Author Pov
"Argh... aku sudah gak tahan, Ci." Ujarnya serak.
Ceci mengernyit, "Gak tahan? Gak tahan sama sakitnya?" Thomas menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati Ceci. Tangan Thomas meraih pinggang Ceci, dan melepas topi bergambar kelinci di kepalanya.
"K-kak?" Ujar Ceci gelagapan saat wajah Thomas mendekatinya.
Cup...
Thomas mencium bibir Ceci dengan rakus. Dia tidak bisa menahan gairah yang membara dalam dirinya. Rasa panas dan nyeri di daerah bawahnya membuatnya harus mencari pelepasan dan hanya ada Ceci yang ia jumpai di dekatnya.
"Kakh...Lepas..." Ujar Ceci pelan di sela ciuman mereka. Jemari Ceci berusaha mendorong d**a Thomas. Tapi, lengan kokoh Thomas menahan punggung dan pinggangnya.
"Kakhh... please... ahh." Thomas masih tak bergeming. Seolah-olah ia tak mendengar apa yang dikatakan Ceci. Dia hanya mendengarkan dorongan nafsunya.
Ceci mulai ikut b*******h saat Thomas mulai mencium lehernya. Ia menggelengkan kepalanya agar tetap sadar. Dia mendorong kembali Thomas dengan seluruh kekuatan yang ia punya. Sampai punggung Thomas membentur pintu.
"Kak! Ini salah! Sadar kak! Kakak kenapa?!" Ujar Ceci keluar dari dapur. Dia gak bisa berada disini. Kak Thomasnya sedang tak terkendali. Bisa-bisa keperawanannya hilang jika dia masih disini!
Sebuah tangan menarik tangan Ceci. Kembali memeluk gadis itu dan mencumbunya kembali. "Kak!! Sadar, kak!!" Pekiknya.
Thomas mendorongnya masuk ke dalam kamarnya. Membaringkan gadis itu di kasur. Ceci berusaha untuk bangkit tapi Thomas langsung menindih dan mencengkram tangan gadis itu diatas kepalanya.
"Kak!! Pliss.. stop! Kak sadar!"
Thomas tak bergeming. Dia melanjutkan pekerjaannya mencium leher Ceci. Air mata Ceci mengalir. Meski dia cinta pada Thomas, dia tak mau berhubungan intim atau semacam itu jika mereka belum menikah.
Ceci mengangkat kakinya dengan kencang, hingga membuat lututnya mengenai organ vital Thomas. Sorry, kak. Batinnya.
"Shittt!!!" Umpat Thomas. Thomas melepas cengkraman tangannya dan berjalan menuju pintu. Menguncinya. Ceci makin gelagapan. Dia mencari kunci saat Thomas masuk ke walk in closet nya.
Ceci terus menangis. Melihat Thomas-nya yang berubah layaknya monters. Dia takut.
"Bunda... hiks... Ceci takut... hiks..." isaknya.
Thomas kembali dengan wajah masih memerah dan sorot mata yang padam. Ntah apa yang membuatnya seperti itu, pikir Ceci.
Ceci menatap horror melihat apa yang di bawa Thomas. Empat buah dasi dan lakban. Dia langsung membayangkan film yang pernah ia tonton dengan adik-adiknya itu. Thomas menggendong Ceci dan menghempaskannya kembali ke atas kasur.
"Kakak mau apa?" Tanyanya dengan air mata yang masih mengalir. Tapi Thomas hanya diam sambil mengikat kedua tangan dan kaki Ceci di sudut-sudut ranjang. Dan menempelkan lakban diatas mulutnya.
"Kamu gak akan bisa teriak. Arghh
.. aku gak tahan."
Ceci semakin menangis saat Thomas menyobek paksa baju OGnya.
Lindungi hamba Ya Allah...
***
Terik matahari menyilaukan matanya. Ceci terbangun menatap gedung-gedung di balik kaca. "Aw.." Rintihnya saat ia menggerakkan kakinya. Ia kembali menangis saat mengingat sesi panas tadi pagi. Saat Thomas memperkosanya dan dia sama sekali tidak berdaya. Bahkan Thomas melalukannya hingga tiga kali yang membuat daerah intim Ceci sangat perih.
Ceklek
Ceci menghapus air matanya dan duduk sambil memegang selimutnya. Menatap penuh benci kearah Thomas. Ceci harus menanam cintanya dulu, Thomas telah mengambil harga dirinya.
Thomas menghela nafas dengan wajah penuh penyesalan. Dia yang sudah rapi meletakkan sebuah kotak di atas kasur.
"Maaf. Aku-"
"Maaf?" Ulang Ceci dengan nada sinis, "-setelah semuanya sudah terjadi? Apa anda pikir harga diri saya akan kembali dengan anda meminta maaf?" Tanya Ceci dengan mata berkaca-kaca.
"Ci, aku sama sekali gak sadar. Saat aku bangun, aku udah ngeliat kamu tanpa busana, begitupun aku dan sebercak darah itu. Ci, aku gak ada maksud buat perkosa kamu. Itu di luar kontrolku. Aku minta maaf." Jelas Thomas dengan nada penyesalan. Ceci kembali menangis mengingat kejadian tadi pagi. Menatap pergelangan tangannya yang memerah akibat ikatan dasi itu.
Thomas yang juga menatap arah pandangan Ceci, langsung memegang tangan gadis itu.
"Maaf." Katanya lagi.
"Jangan sentuh aku." Ujar Ceci. Thomas langsung melepas pegangannya, "Aku benci sama Kakak." Lanjut Ceci dengan mata penuh amarah. Thomas yang mendengarnya merasa ada yang ganjal pada hatinya. Hatinya tidak mau Ceci mengucapkan kata-kata itu.
Thomas kembali menghela nafasnya. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. "Kakak beliin kamu pakaian." Katanya memberikan kotaknya pada Ceci.
Ceci mengusap air matanya dan bangkit sambil menutupi tubuhnya dengan selimut putih. Thomas ikutan berdiri.
"Sini, aku bantu." Ujarnya yang baru saja akan membantu Ceci yang terlihat kesulitan untuk berjalan.
"Gak usah! Aku bisa sendiri!" Ketusnya. Thomas kembali menghela nafasnya.
Dia menghempaskan tubuhnya di kasur. Mencoba berpikir kenapa dia memperkosa Ceci dan dia lupa. Kenapa bisa begini? Rutuknya. Thomas mengurut keningnya.
***
Ceci berdiri di hadapan cermin dengan badan yang terlilit handuk. Air matanya turun saat melihat tanda merah di sekujur tubuhnya. Sakit. Tubuhnya terasa sakit. Harga dirinya hilang. Mahkota yang ia jaga untuk suaminya kelak, hilang. Meski dia mencintai Thomas. Tapi bukan ini yang ia inginkan. Thomas belum tentu menjadi suaminya kelak. Ceci takut suaminya kelak akan kecewa padanya saat mengetahui mahkota Ceci di renggut pria lain.
Ceci benci Thomas karena tega memperkosa dan memperlakukannya dengan kasar layaknya b***k. Tapi dia masih mencintainya.
"Bunda..." gumam gadis itu sambil memeluk kakinya saat di dalam bathup yang tak terisi air.
***
"Kamu tidak usah pulang dulu." Ujar Thomas.
"Kenapa? Apa anda akan memperkosa saya lagi?" Tanya Ceci sambil menyiapkan tas selempangnya.
"Kamu jalan saja seperti itu. Kelihatan kalau baru saja melakukan..."
"Itu semua gara-gara anda!" Ujar Ceci datar.
"Maaf. Istirahatlah dulu. Nanti malam aku antar pulang."
***
Ceci Pov
Aku membuka pintu besar di hadapanku. "Assalammualaikum." Kataku sambil masuk.
"Walaikumsalam." Ujar suara-suara dari ruang makan.
Aku langsung memasuki kamar dengan langkah tertatih. Perihnya masih terasa. Meski hanya hilang sedikit saja. Aku menarik selimutku. Bayangan-bayangan itu muncul kembali. Bahkan sakit di pergelangan tanganku terasa kembali mengingat kulitku yang bergesekan dengan dasi yang ia ikat mati.
Mahkotaku telah di renggut oleh orang yang aku cintai, tapi orang itu bukan milikku. Hanya satu yang kita takuti. Kehadiran 'itu'.
"Hikss... hiks..."
"Ceci? Nak? Kamu baik-baik aja kan?" Suara ayah terdengar dari balik pintu.
Kuhapus air mataku. "Ceci gak papa, Yah."
"Gak papa? Tapi kok ayah denger kamu kayak orang lagi nangis?"
Aku terdiam untuk memikirkan jawaban untuk ayah. "Umm... Ceci
... Ceci lagi flu, Ayah."
"Kamu sakit, Nak?" Sakit ya, sekujur tubuh Ceci sakit, Yah.
"Iya, Yah. Mungkin kecapekan."
"Buka pintunya, biar ayah kompres untuk jaga-jaga kalau kamu demam." Aku menatap cermin. Aku gak bisa buka pintunya. Mataku terlihat membengkak dan hidung yang merah. Serta, jejak-jejak berwarana keunguan masih melekat ditubuhku. Ayah akan marah besar jika ayah melihatnya.
"Umm... Ceci gak apa-apa kok, Yah. Ceci butuh istirahat saja. Lagipula, Ceci gak pakai apa-apa. Abisnya panas banget." Bohongku.
"Ya sudah, istirahat yang cukup. Nanti ayah suruh Sarah bikinin kamu jus jeruk hangat ya?" Ujarnya dengan menyebut pelayan baru kami.
"Iya, Yah."
Aku termenung di depan jendela. Duduk di sofa panjang, sambil mengusap boneka kelinciku yang berukuran sedang.
Bulir-bulir hujan turun dengan deras dari atas langit. Malam semakin gelap oleh awan yang menghitam dan bulan yang bersembunyi di baliknya. Seolah-olah, malu untuk memancarkan cahayanya. Seolah-olah, tidak ingin memberi kesenangan untuk kami.
Kuenyahkan pikiran negatif tentang Kak Thomas. Menyadari sikap Kak Thomas yang terlewat aneh tadi. Dia bilang dia tidak sadar? Maksudnya? Apa itu bukan dia saat memperkosaku? Atau jangan-jangan, dia kemasukan penunggu disana? Ahhh hushh... gak mungkin. Pasti ada sesuatu dalam dirinya! Akhh... puyeng.
***
"Ceci? Kenapa kamu jalannya kayak gitu?" Tanya bunda saat aku berjalan ke meja makan. Hari ini libur, jadi aku punya kesempatan untuk menenangkan pikiran.
"Ohh.. ini, Bun. Anu... kaki Ceci keseleo. Tapi gak apa-apa kok."
Bunda langsung berdiri dan memapahku. Sebenarnya daerah intimku masih sakit ntah kenapa.
"Sudah di kasih minyak?" Tanya ayah saat aku duduk di meja makan.
"Sudah, Yah." Ujarku tersenyum.
Sepiring nasi goreng dan telur dadar habis kulahap karena rasa lapar yang sedari tadi meronta-ronta. Gimana gak kelaparan? Kalau dari kemarin siang belum makan.
"Kapan kalian ujian akhir sekolah?" Tanya ayah pada kedua adik kembarku.
"A-akhir bul-lan Mei yah." Ujar si gagap. Hehe...
Ayah mengangguk dan kembali menyeruput kopi hitamnya, "Kamu, Ra? Sudah siapin keperluan kalian nikah kan?" Ujar ayah menatap Clara yang sedari tadi cemberut.
"Gak usah bahas itu dulu lah, yah. Lagi bete!" Ujarnya. Baru pertama kali aku ngeliat dia begini. Biasanya wajah datar mulu. Kayak tembok.
"Kamu kenapa? Mau nikah malah bete gitu." Sambung bunda.
Clara hanya diam dan mengaduk-aduk makanannya dengan sembarang. "Jangan gitu, Ra. Ntar doi gak nikah sama kamu kalau mukanya ditekuk begitu." Candaku. Dia langsung menatapku horror yang membuatku bergidik.
Kukeluarkan handphone di saku celana. Membuka aplikasi yang sangat suka kukunjungi. i********:.
Kebanyakan yang ku-follow sejenis akun lucu seperti gambarlucu, ngakakkocak, dagelan, dan sebagainya. Selain membuat tertawa, bisa juga untuk menenangkan pikiran sejenak. Saat ku-Scroll kembali ke atas. Sebuah foto muncul. Hatiku memanas melihatnya. Cemburu dan kesal. Foto Kak Thomas dengan kekasih centilnya itu.
Foto mereka dengan pose mesra saling berpelukan dengan Kak Thomas yang sedang memeluk gadis itu.
"You're always be my Queen. I love you." Isi captionnya.
=====
Jangan Lupa Tap love dan Komennya gaes...
Kasihan Ceci