Episode 59

1754 Kata
Kirana sebenarnya juga sangat menunggu apa yang ingin Kelvin katakana sebenarnya. Tapi Kelvin belum ingin menyatakan perasaannya yang sebenarnya saat itu. Karena Kelvin tidak mau membuat Kirana terbebani dengan perasaannya itu. “Apaan sihh.. nggak ada kok, emang itu yang sebenarnya gue mau katakan. Kalian ini suka bikin gossip yang enggak – enggak.” Uja Kelvin malu. Kirana kecewa mendengar jawaban dari Kelvin, Kirana fikir saat itu juga Kelvin akan menyatakan perasaannya yang sebenarnya. “nggak mungkin Kelvin suka sama cewek buta seperti aku kan?” Batin Kirana. “Hahahha.. nggak usah malu gitu Kelvin.” Seru Sherill. “udah - udah nggak usah ganggui Kelvin lagi, nanti wajahnya makin merah. Kita makan aja dulu yuk anak – anak. Pak Adi dan Bi Sri juga makan yah.” Ujar Ibu Kartika. Mereka semua pun menuju meja makan yang sudah di sediakan, dan menyantap semua hidangan. Kelvin selalu ada di samping Kirana untuk membantunya menghabiskan makanannya. “Ehmm, Naa.. maaf nih yahh, kalau ini merubah mood kamu. Tapi ini harus gue kasih ke Lo.” Ujar Sherill memberika sebuah kotak kecil titipan dari Karel. “Apa ini Sherill?” Tanya Kirana meraba kotak yang di berikan Sherill. “Itu tadi titipan dari Karel, harusnya dia mau ngasih langsung ke Lo, tapi katanya dia mau jaga omongannya yang nggak akan gangguin kamu lagi. Dan Katanya selamat ulang tahun untuk Lo Kirana.” Jawab Sherill. “Hmmm.. makasih yah Sherill, aku sama Karel udah ngerepotin kamu.” Ujar Kirana. “ihh, apaan dehh.. Nggak merepotkan sama sekali kok, tadinya gue nggak pengen terima titipannya, tapi si Gina bilang ambil aja kasian juga. Jadi, gue ambil aja.” Ujar Sherill lagi. “Coba buka Naa.. isinya apa, gue penasaran deh Karel ngasih Lo apa lagi tahun ini. Dia kan biasa sweet banget sama Lo.” Ujar Gina. “Uhhh.. sweet sihh iya, tapi kalau di ingat lagi—” Dinda belum menyelesaikan ucapannya. “Dindaaaa.. stop it..” Gadis menghentikan ucapan Dinda. Karena Gadis nggak mau kalau Kirana sampai mengingat kejadian itu lagi di hari ulang tahunnya, dan merusak suasana hati Kirana yang sedang Bahagia. “Fineee.” Seru Dinda. Kirana meraba kotak itu, mencoba membukanya. “Sini Naa.. Biar gue bantu yah.” Ujar Sherill sembari menjulurkan tangannya ke tangan Kirana. Kirana memberikan kotaknya ke tangan Sherill. Sherill pun perlahan membuka kotak pemberian Karel. “Ohh, my Godddd.. Karel kasih kalung juga sama kamu Naa.” Teriak Sherill. Kelvin yang baru saja berdiri untuk menambah makanannya, langsung berbalik ke tempat duduknya dan menghampiri Sherill untuk melihat kalung yang di berikan Karel untuk Kirana. “Hahhahaha.. kenapa Lo Vin? Kepo banget.” Seru Dinda. “Ah, nggak kok.” Kelvin salah tingkah. “Simpen aja lagi Sherill di kotaknya. Aku nggak mau menerima apapun lagi dari Karel, semua barang yang sudah dia berikan kan sudah aku buang, aku nggak mungkin untuk menerima pemberian baru lagi dari Karel.” Kelvin tersenyum mendengar jawaban Kirana, lalu iya kembali untuk mengambil makanannya. Karena iya merasa tidak perlu khawatir dengan pemberian Karel. Toh Kirana juga sudah tidak mau menerimanya. Kelvin berjalan dengan santai dan tersenyum. “Wahh, tuh anak kayaknya udah gila deh.” Ujar Dinda yang dari tadi memperhatikan tingkah Kelvin. “Hahahah.. biarin aja Din.. Kayaknya dia lagi senang, karena keberuntungan berpihak ke anak itu. Hahaha.” Ujar Gadis. “Jadi ini gimana dong Naa?” Tanya Sherill memegang Kalung dari Karel. “Biar nanti aku minta Karel datang kesini untuk mengambilnya kembali.” Jawab Kirana. “Hmm.. Ya udah deh Naa, kalau menurut Lo itu yang terbaik, kita nggak akan merubahnya Naa.” Ujar Sherill. “Iyaa Naa. Balikin aja, ngapain juga sih tuh Karel pakai ngasih – ngasih segala, nggak sadar diri banget.” Ujar Dinda. “ehmm iya Diiinn.” Ujar Kirana sambil tersenyum. “Kita semua juga punya hadiah untuk kamu Kirana.” Ujar Gina. Sherill, Gadis, Gina, dan juga Dinda satu persatu menambil hadiah untuk Kirana. Sherill memberikan sebuah Sweater rajut yang sangat tebal karena Kirana selalu memakai sweater. Kirana mempunyai beberapa koleksi sweater yang harganya diatas rata - rata, Gadis memberikan tas yang dulu Kirana sangat inginkan saat mereka lagi berjalan – jalan di salah satu Mall yang ada di jakarta, Gina memberikan gelang yang terukir nama Kirana di tengahnya, sedangkan Dinda memberikan satu paket produk perawatan rambut karena Kirana sangat menyukai hal yang berhubungan dengan rambutnya.  Mekipun Kirana saat ini tidak bisa melihat, tapi sahabat – sahabatnya tetap memberikan hal – hal yang di sukai oleh Kirana. “Terima kasih banyak semuanya, kalian nggak perlu seperti ini. Aku nggak tau akau harus membalas kalian bagaimana. Kalian selalu membuatku senang, sedangkan aku? Aku hanya bisa merepotkan kalian dengan keadaanku yang seperti ini. Kalian sudah sangat baik, sangat setia sama aku yang tidak bisa melihat kalian. Aku nggak tau bagaimana wajah kalian sekarang, setiap aku berbicara sama kalian, aku mencoba membayangkan wajah kalian saat terakhir bertemu denganku saat aku bisa melihat. Aku sangat merindukan kalian.” Kirana menangis tersedu – sedu. Rasa sesak di dadanya tidak bisa dia tahan lagi, Kirana sangat sedih. “Naaa… jangan nangis, Gue juga ikutan nangis kalau Lo nangis.” Dinda memeluk Kirana sembari mengusap air matanya. Mereka semua tidak tau kalau Kirana merasakan hal seperti itu, mendengar ucapan Kirana,  mereka semua ikut menangis karena merasakan rasa sesak yang ada di hati Kirana dan ikut memeluk Kirana. “Jangan nangis Naa.. semuanya akan berkahir, suatu saat Lo bakal negeliat kita lagi, kita semua akan ada untuk kamu sampai kamu bisa melihat lagi Naa.” Ujar Gina. Kelvin, Ibu Kartika dan Pak Chandra juga mendengar percakapan mereka. Ibu Kartika tidak bisa menahan air matanya mendengar penderitaan anaknya. Kelvin yang berada di tengah – tengah orang tua Kirana, mencoba menenangkan mereka. Kelvin sangat kasian dengan kedua orang tua Kirana. “Lo nggak perlu ngebalas kita dengan apapun Naa.. Lo cukup sehat – sehat, Bahagia , itu semua udah cukup buat kita Kiranaa.. Lo nggak sedih – sedih juga itu sudah membuat kita Bahagia.” Ujar Gadis. “Rasanya aku Cuma bisa merepotkan kalian. Aku yang tidak bisa melihat, membuat kalian mempunyai pekerjaan yang lebih menguras tenanga. Setiap hari kalian membuang waktu kalian hanya untuk menjenguk gadis buta ini. Apa kalian nggak malu punya sahabat buta seperti ini?” Ujar Kirana dengan air mata yang bercucuran di pipinya. Kirana sangat terisak. “Nggak Kirana, kita udah pernah bilang sama Lo. Kalau kita ngelakuin ini semua, karena kita emang sayang sama Lo, kita akan berusaha untuk terus ada di samping Lo. Kita nggak peduli orang – orang akan bilang seperti apa, yang kita tau Lo itu sahabat kita, dan nggak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.” Jawab Gadis. “Iya Kirana.. Pleasee jangan pernah berfikiran seperti itu lagi. Selama ini Lo udah jadi sahabat kita, sahabat yang selalu ada kapan pun kita butuhin. Jadi, sekarang giliran kita untuk selalu ada buat Lo Kirana.” Ujar Gina. “Jangan nangis lagi yah Naa..” Dinda menyeka air mata Kirana. Meskipun dia sendiri juga masih menangis. Rasa Bahagia bercampur sedih di rasakan oleh semua orang yang berada di rumah Kirana. Ibu Kartika juga tidak bisa menahan air matanya, melihat penderitaan putrinya seperti itu. “Tante sabar yahh.. Kelvin yakin, semuanya akan baik – baik aja. Kelvin juga udah minta tolong sama orang tua Kelvin untuk membantu mencarikan donor mata untuk Kirana tante .. omm..” Ujar Kelvin. “Iya Nak?” Tanya Pak Chandra. “Iya om.. semoga aja Papa sama Mama Kelvin bisa mencarikannya om.”  