BAB 23

2078 Kata

"Berand." Elusan tangannya terasa di punggungku. "Yang sabar toh, Nduk..." Candanya. Kutinju pelan perutnya sambil terkekeh. Berand merenggangkan pelukan kami. Tangannya terangkat mengusap air mata di pipiku. "Kamu jelek sekali kalau lagi nangis." Ujarnya yang membuat bibirku mengerucut. "Berand." Suara bariton ayah terdengar di belakangku. "Om Joan." Balas Berand sambil menyalami Ayah. Ayah merengkuh bahuku sambil tersenyum menatap Berand. "Apa kabar?" tanya Ayah. "Alhamdulillah, Om, baik. Ehmm... Saya ikut berduka cita atas kepergian Eyang Clara." Ujar Berand dengan nada sedih. Berand Halim. Dia adalah anak tetangga sebelah rumah. Ayahnya orang asli Belanda, sementara Ibunya Asli Indonesia. Dan Berand sangat fasih berbahasa Indonesia meski Ayahnya juga orang Belanda. Berand juga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN