Karel yang baru saja datang dengan santainya, tiba - tiba membuat suasana menjadi tegang. Murid - murid yang ada dikantin juga ikut memperhatikan meja yang mereka tempati. Tapi murid perempuan yang lainnya, bukan memperhatikan karena Kelvin, Karel, Sherill, Gadis, Gina, Dinda dan Carol satu meja, mereka memperhatikan Karel dan Kelvin yang begitu tampan dan menarik seperti pangeran dalam dongeng.
"Lah, gue kan ngomong sesuai faktanya aja. Apa yang gue liat sekarang, kalau Carol makan bersama sama kalian. Itu tandanya kalian mau menerima Carol di Geng kalian, perempuan yang selalu mengganggu Kirana, perempuan yang selalu iri dengan kecantikan Kirana. Kalau jelek, yahh jelek aja.. nggak usah banyak tingkah. Emang kalau Lo ngedeketin Gengnya Kirana Lo bisa jadi seperti Kirana? HAAHHH" Bentak Karel melihat Carol dan sahabat - sahabat Kirana.
"Rel, gue manggil Lo kesini karena gue cuma mau minta maaf sama Lo atas semua yang udah gue perbuat sama Kirana. Gue tau Rel, kalau gue nggak secantik Kirana, gue tau gue nggak bisa dibandingin sama Kirana, tapi apa pantas Lo sampai ngomong seperti itu di depan banyak orang?" Tanya Carol sesegukan.
"Maaf kalau gue seakan - akan mau gantiin Kirana, tapi gue nggak ada maksud sama skali untuk itu. Maafin gue semuanyaa." Carol berdiri dari meja tersebut, berlari sambil menyeka air matanya.
"CARROOOLLLLL..." Panggil Kelvin yang sedikit khawatir.
"Duhhh, ni cowok kok mulutnya kayak perempuan sih. Ember banget si b******k ini, DASAR BANCI LO !!!! Sumpah gue jadi nggak nafsu makan gara - gara Banciiii." Kelvin juga berdiri dan meninggalkan meja itu.
"Haaahhh, sumpah yahh.. nggak bisa yah satu hari saja nggak ada keributan yang membawa nama - nama Kirana." Seru Dinda.
"Mending Lo pergi juga deh dari sini, sebelum mangkok - mangkok ini melayang ke muka Lo brengsek." Kata Sherill menunjuk Karel seakan - akan mau memakan mangsanya.
"Lo harusnya sadar kalau semua ini nggak akan terjadi kalau bukan karena Lo bajingaannn !!!!" Kata Gina memegang gelas kaca, yang hendak dilemparkannya ke Karel tapi ditahan Gadis.
"Mending Lo cepetan berdiri deh Rel." Gadis menghela nafasnya.
Karel hanya bisa pasrah mendengar semua ucapan itu dari sahabat - sahabat Kirana, karena dia sadar memang semua ini adalah salah dia. Karel pun pergi meninggalkan kantin dengan jalan tunduk.
- KELAS -
"Carol Lo nggak papa kan? Sudah tidak usah di tangisin apa yang Karel bilang, nggak penting tau nggak sih dengerin apa yang cowok bermasalah itu bilang" Kata Kelvin yang duduk di depan bangku Carol. Carol yang masih menangis menghadapkan wajahnya ke bawah, tidak ingin di lihat oleh Kelvin.
"Hoooiii, dengerin gue nggak? Udah nangisnya mbaaa." Kata Kelvin mengetuk meja Carol.
Tukk tukk tukk.... Kelvin mengetuk meja Carol.
"Hmm gue pergi aja deh, dari pada ngomong sendirian" Kelvin berdiri dari tampat duduknya.
"Iya iyaaaa.. gue nggak nangis lagi nih." Carol bangun dan menyeka semu air matanya.
"Nah gitu dong.. ngapain di tangisin sihh, nggak penting banget." Kata Kelvin.
"Tapi dia ngomongin itu kasar banger Vin, sampai semua orang yang di kantin denger. Gue malu tauuu huu huu huu." Carol mulai mengucek - ngucek matanya lagi.
"Iya gue tauu, tapi semuanya pasti nggak bakal mikir seperti apa yang di katakan Karel. Jadi Lo nggak perlu khawatir, okeeyyy??" Kata Kelvin.
"Wahh wahh.. Lo suka yah sama Carol? Sampai Lo cabut dari kantin, bilangnya nggak nafsu makan, hanya karena menyusul cewek ini?" Tiba - tiba Karel menyahut, dia tidak sengaja lewat dan mendengar percakapn Carol dan Kelvin melalui jendela kelas.
"Bener Kelvin? Lo kesini karena khawatir sama gue?" Tanya Carol sambil tersenyum.
"Dihh apaan sih Lo? Ngomong sembarangan, gue nggak suka sama Carol, gue cuma nggak mau kalau dia nangis cuma karena ucapan cowok banci kayak Lo, nggak lebih. Dimana - mana Lo datang dan ngerusak suasana aja. Dasar Banci Lo !!!!" Kelvin berdiri pergi dan meninggalkan Carol yang duduk terecengang dan Karel yang berdiri di depan jendela.
"Hahahahah, dasar stupid. Dengerkan? Mana mungkin Kelvin suka sama Lo, jangan berharap banyak Lo. Gue sengaja ngomong itu ke Kelvin biar Lo tau maksud dia apa, kasian banget sih Lo. Cewek tololl. Byyeee byeee..." Karel sangat puas, dia berjalan kembali menuju kelasnya sambil tertawa.
"Cowok brengseekkkkk !!!! Liat aja apa yang bakal gue lakuin." Carol bergumam dengan suara pelan, dia juga sempat melirik Kelvin dengan tatapan sinis. Ntah apa yang sedang dia rencanakan.
Jam menunjukkan pukul 14.30
Waktunya pulang sekolah, mereka semua keluar kelas seperti biasanya. Tapi tiba - tiba ada kejadian yang terjadi, Carol yang berjalan keluar kelas di belakang Kelvin, menjatuhkan dirinya ke dekat Kelvin.
"Heiii... Lo kenapa? Lo nggak papa?" Tanya Kelvin. Seisi kelas tentu saja panik dan berusaha menolong Carol.
"Nggak papa, gue cuma merasa sedikit pusing." Carol memegang kepalanya.
"Hah? Lo mau ke Uks?" Tanya Kelvin lagi.
"Lo gila yah Vin.. ini udah jam pulang sekolah, uks udah nggak ada penjaganya lagi. Pasti udah pulang juga." Kat Sherill.
"Huuhh, apalagi sihh ini." Seru Dinda.
"Diiiiinnnnn" Gina menegur Dinda dan mencubit lengannya.
"Terus ini gimana dong?" Tanya Gadis.
"Vin gue bisa minta tolong nggak? Lo anterin gue pulang aja, sepertinya gue cuma butuh istirahat. Nanti
gue suruh orang rumah gue, ambil mobil gue disini." Pinta Carol dengan wajah memelas.
"Oh hah? Iii.. iyaaa.. sini gue anter Lo pulang" Kata Kelvin melirik ke arah Sherill, Kelvin tau bahwa mungkin saja Sherill tidak suka kalau dia yang mengantar Carol pulang.
"Ya udah yuk guyss kita pulang, kan udah ada Kelvin yang mau anter Carol pulang." Sherill mengambil
tangan Dinda dan Gina yang berada disampingnya.
"Eh, kalian nggak kerumah Kirana?" Tanya Kelvin sebelum mereka pergi.
Tapi tidak ada yang menggubris pertanyaan Kelvin, mereka cuek dan tetap berjalan.
"Vin.. ayoookk." Carol memegang tangan Kelvin dengan sedikit mengeluh kesakitan.
"Eh, iya yuk. Lo bisa jalan sampai parkiran kan?" Kelvin memopong Carol agar tidak jatuh.
"Bisa kok Vin, yang penting Lo pegangin gue aja." Kata Carol.
Saat mereka sampi di parkiran, banyak anak - anak lain yang memperhatikan mereka.
"Waahhh, ada pemandangan baru nihhh."
"Cieee..."
"Ada yang jadian cieee"
"Mau gantiin Karel dan Kirana kayaknya."
"Lahh nggak bisa lah, ceweknya kan nggak setara sama Kirana, kalau Kelvin iya"
"Masa pangeran sama nenek sihir sih."
"Kan cinta nggak memandang fisik guysss"
"Hahahahhaha"
"Hussshh, jangan gitu ntar kualat loh"
Celetuk beberapa anak yang berada diparkiran. Mereka sangat puas, menertawai Carol.
"Heiiii.. bisa diam nggak? Kelvin cuma bantuin gue yang lagi sakit. Tapi emangnya kenapa kalau aku sama Kelvin? Kalian iri?" Carol berusaha kuat.
"Udah - udah nggak usah di ladenin, kalau di ladenin makin panjang ntar masalahnya. Dan mereka makin senang. Kamu cepat masuk aja." Kelvin membukakan pintu mobilnya, membantu Carol masuk ke dalam mobil.
Diperjalan Kelvin dan Carol tidak banyak berbicara, karena Kelvin membiarkan Carol untuk istirahat. Sesampainya di rumah Carol, Kelvin membantu Carol untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Masuk dulu yuk Vin" ajak Carol.
"Eh, nggak deh. Gue mau ke rumah Kirana dulu." Kata Kelvin.
"Please Vin.. Lo masuk dulu, dirumah gue nggak ada siapa - siapa. Takutnya gue kenapa - kenapa dan nggak ada orang yang bantuin gue." Carol memegang tangan Kelvin, berusaha menahannya pergi.
Gue nggak bakal biarin Lo pergi secepat itu Vin Carol bergumam di dalam hatinya, dia sengaja agar Kelvin tidak pergi ke rumah Kirana. Dirumah Carol, ada adik dan pembantu rumah tangganya, tapi sebelum sampai dirumahnya dia mengirim pesan agar adik dan pembantunya tidak menampakkan diri ke Kelvin.
"Orang rumah Lo kemana?" Tanya Kelvin heran.
"Mereka semua pada kerja, dan adik gue belum pulang sekolah." Jawab Carol menyembunyikan semyum liciknya.
"Please yahh Vinn.. Lo di sini dulu sampai hue agak mendingan." Pinta Carol lagi.
"Hmm, iya deh.. gue temenin Lo dulu." Kata kelvin melangkahkan kakinya masuk ke rumah Carol.
"Duduk dulu yahh Vin, gue ke atas ganti baju dulu." Kaya Carol.
"Iya Lo bisa naik tangga sendiri kan? Hati - hati." Tanya Kelvin.
"Iya bisa kok."
Carol pun naik ke kamarnya, Kelvin tiba - tiba teringat Kirana. Kelvin pun mencoba menghubungi Kirana.
"Haloo Kiranaaaa???"
"Iya Viinnn.. tumben nelvon aku siang - siang."
"Iya nihh, tadinya mau ke rumah kamu. Tapi aku lagi nunggin Carol dulu di rumahnya, kasian dia sendiri dan lagi nggak enak badan."
"Kamu di rumah Carol? Kok bisa kamu yang temenin dia?"
"Iyaa.. jadi tadi tuh dia hampir pingsan di sekolah, dia minta tolong gue untuk diantar pulang ke rumahnya. Tapi pas sampai rumah Carol, ternyata nggak ada orang. Jadi dia minta temenin dulu, sampai agak lebih baikan.
"Ohh, gituu.. ya udah Kamu temenin Carol aja dulu, kenapa malah nelvon aku?"
"Carolnya lagi ganti baju, jadi aku nelvon kamu. Pengen denger suara kamu aja, nggak boleh yahh?"
"Ishh.. ngapain denger suara aku, nggak penting juga tau"
"Lah, buat aku kan penting. Suara Kirana tuh bagaikan penenang dalam hidup aku."
"Hahhaha geli tau.. kamu tuh yahh ngomong seenaknya aja."
"Yeesss, berhasil.. aku bikin kamu ketawa"
"Kirana yahh Vin?" Tiba - tiba Carol muncul setelah ganti baju.
"Eh, iya ini gue lagi telvonan sama Kirana." Kata Kelvin senyum - senyum.
"Boleh gue bicara sama Kirana?" Carol duduk disamping Kelvin.
"Nih bicara aja." Kelvin memberikan hpnya.
"Haii Kirana.. Maaf yahh, tadinya Kelvin mau langsung ke rumah Lo. Tapi karena gue lagi nggak enak badan dan nggak ada orang di rumah, makanya aku bilang tungguin gue dulu sampai agak baikan." Kata Carol dengan manja.
"Oh iya nggak papa kok Carol, kenapa harus minta maaf ke aku. Aku sama Kelvin juga nggak ada janji kok, jadi kamu nggak perlu minta maaf."
"Gitu yah Kirana? Berarti Kelvin masih boleh lama dong di rumah gue." Carol melirik Kelvin sambil tersenyum.
"Hahhaah.. itu terserah Kelvin. Nggak ada hubungannya sama sekali sama aku."
"Okey kalau gitu Kirana, aku mau ngajakin Kelvin makan dulu yahh. Byeeee..." Belum sempat Kirana membalas ucapannya, Carol langsung menutup telvonnya.
Kelvin tidak bisa berkata apa - apa melihat tingkah Carol yang seperti itu.
"Vin Lo makan dulu yah baru ke rumah Kirana, gue nggak enak karena Lo udah nganterin gue pulang, tungguin gue sampai agak baikan. Masa aku nggak ngasih makan kamu sih, Lo pasti laper kan?" Carol melihat Kelvin dengan wajah lusuhnya yang masih berpura - pura tidak enak badan.
"Iya Carol, gue laper banget nih. Tadi makan gue kan nggak sempat gue makan, gara - gara cowok banci itu." Kelvin geram mengingat kejadian tadi .
"Hahhaah, iya tunggu bentaran yahh. Gue udah pesen makanan, udah deket kok." Carol berdiri menuju pintu rumahnya, melihat keluar.
Tidak lama, makanan yang Carol pesan sudah datang.
"Nih Vin, makan dulu." Carol mengeluarkan sebuah kotak makanan Fast food dan minuman bersoda.
"Enakk banget nih, laper - laper kayak gini." Kelvin mengambil sepotong ayam, dan segera melahapnya.
"Iyaa makan yang banyak Vin. Sepertinya kepalaku juga sudah agak lebih baikan kalau setelah makan ini." Carol juga ikut makan.
"Iya Lo juga makan yang banyak, biar nggak pusing lagi."
"Ehmm Vin.. gue boleh nanya nggak?"
"Lah, nanya aja kali. Ngapain ditanya dulu." Balas Kelvin.
"Kayaknya Lo nggak suka banget deh sama Karel, emang kenapa sih? Yahh gue liat - liat aja sih dari sikap Lo selama ini sama dia. Emang dia ada salah sama Lo?" Tanya Carol sambil meminum minumannya.
"Dia nggak punya salah sama gue, tapi dia salah sama Kirana. Gue nggak suka banget tau sama cowok yang seperti itu, tega melakukan hal yang nggak wajar sama cewek yang masih jelas - jelas dia sayang banget." Kelvin menjelaskan sambil melahap makanannya.
"Gara - gara kecelakaan itu yah? Emang sih, dia parah banget. Kirana buta akibat kecelakaan yang dia buat, tapi benar yah saat itu Lo sama Kirana dan Karel nggak suka ngeliat hal itu, makanya dia cemburu dan ngelakuin itu?" Tanya Carol lagi. Carol mencoba mengorek semua informasi melalui kesempatan yang dia dapat saat ini.
"Gue nggak tau yah, dia cemburu atau gimana. Tapi saat itu, pas gue sama Kirana balik. Mereka emang sudah bertengkar, saat itu Karel mencoba minta maaf sama Kirana, tapi Kirana nggak mau maafin dia. Ya jelas sih, mana mungkin Kirana memaafkan perbuatan tidak terpuji seperti itu." Kata Kelvin yang tidak sadar menceritakan semuanya ke Carol.
"Haahh? Perbuatan tidak terpuji? Perbuatan apa sampai Lo bilang tidak terpuji seperti itu?" Carol sangat senang mendengar hal itu, dia mendapat info baru lagi dan membuatnya sangat puas. Tapi Carol, masih berusaha kalem agar Kelvin menceritakan semuanya dengan jelas.
"Ya Ampun gue sampai nggak sadar menceritakan semuanya sama Lo. Tapi sepertinya itu saja yang perlu kau tau Carol, yang jelas Karel adalah laki - laki brengsek." Kata Kelvin menyelesaikan makannya.
"Hmmm, Lo masih nggak percaya sama gue yah Vin? Sampai Lo nggak mau ceritain semuanya?" Carol memandang Kelvin dengan wajah cemberutnya.
"Bukan begitu Carol, gue sebagai laki - laki tidak ingin memberitahu ke semua orang apa yang telah terjadi sama Kirana dan Karel. Aku harap kamu mengerti itu.
Carol yang masih saja ingin tau apa yang sebenarnya yang dikatakan Kelvin, tidak berhenti sampai situ, dia terus memikirkan cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.