BAB 5

1057 Kata
Aku disuruh menunggu di kantor Om Randy sebelum ke ruangan anaknya. Om Randy bilang, Kak Thomas tidur di kantor, tepatnya di ruangannya. Jadi, karena takutnya Kak Thomas sedang mandi atau gimana. Ehm, tapi aku pengen melihat dia bertelanjang d**a. Pasti keren, perutnya pasti berkotak-kotak. Dadanya bidang ala-ala senderable. "Gimana? Thomas perlakuin kamu dengan baik ‘kan?" Tanya Om Randy. "Sejauh ini masih baik, Om." Ujarku. Ya meski dia terlihat acuh. Om Randy hanya menganggukkan kepalanya. Sambil menatap laptopnya. Hanya menatap, bahkan sampai menyanggahkan kepalanya dengan tangannya. Dia tidak mengerjakan pekerjaannya kurasa. Sebab, dipantulan kaca matanya, ia sedang menatap sebuah gambar di dalam laptop yang membelakangiku. Aku tidak tahu foto apa, tapi yang jelas foto perempuan. Berambut panjang dan berwarna coklat. "Om." Panggilku yang melihatnya memasang wajah terlalu serius. "Om." Panggilku sekali lagi melihatnya yang tak menyahut. "OM!" Aku meninggikan suaraku saat kulihat matanya memerah dan berair. "Eh. Maaf." Ujarnya. Dia mengelap matanya dengan dasi hitamnya. "Ya? Ada apa?" Ujarnya sambil tersenyum. "Ngg... Kak Thomas kok bisa lupa sama aku, ya Om? Kak Thomas amnesia ya, Om?" Tanyaku. Om Randy kembali tersenyum. "Ceci, tidak semua orang mengingat masa kecilnya. Mungkin Thomas salah satu anak yang sama sekali tidak ingat masa kecilnya. Ditambah, kamu tahu sendiri. Masa kecil Thomas adalah hal yang terberat dalam hidupnya." Ujar Om Randy. Aku mengernyit. Berat apanya? Setahuku, saat kami masih kecil dia sangat ceria. "Maksudnya Om?" "Ceci, semenjak bayi, Thomas tumbuh tanpa kehadiran mamanya," Iya, sih. Setahuku, Tante Wulan memang koma semenjak melahirkan Kak Thomas, "- mamanya juga pergi. Mungkin Thomas ingin menghilangkan memori itu, karena itu adalah cobaan terberat untuknya. Mungkin suatu hari nanti dia akan ingat kamu. Kamu tenang saja." Ujar Om Randy. "Iya, Om." Kataku. Tok... tok... tok... "Masuk." Ujar Om Randy. Suara pintu terbuka terdengar. "Bukannya kerja malah disini!" Ujar seseorang di sampingku. Suaranya yang tak asing membuatku menoleh. Kak Thomas bersidekap menatapku. "Tadi Om Randy..." "Sekarang tolong buatkan saya s**u!" Aku terkekeh pelan. "Thomas..." Tegur Om Randy. "Pa, kalau punya pekerja jangan dimanjakan." Ujar Kak Thomas pada Om Randy. "Yang bilang papa manjakan siapa?" "Pa, jangan mentang-mentang dia mir-" Om Randy memelototi putranya. Kulihat Kak Thomas menghela nafasnya. "Apa?" Ketusku saat ia menatapku. Kak Thomas berjalan ke arahku, "KAKKK!!! EHHH TURUNINNN!!!" Teriakku saat ia menggendongku layaknya karung beras. "Thomas!" Tegur Om Randy sekali lagi dan bangkit dari duduknya. "Duhhh.. Papa diam saja. Dia kerjanya sama aku bukan sama Papa." Ujar kak Thomas. Kupukul punggungnya dengan kepalan tanganku. Aku selalu takut jika digendong. Baik seperti ini atau Bridal. Aku takut ketinggian. Langkah kaki Kak Thomas sangatlah cepat. Jantungku berpacu-pacu karena tubuhku rasanya seperti terjatuh dari atas langit. Beberapa karyawan yang kami lewati menatap heran. "Kak!!!" Pekikku saat dia melemparku di atas sofa ruangannya. Dia berjalan santai menuju kursinya. "Saya sudah bilang, panggil saya 'Pak'! Kamu bukan adik saya!" Ujarnya sembari duduk. "Buatkan saya sarapan!" Titahnya yang terdengar seperti tak ingin dibantah. Aku langsung berdiri. hentakkan kakiku ke lantai. Berjalan cepat ke arah dapur. Dasar! Menyebalkannya tidak pernah menghilang sejak kecil. *** Aku membawa nampan hitam penuh hati-hati. Isinya lumayan berat. Kuletakkan nampan itu dengan hati hati di mejanya. Well, gini-gini aku Alhamdulillah lumayan bisa masak. Eyang Clara selalu mengajariku untuk memasak berbagai macam makanan apapun itu. Kalau aku berani menolak kelas memasaknya? Habis aku dilempar Eyang Clara ke rumah tetangga kami, kediaman Meredith Black. Keluarga itu punya berbagai jenis peliharaan anjing yang terkenal garang. Bisa habis aku dikeroyok oleh anjing-anjing itu. Eits… tapi jangan salah, keluarga Meredith Black itu sangatlah baik pada kami. Terutama padaku, kata mereka aku mengingatkan mereka pada anak perempuan mereka yang sudah meninggal. "Sarapannya sudah siap, Pak. Selamat makan!" Kataku dan memasang senyum manisku. "Sarapannya apa?" Tanyanya masih berkutat pada laptopnya. Kenapa tidak lihat sendiri saja sih? "Nasi Goreng special pakai cinta! Plus telur ceplok kesukaan Kak Thomas." Meski samar, tapi aku dapat mendengar kekehannya, "-dan s**u putih dan air putih." Lanjutku. "Thanks!" Ujarnya singkat. Aku beranjak dari hadapannya sebelum Kak Thomas mengusirku. Aku mengambil sapu dan kemoceng. Lalu, masuk kedalam kamarnya Kak Thomas. Bahuku terkulai lemas saat melihat kamar yang seperti puing-puing kapal Titanic. Berserakan! Seprai kasurnya yang terbuka. Selimut yang jatuh, guling dan bantalnya. Baju-baju yang berserakan. Kaleng-kaleng soda. Bekas makanan. Iuhhh... Kak Thomas jorok!!! Entah apa jadinya jika aku menikah dengannya. Nggg... seperti sudah yakin saja bakal dilamar Kak Thomas. Hadehhh... Aku memasukkan sisa makanan dan minuman ke dalam kantong plastik. Mulai melepas Bed Cover nya yang sudah tercium aroma yang luar binasa harumnya, hidungku seketika mati rasa mencium aroma-aroma negatif ini! Setelah kamar ini benar-benar harum. Aku langsung membawa dua plastik besar keluar.  Yang satu tumpukan sampah. Satunya lagi tumpukan kain kotor. Bagaimana bisa? Pria tampan seperti Kak Thomas memiliki kebiasaan jorok seperti ini? Kain sudah menggunung di kamar mandinya dan sudah berubah menjadi beraroma tidak enak. Bahkan, ehm, underwearnya, berserakan di lantai. Astaga, sebenarnya aku ini OG? Atau pembantunya sih? Aku bersusah payah mengeluarkan kantung plastik yang besarnya bukan main. Kak Thomas tidak ada di mejanya. Mungkin dia sedang ada rapat. Aku meletakkan kantung plastik di lantai. Mengambil air detergen. Kini aku sedang berada di tempat loundry yang tak jauh dari sini. Aku memasukkan beberapa sen, lalu mulai mencuci kain Kak Thomas dengan terpisah. Kringg... Aku asik membaca majalah, saat bunyi pintu terbuka. Seseorang duduk di sampingku. Merasa di perhatikan, aku menoleh ke arah wanita yang sedang menatapku angkuh. Ahhh wanita gila ini rupanya... "Anda yang kemarin lempar kopi ke kepala saya ‘kan?" Ujarnya sambil menunjuk wajahku. Kutepis tangannya. "Iya. Tolong jangan meletakkan telunjuk anda di depan muka saya!" Ketusku. "Belagu amat!" Dia memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci di samping mesin cuciku. Aku bangkit untuk mengambil cucian yang telah kering. Memasukkannya kembali dalam plastik. "Itu cucian majikan lo? Haha... benar ternyata dugaan gue. Kalau lo gembel." Sindirnya di belakangku. Hmmmm… ini nih. Tipikal ciwi-ciwi yang pas sekolahnya kerjaannya begatal aja terus, jadi mulutnya gak bisa di rem ‘kan! Aku masih terdiam hingga sepintas ide terpikir olehku. Terinspirasi dari tokoh favoritku. Kuambil sebuah kopi. Lalu menukarkan gelas ditergennya dengan gelas kopi hitam milikku. Dia masih asik membaca majalahnya. "Minggir!" Ketusnya mendorongku dan memasukkan gelas kopi dalam putaran kainnya. Aku tertawa dalam hati. Mampus lo! Mulutnya nakal, sih! "Permisi, semoga pakaianmu bersih." Pamitku dan langsung segera keluar dari Loundry. Dari taksi aku melihat wajah merahnya saat menyadari perkataanku sambil memegang bajunya yang telah menghitam. Bhakkk... *** "Apa?!"Teriak Kak Thomas yang kurasa dia sedang bertelponan dengan kekasihnya itu. Sambil membuatkannya kopi. Aku asik menguping pembicaraan mereka. "Sudah sayang... nanti mas belikan baju yang baru dan lebih mahal dari itu. Oke?" Ya…. Manjain terus! "..." "Iya, Sayang. Mas janji, kalau ketemu mas kasih pelajaran berkali-kali." "..." "Boleh, kok. Mas tunggu, ya. Nanti kalau sudah sampai di depan bilang." Whatt??? Ceweknya bakal datang, nih? Sumpah? Wah wah... gak bisa dibiarin ini! ===== Siapa, tuh... pacarnya Thomas hm....?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN