Papa yang mendengar keributan di luar, segera melihat apa yang terjadi. Aku dan Kelvin juga menyusul papa keluar.
"Kenapa lagi ini Pak Adi?" Tanya Papa.
"Ini pak.. Mas Karel memaksa masuk."
"KAREL.. Om sudah bilang kalau kau tidak boleh lagi datang ke rumah ini, apa kau tidak mengerti Bahasa Indonesia?" Gertak Papa.
"Tapi Om.. Karel sangat ingin bertemu dengan Kirana, Karel mohon om mengizinkannya." Kata Karel.
"Tidak bisa Karel, kapan sih kau sadarnya? Kirana juga tidak ingin bertemu denganmu. Apa kau mau membuat Kirana stress?? Hah?" Kata Papa lagi.
"Tolong dong Karel, jangan selalu membuat keributan. Kami malu dengan tetangga yang selalu mendengar keributan yang kau buat." Kata Mama yang baru saja keluar.
"Kiranaaaaa !!! Pleaseee.. kamu mau kan bicara sama aku dulu? Tanya Karel.
"Nggak Karel, tolong pergi lah. Dan jangan ganggu hidupku lagi, sudah berapa kali aku bilang ini sama kamu, kenapa kau tidak bisa mengerti." Kataku.
Kelvin yang berada disampingku menggenggam tanganku.
"Sudahlah pak Adi, bawa Karel keluar dan tutup rapat – rapat pagarnya." Kata Papa berjalan ke arah Pak Adi.
"Ayo Mas Karel.."
"Tapi Om .... Kiranaaa aku sangat mencintaimu Kiranaaaaaa !!!!" Teriak Karel sambil di seret keluar sama Pak Adi.
"Kirana kamu tunggu sebentar yah, aku mau bicara sama Karel" Kata Kelvin.
"Kamu mau bicara apa Vin? Nanti Karel tambah buat keributan." Kataku.
"Nggak kok, tenang aja. Tante aku keluar sebentar dulu yah." Kata Kelvin melepas tanganku dan berjalan keluar.
Tapi belum sempat iya bicara dengan Karel, ternyata Karel sudah pergi.
"Udah Pergi orangnya." Kata Kelvin masuk kembali ke rumahku.
"Ya udah, lagian kamu mau ngomong apa juga sama dia. Nanti yang ada dia malah tambah nggak suka sama kamu Vin." Kataku.
"Iya iyaa. Oh iya Kiranaa, ini kan sudah hampir sore. Kita jalan – jalan keluar yuk. Mau nggak?"
"Kemana Vinn?" Tanyaku.
"Mau nggak? Nanti kamu juga bakalan tau kalau sampai di sana. Deket kok, yahh yahh?" Ajak Kelvin dengan penuh semangat.
"Iya dehh iya, aku mauu. Kasih tau mama dulu yahh, nanti aku di cari."
"Tanteeeee, aku mau ajak Kirana keluar dulu yahh. Deket kok." Teriak Kelvin.
"Iya, hati – hati." Teriak Mama dari dalam.
"Hahahahah, tuhkan udah di izinin. Buruan yuk, sebelum makin sore." Kata Kelvin sambil membantuku berdiri.
"ish, Kelvin hahahaha." Kataku berdiri memasang Cardigenku yang sangat hangat.
Kelvin mulai menyalakan mobilnya, kami berdua pun pergi ke tempat yang sangat ingin di tuju Kelvin. Perjalannya mungkin tidak sampai 10 menit dari rumahku.
"Sudah sampai Kirana, kamu tunggu sebentar dulu yah di sini."
"Hah? Kamu mau kemana?" Tanyaku panik.
"Ih, aku nggak kemana – kemana. Tunggu yahh, bentaran doang kok, jangan panik gitu dong." Kata Kelvin membuka pintu mobilnya.
Ku dengar dia membuka pintu mobil di belakang, dan mengeluarkan banyak barang dari dalam mobil.
"Tunggu yah Naaa." Kata Kelvin sembari mengeluarkan semua yang ada di dalam mobilnya.
Aku hanya terduduk diam di kursi depan. Aku menunggu Kelvin menyelesaikan semua yang dia lakukakn yang ntah ap aitu.
"Okeyy Naa, kamu sudah boleh turun." Kelvin membukakan pintu mobil dan membantuku keluar.
"Kamu ngapain sih Vin?" Tanyaku.
"sssttttt, sini – sini ikut aja. Pelan – pelan jalannya." Kata Kelvin.
"Hah? Ini di danau belakang perumahan aku yah Vin?" Tanyaku penasaran.
"Kok kamu tau sih?" Tanya Kelvin Kembali.
"Aku bisa mencium aroma kesejukan yang ada di sini Vin, suara kicau burung yang sangat banyak. Senang banget aku, kamu ajak kesini."
"Alhmadulillah, kalau kamu senang Kirana. Duduk sini yuk."
"Ini apa Vin?"
"Aku nyiapin ini semua buat kamu Kirana, yang kamu dudukin sekarang ini adalah Karpet piknik dan di atas Karpet piknik ini ada buah – buahan, anggur, apel merah, apel hijau dan jeruk. Terus ada jus strawberry juga dan ada beberapa tangkai bunga mawar yang aku susun di sini." Kelvin menyebutkan semua dengan penuh semangat.
"Huu hikss hikss ... kamu siapin ini semua buat aku Vin, aku harus ngebales kebaikan kamu dengan cara apa?" Tanyaku sambil menangis.
"Heeiii .. kok malah nangis sih? Jangan nangis dong, aku siapin ini semua bukan untuk kamu balas dengan apapun, aku cuma mau bikin kamu senang, kalau kamu senang aku juga sangat senang Kirana." Kata Kelvin mengusap air mataku.
"Iya Viinn.." aku juga mulai mengusap air mataku perlahan.
"Gitu dong ... sekarang kita nikmati saja yahh danau ini. Kamu mau aku sebutin nggak yang ada di danau ini sekarang dan bagaimana keadaannya?" Tanya Kelvin sambil membuka botol minuman yang di bawanya tadi.
"Mau - mauuuu." Aku merengek seperti anak kecil.
"Hahahaha, lucunyaa.. jadi gini, di sekitar kita juga banyak orang yang sedang piknik, ada 1 keluarga yang membawa anaknya, anaknya perempuan, cantik, dan dia mempunyai pipi seperti tomat, sangat lucu Kirana." Kata Kelvin sambil memberiku air yang dia buka.
"Iyaa? Terus - terus anaknya dimana? Duduk di samping orang tuanya?" Tanyaku.
"Nggak.. dia baru saja berlari menghampiri temannya, bermain busa gelembung.
oh iyaa ... terus ada penjual balon warna - warni, dan di danau ada orang yang juga naik perahu, sepertinya mereka berpacaran, mereka terlihat sangat bahagia diatas perahu." Jelas Kelvin yang menyebutkan semuanya.
Seakan - akan dia menjadi mataku saat ini. Aku sangat senang, dia sangat peduli denganku. Dia sangat sabar, menjelaskan semuanya padaku.
"Waaahh, senangnya ... rasanya aku juga ingin naik perahu itu Vinn, merasakan air danau ini." Kataku mencoba meraih tangan Kelvin.
"Hmmm, gimana yahh? Kasih naik nggak yahh?" Kata Kelvin menggodaku.
"Iihhhh Kelviiinnn.." Aku langsung melepas tangannya dan memukulnya.
"Hahahahah, kok aku di pukul sih.. bercanda - bercanda, ya ampun hahaha.." Kelvin tertawa sangat puas.
"Ihh, nggak lucu tau." Kataku mencoba menyembunyikan senyumanku.
"Hahahhaa, iya iya.. nanti aku ajak kamu naik perahunya yahh, sekarang jangan dulu karena udah sangat sore, nanti kamu tidak menikmatinya." Kata Kelvin. Tiba - tiba dia tidur di pangkuanku.
"Aku baring sebentar di sini yahh Kirana, rasanya sangat nyaman jika berbaring. Di tambah udara yang sejuk, suasana yang nyaman, makan buah, dan timbah tidur di pangkuan wanita cantik ini." Kata Kelvin sambil makan buah - buahan yang ada.
"Ihh hahaha, kamu sedang menggodaku yahh?" Tanyaku menarik rambutnya pelan.
"Ih kok ke geeran sihh. Emang kenyataannya seperti itu tuan putri yang cantik." Kelvin mengambil tanganku yang berada di atas kepalanya.
"Hahha, geli tau Vin kamu ngomong kayak gitu." Aku membiarkan tangaku di genggam oleh Kelvin, jujur rasanya memang sangat nyaman.
"Naaa, kamu masih sayang yah sama Karel?" Tiba - tiba Kelvin bertanya seperti itu, aku kaget.
"Kenapa kamu bernyata seperti itu Vin? Aku kaget tau kamu mengeluarkan pertanyaan seperti itu." Kataku mencoba menarik tanganku dari genggaman Kelvin. Tapi Kelvin menahannya, dia terus menggenggam tanganku.
"Nggak papa kok Kirana, aku cuma penasaran saja. Dan membuatku terus bertanya - tanya apa kamu masih sayang sama dia? Karena kamu tadi sempat bilang waktu kamu di telvon Karel, kamu bilang kamu luluh saat mendengar perkataannya. Itu berarti ada di dalam lubuk hati kamu yang paling dalam masih ada dia kan Naa??" Jelas Kelvin.
"Vinn.. jujur, untuk saat ini memang aku masih sering memikirkan kehidupanku yang dulu bersama Karel, dan saat aku mengingatnya hatiku pasti sangat sakit, dan teringat betapa baiknya dia dulu bersamaku, tapi kalau aku mengingat lagi semua yang telah dia perbuat kepadaku, hatiku benar - benar menolak dan rasanya sangat di sayangkan kenapa dia sampai seperti itu, dia tidak mengingat bagaimana aku selama ini sama dia, dia tidak tau kalau aku sangat menyayanginya dulu, apa dia benar - benar tidak mengenalku sampai dia mempunyai tujuan untuk melecehkanku hanya karena cemburu pada mu orang yang baru saja akrab denganku?" Kataku menghela nafas panjang.
"Kalau saja aku tidak datang dan mencoba akrab denganmu mungkin semua ini tidak akan terjadi." Kata Kelvin menggenggam erat tanganku.
"Viinnn.. nggakk.. aku sudah pernah bilang, kalau ini bukan karena kamu, jangan salahkn diri kamu lagi." Aku mengelus rambut Kelvin dengan tanganku yang Kiri.
"Maafin aku Kirana, maafin akuuuu." Kata Kelvin mulai menangis.
"Kamu nangis? Ih kok cowok nangis sih.. mau tuh nanti di liatin orang." Aku meraba pipi Kelvin.
"Maaf Naaa." Kelvin mengambil tanganku lagi, sekarang dia mengenggam kedua tanganku.
"Udah yah Vin, aku nggak mau dengar kamu ngomong maaf lagi." Kataku dengan menggikan sedikit nada suaraku.
"Iyaa nggak lagii. Hmmm." Kelvin menghela nafasnya.
"Kita pulang yuk Naa, udah mulai gelap." Kelvin bangkit dari tidurnya.
"Oh iya Vinn, ayoo."
"Kamu tunggu sebentar yah Naa, aku masukin semuanya dulu ke mobil. Eh, aku anter kamu dulu deh masuk mobil." Kata Kelvin membantuku berdiri.
"Plinplan banget sih nih cowok." Kataku sedikit tertawa.
"Hahaha maklum yah bu." Kata Kelvin tertawa.
Setelah semuanya selesai, aku dan Kelvin masuk ke mobil, di perjalanan pulang Kelvin banyak diam tidak seperti tadi waktu kita berangkat, mungkin dia sedang memikirkan apa yang tadi aku ucapkan tentang Karel. Aku tidak tau kenapa dia juga tiba - tiba menanyakan hal itu. Aku ingin membuka pembicaraan tapi, aku tidak tau harus bilang apa.
"Kirana kamu mau singgah makan dulu nggak?" Tanya Kelvin.
Alhamdulillah seruku dalam hati, karena Kelvin sudah berbicara lagi.
"Kamu?" Tanyaku kembali.
"Yah, kalau kamu mau, kita bisa singgah di tempat makan yang tidak jauh dari rumahmu." Kata Kelvin.
"Ya udah aku mau Vin, aku juga udah laper." Kataku
"Kasiaaannn hahahah." Kata Kelvin mengelus rambutku.
"Sepertinya kamu sangat menyukai rambutku, kamu mau yah punya rambut panjang seperti ini?" Kataku menggoda Kelvin.
"Ih, apaan. Nanti aku ngalahin kecantikan kamu kalau aku juga punya rambut panjang." Kata Kelvin tertawa.
"Hahaaha, kamu tuh yahh. Tapi bisa sih, kalau kamu udah ngalahin aku, mungkin saja Karel bisa suka sama kamu Vin hahahhah." Aku tertawa terbahak - bahak.
"Waahhh, nggak jadi ah. Serem banget kalau Karel suka sama aku hahhaha." Kata Kelvin yang juga ikut tertawa.
Akhirnya suasana di mobil kembali seperti tadi, yang tidak tegang sama sekali.
"Kita sudah sampai Kirana, tunggu yahh aku bantu kamu turun." Kata Kelvin membuka pintu mobilnya dan keluar.
Aku dan Kelvin masuk ke dalam restoran fastfood yang letaknya tidak jauh dari rumahku, aku di bantu Kelvin melangkah sedikit demi sedikit.
"Kamu tunggu di sini, aku pesen makanannya dulu yahh." Kata Kelvin menarikkan kursi untuk ku duduki.
"Iya Vinn, makasih yahh."
"Ishh, makasih lagi. Nggak capek apa ngomong makasih heheh, oh iya kamu mau pesan apa Kirana?" Tanya Kelvin.
"Terserah kamu aja deh Vin, aku ikut kamu aja. Aku makan semua kok." Kataku.
"Okeyy tunggu di sini yahh." Kelvin meninggalkan aku untuk memesan makanan.
Saat itu aku benar - benar senang, ada Kelvin yang terus menghiburku, dia membawaku ke danau yang sangat aku sukai hingga aku lupa bahwa hari itu ada Karel yang mencoba masuk kembali ke Hidupku.
"I'm bacckkkk princesss." Seru Kelvin meletakkan semua yang dia bawa ke meja kami.
"Sssttt, orang - orang bisa dengar Vin, aku malu tau di panggil princes kayak gitu." Kataku memegang pipiku yang mungkin sudah mulai merah.
"Ih, biarin. Kenapa harus malu, aku nggak malu kok." Balas Kelvin.
"Hmmm." Aku menghela nafas.
"Hahaha, udah nggak usah menghembuskan nafas seperti itu, kamu kayak udah habis lari maraton aja hahhaah. Kita makan dulu yuk, nih aku bukain nasinya yahh, sini tangan kamu." Kata Kelvin mengambil tanganku dan memberiku sebungkus nasi.
"Ini nasinya, trus di sebelah kanannya ayamnya yang sudah aku potong - potongkan dan di sebelahnya lagi ada sambelnya." Kata Kelvin mengarahkanku.
"Iya Viinn, aku udah hafal. Makan sekarang yukk." Kataku melahap sesuap nasi yang ku pegang.
"Uhhh, anak pintar." Kata Kelvin memegang pipiku.
"Iiihhh, kamu kan udah pegang ayam. Kok pegang pipiku sih, nanti pipiku bau ayam dong." Seruku manja.
"Hahhaha nggak papa pipimu bau ayam, biar sekalian aku makan pipimu." Kata Kelvin lagi.
"Iiihhh seram banget kamu hahahah" kataku sambil memakan makananku.
Hp ku berdering, dan mengeluarkan suara "Mama memanggil" dan yahh itu dari Mama.
"Eh, Mama kamu Kirana, duh aku lupa ngasih tau kalau kita singgah makan dulu, pasti kamu di cariin deh, sini biar aku aja yahh yang angkat." Kata Kelvin.
"Speaker aja Vinn." Kataku lagi.
"Okeyyy, halo assalamualaikum tante.. ini Kelvin."
"Walaikumsalam... Oh, iya nak, kalian di mana ? Tante khawatir aja, karena belum pulang." Kata Mama dari telvon.
"Aku sama Kirana singgah makan dulu yah tante, di fastfood deket rumah kok. Maaf yah tante, aku nggak bilang dulu." Kata Kelvin.
"Marahin aja Maahh." Seruku sambil tertawa.
"Hahahah, jangan di marahin yahh tante. Habis makan aku langsung bawa Kirana pulang kok."
"Hahah iya Nak, nggak papa kok, tante malah seneng kamu ajak Kirana makan diluar. Kirana makan yang banyak yahh sayaaangg." Teriak Mama.
"Huu nggak di marahin kan? Hhaha okey tante makasih yahh, tunggu kami pulang." Kata Kelvin.
"Hahahah iyaa Maaa, byeeee."
Telvonnya pun di matikan, aku dan Kelvin melanjutkan makanan kami.
"Ehh, itu ceweknya buta yahh."
"Kayaknya sih, kasian banget cantik - cantik kok buta."
Tiba - tiba aku mendengar ucapan dari pelanggan yang mungkin berada di belakang atau di sekitarku.
=====