "Ini Bayung Batis, ya?" tanyanya pada ibu-ibu yang sedang menata canang di pelataran. Ibu itu hanya mengangguk pelan, lalu cepat-cepat kembali ke pekerjaannya. Arah pandang pria itu langsung tertuju ke arah sawah yang luas di belakang pura, di mana kabut masih menggantung di antara batang-batang padi. “Tempat yang sempurna,” gumamnya sambil mengeluarkan catatan kecil dari sakunya. Di halaman paling atas tertulis: Ngaben Tradisional – Jiwa, Ritual, dan Warisan Bali. Nama pria itu adalah Arsa, jurnalis dokumenter lepas yang sedang mengejar cerita tentang upacara kematian Bali yang belum tersentuh modernisasi. Tapi apa yang ia temukan di Bayung Batis lebih dari yang ia bayangkan—desa ini seolah menolak waktu. Arsa menyusuri jalan setapak menuju balai desa, namun pandangannya terus tertarik ke arah ladang padi. Ada ketenangan di sana—bukan seperti tempat wisata yang sudah ramai dan komersial. Di sini, waktu berjalan perlahan, seperti doa yang tak pernah selesai diucapkan. Ia mengambil beberapa foto lanskap. Cahaya pagi menembus dedaunan kelapa, menciptakan garis-garis keemasan yang jatuh di permukaan sawah. Di kejauhan, terlihat seorang gadis sedang memetik bunga di tepi pematang. Gerakannya lembut, hampir seperti menari. Tanpa sadar, Arsa mengangkat kameranya. Klik. Gadis itu menoleh. Mata mereka bertemu. Arsa menurunkan kamera seketika. Ia tak bermaksud mengganggu. Gadis itu—Laksmi—tak berkata apa-apa. Ia hanya memandangi Arsa, lalu kembali ke bunganya, seolah pertemuan tadi adalah bagian dari pagi yang memang sudah ditakdirkan. Arsa mencoba melanjutkan jalan, namun pikirannya tertahan. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu—bukan marah, bukan malu, tapi seperti... kesedihan yang sudah lama tinggal dalam diam. --- Di balai desa, Arsa bertemu dengan Pak Jero Made, kepala dusun yang sudah diperingatkan oleh paman Laksmi bahwa akan ada “orang kota datang bawa kamera dan banyak tanya.” “Ngaben itu urusan adat. Tidak bisa seenaknya difoto,” kata Pak Jero sambil menyeduh kopi Bali dalam cangkir tanah liat. “Saya tidak akan ganggu upacara,” jawab Arsa sopan. “Saya hanya ingin merekam suasana, menangkap makna di balik ritual. Banyak anak muda di kota sudah lupa akar mereka. Saya ingin mereka melihat... bahwa Bali lebih dari sekadar pantai dan sunset.” Pak Jero menatapnya lama. “Bali tidak butuh dijelaskan. Ia hanya perlu dihormati.” Arsa mengangguk, paham. “Saya akan pastikan itu.” “Kalau begitu, kamu tinggal saja di rumah Bu Nyoman, janda tua dekat Bale Daja. Tapi jangan macam-macam. Beberapa malam terakhir, orang sini tidak tidur nyenyak.” “Kenapa?” Pak Jero menghela napas. “Ada suara gamelan di tengah malam. Tapi tidak ada yang menabuh. Kadang ada yang lihat bayangan menari di tengah sawah, lalu hilang begitu saja. Semua orang percaya, ada arwah yang belum selesai urusannya.” Arsa mencatat cepat, tetapi suara Pak Jero menekankan: “Ini bukan cerita. Ini peringatan.” --- Malam pertama Arsa di Bayung Batis disambut dengan keheningan yang tak biasa. Di rumah panggung kayu sederhana milik Bu Nyoman, ia hanya ditemani suara jangkrik dan gelegak air dari kendi tanah. Ia membuka laptop, melihat ulang foto yang diambil tadi pagi. Foto gadis di pematang muncul di layar. Dan sesuatu membuatnya terdiam: di belakang gadis itu, dalam pantulan air sawah, terlihat siluet seorang wanita lain... berdiri membelakanginya, padahal saat itu hanya gadis itu yang ada di sana. Arsa memperbesar gambar. Siluet itu mengenakan kebaya merah tua. Rambutnya disanggul. Dan anehnya, tubuhnya tidak memantulkan bayangan sama sekali. - Malam itu, langit Bayung Batis gelap pekat, tanpa bulan, hanya bintang-bintang kecil bertaburan seperti mata-mata leluhur yang mengintip diam dari kejauhan. Arsa tak bisa tidur. Matanya terus kembali ke foto di layar laptop. Siluet misterius itu menghantui pikirannya. Tiba-tiba, dari arah luar jendela, terdengar suara yang tidak asing—gamelan. Pelan, berirama, dan penuh kesedihan. Ia keluar rumah, berjalan perlahan mengikuti suara itu. Jalanan desa sepi. Hanya ada cahaya samar dari lampu minyak di beberapa rumah tua. Suara gamelan makin jelas. Irama legong. Tapi siapa yang menabuhnya malam-malam begini? Langkahnya membawanya ke halaman Pura Bale Agung. Gerbangnya setengah terbuka. Lilin-lilin kecil menyala di anak tangga, seolah sengaja diletakkan untuk menuntunnya masuk. Di dalam pura yang gelap, samar-samar terlihat sosok perempuan berdiri di tengah pelataran. Berkain putih, rambut panjang terurai, dan bergerak perlahan seperti menari. Arsa terpaku. Angin malam menusuk kulitnya, tapi ia tak bisa berpaling. Perempuan itu berputar pelan, dan saat wajahnya menghadap ke Arsa, cahaya lilin menyingkap rupa yang familiar—Laksmi. Namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya tertutup, bibirnya berbisik, tubuhnya tidak sepenuhnya menyentuh tanah—seperti melayang. Arsa maju satu langkah. “Laksmi…?” Suara gamelan mendadak berhenti. Laksmi membuka mata—dan langsung terjatuh ke tanah seperti orang bangun dari mimpi. Ia menatap Arsa dengan wajah bingung, lalu panik. “Kenapa kamu di sini?” “Aku dengar suara gamelan. Kamu... menari?” Laksmi menunduk. “Aku tidak ingat apa-apa.” “Ada seseorang bersamamu. Aku lihat—di foto ini.” Arsa mengangkat kameranya. Laksmi menatapnya lekat-lekat, lalu berkata dengan suara pelan, hampir seperti gumaman, “Kalau kamu sudah melihatnya... kamu tidak bisa pergi begitu saja.” Angin malam kembali bertiup. Di kejauhan, suara anjing menggonggong. Di atas pohon kamboja, kelopak bunga jatuh satu per satu seperti tanda yang belum bisa dibaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN