KIRANA POV
Pelanggan yang mengeluarkan ucapan seperti itu, terdengar sangat jelas di telingaku.
"Tapi pacarnya setia banget, nemenin ceweknya yang udah buta kayak gitu."
"Iya yahh, jarang - jarang loh ada cowok yang seperti itu, pasti kalau tau ceweknya udah buta, dia udah ninggalin dari dulu.
"Hahaha, ssttt jangan terlalu berisik nanti di dengar."
Hatiku sangat sakit mendengar semua yang mereka katakan, dan aku juga merasa sudah membuat Kelvin malu.
Krreeeettttttt... Kelvin menggeser kursinya.
"Bisa kalian nggak berbicara seperti itu?"
"Kalian ini punya hati atau nggak? Bisa - bisanga ngomong seperti itu dengan suara yang sangat jelas, kalian sengaja hah?"
"Atau mulut kalian perlu di jahit?"
"JAWAAABBBBB !!!!!! Kenapa kalian nggak jawab ??? KENAPA MALAH DIAM AJAA HAAAAHHH ????"
"Viiinnnn... Kelvin udah dong, jangan bikin keributan, nggak papa kok, mending kita pulang aja yukkk" kataku berusaha berdiri dari kursiku.
"Nggak Naaa, orang seperti mereka perlu di kasih tau yang mana yang bener yang mana yang salah." Kata Kelvin yang masih berada di sekitar mereka.
"Isshh, apaaan sihh.. lebay banget lo jadi cowok" kata salah satu dari mereka.
"APA LO BILANG ??? LEBAYYY ???? LO NGGAK TAU BAGAIMANA RASANYA BERADA DI POSISI DIA ???" Bentak Kelvin.
"Viiinnnn... udahh, aku mau pulang aja." Kataku sudah mulai menangis.
"Semoga aja kalian nggak pernah ngerasain seperti dia, semoga kalian sehat selalu." Kata Kelvin meninggalkan mereka.
"Ayo Naaa.." Kelvin memegang kedua bahuku dan berjalan keluar.
Aku dan Kelvin pun akhirnya masuk ke mobil.
"Haaaaahhhhhh, dasar cewek - cewek tukang gosip" Kelvin menghela nafas panjang.
Dia merogoh - rogoh kursi bagian belakang dan aku masih terisak.
"Kirana kamu minum dulu yahh, tenangin diri kamu." Kelvin memberiku air dan mengelus - elus rambutku.
"Maafin aku yah Vin, aku sudah buar kamu malu, aku memang salah kenapa mau diajak makan di luar, seharusnya aku menolak seperti aku tadi menolak ajakan Mama dan Papa. Aku memang nggak tau diri." Kataku dan tangisku mulai menjadi - jadi lagi.
"Kiraanaaa... ini bukan salah kamuu.. tenang yahh.." kata Kelvin memelukku dan menepuk - nepuk bahuku.
Rasanya sangat nyaman, aku terus menangis di pelukan Kelvin.
"Kita pulang sekarang yahh." Kata Kelvin melepaskan pelukannya.
Aku hanya bisa mengangguk.
Kelvin pun mengantarku pulang.
"Assalamualaikum, kami sudah pulang tante." Kata Kelvin membuka pintu rumahku.
"Kok cepet banget? Kan nggak papa kalau lama." Kata Mama menggoda aku dan Kelvin.
"Hehe, Maa anter aku naik dulu yuk, Aku mau istirahat." Kataku datar.
"Ehmm, Vin makasih banyak yah hari ini. Kamu hati - hati baliknya." Aku pamit ke atas.
"Iya Kirana, istirahat yahh." Kata Kelvin.
"Vin tunggu tante sebentar yah, tante mau bicara sebentaran sama kamu. Boleh kan?" Kata Mama.
"Iya tante, boleh kok. Aku tungguin di sini yah." Kata Kelvin langsung menyandarkan badannya ke sofa.
Aku di antar ke kamar bersama Mama, sebenarnya aku bukan mau istirahat, cuma saja aku ingin menenangkan fikiranku, aku tidak enak sama Kelvin sudah membuatnya malu, pasti sekarang dia sangat menyesal sudah mengajakku makan bersama di luar.
*****
AUTHOR POV
Ny. Kartika
"Kelvin, apa sebenarnya yang terjadi? Tante lihat mata Kirana sembab. Apa kalin bertengkar?" Tanya Mama Kirana.
"Hmmmm.. nggak tante, aku dan Kirana tidak bertengkar. Mungkin aku yang salah membawanya makan di luar." Kata Kelvin.
"Memangnya kenapa Kelvin? Coba jelaskan baik - baik nak." Kata Mama Kirana.
"Eh, Kelvin belum pulang nak? Kirana mana?" Kata papa Kirana yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Mama udah anter Kirana ke kamarnya, kata pengen istirahat." Kata Mama Kirana.
"Belum om, sebentar lagi." Kata Kelvin.
"Sini Paah, ikutan ngobrol sebentar sama Kelvin." Kata Mama Kirana menepuk sofa yang di sampingnya.
"Oh, memangnya ada apa?" Tanya Papa Kirana duduk di samping istrinya.
"Jadi gini, tadi tuh waktu pulang, mama lihat mata Kirana sembab gitu, Mama kira Kelvin dan Kirana habis bertengkar." Jelas Mama Kirana.
"Hah? Iya? Terus kenapa Vin?" Tanya papa Kirana lagi.
"Jadi gini Om.. Tante.. tadi kan Kelvin ngajak Kirana makan di fast food deket sini, ....
"Hah? Kirana mau di ajak makan di luar?" Tanya Papa Kirana.
"Papa ihhh, biarkan Kelvin menyelesaikan apa yang ingin dia bilang dulu. Jangan di potong - potong begitu." Kata Mama Kirana memukul pelan paha suaminya.
"Iyaa iyaaa."
"Hehee.. iya jadi tadi Kelvin ajak Kirana makan, dia mau kok Om.. Tantee.. awalnya baik - baik aja, Kirana kelihatan senang, dan memakan makanannya dengan semangat. Tapi ada pelanggan yang berbicara kasar di belakang kami, mereka bilang cantik - cantik kok buta, makanya Kirana menangis Om.. tantee.. maafin Kelvin Om.. Tantee.."
"Ohh begituu.. hmm.. kamu nggak salah Kelvin, kamu sudah berusaha menghibur Kirana, orang - orang itu yang nggak punya hati. Kasian Kirana Paahh." Kata Mama Kirana menyenderkan kepalanya ke bahu suaminya.
"Iya mungkin karena itu tadi Kirana nggak mau di ajak makan di luar Maa, Kirana nggak mau di perhatikan sama orang - orang." Kata Papa Kirana.
"Ya sudah nggak papa Vinn.. biarkan Kirana istirahat saja dulu, mungkin dia butuh waktu sendiri." Kata Mama Kirana.
"Iya Om.. tante.. sekali lagi Kelvin mknta maaf." Kata Kelvin.
"Nggak perlu minta maaf Kelvin.. justru kami yang harus berterima kasih sama kamu nak. Karena kamu sudah mau menemani Kirana saat ini, sudah sangat sabar menemaninya dengan keadaannya yang sekarang." Kata Papa Kirana.
"Iya Om.. hmm kalau gitu Kelvin juga pamit pulang dulu yah Om.. tantee.." kata Kelvin.
"Oh, iya nak. Sudah malam juga, kamu hati - hati yahh nak." Kata Mama Kirana.
"Iya Om.. tante.. Assalamualaikum.." Kelvin berdiri keluar menuju mobilnya.
*****
Kelvin pun pulang ke rumahnya, di perjalanan dia terus memikirkan apa yang barusan terjadi.
Kelvin masuk ke kamarnya yang begitu luas, dia mengambil handuk dan segera masuk ke kamar mandinya, dia segera menyalakan shower air panas dan menghangatkan air di bathubnya. Kelvin pun mulai merendamkan dirinya ke dalam air hangat.
"Huuaahhh rasanya sangat nyaman, air hangat ini membuatku sangat segar. Sepertinya aku harus berendam lama di dalam sini." Gumamnya.
"Sepertinya aku harus menelvon Sherill dan menceritakan semua yang terjadi." Kelvin mengambil hpnya yang ada di dekatnya.
"Halo.. Sherilll ???"
"Whaaatttt ??? Ngapain lo nelvon gue malam - malam begini. Malam minggu lagi, ganggu aja lo."
"Ckckckckk, galaknya nih orang. Lo sibuk nggak sih Rill? Gue pengen cerita nih."
"Yahhh, tergantung.."
"Tergantung apaan?"
"Tergantung cerita lo penting atau nggak."
"Penting Sherill, ini soal Kirana."
"Hah? Soal Kirana? Kenapa? Cerita Lo cepetan."
"Tunggu yahh, gue matiin air dulu."
"Wahh, Lo masih kebiasaan yah mandi malam begini? Jangan bilang Lo berendam lagi di bathub Lo itu?"
"Hahahah, iyaa.. pakai air hangat kok, gue butuh kenyamanan sekarang."
"Idih kenyamanan kok berendam di bathub."
"Tubuh gue tuh, segar kalau lagi berendam gini."
"Iya iya, yaudah cepetan cerita, Kirana kenapa?"
"Gini Rill, tadi kan gue ke rumah Kirana. Terus ngajakin dia ke danau yang ada di deket rumahnya dia, terus gue ajak makan di restoran fast food yang deket rumahnya juga."
"Duhhh, lo mau cerita kalau Lo habis jalan - jalan sama Kirana dan Lo nggak ngasih tau gue? Nggak ngajakin gue?"
"Ya Ampun denger dulu nenek sihir, bener - bener yah nih cewek hahahaa."
"Sialan Lo hahahah, terus apaan dong?"
"Tadi pas di restoran, ada cewek yang ngomong di dekat meja kita, katanya cantik - cantik kok buta, ih kasihan pacarnya mau aja sama cewek buta, pokoknya gitu deh intinya, terus Kirana denger, aku nggak tega liat dia seperti itu, jadi aku marah - marah ke cewek itu"
"Waahhh, gimana ceweknya? Lo ingat nggak mukanya? Sialan harus dikasih pelajaran tuh orang? Nggak punya hati atau gimana dia? Ckckckckk."
"Sherill bukan itu masalahnya, gue kasian sama Kirana, pasti sekarang dia nangis memikirkan itu, terus dia nggak mau di ajak keluar lagi sama gue, karena nggak enak sama gue. Tadi dia sempet ngomong, dia minta maaf katanya udah bikin malu gue, karena gue di kira pacarnya sama cewek - cewek itu."
"Duhh Kirana, dia selalu saja memikirkan orang lain dulu, nggak pernah memikirkan perasaannya lebih dulu."
"Gimana dong Sherill? Dia pasti nggak mau lagi deh aku ajak kemana - mana karena cewek - cewek tadi. Haaaahhhhhh, sialan tuh cewek."
"Hahahha, tenang - tenang. Sekarang mendingan kamu biarin Kirana tenang dulu, biarkan dia berfikir, dia nggak mungkin nggak mau di ajak pergi sama Lo, dia hanya butuh waktu."
"Lo yakinkan Sherill?"
"Iya gue yakin, tenang aja. Emang bener sih, tuh cewek - cewek tadi harus dikasih pelajaran, lo harus simpen baik - baik tuh muka cewek - cewek sialan yang nyakitin Kirana di memori ingatan Lo, semoga nanti ketemu gue."
"Hahahah semoga aja. Emang kalau ketemu sama Lo, mau lo apain?"
"Mau gue jambak - jambak rambutnya dan bikin malu dia di depan umum."
"Hahahha, jahat banget sih Lo.. mending nggak usah, mending di doain aja biar dia sehat terus dan nggak ngerasain apa yang Kirana rasakan saat ini, pasti Kirana juga mau seperti itu."
"Iya sih, Kirana paling nggak suka kalau ngeliat kami berbuat jahat sama orang lain. Padahal kan kira berbuat jahat sama orang yang jahatin kita aja."
"Kirana emang cewek yang baik."
"Lo suka sama Kirana?"
"Haahhh?? Ehh Rill gue selesaiin mandi gue dulu yahh. Makasih udah denger curhat gue hahhaha. Dan kalau bisa lo telvon kirana sekarang, coba hibur dia."
"Hooiii hoiii.. Lo belum jawab pertanyaan guee kamprettt."
"Hahahha, byeee Sherilll. Thank you sepupuku yang paling cantik."
Tuuuttt tutttt tuuuttttt....
Kelvin pun mengkhiri telvonnya bersama Sherill dan melanjutkan mandinya.
"Hahahah, sherill ada - ada aja deh." Gumam Kelvin.
SHERILL
Sherill, gadis cantik berambut lurus pendek sebahu, tingginya sekitar 160 cm, berkulit sawo matang. Sherill adalah sahabat terlama Kirana, Sherill dan Kirana sudah berteman sejak Sekolah Dasar, dan dulu mereka juga sempat bertetanggaan. Hanya saja waktu Sekolah menengah pertama, Keluarga Sherill harus pindah ke kota bandung karena pekerjaan ayahnya, tetapi Sherill dan Kirana tidak pernah putus kontak, mereka selalu menanyakan kabar setiap minggunya, dan ketika dia mulai masuk Sekolah Menengah Atas dia kembali ke jakarta, dan masuk di sekolah yang sama dengan Kirana. Dari situlah mereka berdua, menjadi semakin dekat dan bersahabat sampai sekarang.
Malam itu, setelah Sherill di telvon oleh Kelvin, dia tidak langsung menelvon Kirana. Karena Sherill tau, kalau Kirana butuh waktu sendiri dulu. Sherill menelvon teman - temannya dan mendiskusikan soal ini bersama teman - temannya yang lain. Sherill memberitahu semua yang di katakan Kelvin ke Gadis, Gina, dan juga Dinda. Sherill melakukan panggilan grup.
"Hikss hiks hiks kasian Kirana, orang mana yang tega berkata seperti itu, kenapa mereka bisa tidak punya hati seperti itu." Kata Dinda.
"Terus sekarang gimana keadaan Kirana Rill? Pasti saat ini dia sangat sedih, dan terus memikirkan ucapan cewek tadi." Kata Gadis.
"Aku yakin Kirana baik - baik aja, dia gadis yang kuat. Hanya saja mungkin dia tidak ingin lagi keluar, dan mulai mengurung dirinya lagi di kamarnya." Kata Sherill.
"Kita nggak boleh membiarkan Kirana, seperi itu lagi guyss, nggak boleh." Kata Gina.
"Iya bener, sekarang Kirana sudah mulai membaik, kita tidak boleh membiarkan dia terpuruk lagi." Kata Gadis.
"Gimana kalau kita telvon dia juga sekarang? Kita pura - pura nggak tau aja apa yang terjadi." Kata Dinda.
"Iya juga sih, dari pada membiarkan dia berlarut dalam kesedihannya mending kita hibur dia sekarang." Kata Gina.
"Hmmm.. baiklah.. aku coba sambungkan ke dia yahh." Kata Sherill.
"Nggak di angkat guysss" Kata Sherill.
"Coba sekali lagi Rill, kalau sampai tiga kali nggak di angkat yaudah nggak usah ganggu dia dulu."
"Ya udah aku coba lagi yahh."
"Ehh, halo?? Halo Kirana?" Kata Sherill lagi.
"Iya halo Sherill.. kenapa nelvon jam segini?"
"Oh, kamu udah tidur yahh? Maaf yahh kalau ganggu."
"Nggak kok, aku belum tidur. Penasaran aja kamu menelvon jam segini."
"Heheheh, kita pengen cerita - cerita aja. Melewati malam minggu yang menyedihkan ini hahaha."
"Kita?" Tanya Kirana.
"Guyssss kok diem aja sih hahaha." Kata Sherill.
"Lagi nunggu momen yang tepat untuk masuk hahahha." Kata Dinda.
"Panggilan grup yahh? Wahh seneng banget bisa denger suara kalian di telvon begini, rasanya kita sudah lama tidak melakukan ini." Kata Kirana.
"Iya nih, sekalian malam minggu kan. Kasian kita semua nggak punya pacar hahhaha." Kata Gadis
"Kalian cari dong pasangan, biar kalian bisa pergi malam mingguan, seperi orang - orang di luar sana." Kata Kirana.
"Itu tuh si Gina udah ada yang deketin Naa, tapi nggak tau kenapa dia belum pacaran sama cowok itu." Kata Dinda.
"Ihhhh Dinda apaan sihh, nggak ada yahh." Kata Gina.
"Iyaa?? Siapa cowoknya? Anak di kelas kita?"
"Bukaann Naa, itu Lo sih Dika anak kelas Dua tiga." Kata Sherill.
"Ih kalian ini, gue malu tau."
"Hahhah kenapa malu sama aku sih, ohh itu yahh yang rambutnya lurus kan? Dia ganteng tau Gin.. dari dulu kan emang suka sama kamu."
"Iya nihh, Gina jahat banget gantungin orang udah hampir 3 bulan hahah."
Mereka semua menghabiskan malam minggunya dengan mengobrol hal yang tidak begitu penting, Kirana pun sejenak melupakan hal yang menyakitkannya tadi, dan tidur dengan tenang.
=====