AUTHOR POV
Kelvin dirumah Carol cukup lama, karena Carol terus menahan Kelvin untuk tidak pergi dulu.
"Hmm, sepertinya Lo belum percaya sama gue yah Vin?" Tanya Carol lagi. Dia masih berusaha mengorek informasi tentang apa yang sebenarnya Karel lakukan kepada Kirana.
"Bukannya gue nggak percaya sama Lo Carol, tapi Lo sama Gue baru aja dekat, gue nggak boleh sembarangan bicara, apalagi tentang masalah orang lain. Please Lo mengerti yah.." Kelvin menghela nafasnya.
"Ya udah, maafin gue Vin.. Gue cuma penasaran aja, Karel melakukan apa ke seseorang yang sangat dia sayangi." Kata Carol sambil membereskan sampah makanannya.
"Hmm.. kalau gitu gue balik yah Carol. Makasih banyak atas makanannya." Kelvin berdiri dan mengambil tasnya.
"Oh? Sudah mau balik yah? Ehmm Lo langsung balik ke rumah? Nggak ke Kirana?" Tanya Carol penasaran.
"Nggak tau sih, gue mampir atau langsung pulang aja. Ntar diperjalanan baru gue mikir hahaha." kata Kelvin sambil tertawa.
"Dih.. nggak bisa nentuin pilihan.. Labil lo." Balas Carol yang juga tertawa.
"Haahha.. Emang kenapa kalau labil?" Kelvin berjalan keluar dari rumah Carol.
"Nggak deh.. btw makasih banyak yah Vin, Lo udah nganter gue pulang dan nungguin gue sampai agak baikan." Carol tersenyum.
"Iyaaaa.. sama - sama.. gue cabut yahh, byeee Carol." Kelvin masuk ke mobilnya, kemudian menyalakan mesinnya.
"Hati- hati Vinn." Carol melambaikan tangannya.
"Lihat saja gue bakal berusaha buat Lo jauh dari Kirana, dan gue akan buat Lo suka sama gue." Carol mengatakan itu ketika mobil Kelvin sudah melaju.
Di perjalanan, Kelvin memikirkan Kirana. Dia hendak mampir ke rumah Kirana, walaupun cuma sebentar. Karena rumah Kirana juga tidak cukup jauh dari jarak rumah Carol, Kelvin yang melihat ada toko bunga dipinggir jalan, dia pun membelikan 1 bucket bunga mawar merah kesukaan Kirana.
KIRANA POV
- Rumah Kirana -
Sore itu, aku duduk di taman rumahku yang cukup luas. Udara sore sangat sejuk ditaman rumahku, dulu aku jarang sekali duduk - duduk dan menikmati udara sejuk di sini. Karena rutinitasku dulu sangat padat, tapi sekarang sudah tidak banyak yang aku lakukan. Begitu guru privateku, selesai mengajariku, pasti aku selalu bingung mau ngapain kalau teman - temanku tidak datang ke rumah. Aku juga tidak ingin terus merepotkan Mama dan Papa untuk selalu menemaniku, mereka punya pekerjaan dikantor yang harus mereka lakukan.
Tingggg... toongggg ... tinggg ... tongggg ...
Suara bell rumahku berbunyi, ntah siapa yang datang di sore menjelang magrib seperti ini.
Bunyi plastik di sampingku terdengar, sontak saja aku kaget, karena tidak ada tanda - tanda langkah kaki tapi tiba - tiba bunyi plastik.
"Eihhh, mawarr??" Kataku kaget.
Seseorang yang baru saja datang menaruh bunga mawar tepat di depan wajahku, dan tentu saja aku bisa mencium bau bunga yang sangat aku sukai.
"Siapa sih?" Aku berdiri dan menjauh, karena aku takut kalau saja Karel yang datang.
"Eiisshh tenang ... aku bukan Karel kok, masa ganteng gini disama - samain sama Karel sih.. Hahahhaha" kata Kelvin menarik tanganku.
"Kelvin?? Kok datang kesini? Kamu baru pulang dari rumahnya Carol? Kenapa nggak langsung pulang aja? Ini udah mau malam ckckckck anak sekolah kok belum pulang ke rumah jam segini." Kataku sambil meraba kursi tempatku duduk.
"Ya Ampun cerewetnya ibu ini.. nih ambil dulu bunganya, kasian di anggurin." Kelvin membantuku untuk memegang bunganya.
"Emangnya kenapa kalau aku datang kesini, aku kan niatnya hari ini emang datang ke rumah kamu pas pulang sekolah, bukannya ke rumah Carol." Jelas Kelvin.
"Dih pake niat hahhaha." Aku tertawa mendengar Kelvin.
"Lah emang iya kok.. hmm Gimana kamu hari ini Kirana? Apa yang kamu lakukan?" Tanya Kelvin.
"Hah? Yah gitu - gitu aja kan tiap hari, habis belajar yaudah aku duduk - duduk di balkon depan kamar, duduk - duduk di pinggir kolam renang, atau nggak yah di sini kalau sorenya. Kalau anak - anak nggak datang sih. Kenapa nanyain itu?" Kataku menyanderkan kepala ke belakang kursiku.
"Hmm, nggak kok.. Penasaran aja, nanti kita jalan yuk Kirana?" Tanya Kelvin.
"Jalan kemana Vin? Kamu liat aku seperti ini? Yang ada kalau jalan sama kamu, aku malah ngerepotin kamu. Harus gandeng aku terus, perhatiin jalan aku, aku nggak mau ngerepotin kamu Vin." Jawabku.
"Kan aku yang ngajak kamu, aku nggak merasa direpotkan kok. Yahh yahh? Nanti aku kabarin kamu kapan kita akan jalan, okeehh??" Tanya Kelvin lagi.
"Viiiinnn...." aku belum menyelesaikan ucapanku.
"Sudah yahh Kirana, please kamu ikut aja.."
"Hmmm iya iyaa.. eh, lupa tunggu aku panggilin bibi yahh. Kamu mau minum apa?" Tanyaku.
"Ehh, nggak usah, nggak usah.. Aku mau langsung pulang aja, udah mau malam. Aku belum mandi, bau keringat. Aku kesini cuma pengen bawain bunga aja buat kamu. Kalau gitu aku pulang dulu yahh Kirana.." Kata Kelvin berdiri dari tempat duduknya.
"Ohh gitu... ya udah deh, makasih banyak Kelvin. Hati - hati yahh kamu." Kataku juga berdiri.
"Eh, sini aku antar kamu masuk dulu. Mama sama Papa kamu belum pulang?" Kelvin memegangku dan mengarahkanku untuk masuk ke rumah.
"Belum Vinn, tapi mungkin sebentar lagi mereka pulang." Jawabku.
"Hmmm, ada Bi Sri kan di rumah?" Tanya Kelvin.
"Iya ada kok, kamu antar aku sampai sini aja. Nanti aku panggil Bi Sri buat ke kamar." Kataku melangkahkan kaki.
"Ya udah kalau gitu, gue balik sekarang yahh." Kelvin melepasku, dia mengelus rambutku.
“Iyaa makasih sekali lagi Vinn.”
Malam Pukul 19.00
Mama dan papa baru saja pulang kantor, yahh Mama dan Papaku memang orang yang sibuk, tapi mereka tidak pernah lupa bahwa mereka punya anak yang harus diberi kasih sayang. Tidak seperti orang tua lainnya, yang hanya mementingkan bisnisnya dan hanya memberi materi ke anaknya, yang mereka itu sudah sangat cukup untuk membahagiakan anaknya.
Papa adalah seorang pemilik perusahaan yang bergerak di bidang konstruski yang memiliki banyak proyek pembangunan di kota - kota, bahkan sampai di luar negeri, sedangkan Mama, bisa dibilang dia direktur diperusahaan Papa.
“Loh, Kirana kenapa kamu disini nak? Tidak dikamarmu?” Tanya Mama.
“Aku tadi habis duduk - duduk di taman Mah, terus ada Kelvin datang dan mungkin baru stengah jam lalu dia pulang, makanya aku sekalian aja nunggu Mama sama Papa disini.” Kataku tersenyum, dan membuat wajahku merah merona.
“Wahh bawa mawar kesukaan kamu yahh? Hhuuummm harum banget mawarnya..” kata Papa mengambil bunga mawarku dan mencium aromanya.
“Pantesan aja, kamu senyum sampai pipimu merah begitu. Ternyata si cowok baik bawain bunga buat dia Paa.. hahahhah” kata Mama menggodaku.
“Ih, Mama Papaaa... emang iya pipi aku merah?” Tanyaku tersenyum malu.
“Hahahha, iya merah udah kayak tomat tauu.” Kata Mama lagi.
“Kelvin itu benar anak yang baik yah Maa, Papa perhatiin dari cerita - cerita Mama, dia sepertinya sangat peduli dengan Kirana.” Kata Papa.
“Yahh, kalau Mama perhatiin dari sikap dia juga sih Pahh, kayaknya begitu. Tapi Mama nggak mau terlalu yakin, takut seperti Karel dulu. Dia kan juga awalnya juga baik, tapi sekarang lihat apa yang dia lakuin sama anak kita.” Kata Mama memegang tanganku.
“Biiii.. Bi Srii minta tolong ambilin air dong, atau apa yang ada dikulkas yang seger - seger.” Panggil Mama.
“Iya buu... sebentar yahhh..” teriak bibi dari dapur.
“Hmmm, iya juga sih. Kita nggak boleh lagi mempercayakan anak kita ke orang lain seperti dulu. Kita harus benar - benar melihat apa Kelvin memang tulus ke Kirana.” Kata Papa lagi.
“Ini bu minumannya.” Bibi membawa minuman dari dapur.
“Makasih yahhh Biii.. “
“Oh iya bu, tadi ada telvon dari rumah sakit, katanya hp ibu sama bapak nggak aktif.” Kata Bibi
“Oh, terus apalagi Bi? Ada pesan lagi?” Tanya Mama sambil menuangkan minuman ke gelas.
“Soal donor mata non Kirana bu, Katanya ada kemungkinan besar donor yang ini cocok untuk mata non Kirana. Terus besok katanya di suruh kerumah sakit buat cek kecocokan bu Pakk.” Jelas bibi.
“Alhamdulillah, semoga donor itu benar – benar cocok dengan kamu Nak.” Kata Mama memelukku.
“Amiiinnn !!!!!!! ” Seru Bibi. “Eh, Maaf bu kelepasan heheheh “
“Heheheh Aaminnnn… Makasih biii ” Kataku yang masih sanderan di bahu Mama.
“Ya udah kalau gitu besok kita ke rumah sakit, sebentar Papa telvon balik rumah sakitnya untuk bikin janji temu.” Kata Papa.
“Semangat yahh sayanggg.” Kata Papa lagi mengelus rambutku dengan lembut.
“iya, Paa.. Makasih banyak Mama Papaaa..
Setelah ngobrol dan makan malam bersama Mama dan Papa, aku naik ke kamarku. Di dalam kamarku, aku bisa mendengar suara – suara kendaraan yang lewat depan rumahku, jadi aku tidak terlalu merasa kesepian. Malam itu aku duduk di atas tempat tidurku yang sangat empuk, aku mencoba mempelajari hpku dengan keadaan fisikku yang sudah berubah. Ini sangat susah bagiku, mempelajari hal – hal yang benar – benar sulit. Aku mengotak – atik hpku, dan tidak sengaja aku menekan file rekaman suara.
“Hai, Kiranaaa… Hari ini adalah hari jadian kita yang ke 30 hari, baru kali ini aku menemukan seseorang yang seperti kamu. Mungkin aku terdengar sedikit lebay, tapi ini lah yang ku rasakan terhadapmu. Aku harap kita dapat seperti sampai selamanya, aku menyukaimu, sangat menyukaimu Kirana. I Love you more than you know, I can’t let you gou. I promiseee”
Yahh, rekaman suara itu adalah rekaman suara milik Karel. Yang belum sempat aku hapus, mendengar rekaman suara itu lagi membuatku sangat sedih, membuatku mengeluarkan air mata. Aku teringat lagi masa – masaku saat berpacaran bersama Karel.
Flash Back
2 tahun lalu, saat aku pertama kali bertemu Karel di acara porseni sekolah. Saat itu aku adalah panitia lomba yang mewakili kelasku dan dia adalah salah satu peserta lomba bernyanyi. Ku lihat Karel menyanyi diatas panggung membuat jantungku berdegup kencang, aku sempat mengatakan “Oh, tuhan kenapa cowok itu mengeluarkan aura yang luar biasa” Karel yang sangat tampan dan mempunyai suara yang sangat bagus, membuatku terus melihatnya dan ternyata sudah banyak yang melihatku tertegun heran melihat Karel diatas panggung. Dan mulai saat itu orang – orang di sekitarku yang mengetahui aku melihat Karel sampai tidak bisa mengedipkan mata, mulai menggodaku bersama Karel. Tapi untung saja saat itu Karel belum sadar, bahwa aku terus melihatnya saat diatas panggung.
Kakak – kakak kelas yang mengetahui hal itu, memperkenalkan aku dengan Karel. Rasanya jantungku hampir copot bertatapan sangat dekat dengan Karel.
“oh, Hai.. Namaku Kirana..”
“Karel.. Karel senang berkenalan denganmu Kirana. Kau cantik.” Karel tersenyum membuat hatiku sangat tak karuan melihatnya tersenyum.
“Hah, makasihh..” Aku sangat gugup.
Begitulah, kira – kira perkenalan pertamaku dengan Karel. Sejak saat itu Aku dan Karel mulai dekat, Karel selalu datang ke kelasku membawakanku coklat setiap harinya. Dan akhirnya dia menyatakan perasaannya saat jam upacara di hari senin selesai, dia menyatakan perasaannya didepan semua orang, didepan satu sekolah dia bernyanyi untukku seorang. Bayangkan saja betapa beruntungnya diriku, cowok yang sangat tampan dan memiliki suara yang sangat bagus menyatakan perasaannya di depan banyak orang, dan di saksikan oleh guru – guru. Aku nggak tau seberapa meronanya pipiku saat itu.
“Terimaa terimmaaaa terimaaaaa…” sorak semua yang ada di lapangan.
“Jangan Kirana, jangan terimaaaa.. Jadian saja dengan Kakaaaakkkk .” Teriak Kakak kelas. Aku memang cukup terkenal di kalangan kakak kelas.
Tapi Tentu saja aku menerima Karel, aku bagaikan putri yang sangat bahagia saat itu. Di hari ke duaku jadian dengan Karel, Karel datang ke kelasku membawakan satu bucket bunga mawar yang sangat besar membuat semua yang ada di kelasku sangat iri. Setelah jadian dengan Karel, Aku dan Karel menjadi sangat terkenal di sekolah. Kami berdua bagaikan putri dan raja yang selalu disanjung – sanjung oleh siswa – siswa lain maupun guru – guru, karena bukan hanya jadi pasangan yang sangat romantic, tapi kita berdua di sanjung karena memiliki prestasi yang sangat luar biasa dan membanggakan nama baik sekolah. Setiap ada lomba, pasti Aku dan Karel juga di ikut sertakan. Hari – hariku benar sangat bahagia bertemu Karel saat itu, mungkin aku cewek yang paling beruntung saat itu. Karel memperlakukanku bagaikan ratu, dia sangat romantic.
Tiap malam kami menghabiskan waktu telvonan sambil belajar bersama, dia selalu menungguku hingga terlelap, dengan menyanyikan lagu – lagu yang sangat indah. Seminggu kami melewati hari – hari bersama, Karel ingin meminta Izin langsung ke orang tuaku untuk mengajakku berpacaran, karena dia tidak ingin kalau orang tua kami tidak mengetahui hubungan kami. Mama dan papa sangat senang karena melihat Karel adalah orang yang bertanggung jawab, pria yang sabar dan sangat baik kepadaku, dan satu lagi karena Karel sangat tampan, membuat Mama sangat menyetujuinya. Dan setelah kami minta izin, Karel selalu mampir ke rumahku untuk berbincang – bincang dengan Mama ataupun Papa. Dan begitupun denganku, Karel selalu membawaku mampir ke rumahnya agar lebih dekat Mamanya.
“Hmmm ternyata awalnya memang sangat indah.” Akupun tertelap dalam tidurku mengenang masa – masaku bersama Karel.
------