Jawab Kelvin. “Makasih banyak yah Nak.. Jangan terlalu merepotkan kedua orang tuamu, kalau memang tidak dapat, tidak usah terlalu di fikirkan.” Kata Ibu Kartika mengusap air matanya. “Iya om Tantee.. nggak kok, Mama sama Papa juga punya kenalan di rumah sakit di kota – kota lainnya. Yang kemarin kendalanya apa tante? Kok masih nggak cocok sama Kirana?” Tanya Kelvin. “Kata dokternya setelah dilakukan pemeriksaan ulang donornya, ternyata ada penyakit apalah itu yang tidak cocok dengan Kirana.” Jawab Pak Chandra karena istrinya masih menangis. “Hmmm.. banyak banget yah ternyata yang perlu di perhatikan Om.” “Iya Nakk. Makanya om sama tante sangat pusing. Tapi semoga aja secepatnya da donor mata lagi yang bisa cocok sama Kirana. Om sama tante nggak boleh berhenti untuk terus mencarikan donor mata yang cocok untuk Kirana. Kami nggak mau melihat Kirana sedih sepanjang hidupnya.” Ujar Pak Chandra. “Iya om, semoga secepatnya ada donor mata yang cocok yah om.” Ujar Kelvin. “Aamiin.. iya Nakk.” Ujar Pak Chandra dan Ibu Kartika. Sementara itu Kirana bersama sahabat – sahabatnya masih di suasana haru. “Naa.. udah yah nangisnya. Sekarang kita senang – senang, ini kan hari ulang tahun Lo. Jadi nggak boleh sedih – sedih yahh.” Ujar Gina memberikan segelas air putih untuk menenangkan Kirana. “Iyaa.. aku nggak boleh sedih. Aku harus Bahagia karena mempunyai orang – orang yang hebat seperti kalian.” Kirana tersenyum sambil meminum air putih yang di berikan Gina. “Nahh, gitu dong.. Coba deh Naa, pakai hadiah dari gue. Cocok nggak.” Ujar Sherill membuka bungkusan sweater yang dia berikan untuk Kirana. Sherill membantu memakaikan sweater itu di badan mungil milik Kirana. “Wihhh cantik banget, cocok Naa.” Seru Dinda. “Iyakan cantikkan? Aku nggak pernah salah pilih deh kalau ngasih hadiah,” Ujar Sherill. “Aku cantik nggak?” Tanya Kirana berdiri sambil memegang sweater yang sudah melekat dibadannya. “Cantik banget Naa.. Lo akan selalu jadi yang paling cantik memakai apapun itu.” Ujar Gadis. “Sekarang coba pakai gelang dari Gue yah Naa..” Ujar Gina mengambil tangan Kirana. “Sumpah Gin, Lo kok kepikiran beliin Kirana itu?” Tanya Dinda. “Iyalah.. Kirana tuh males banget pakai – pakai aksesoris kayak gini. Jadi gue fikir kalau pemberian di hari ulang tahunnya, pasti Kirana pakai deh. Iya kan Kirana?” Kirana tidak bisa berdalih lagi. “Hahah.. Gina ih tau aja.” Seru Kirana. “Iya dong, liat ajakan Kirana udah pakai kalung, terus pakai gelang. Tinggal nunggu aja cincinnya dari siapa hahahaha.” Goda Gina melirik Kelvin yang dari jauh memperhatikan Kirana. “Kalau cincin sih kayaknya harus dari orang yang special yah? Hahaha.” Ujar Sherll yang juga melirik Kelvin. “Orang special gimana sih? Kan kalian semua orang special di hidup aku. Kalian semua adalah hal yang paling special yang aku miliki di hidup aku.” Ujar Kirana memeluk Gina yang ada di sampingnya. “Uhhh, so sweet banget sihh Naa Naa.. Lo juga adalah hal yang paling special di hidup kita semua Kirana.” Ujar Gina membalas pelukan Kirana. “Naa.. di umur Lo yang sekarang ini apa yang paling ingin Lo capai?” Tanya Gadis penasaaran. “hmmm tadinya aku mau belajar lebih giat di sekolah untuk mendapatkan peringkat dengan nilai terbaik di sekolah nanti. Tapi untuk sekarang karena keadaanku yang seperti ini, aku hanya ingin bisa cepat melihat dan melanjutkan pendidikanku seperti orang biasa lainnya.” Jawab Kirana. “Uummm.. semoga semua itu bisa tecapai yah Kirana. Semoga Tuhan mendengar doa – doamu itu, dan secepatnya kamu mendapat donor mata yang cocok untuk mu Kirana.” Ujar Dinda. “Aamiinn.” Saut mereka semua. Hari ulang tahun yang sangat special di hidup Kirana, Kirana dapat merasakan hal yang baru di ulang tahunnya sekarang. Kirana sangat bersyukur masih di beri Kesehatan dan di beri kebahagiaan.   =====    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN