Episode 60

1779 Kata
- Kirana POV - Pagi yang cerah menyinari kamarku, aku bisa merasakan sinar matahari menembus jendela kamarku. Aku terbangun dengan perasaan yang tidak seperti biasanya. Pagi itu rasanya tubuhku sangat sehat, perasaanku sangat Bahagia. Rasanya kemarin adalah waktu yang paling berharga dalam hidupku dan ingin ku ulang lagi. Sekarang aku sudah tidak bersama Karel lagi, selama dua tahun tekahir ini aku pasti merayakan ulang tahunku bersama Karel. Karel selalu memberikan kejutan yang sangat – sangat istimewa untukku, selalu ada sesuatu yang dia siapkan untukku. Aku hanya mengingat kenangannya bersamaku dulu di saat ulang tahunku, aku sama sekali tidak merindukannya. Aku berdiri dari tempat tidurku, mencari ponselku. Aku ingin menghubungi Karel untuk mengambil kembali hadiah yang telah dia berikan padaku kemarin, kebetulan hari ini adalah hari libur. Aku tidak akan mengganggu waktunya. Tapi aku baru sadar bahwa aku sudah mengganti nomor ponselku, agar Karel tidak menghubungiku lagi. Jadi aku mencari tongkatku, berjalan keluar kamar dan perlahan menuruni anak tangga dari kamarku. “ehh, kamu udah bangun sayang?” Tanya Mama menghampiriku dan membantuku untuk turun. “Pagi Maa.. iya nih, rasanya tidurku sangat nyenyak. Badanku jadi segar bugar pagi ini.” Sapaku. “Alhamdulillah.. harus begitu tiap hari yah sayang. Supaya kamu terus sehat. Kamu mau sarapan apa?” Tanya Mama menuntunku ke meja makan. “Makan roti buatan mama aja, sama s**u strawberry yah Mama. Makasihhh mama..” Aku memeluk Mama yang masih berdiri di sampingku. “Hahahah.. belum juga mama bikini udah makasih aja.” Ujar Mama mengelus rambutku. “ehehe.. Papa mana Maa?” Tanyaku karena dari tadi tidak mendengar suara Papa. “Papa lagi pergi bermain golf sama rekan – rekan kantornya.” Jawab Mama. “Ohhh.. ehh Maa, Kirana mau telvon Karel pakai telvon rumah, bantuin yah.” “Karel? Karel atau Kelvin?” Tanya Mama. “Karel Maa.” “Loh kenapa kamu mau telvon Karel?” “Aku mau minta dia datang kesini untuk ambil hadiah yang udah dia kasih ke aku sebagai hadiah ulang tahunku kemarin Maa. Aku nggak mau menerima apapun lagi dari Karel, Aku udah benar kan Ma?” Tanyaku . “Oh, dia ngasih kamu hadiah juga? Kok mama nggak tau sih? Kemarin kan dia nggak datang?” “Dia nitip sama Sherill Maa. Tadinya Sherill juga nggak mau ambil titipannya, tapi kata Gina ambil aja. Kasian Karelnya, nanti kan urusan aku mau menerima atau nggak. Jadi, Sherill ambil aja.” “Ohh, gituu.. Ya udah sih Nak, kalau itu yang kamu mau, balikin aja. Menurut mama juga kamu nggak usah sih menerima pemberian dia lagi.” Ujar Mama memberiku segelas s**u sembari mengambil tanganku agar aku mengetahui kalau s**u yang di buat mama sudah jadi. “iya Kan Maa balikin aja? Nggak papakan?” Tanyaku lagi. “Emang apaan Mba yang mas Karel kasih ke Mba? Kasih ke Bibi aja Mbaa, biar bibi yang ambil. Hehehe.” Ujar Bibi yang ntah dari mana datangnya. “hahaha, jangan Bi. Nanti Karel fikir aku masih mau menerima hadiah darinya, dan dia bakalan terusin untuk memberi Kirana barang – barang lagi. Kirana nggak mau itu Bi.” Ujarku sambil meminum s**u strawberry buatan Mama. “Iya nihh bibi, ada – ada aja.” Kata Mama. “Hehehe.. kan dari pada mubazir Buu.” Ujar Bibi. “Hahah.. bibi bibi..” “Maa, telvon Karelnya sekarang aja kali yah?” Tanyaku. “Oh, iya Nakk. Sini mama bantu pencetin nomornya. Mana ponsel kamu, mama mau liat nomornya.” Kata Mama mendekatiku. “Ini Maa..” Aku memberikan ponselku ke mama. “Eh, ada pesan kamu nih dari Kelvin.” Kata Mama. “buka aja Maa, Kelvin bilang apa?” “Oh tadi malam nih sayang. Katanya Haii, Kirana.. kamu sudah tidur belum? Aku harap kamu mengetahui adanya pesanku ini. Aku mau bilang, mungkin sekarang bagi kamu aku masih menjadi orang asing buatmu, karena aku tiba – tiba masuk ke kehidupanmu dan mencoba mengakrabkan diri denganmu. Meskipun begitu, aku tetap bersyukur bisa mengenal seorang wanita seperti kamu, perempuan yang menurutku benar – benar cantik, tidak hanya cantik akan parasmu tapi kamu juga mempunyai kecantikan hati yang selalu memikirkan perasaan orang lain, tidak egois. Aku benar – benar kagum denganmu Kirana. Aku akan berusaha untuk selalu ada di dekatmu karena kamu membuatku nyaman setiap kali akua da di dekatmu, kalaupun suatu saat nanti kamu udah bosen kalau aku terus – terusan ada di dekatmu, ku harap kamu dapat mengatakan kalau kamu sudah tidak ingin di ganggu olehku, tidak menghilang tiba – tiba dan merubah sikapmu terhadapku. Tapi aku berdoa semoga kamu tidak pernah bosan denganku, ku harap kamu juga selalu senang saat bersamaku hehe.. . Sekali lagi Happy birthday yah Kiranaaa.. Semoga kamu selalu Bahagia.” Aku mendengar isi pesan dari Kelvin dan di bacakan langsung oleh mama, aku sangat malu dan tidak bisa menyembunyikan wajahku yang mungkin sekarang sudah sangat merah. “Auuuu.. Mas Kelvin romantis banget Mba Kirana.. ya Ampun nggak nyangka deh bibi.” Seru Bibi. “Aduhhh iya nih.. kelvin kok  sweet banget gini sih. Mama jadi iri deh, papa tuh nggak pernah sweet gini Naa.” Ujar Mama. “Ehmmm.. Kirana juga nggak tau Maa, kenapa tuh anak sweet seperti itu.” Jawabku malu. “issh isshh isshh anak mama kok jadi salah tingkah gitu sih hahaah. Kamu sekarang udah percaya kan sama omongan mama dan papa kalau Kelvin itu suka sama kamu?”  Tanya Mama. “Maa, apa dengan pesan seperti itu bisa di bilang Kelvin suka sama aku? Di isi pesannya aja, Kelvin hanya kagum sama aku Maa.” Tanyaku karena aku sendiri belum yakin kalau Kelvin benar – benar suka denganku. “Aduuhh Mba Kirana ini bagaimana sih, itu sudah sangat jelas kalau Mas Kelvin suka sama Mba Kirana. Kok Mba Kirana malah ragu seperti itu, Mba Kirana ini nggak peka banget deh. Seru Bibi. “Tuhh.. Bibi aja bisa langsung tau kalau Kelvin suka sama kamu. Bibi tuh bener, belum lagi kalau di lihat – lihat sikapnya Kelvin ke kamu itu sangat berbeda sayang. Mama kan udah pernah bilang sama kam., Kelvin itu sangat menyukaimu Kirana sayang.” Ujar Mama kembali duduk di sampingku. “Tapi Kirana buta Maaa Biii. Nggak mungkin kelvin suka sama orang buta, mungkin aja dia seperti sahabat – sahabat Kirana yang lainnya. Kelvin hanya ingin bersahabat denganku.”  Ujarku. “Mba Kirana percayakan dengan cinta  sejati, cinta yang menerima pasangannya apa adanya. Semuanya pasti udah di atur sama yang di atas Mbaa. Jadi mba Kirana tidak perlu selalu memikirkan bahwa tidak mungkin ada yang menyukai Mba Kirana dengan keadaan Mba Kirana seperti itu.” Ujar Bibi. “Bener sayang.. Bi Sri sangat benar, banyak kok orang di luar sana yang pasangannya tidak sempurna. Buktinya juga sekarang  Karel masih suka kan sama kamu, Karel masih berusaha untuk bersama kamu.” Ujar Mama. “Tapi Karel mungkin seperti itu karena merasa bersalah sama aku Maa.” “Nggak sayang.. Mama bisa melihat dari raut wajahnya Karel setiap kali datang kesini. Dia benar – benar masih suka sama kamu, dan dia sangat merindukan kamu sayang. Dan Kelvin , Kelvin adalah satu – satu nya laki – laki yang selalu mendatangi kamu, menemani kamu dengan sangat sabar sayang.” Ujar Mama lagi. Mama sangat yakin kalau Kelvin menyukaiku, aku yang duduk di samping Mama terus berfikir apa benar yang Bi Sri dan Mama katakan sambil memakan sarapan yan telah dibuatkan oleh Mama. “Hmmm.. semoga apa yang mama dan Bi Sri katakan benar.” Ucapku. “kamu sendiri apa kamu tidak menyukai Kelvin?” Tanya Mama. “Kirana nggak tau Maa, di satu sisi Kirana juga sangat senang berdada di dekat Kelvin, rasanya kalau Kirana pergi berdua sama Kelvin, perasaan Kirana sangat tenang, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun dengan keadaan Kirana yang sekarang. Kirana nggak takut jatuh kalau lagi jalan di luar bersama Kelvin. Tapi Kirana hanya nggak mau menyusahkan orang dengan keadaan Kirana yang seperti ini Maa. Kirana juga mau melakukan sesuatu untuk orang – orang  di sekitar Kirana.” “Sayangg.. dengerin mama yahh.. Kamu harus yakin kalau suatu saat nanti kamu akan melihat kembali. Kalau memang perasaan kamu juga suka sama Kelvin, atau mungkin sekarang perasaan kamu masih abu – abu, mama harap kamu tidak putus asa untuk menyukai dan membuka hati dengan orang lain lagi tanpa harus memikirkan keadaanmu yang seperti ini. Mama yakin orang yang di datangkan di kehidupan kamu sekarang, adalah yang terbaik untuk kamu sayang.” Kata Mama lagi. “Mba Kirana, nggak boleh putus asa. Okeyyy..” Seru bibi yang mungkin sedang memotong – motong sayuran. “Hmmm.. iya Maa Biii.. Makasih yahh Mama sama Bibi udah ngebuka fikiran aku lagi.” Ujarku. “Iya sayanggg.. Kapanpun  kamu mau cerita sama mama, cerita aja. Mama akan berusaha memberi saran yang terbaik untuk kamu sayang.” “sama Bibi juga Mbaa. Bibi akan menyempatkan untuk mendengarkan cerita Mba Kirana.” Seru Bibi lagi. “Siap Maa.. siap Biii..” “eh Btw pesannya Kelvin gimana? Mau kamu balas?” Tanya Mama. “Nggak usah deh Maa, Kirana nggak tau mau balas apa. Nanti bicara langsung aja sama Kelvin.” “Duhh anak mama ini.. ya udah kalau gitu.” “Eh, Maa Karel.. Karel belum di telvon.” Karena keasyikan ngobrol tentang Kelvin kita semua sampai lupa kalau mau menghubungi Karel. “Oh iyaa.. ya ampun sampai lupa gara – gara pesan sweetnya Kelvin hahaha.” Mama mencolek pipiku. “Ihh, Mama apaan sih.” Aku tersenyum malu. Mama pun mulai mencoba menghubungi nomor Karel lewat telvon rumah. Hanya dengan satu kali sambungan, Karel langsung menjawab telvon dari rumahku. “Mama aja yang bicara yah sayang. Nanti mama speaker” Bisik Mama di telingaku. Aku hanya menggangguk. “Halo assalamualaikum.” Karel menjawab dengan sangat sopan. “iya, walaikumsalam. Karel ini tante.” “oh, iya tante. Ada apa?” “Bisa kamu ke rumah hari ini?” “Hah, bisa tante. Bisa banget.” Karel sangat semangat mendengar ucapan Mama. “Iyaa, tolong kesini yahh. Kamu ambil kembali hadiah yang kamu berikan Kirana kemarin. Kirana udah nggak bisa menerima pemberian dari kamu, jadi tolong hari ini juga kamu datang kesini.” “ehmm.. kenapa Kirana nggak mau menerima hadiahku tante? Apa hadiah yang aku berikan sama Kirana, dia nggak suka tante?” “ckckck.. kamu ini kok nggak ngerti sih. KIRANA UDAH NGGAK BISA MENERIMA PEMBERIAN DARI KAMU.” Ujar mama menekankan ucapannya. “Oh, iya tante Karel udah ngerti. Maaf tante, apa boleh hadiah itu untuk terkahir kalinya aja. Karel janji nggak akan memberikan apapun lagi buat Kirana.” “Nggak bisa Karel. Toh, hadiahnya juga nggak Kirana pakai. Nggak mungkin kami buang juga. Lagian kenapa sih kamu masih memberikan hadiah ulang tahun untuk Kirana? Apa kamu belum sadar juga?” “Maaf tante, maaf banget. Karel sadar ko apa yang Karel lakukan. Karel hanya belum terbiasa aja melupakan kebiasaan Karel untuk memberikan yang terbaik untuk hari ulang tahun Kirana tante.” Mendengar ucapan Karel seperti itu, rasanya aku juga kasian.  aku juga percaya kalau dia belum bisa melupakan kebiasaannya itu untuk memberiku yang terbaik. Dan mungkin saja di perjalanan saat dia pergi membelikanku hadiah, dia lupa bahwa kami sudah tidak bersama lagi. “hmm.. iyaa tante mengerti. Tante harap kamu datang hari ini untuk mengambil kembali pemberian kamu ini.” “Baiklah tante kalau begitu, tapi apa aku bisa ketemu Kirana kalau sampai di sana tante? Karel mau Kirana yang memberikan langsung kepada Karel tante.” “Nggak papa Maa, iyain aja.” Kataku pelan. “Oke.. tapi jangan lama – lama. Tante tunggu.” “Iya makasih banyak tante.” Mama pun mematikan telvonnya.   =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN