KIRANA POV
Hari Sabtu Pagi 9:30
Hari ini karena Papa sudah membuat janji temu dengan dokter, Papa, Mama dan aku bernagkat keprumah sakit untuk pemeriksaan kornea mataku dan kornea pendonor. Sesampainya dirumah sakit, aku menjalani beberapa tes, tapi ternyata hari itu belum terjadi keajaiban, donor mata yang ada dirumah sakit belum bisa di pasangkan di mataku, masih ada sebab dan akibat yang harus ku tanggung kalau saja aku memaksakan untuk memakai kornea itu.
“Kamu tidak apa – apakan Kirana sayang?” Tanya Mama di perjalanan pulang.
“Nggak kok Ma, aku nggak papa.. Mungkin tuhan belum mengizinkan aku untuk melihat kembali.” Kataku dengan pelan mengeluarkan wajahku keluar kaca mobil untuk menghirup udara segar.
“Bagaimana kalau kita singgah makan di restoran biasa?” Ajak Papa.
“Wah, ide bagus tuh Paahh.. Kirana mauu?” tanya Mama.
“Maa Paa aku buta, apa Mama dan papa nggak malu membawaku ke restoran? Yang ada di sana Mama dan Papa hanya diperhatikan semua pengunjung Restoran karena memiliki anak yang buta. Terlebih lagi pasti aku di sana hanya bisa merepotkan kalian.” Jelasku yang masih mengeluarkan kepalaku agar Mama dan Papa tidak melihat mataku yang sudah berair.
“Kiranaaaa… jangan berbicara seperti itu, Mama dan Papa tidak pernah mendengarkan atau memperhatikan pandangan orang lain, kita hanya perlu menghiraukan semua itu nak. Dan ingat mau bagaimana pun keadaan kamu, kamu tidak pernah membuat Mama dan Papa repot. Jadi, tolonglah jangan berbicara seperti itu.” Kata Mama.
“Iya Kirana, kalau kamu berbicara seperti itu Papa dan Mama juga ikut sedih. Kamu nggak pernah merepotkan Papa dan Mama, kami ini orang tuamu sayang.” Kata Papa.
Aku tidak membalas ucapan Mama dan Papa, aku terlarut dalam kesedihanku sepanjang jalan.
“Kamu yakin nggak mau singgah nak?” tanya Papa lagi.
“Kita makan dirumah saja Paa Maa.. Pesen makanan yang ada direstoran itu, biar Bi Sri dan yang lain juga bisa makan.” Aku masih tetap tidak ingin pergi ke restoran, bagiku masih sangat berat kalau banyak orang yang melihatku seperti ini.
“Hmm, ya sudah.. Maa, pesan sekarang aja.. biar kalau kita sudah sampai makanannya sudah datang. Kita nggak menunggu lama.” Kata Papa.
“Iya sudah kalau begitu.” Kata Mama dengan nada sedih.
Aku tau Mama dan Papa berusaha menghiburku, agar aku tidak merasa kesepian tinggal dirumah saja. Tapi aku tidak bisa, aku malu dengan diriku, aku malu dengan keadaanku yang seperti ini. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian orang – orang karena kondisiku yang seperti ini.
-----
Sesampainya di rumah, Kami semua makan – makanan yang mama pesan dari restoran tadi.
“ Non Gimana? Kapan Non bisa operasi? Bibi sudah nggak sabar Non Kirana bisa melihat kecantikan Bibi lagii. Hehehe…” Ucap Bibi sambil menyiapkan makanan.
“Biiii…” Kata Mama ingin menghentikan pertanyaan Bibi.
“Nggak papa kok Maa.. hmm belum bisa Bi, ternyata masih ada yang perlu dipertimbangkan sama dokter. Kornea mata yang tadi belum cocok sama aku.” Jawabku.
“Oh, Maaf Non.. Bibi nggak tau, bibi sangat semangat karena mendengar sudah ada donor untuk non Kirana. Maafin bibi yahh non.” Kata Bibi sangat menyesal.
“Duhh bibi, kenapa harus minta maaf ? Bibi nggak salah kok. Kirana harus sabar saja tunggu waktu yang tepat, mungkin belum ini masih yang terbaik buat Kirana yang dikasih sama Tuhan.” Jelasku lagi.
“Udah – udah.. sekarang kita makan saja yahh. Bi panggil yang lain juga untuk makan bersama.” Kata Papa berusaha untuk aku tidak mengalihkan topic pembicaraanku.
“Oh, iya baik Pak.” Seru Bibi.
“Kirana sayang, habis makan Mama anter kamu ke kamar yahh. Kamu harus istirahat lagi.” Kata Mama.
“ Iya Maa..”
Setelah makan, Mama mengantarku ke kamar. Mama dengan sabar membantuku menaikki satu persatu dari tangga yang ada di rumahku.
“Kirana.. Maafin Mama dan Papa yahh, belum bisa mendapat donor mata yang pas buat kamu. Tapi Mama dan Papa janji akan berusaha lebih keras untuk mencarikan donor mata lagi buat kamu nak.” Mama memelukku sebelum aku masuk ke kamar.
“ Maa, Kirana minta tolong juga sama Mama dan Papa, tolong jangan jadikan ini sebagai hal sangat prioritas buat kalian. Kirana nggak mau kalau Mama dan Papa sakit, atau kerjaan dikantor jadi terbengkalai gara – gara Mama dan papa sangat focus ke donor mata Kirana. Kirana hanya cukup lebih sabar saja Maa, Kirana bisa kok Mahh..” Kataku memegang tangan Mama.
“ Iya nak.. Kamu memang anak Mama..” Mama pun mulai menangis tersedu – sedu sambil memelukku.
“ Udah dong Mahh jangan nangis, aku sendiri nggak nangis, masa mama yang nangis sih.” Aku melepaskan pelukan Mama dan mencoba meraba wajahnya untuk mengusap air matanya dan tiba – tiba Papa datang ikut berpelukan dengan kami.
Aku masuk ke kamarku dan duduk di balkon depan kamarku, aku berusaha untuk tidak menangis. Tapi rasanya sangat sulit. Ku kunci kamarku dan aku mulai menangis tak henti – hentinya, rasanya hatiku sangat sakit mengetahui Mama menangis seperti itu. Aku tidak sanggup kalau saja Mama terus bersedih karena keadaanku saat ini. Hatiku sakit sekali.
Ku dengar Hp ku berbunyi, tapi aku tidak tau aku menyimpannya dimana terkahir. Saat kerumah sakit aku lupa untuk membawa hp ku. Aku mencoba mengelilingi kamarku untuk mencari hp ku, dan ternyata ada di meja belajarku. Aku kembali ke balkon dan menerima telvonku.
“ Halo? Siapa ini?” Tanyaku mengangkat telvon yang aku tidak tau dari siapa.
“ Hai Kiranaaa, bagaimana kabarmu? Aku sangat merindukanmu Kirana..”
“Kareelll???”
“ Wah, ternyata Kirana masih mengingat suaraku. Aku sangat senang sekali Kirana.”
Tuukk tukk tukkk tukkk tukkk… Aku berusaha mematikan telvon dari Karel, tapi ternyata yang ku pencet adalah speaker.
“Kirana wait waaaiittt pleaseee !!!!! dengarkan aku dulu, jangan matikan telvonnya pleaseee … Kirana??? Halo ??? Kirana ???”
Aku tidak menjawab ucapan Karel, dia menghubungiku bukan memakai nomornya, karena aku yakin aku sudah memblokir semua kontak dan social media Karel sebelum kecelakaan itu terjadi.
“ Kirana.. aku tau kamu masih di situ.. Kalau kamu tidak mau bicara, please dengarkan aku saja. Apa kau tidak merindukanku Kirana?? Oh, atau apa kamu tidak merindukan masa – masa kita dulu? “
“Cowok gila, masih saja bertanya pertanyaan yang sangat bodoh.” Kataku pelan sehingga Karel tidak mendengarku.
“Aku tau aku salah, aku sangat salah Kirana. Aku minta maaf atas semua yang telah ku lakukan, aku benar – benar tidak tahu kenapa aku bisa berbuat seperti itu. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Kirana. Apa kau tau? Aku setiap hari melewati rumahmu, siapa tau kamu berada di luar atau berada di balkon kamarmu agar aku bisa melihatmu biarpun itu dari kejauhan. Aku merindukanmu Kirana, sangat merindukanmu. ”
“Apa kau tidak bisa memberiku kesempatan untuk merubah semuanya? Aku mau berada disampingmu melewati keadaanmu yang seperti saat ini Kirana, aku janji akan menjadi Karel yang seperti dulu, menjadi Karel yang sangat kau sukai Kirana. Aku mau menebus kesalahanku dengan merawatmu dan menemanimu sepanjang hari.”
Aku tidak membalas sedikit pun ucapan Karel, aku hanya mendengar semua apa yang dia katakan. Aku tau kali ini dia sangat serius, tapi pintu hatiku sudah tertutup buatnya. Kalaupun aku mengizinkan Karel untuk merawatku, semuanya tidak akan bisa kembali seperti dulu. Aku masih tetap gadis yang buta.
“Kirana apa kau tidak mau mengucapkan sesuatu? Aku tau kamu masih di situ dan mendengarkan semua ucapanku. Aku mencintaimu Kirana, aku sangat mencintaimu. Aku menyukaimu, dan aku membutuhkanmu berada di hidupku. Apa yang harus ku lakukan untuk menebus dosaku Kirana? Tolong beri aku kesempatan lagiiii ” Ku dengar Karel mulai terisak.
Aku merasa luluh mendengar semua yang dikatakan Karel, tapi hatiku sangat menolak untuk mengizinkan Karel untuk datang lagi di hidupku.
“hmm baiklah, kalau kamu tidak ingin mengatakan sesuatu. Dengarkan saja yahh..”
Karel memetik gitarnya dan mulai bernyanyi, aku mendengarkan dengan sangat. Kurasa itu bukan suara yang keluar dari hp ku, tapi kurasa Karel berada di depan rumahku. Sontak saja aku lebih mendekat ke arah pagar balkon rumahku, untuk memastikan suaranya benar ada atau tidak. Dan yahh, suara itu terdengar makin jelas.
“ Aku di sini Kirana, aku bisa melihatmu dari sini. Aku mencintaimu Kirana.” Teriak Karel.
Ting tooongg tinggg tonnggggg…
Suara bell rumahku berbunyi, dan ternyata yang datang adalah Kelvin. AKu bisa mendengar suaranya berbicara dengan Pak Adi.
Aku berdiri dan meninggalkan hpku yang masih dalam keadaan on bersama Karel.
“Kiranaaaa tungggguuuuuuu…” Karel berteriak dari bawah, tapi aku tidak memperdulikannya.
“Heii.. pelan – pelan.. kau bisa terjatuh.” Kelvin sudah berada di depan kamarku.
“Karell.. Karel ada dibawah..” Kataku terengah – engah.
“Karel? Apa kau berlari seperti ini karena ingin menemuinya?” Tanya Kelvin.
“No … Aku berlari karena aku senang kau datang Kelvin, kau mengalihkan perhatianku dari Karel. Dia menelvonku dan terus berbicara, dia membuatku luluh dan membuat hatiku sakit. Aku tak bisa terus mendengarkannya berbicara Viinn..” Aku mulai terisak.
“okeyy tenang dulu Kirana.. kita bicarakan ini dibawah yahh, kita turun dulu.” Kata Kelvin memegangku untuk turun ke bawah.
Aku dan Kelvin turun ke bawah, dan duduk diruang tengah.
“Kamu tunggu disini dulu yah, aku ambilkan air putih untuk mu Kirana.” Kelvin berdiri menuju dapur.
Aku terdiam dan masih memikirkan semua yang di katakan Karel.
“Kamu baik – baik saja Kirana? Nih, minum dulu airnya.” Kata Kelvin memberiku segelas air putih.
“Aku baik – baik saja Kelvin, hanya saja aku memikirkan semua ucapan Karel. Ku fikir dia sangat menyeseli semua perbuatannya.” Kataku sembari meminum air putih yang diberikan Kelvin.
“Hmmm.. Lalu kamu mau bagaimana Kirana? Apa kau ingin berbicara dengan Karel? Aku bisa memanggilkannya untukmu kalau memang dia ada didepan rumahmu.” Kata Kelvin.
“Tidak Kelvin.. meskipun aku tau kalau dia sangat merasa bersalah dan menyesal akan semua perbuatannya, tapi hatiku belum bisa memaafkan semua perbuatannya dan tidak bisa menerimanya kembali ke dalam hidupku. Aku hanya terhanyut dengan semua Kata – kata yang baru saja dia ucapkan.” Kataku lagi.
“Hmm mungkin kamu perlu waktu untuk semua itu Kirana. Apa kau mau sendiri dulu? Aku bisa pulang kalau kamu mau lebih tenang.” Kata Kelvin dengan suara pelan.
“Tidak Kelvin, kau sudah jauh – jauh datang kerumahku hanya untuk menemuiku. Dan aku tau kamu datang kesini hanya untuk menghiburku, menghibur gadis yang buta ini.”
“Heii … jangan berbicara seperti itu Kirana.. ini hanya sementara, kamu akan segera bisa melihat lagi. Jangan putus asa okeyy?” Kata Kelvin mengambil tanganku dan menggenggamnya.
“Iya Viinn..” Aku meneteskan air mata lagi.
“Sudah yah, jangan bersedih lagi. Bagaimana dengan Hp kamu Kiarana? Apa kamu sudah cukup bisa memakainya?” Tanya Kelvin.
“belum terlalu bisa Vin, tadi saja ada telvon Karel masuk, aku ingin langsung mematikannya tapi yang ku lakukan adalah speaker. Atau mungkin aku terbawa suasana untuk segera mematikan telvon dari Karel.” Kataku sambil tertawa.
“Hahahaha, Kirana… terus sekarang hp kamu dimana? Aku bisa mengajarimu lagi sekarang.” Kata Kelvin.
“Ada diatas Vin, aku meninggalkannya begitu saja. Dan tadi masih dalam telvonan dengan Karel.”
“Boleh aku mengambilnya? Kamu simpan dimana tadi?” Tanya Kelvin.
“Iya, naik saja Vin dikamarku. Ada di balkon.”
“Okey aku naik dulu yah.”
Kelvin menuju kamarku untuk mengambil hpku.
“Heii, Brengseekkk !!!! Lo mengacaukan lagi usahaku, kenapa Lo harus datang hari ini hah?” Ku dengar Karel berteriak dari depan rumahku.
Karel meneriakki Kelvin, dia melihatnya dari bawah.
“Bisakah Lo jaga mulut Lo itu? Lo sedang berada di Kawasan rumah orang, apa kau tidak malu bersikap seperti itu?” Balas Kelvin.
“Haahhh.. Kelvin tolongkah, Lo harus membantu gue agar Kirana bisa memaafkanku dan menerimaku kembali, TOLONGLAH !!!! ” Kata Karel.
“Karel.. Gue sangat tidak bisa membantumu, dan Lo sangat tau itu. Lo meminta pertolongan pada orang yang salah. I’m Sorry Karel.” Kata Kelvin.
“KELVVVIIIINNNNN !!! dengarkan gue dulu, jangan pergi. Tolong sampaikan ke Kirana kalau aku sangat mencintainya.” Teriak Karel lagi.
Kelvin turun dari kamarku.
“Kamu mendengar semuanya kan Kirana?” Tanya Kelvin.
“Iya aku mendengarnya Vinn.”
“Ap perlu Papa mengusir anak itu?” Tanya Papa.
“Eh, om.. Kelvin nggak tau kalau om ada di rumah.” Kata Kelvin salim ke Papa.
“Iya nak, om tadi ada di belakang mengurus kolam ikan. Tante sudah kasih tau, kalau kamu ada di rumah. Oh, iya gimana? Apa perlu papa usir anak itu?” Tanya Papa lagi.
“Nggak usah Paa, Kirana nggak mau ada keributan. Biarkan saja dia di luar, kalau capek pasti dia akan pulang.” Kataku.
“iya om, biarkan saja. Dia masih berusaha untuk meminta maaf sama Kirana om.” Kata Kelvin
“Ya sudah, kalau gitu om tinggal dulu yahh. Kalau butuh apa – apa panggil Bi Sri saja.” Kata Papa meninggalkan Aku dan Kelvin yang duduk di ruang tengah.
Bruuukkkk brukkk brukkkk…
Suara gedor - gedoran pagar rumahku.
“Maaf mas Karel tapi Mas Karel tidak di izinkan masuk. Jangan buat keributan di sini.” Kata Pak Adi.
Keributan terjadi di depan rumahku, Karel berusaha masuk lagi ke dalam rumahku.
=====