Ceci Pov
Pukul 06.30
"Ci, kamu mau kemana?" Ujar Bunda saat aku sudah siap dengan baju OG.
"Kerja dong, Bun." Balasku.
"Ya Allah, Nak. Kamu itu masih sakit. Istirahat dulu..." Ujar Bunda.
"Sudah nggak kok, Bun. Kemarin kan karena Ceci belum sarapan sama makan siang. Makanya sakit. Tapi tadi kan sudah sarapan. Boleh ya, Bun?" Ujarku pada bunda yang masih setia di dalam kamarku semenjak ayah dan Clara berangkat tadi.
Aku masih menatap bunda. Ya, benar sih masih agak sakit di bawah dadaku. Tapi mau bagaimana? Om Randy suruh aku jagain Kak Thomas dari cewek gatal itu dan kalau aku gak masuk hari ini pasti itu cewek bakal punya kesempatan untuk mengunjungi Kak Thomas. No!
"Ya sudah, boleh..." Yes, "-tapi, harus cepat pulang! Mengerti? Bawa obat kamu! Untuk jaga-jaga kalau sakit lagi."
"Sip, Bun. Ceci pergi dulu ya. Assalammualaikum, Bunda." Kucium pipi dan tangannya.
***
Author Pov
Pukul 21.00
Tok... tok... tok...
Wanita itu bangkit dari kasurnya saat mendengar pintu apartemennya yang diketuk.
"Sudah malam, masih saja ada yang ganggu." Gerutu wanita itu.
Tok...tok...tokk...
"Iya, sabar! Tamu tidak sopan!" Teriaknya kesal. Dia baru saja akan tidur, tapi ketukan dipintu membatalkan niatnya.
Tangannya memutar kunci dan segera menarik pintu. Alangkah kagetnya saat melihat siapa yang datang.
"Om Randy? Silahkan masuk, Om. "Katanya mengubah nada bicaranya menjadi manis.
"Tak usah. Saya cuma sebentar." Ujar Randy pada Wanita itu, Lara.
"Oke. Ada perlu apa ya, Om?"
Randy tersenyum miring, "Kamu gak usah sok manis dihadapan saya," senyum ramah yang dibuat Lara langsung memudar mendengarnya, "-saya mau kamu tolong jauhi anak saya. Berapa yang kamu mau? 30 juta? 60 juta? 1 milyar? 1 triliun?" Lara memanas mendengar ayah kekasihnya yang telah menginjak harga dirinya.
"Itu kan alasan kamu mendekati putra saya? Memeras hartanya? Jauhi Thomas! Saya akan berikan berapapun maumu." Lanjut Randy.
Lara merasa ada benarnya. Dia bisa meminta berapapun. Tapi, kalau dia tetap menjalin hubungan dengan Thomas dan menjadi istrinya. Bukan hanya triliun. Semua harta yang tidak akan habis sampai 7 turunan itu akan jadi miliknya, bukan?
"Maaf, Om. Saya bukan seperti ibu saya. Saya mencintai Thomas tulus. Bukan berarti Ibu saya pernah melakukan hal seperti itu pada Om, saya juga melakukan hal yang sama." Ujar Lara yang baru menyadari kenapa ayah kekasihnya tidak mau menerimanya.
"Tawaran masih berlaku. Berapapun yang kamu mau, akan saya berikan. Satu lagi, kamu tidak bisa mendekati putra saya lagi. Ceci akan menjaganya. Jika kamu nekat. Dia akan mengusirmu." Ujar Randy dan berlalu meninggalkan apartemen anak dari mantan selingkuhannya itu.
Lara membanting pintu dengan keras. "Arghh!!! Gue tahu! Orang tua itu pasti mau jodohin Thomas dengan OG sialan itu! Dasar tua bangka!" Geramnya sambil hilir mudik di depan televisi.
"Gak! Gak! Gue harus ngelakuin sesuatu!"
Lara memukul kepalanya agar sebuah ide muncul dari sana.
"Ayolah... berpikir... berpikir..." Gumam gadis itu. Matanya terpaku pada sebuah majalah. Ia mendekati dan mengambil majalah yang terletak di atas sofa. Ia menatap cover majalah tersebut dengan sumringah.
"Bayi..." Uarnya pelan, "-dengan adanya bayi pasti dia akan menikahiku. Ya... meskipun pura-pura." Kata Lara sambil tersenyum kemenangan.
Senyumnya kembali memudar, "Bodoh! Gimana mau bisa pura-pura hamil kalau Thomas sama sekali gak pernah nyentuh gue? Dasar Lara bodoh!!" Ujarnya pada diri sendiri.
Ia duduk diatas sofa, menyanggah kepalanya dengan tangannya dan masih berpikir. Jebak dia seolah olah memperkosaku? Ah tidak itu terlalu kampungan dan ribet. Aku harus benar-benar hamil anaknya! Batinnya.
Dia tersenyum.
Gue tau apa yang harus gue lakuin.
***
Pukul 06.30
Lara melenggang masuk kedalam kantor yang masih terlihat sepi. Justru dengan keadaan sepi seperti ini, dia bisa bebas masuk tanpa dihalangi oleh satpam dan karyawan yang telah diperintah Randy untuk mengusir Lara. Dan dia makin senang saat mengingat bahwa Ceci diliburkan. Lagipula, tidak kepagian untuk datang. Dan Thomas tinggal di kantor.
Tok... tok... tokk...
"Sayang?! Aku datang nih? Bukain dong." Ujarnya dengan manja.
"Sayang?! Kamu masih tidur ya? Ayo dong bangun." Teriaknya lagi.
Ceklek
Thomas keluar dengan wajah bantal sambil mengucek matanya.
"Kenapa datang pagi-pagi?"
"Kamu gak suka aku datang? Ya sudah, aku pulang." Ujar Lara.
Thomas menarik Lara untuk masuk." Gak, jangan. Tumben aja. Kamu tunggu disini aku mandi dulu."
Lara tersenyum, dia meletakkan tas selempangnya di atas sofa. Dan berlalu ke dapur. Ia mengambil dua roti untuk di panggang. Kalau bukan karena hamil anak Thomas. Gue gak bakal nginjak di dapur ini. Ihhh. Batinnya.
Setelah mengolesi selai strawberry. Dia mengambil dua gelas kaca. Menuangkan s**u coklat di dalamnya. Lara tersenyum saat mengambil sebuah bungkusan dalam saku celananya. Merobek bungkusan itu kedalam salah satu s**u coklat itu, s**u coklat milik Thomas.
Maaf ya, Thomas sayang. Gue harus ngasih obat perangsang biar lo nyentuh gue. Biar gue hamil anak lo. Anak gue jadi pewaris harta lo. Dan harta lo milik gue. Batinnya sambil mengaduk s**u coklat milik Thomas. Memindahkan Sarapan itu ke atas baki. Senyumnya tak berhenti. Dia tidak sabar untuk disentuh Thomas. Belum lagi, Lara sedang dalam keadaan subur. Dan sangat memungkinkan setelah berhubungan intim akan terjadi pembuahan dan dia hamil. Ahhh gak sabar. Lanjutnya.
Lara mendekati Thomas yang sudah siap dengan setelan jasnya dan berkutat pada laptopnya.
"Pagi, sayang? Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu!" Ujar Lara senang.
Thomas menatap Lara dengan tersenyum, "Kayaknya lagi senang. Kenapa sih? Wah kelihatannya enak."
Lara hanya tersenyum. Mereka duduk di sofa. Lara memerhatikan Thomas yang sedang memakan rotinya. Roti mereka sama-sama telah habis. Saat Lara minum susunya, Thomas juga meminum susunya sampai habis dalam sekali tegukan. Lara memelototkan matanya. Kayaknya bakal hebat, tadi gue masukin banyak-banyak itu obat. Bagus. Batinnya.
Thomas menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya terasa berat dan matanya berkunang-kunang. Lara tersenyum sebentar lagi rencananya akan di mulai.
Ceklek.
"Lo ngapain disini?!" Teriak Ceci yang baru datang dan melihat Lara.
Lara langsung berdiri, "Emangnya kenapa?" Katanya.
"Gak boleh! Sekarang lo pergi!" Usir Ceci.
Lara tidak bisa pergi, obatnya mulai beraksi. Mana mungkin Lara pergi.
"Mending lo aja yang pergi. Lagian, seharusnya kan lo libur!"
"Ya terus? Pergi, Om Randy gak mengizinkan lo kesini. Huss... sana husss..." kata Ceci menarik tangan Lara.
"Eh... lo kira gue kucing, Ha? Sakit! Gak usah nyentuh gue lo, miskin!" Teriaknya saat Ceci mencengkram tangan Lara dengan kuat.
"Iya, lo emang kucing, kucing garong!"
"Kurang aj-"
BRUKK...
Ceci membanting pintu saat Lara belum menyelesaikan pembicaraanya. Ceci mengunci pintu itu. Lalu meletakkannya diatas ventilasi agar Thomas tak dapat menjangkaunya. Meski ceci harus menaiki meja untuk meletakkan kunci itu di atas sana.
Ceci berlari kearah Thomas yang terbaring di atas sofa dengan wajah memerah dan peluh yang mengalir.
"Ya, ampun! Kakak kenapa?" Paniknya.
"Arghhh..." Rintih Thomas.
Ceci meletakkan punggung tangannya di atas kening Thomas. "Badan kakak panas banget. Sebentar ya aku ambilin kompres." Ujar gadis itu masih cemas dan berlari ke dapur. Ia mengacak lemari-lemari yang tergantung diatas. Mengambil mangkok kaca dan mengisinya dangan air hangat.
"Kok bisa demam gitu sih, kak?" Gumamnya. Handuk kecil yang berada di kamar mandi diambilnya untuk mengompres Thomas. Dia membalikkan badannya. Melihat Thomas yang sedang berdiri diambang pintu dengan wajah yang tambah memerah.
"Kak Thomas? Kenapa kesini? Seharusnya kakak baring saja!" Omelnya.
Sorot mata yang diberikan oleh Thomas membuat Ceci sedikit merinding.
"Aku sudah gak tahan, Ci. Tolong bantu aku… kali ini saja." Kata Thomas dengan serak.
=====
Si Thomas kenapa ini?!!!
Cecinya mau diapain?!