BAB 6

1011 Kata
Aku berusaha untuk memikirkan cara agar pacar Kak Thomas pergi. Supaya om Randy gak ngamuk saat melihat wanita itu datang kemari. "Duhh… apa, ya?" Ujarku sambil hilir mudik di dapur yang kecil ini. "CECI! BUATKAN TEH MANIS 2! KEKASIH SAYA MAU SAMPAI." Teriak Kak Thomas dari luar. Bagai lampu menyala, otakku langsung mendapat rangsangan dari kata-kata yang di ucapkan Kak Thomas. Eh bukan rangsangan yang begitu, ya. Tapi lain lagi. "IYA KAK EH PAK!" Balasku tak kalah kencangnya. Aku mengambil dua cangkir yang berbeda. Satu dengan pola zig zag dan satunya dengan pola polkadot. Kumasukkan teh ke dalamnya. Gula untuk Kak Thomas yang manis plus gantengnya yang membuatku klepek-klepek. Lalu, garam untuk yang katanya 'pacarnya' itu. Biar itu cewek keasinan dan pergi jauh-jauh dari Kak Thomas. "Hai, Honey?" Ujar suara centil dari luar sana. Wahhh itu tuh pacarnya Kak Thomas? Masa tipenya seperti itu? Ketahuan banget pengen porotin hartanya doang. Aku mengangkat baki dan berjalan keluar dapur untuk memberi teh special untuk mereka. Kuletakkan satu persatu cangkir itu. Tak lupa gelas yang mana yang berisikan garam untuk wanita centil di hadapanku. Aku belum melihat sama sekali wajahnya, karena sedari tadi aku menundukkan kepalaku.  "Silahkan di min... LO?!" Pekikku kaget saat melihat wanita di hadapanku. Dia menoleh dengan angkuh. "Lo?" Ujarnya. Sial, ini gadis di loundry tadi. Matilah aku. "Kalian saling kenal?" Ujar suara berat di sampingnya dengan heran. Aku berdiri sambil berkacak, "Ya ampun... pantesan saja Om Randy gak suka sama lo." Ujarku ceplos padanya. Wanita itu melotot. Kak Thomas ikutan berdiri. "Honey... dia, Hone!. Cewek miskin ini yang sudah numpahin kopi ke wajahku. Sudah bikin rusak bajuku." Ujarnya centil sambil bergelayut manja di lengan Kak Thomas. Ya, terus? Kalau gue jahatin lo? Lo mau apa? Kak Thomas menatapku ragu, "Ceci, apa benar itu?" Ujarnya. Aku mengangguk. Kak Thomas mengalihkan pandangannya pada wanita centil itu. Wanita itu balas menatap dengan alis terangkat dan jarinya yang mengacungkan dua jari. Aku mengernyit saat Kak Thomas mendekatiku, sial kenapa harus deg degan begini sih? PLAKK... Aku memegang pipi kananku yang memanas. Menatap Kak Thomas tak percaya. Dia... dia menamparku? "Satu, untuk kopi yang sudah lo tumpahin ke gue." Ujar wanita centil di belakangnya. "Tap-" PLAKKK... "Dua, untuk kopi yang sudah lo tukar ke sabun pencuci gue dan baju gue hitam." Ujar wanita itu lagi. Kurasakan perih di kedua pipiku. Air mataku mengalir merasakannya. Aku tidak pernah ditampar seperti ini oleh siapapun. Bahkan ayah, mana pernah berani untuk menampar anaknya meski berbuat kesalahan besar. Eyang sekalipun, saksi mata yang melihat betapa jahilnya aku padanya, sama sekali tidak pernah menamparku. Kekuatan dan pemberontakanku jika dikasarkan menghilang saat menyadari siapa yang telah menamparku. Kenapa harus Kak Thomas? Ughhh... Kak Thomas masih menatapku, "Jangan pernah menyentuhnya lagi, jika kau tak mau mendapat tamparan ketiga." Ujarnya. Kubalas tatapannya dengan kesal. Sepertinya dia memang telah melupakanku. Aku berjalan kembali ke dapur. Kusandarkan tubuhku ke dinding. Kepalaku mulai pusing. Aku duduk memeluk kakiku. Berusaha menghilangkan pusing yang mendera kepalaku. Aku mencoba untuk tenang dengan gumpalan emosi yang telah berkumpul di puncak kepalaku. Wanita itu telah merubah Kak Thomas menjadi kasar seperti ini. Kuangkat kepalaku saat mengingat suatu hal. Teh! Teh untuk wanita itu! Sial, sepertinya aku akan mendapat tamparan yang ketiga. Ceklek... Aku menoleh saat pintu dapur dibuka. Kak Thomas menatapku dengan wajah emosinya. Aku langsung berdiri. "Teriaklah!" Ujarnya. PLAKKK... Aku menaikkan kedua alisku saat melihat Kak Thomas menepuk kedua tangannya. Kak Thomas kenapa sih? "Tunggu disini. Jangan kemana-mana!” Bagus, kepalaku makin pusing dengan kelakuannya yang aneh.  Aku mengambil minyak kayu putih yang ada di tas selempangku. Kutorehkan agak banyak di kening dan hidungku. Kembali bersandar ke dinding. Padahal hanya kena dua kali tamparan. Apa karena tidak sarapan ya? Ya, mungkin itu. "Ehhh..." Pekikku saat tubuhku terangkat ke udara. "Lah, Kak? Eh Pak? Kok aku digendong?" Ujarku. "Mau di kompres." "Ha? Peres?" Kataku mengulangi. Dia mendengus menatapku, "Di kompres. Kamu tuli, ya?" Katanya sambil membaringkanku di kasur. Eh? Kok kasur? "Loh, Kak? Eh Pak? Kok aku dibaringin disini?-" kataku kaget sambil menarik selimut menutupi seluruh badanku. Kalau-kalau dia mau grepe-grepe, "-wah, jangan dong Kak. Aku masih perawan!" Lanjutku. Kak Thomas duduk di hadapanku. Wajahnya kian mendekat. Makin mendekat. Bahkan, helaan nafasnya menerpa hangat wajahku. Entah setan apa. Mataku tertutup saat ia memiringkan kepalanya. Sebuah sentilan di hidung membuatku kembali membuka mata. "Jangan harap. Sebentar, saya ambilkan kompresan dulu untuk pipimu." Ujarnya langsung berdiri. Aku menatap langit-langit. Decit pintu kembali kudengar. Kak Thomas muncul dengan membawa baskom kecil dan handuk. Remang-remang, aku masih bisa melihatnya menempelkan handuk hangat pada kedua pipiku. Hingga aku hanya bisa mendengar sekejap suaranya saat kegelapan menghampiri. "Ceci... bangun." *** Aku mengerjap saat bau minyak kayu putih tercium. Kupegang kepalaku yang terasa berat. Seorang pria berbaju putih mendekatiku. "Apa anda baik-baik saja, Nona?" Ujar pria itu yang kuyakini adalah seorang Dokter. Aku mengangguk. Ini bukanlah di rumah sakit. Aku masih terbaring di ranjang kamar istirahatnya Kak Thomas. "Ini ada resep dari saya. Jika anda merasakan pusing kembali, anda boleh meminumnya." Kata Dokter itu. "Saya kenapa, Dok?" Ujarku dengan serak. "Maag dan asam lambung. Sebaiknya anda harus mengisi perut anda, Nona." Aku mengurut pelipisku. Kak Thomas mengantar Dokter itu keluar. Kualihkan pandanganku pada jendela. Matahari tampaknya mulai terbenam. "Kamu boleh pulang." Ujar Kak Thomas saat masuk. Aku langsung berdiri sambil memegang kertas yang diberi dokter. Aku akan langsung membeli obat itu sepulang nanti. Dengan langkah terseok, aku berjalan ke dapur untuk mengambil tas selempangku. Kusanggahkan tanganku di dinding, kepalaku masih terasa berat. "Mau diantar pulang?" Ujar suara di belakangku. Aku kembali mengurut keningku. Sebuah tangan menarik bahuku. Membawaku berjalan. Bau parfum Kak Thomas sangat terasa di hidungku. Aromanya yang maskulin membuatku nyaman berada dalam dekapannya. Kak Thomas tiba-tiba berhenti saat kami akan memasuki lift. "Pa.." tegur Kak Thomas. Om Randy kah? Aku mengangkat kepalaku, "Eh, Om?" Sapaku. Om Randy mengernyit, "Ceci kenapa?" Tanyanya pada pria di sampingku. "Maag dan asam lambung, Pa." Ujar Kak Thomas. "Mau dibawa ke rumah sakit? Ayah sama bunda kamu sudah tahu?" Ujar Om Randy yang terkesan panik, "wajahmu pucat sekali, Lan." Aku langsung mengernyit saat mendengar kata terakhirnya. Lan? "Pa!" Kata Kak Thomas. Om Randy hanya terdiam menatapku, "Tadi Thomas sudah panggil dokter. Sekarang Thomas mau antar Ceci pulang." Jelasnya. "Ya sudah, kalau begitu, besok kamu tidak usah masuk dulu. Mengerti?" "Tap-" ujarku dan Kak Thomas serempak. "Tidak ada tapi-tapi!” BaguS! Dan itu berarti? Aku gak bisa ketemu Kak Thomas kan? Gak bisa protect dia dari cewek centil itu kan? Yah…. Om Randyyy... ===== Thomas kejam banget ya... namapr ciwi imut kayak Ceci. :'(
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN