- AUTHOR POV -
Setelah Ibu Kartika menghubungi Karel untuk menyuruh Karel datang ke rumahnya, tidak lama kemudian Karel datang dengan wajah yang senang karena di izinkan untuk bertemu dengan Kirana dan Kirana juga mau bertemu dengannya.
“Assalamualaikum.” Sapa Karel setelah membunyikan bell rumah Kirana.
Pak Adi yang sudah melihat dari cctv bahwa Karel yang datang, langsung berdiri dan bergegas keluar.
“Loh Mas Karel ngapain datang lagi ke sini? Saya kan sudah bilang—”
“Pak Adi maaf, Karel datang ke sini karena di suruh sama Tante Kartika.” Kata Karel
Ibu Kartika yang mengetahui bahwa Karel sudah datang, dia pun keluar dari pintu ruang tamunya.
“Pak Adi, iya saya yang suruh Karel datang. Masuk sini Karel.” Teriak ibu Kartika dari depan pintu ruang tamunya.
“oh, Ya Allah maaf Mas. Saya tidak tau kalau mas di suruh datang ke sini.” Ujar Pak Adi.
“Hahahah.. nggak papa kok Pak. Karel udah biasa.” Ujar Karel yang memang sudah biasa di perlakukan seperti itu setiap datang ke rumah Kirana.
Pak Adi jadi tidak enak memandang Karel, Pak Adi merasa bersalah karena hampir saja memarahi Karel.
Karel berjalan masuk ke dalam rumah Kirana dengan membawa dua Box Cupcake kesuakaan Kirana.
“Assalamualaikum, permisi tante.” Karel perlahan masuk ke dalam dan menyodorkan Box Cupcake di tangannya.
“Walaikumsalam, duduk Karel. Apa lagi itu yang kamu bawa? Tante kan udah bilang kalau jangan memberikan Kirana apa – apa lagi.” Ujar Ibu Kartika melihat ke arah box cupcakenya.
“Ini Cuma kue kok tante, di perjalanan ke sini tadi aku baru beli karena ingat ini kue kesukaannya Kirana.” Ujar Karel.
“Hmmm.. Kamu ini sudah di bilangin—”
“Maahh, Mama masuk aja yahh. Biar Kirana yang bicara dengan Karel.” Ujar Kirana yang baru saja turun dari kamarnya.
“Ya udah, selesaikan masalah kalian berdua dengan baik.” Ibu Kartika pun meninggalkan Karel dan Kirana tapi tetap ada di ruang tengah agar bisa mendengar percakapan Karel dan Kirana. Maklum lah yahh ibu – ibu emang kepo hahaha.
“Iya Maa..”
“Karel, makasih kamu sudah mau datang ke rumahku. Maaf kalau maksud aku mengundang kamu hanya untuk mengembalikkan barang pemberian kamu kemarin.” Ujar Kirana memegang box kalung yang di berikan Karel.
“Nggak papa kok Naa.. Aku memang yang salah, harusnya aku sadar kalau kita nggak ada hubungan apa – apa lagi, dan tidak memberikan mu hadiah yang seperti ini.” Ujar Karel tersenyum pasrah.
“Iyaa.. aku mohon sama kamu untuk tidak memberiku barang – barang lagi Karel. Ini yang kemarin.” Ujar Kirana menjulurkan tangannya meskipun tidak tau Karel duduk di sebelah mana.”
“Iya Naa.. aku nggak akan melakukan itu lagi kalau memang kamu tidak menyukainya.” Ujar Karel mengambil box itu dari tangan Kirana.
“Karel aku bukan tidak menyukainya, tapi kita sudah tidak ada hubungan apa – apa lagi. Dan yang lebih penting kita berpisah bukan karena masalah sepele. Aku harap kamu mengerti apa yang aku maksud Karel. Dan percuma juga kalau kamu terus memberiku barang – barang seperti itu, aku juga tidak akan bisa memakainya lagi.”
“Iya Kirana aku mengerti, maafkan aku.” Ujar Karel pelan.
“Kamu nggak usah minta maaf Karel. Sudah kan ya? Lebih baik kamu pulang sekarang.” Kirana berdiri dari tempat duduknya.
“Naa, tunggu.. Boleh aku duduk sebentar lagi, aku kangen kamu Naa.” Ujar Karel menahan Kirana untuk berdiri.
“Maaf Karel, aku nggak bisa. Kamu pulang aja yah, makasih banyak atas niat baik kamu sudah memberiku hadiah itu dan makasih banyak kamu udah mau datang ke sini untuk mengambilnya kembali.” Ujar Kirana.
“Hmm baiklah Naa.. Aku permisi pulang yah. Tolong sampaikan ke mama mu kalau aku pulang Naa.” Kata Karel.
“Iya hati – hati.”
Karel pun berdiri dari sofa dan berjalan keluar sebelum sampai di pintu pagar rumah Kirana, tiba – tiba Bell rumah Kirana berbunyi. Dan yang datang adalah Kelvin.
“Assalamualaiku.. Pagi Pak Adiiii..” Sapa Kelvin.
“Pagi Mas Kelvin.” Balas Pak Adi melihat ke arah Karel yang sedang memakai sepatunya.
Kelvin langsung melihat kearah Karel yang duduk di teras rumah Kirana.
“Ohh, Haii Karel.. udah mau balik?” Tanya Kelvin kaget, karena tidak tau harus berkata apa lagi untuk menyapa Karel.
“Iyaa.” Jawab Karel datar.
Karel pun berdiri dari tempat duduknya.
“Have fun yah Bro.” Karel menepuk Pundak Kelvin.
Kelvin jadi tidak enak dengan Karel, dan tidak mengerti apa maksud dari ucapan Karel.
“Karel tungguuu.” Teriak Kelvin mengejar Karel keluar.
“Ada apa? Kenapa ngejar gue. Masuk lah, Kirana pasti sudah menunggumu di dalam.” Ujar Karel membuka pintu mobilnya.
“Gue mau ngomong sebentaran sama Lo.” Kelvin menahan pintu Mobil Karel.
“Lo mau ngomong apa sih? Gue nggak ada waktu.”
“Gue suka sama Kirana.” Ujar Kelvin tertunduk.
“Gue udah tauu.” Balas Kelvin.
“Tapi ini nggak seperti yang Lo fikirkan, gue baru menyadari perasaan gue akhir – akhir ini. Bukan waktu Lo masih jadian sama Kirana.” Jelas Kelvin.
“Iya gue udah tau, gue udah tau kalau Lo bakalan suka sama Kirana. Cowok mana yang udah dekat dengan Kirana tapi tidak menyukai Kirana. Lo beruntung bisa ada di samping Kirana seperti ini.” Ujar Karel.
“Maaf kalau gue salah Karel. Gue benar – benar nggak bermaksud untuk merebut Kirana dari Lo. Semua ini berjalan begitu saja. Awalnya gue hanya kagum sama Kirana, tapi lama – kelamaan gue dekat sama dia, gue yakin kalau perasaan gue ini bukan hanya sekedar kagum, tapi udah lebih dari kagum.” Ujar Kelvin lagi.
“Finee.. firasat gue emang nggak pernah salah. Kirana adalah gadis yang baik, gue yang salah sudah memperlakukan Kirana seperti itu, gue yang salah udah menyia – nyiakan Kirana dan semuanya udah nggak bisa di ulang lagi. Gue harap Lo bisa menjadi cowok yang bisa menjaga Kirana dengan baik, dan semoga Kirana bisa Bahagia sama Lo Kelvin.” Kata Karel menutup kembali pintu mobilnya, dan sandar di pintu mobilnya.
“Gue nggak mau berjanji untuk bisa melakukan itu semua, tapi gue akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Kirana.” Ujar Kelvin.
“Kirana sudah tau kalau Lo suka sama dia?” Tanya Karel.
“sepertinya Kirana nggak tau. Dan gue juga tidak berniat untuk memberitahu Kirana sekarang, biarkan ini semua berjalan dengan apa adanya. Biarkan Kirana sadar sendiri dengan perasaan gue nantinya. Gue nggak mau membebani Kirana dengan perasaan gue, gue takut kalau respon Kirana tidak seperti yang gue harapkan. Sudah cukup beban Kirana memikirkan kehidupannya yang sekarang yang tidak bisa melihat, kehidupannya yang sekarang selalu membuatnya menangis. Gue tau kalau dalam hati Kirana sangat sedih, dia hanya menutupi kesedihannya di tengah – tengah kita semua.” Jelas Kelvin.
Tidak sadar mendengar ucapan Kelvin, hati Karel merasa sangat bersalah atas apa yang sudah dia perbuat. Karel juga tidak menyangka, bahwa kecelakaan itu bisa membuat penglihatan Kirana hilang.
“Rel? Lo Nangis?” Tanya Kelvin karena Karel tidak membalas ucapannya dan mendengan Karel tersedu – sedu.
“Ah? Nggak.. Gue merasa sangat bersalah dengan Kirana, gue nggak tau harus berbuat apa untuk menebus kesalahan gue, Gue sangat menyesal atas apa yang sudah gue perbuat. Gue sangat putus asa Kelvin.” Ujar Karel.
“Nasi sudah menjadi bubur Karel, mungkin sekarang Lo lebih baik menuruti kemauannya Kirana aja untuk tidak mengganggu hidupnya lagi. Agar dia perlahan – lahan bisa melupakan semua yang terjadi, karena mungkin aja kalau Lo datang ke untuk menemuinya lagi, ingatan kecelakaan itu akan muncul lagi di ingatan Kirana.” Ujar Kelvin
“hmmm.. iya mungkin Cuma itu saja yang bisa aku lakukan. Tapi kalau boleh jujur, perasaan gue juga belum bisa hilang. Tiap hari gue berusaha untuk melupakan Kirana, rasanya sangat sulit Kelvin. Mungkin ini karma yang di berikan Tuhan sama gue.” Ujar Karel menyeka matanya.
“Semoga Lo bisa bangkit lagi Karel, gue tau Lo adalah cowok yang kuat. Dan gue yakin suatu saat nanti Lo akan mendapatkan kebahagiaan seperti dulu lagi atau mungkin bisa lebih dari saat Lo bersama Kirana.” Ujar Kelvin.
“Yoi Bro.. Thank you, gue juga minta maaf karena dulu gue sempat nyalahin Lo, karena datang di kehidupannya Kirana. Sekarang gue sadar, mungkin ini yang terbaik yang Tuhan berikan untuk gue dan Kirana. Kirana di pisahkan oleh orang yang nggak baik seperti gue.” Ujar Karel.
“Its ok.. gue juga nggak masalah kok. By the way itu hadiah yang Lo berikan kemarin yah untuk Kirana?” Ujar Kelvin menunjuk box yang sedang di pegang Karel.
“Oh, iya.. Kirana nggak mau terima barang dari gue lagi. Harusnya gue sadar juga sih, kenapa gue tetap ngasih hadiah ke Kirana kalau gue udah nggak sama – sama lagi dengan dia. Gue udah kebiasaan untuk menyiapkan hadiah ulang tahun buat Kirana, yah meskipun hubungan gue dengan Kirana berjalan dua tahun, tapi gue sering ngasih surprise kecil untuk Kirana. Dan Kirana suka itu.” Karel terus memperhatikan box itu.
“Maaf Rel, tadi malam gue sempat senang karena Kirana nggak mau terima hadiah dari Lo, tapi sekarang gue sadar gue harusnya nggak seperti itu. Maaf yah Karel, gue nggak tau apa yang Lo rasakan.” Ujar Kelvin.
“hahaha.. nggak papa kok.. Wajar Lo seneng, gue kan mantannya Kirana. Hahaha.” Karel sedikit tertawa.
“Terus itu mau Lo apain?” tanya Kelvin.
“Yahh, kalau nggak gue simpen mungkin gue jual kembali aja hahah.”
“hahaha, lebih baik Lo jual kembali aja, biar Lo nggak rugi – rugi amat. Hahaha.”
“hahah iya, nanti gue jual aja. Thanks yahh Vin, Lo udah dengerin keluh kesahnya gue. Kayaknya gue harus balik sekarang.” Ujar Karel berdiri dari sandarannya.
“Oh, iyaa.. hati – hati Bro. Maafin gue sekali lagi Rel, kalau gue banyak salah sama Lo.” Kelvin juga berdiri dari sandarannya.
“Santai bro.. Gue nggak papa kok, gue cabut yahh.. Lo masuk gih, Kirana pasti udah nyariin Lo dari tadi.” Karel membuka pintu mobilnya lalu masuk kedalam mobilnya.
Setelah hampir setengah jam Kelvin berbicara dengan Karel, Kelvin kembali masuk ke dalam rumah Kirana.
“Mas Kelvin dari mana aja?” Tanya Pak Adi.
“Habis ngomong sama Karel pak.” Jawab Kelvin.
“Ohh.. gimana Mas Kerel Mas? Pasti dia sekarang lagi galau lagi yah?” Ujar Pak Adi sambil menyapu halaman rumah Kirana.
“Yahh, begitu lah Pak.. Kayaknya Karel belum bisa move on Pak. Terus Kelvin juga merasa bersalah sama Karel pak, Kelvin selalu merasa bersalah dengan hubungan Karel dan Kirana.” Ujar Kelvin.
“Loh kenapa seperti itu Mas Kelvin? Pak Adi udah tau semuanya kok, menurut pak Adi Mas Kelvin nggak boleh nyalahin diri Mas Kelvin seperti itu. Mungkin sudah banyak orang yang bilang seperti ini sama Mas Kelvin. Iya kan?” Ujar Pak Adi.
“Iya semua orang yang tau kejadiannya, udah bilang kayak gitu ke Kelvin. Tapi tetap aja Kelvin dalam hati Kelvin selalu muncul rasa bersalah.” Jawab Kelvin yang sudah duduk di kursi taman Kirana.
“Atas dasar apa sih Mas Kelvin merasa bersalah? Mas Kelvin nggak ada salah apa – apa di kejadian yang menimpa Mba Kirana dan Kelvin.” Ujar Pak Adi.
Kirana dari tadi mendengar percakapan Kelvin dari balik pintu ruang tamunya.
=====