bc

Menjadi Istri Kedua

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
HE
arranged marriage
arrogant
badboy
heir/heiress
tragedy
bxg
like
intro-logo
Uraian

"Jangan berharap lebih. Sudah ku katakan sejak awal, aku hanya mencintai satu wanita dan itu Clara, bukan kau!" Ia mendesis dengan tatapannya yang begitu tajam seolah ingin menembus mata berkaca-kaca Lily.Lilyana tengah menjalani pendidikan di kota dan tengah menyusun tugas akhirnya saat orang tuanya menelpon memberitahukan bahwa ada seseorang yang ingin mempersuntingnya. Orang tuanya mendesak untuk ia segera pulang terlebih dahulu.Richard seorang pria berparas rupawan nan gagah ternyata yang ingin mempersuntingnya namun sosok itu begitu dingin dan angkuh tanpa senyum sedikit pun di wajahnya. Memang adalah wajar jika ia begitu angkuh. Ia adalah pewaris utama dari salah satu pengusaha ternama di London. Kekayaan keluarganya begitu melimpah seakan tidak ada habisnya.Pernikahan itu berlangsung, pernikahan atas keinginan ibu dari si pria. Sedangkan sang pria sendiri begitu muak dan tidak menginginkan pernikahan itu. Ia menyetujuinya hanya untuk memenuhi keinginan ibunya. Setiap hari Lilyana harus menelan pahitnya dari setiap sikap yang dilayangkan Richard padanya. Ia memang tak menyakitinya secara fisik atau mungkin belum, tapi dari setiap sikap dan perkataannya sudah cukup mematahkan hatinya. Ia tidak pernah menerima kehadiran Lilyana karena ia masih sangat mencintai Clara yang merupakan istri pertamanya yang telah dinyatakan menghilang ketika kecelakaan pesawat beberapa tahun silam.Setiap hari pula Lilyana seolah merasa dibayangi oleh perempuan itu, perempuan yang masih sangat dicintai suaminya. Hatinya begitu tersiksa tinggal di rumah yang dipenuhi oleh banyaknya kenangan antara suami dan istri pertamanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Diminta Pulang
Malam semakin larut ketika seorang gadis di dalam sebuah apartemen petak yang begitu sempit masih dipusingkan dengan berkas dan buku-buku tebal guna menunjang sebagai bahan referensinya dalam menyusun tugas akhir pendidikan starata 1 nya. Sudah beberapa bulan senja melakukan observasi sana sini ia masih kesulitan dalam menyusun tugas-tugas akhirnya. Di tambah ia mengalami masalah di tempat kerjanya yang membuat ia semakin pusing hingga rasanya kepalanya ingin pecah. Tapi walau bagaimanapun juga ia tidak boleh mengeluh apalagi menyerah. Usahanya untuk meraih pendidikan yang berasal dari pedesaan datang ke kota untuk menempuh pendidikan tinggi tidak boleh sia-sia begitu saja hanya karena ia merasa lelah dengan pekerjaan part time dan tugas-tugasnya. Lilyana, seorang gadis berparas cantik nan manis dengan kulit putih dan rambut hitam legam bak seorang snow white di cerita-cerita anak. Tapi tak heran jika kecantikannya di samakan dengan salah satu karakter dongeng itu karena memang benar adanya jika ia memang secantik itu. Setelah segala gundahnya ia lantas berdiri dari duduknya lalu mengepalkan tangan dan mengangkatnya dengan penuh dramatisir "Wahai Lilyana janganlah engkau menyerah, teruslah semangat dan berjuang demi masa depan yang cemerlang" Ucapnya teguh bak seorang sang pembaca puisi. Hingga sebuah dering teleponnya mengembalikan dia pada dunia nyatanya. Ia lantas segera meraih ponselnya saat tertera nama ibunya di sana. Dengan girang ia mengangkat telepon itu. "Hallo mom, apa kabar?" "Hallo nak, kabar mom baik, bagaimana denganmu?" "Baik juga, ada apa mommy menelpon malam-malam begini?" "Tidak, ibu hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu" Lilyana sedikit mengerutkan keningnya bingung, memangnya apa yang ingin di sampaikan ibunya. Apakah sangat penting hingga menelpon di larut malam begini? "Apa yang ingin mommy sampaikan memangnya?" Sempat terdiam beberapa saat di seberang sana hingga terdengar lagi suara ibunya. "Begini nak, apa kamu masih ingat dengan nyonya Rosalin?" Lilyana kembali mengerutkan keningnya, ia ingat-ingat lupa dengan nama itu. "Ouh yang sering datang ke pemakaman di kampung kita?" Sahutnya saat sedikit mengingat orang itu. "Iya, tadi ia datang lagi ke desa ini. Namun kali ini ia datang ke rumah kita dan menemui mommy. Kami terlibat perbincangan yang panjang hingga sampai pada suatu kesimpulan" Terang ibunya Lilyana mendengarkan dengan seksama "Lalu?" "Um, jadi begini sayang, nyonya Rosalin ingin mempersunting mu untuk putranya–" "Hah! What?" Belum selesai ibunya berbicara sudah terpotong oleh keterkejutan Lilyana. "... dengarkan mom dulu sayang, karena itulah mom ingin memintamu untuk pulang dulu dan kita bicarakan di sini" "Tapi mom untuk apa aku pulang, aku tidak mau menikah. Lagi pun aku tengah menyusun tugas akhirku" Rengek Lilyana. "Pulang saja dulu ya, nanti kita bicarakan" "T-tap–" Tut Lily dengan sedikit menganga menatap ponsel di tangannya yang baru saja dimatikan secara sepihak oleh ibunya. Ia kemudian berjalan ke arah ranjang, melempar ponselnya lalu merebahkan diri di sana dengan telentang dan kedua kaki yang dibiarkan menjuntai ke sisi ranjang. Lily menatap langit-langit rumahnya cukup lama dengan pikiran yang semrawut setelah mendengar ucapan ibunya di telepon tadi. Bagaimana ia tidak shock, tiba-tiba mendapat mendapat kabar akan dipersunting? Disuruh pulang pula. Padahal tugas kuliahnya tengah menumpuk kini. Atau mungkinkah ia harus mengganti judul penelitiannya dengan "Mirisnya Pendidikan Bagi Para Gadis Desa yang Dipaksa Menikah Muda" yang semua isinya beras dari kisah hidupnya?. Lily sampai memijit pelipisnya, bahkan ia sampai terpikir judul penelitian saking peliknya keadaannya sekarang. *** Satu Minggu berlalu, Lily memutuskan menuruti keinginan ibunya untuk pulang ke desanya. Ia membawa semua hal yang ia butuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, ia memutuskan untuk melanjutkan menyusun tugas akhirnya di sana. Karena ia tidak ingin waktunya terbuang sia-sia selama ia pulang ke rumah seolah itu adalah liburan padahal waktunya untuk pengumpulan tugas sangat mepet. Ia menempuh perjalanan dengan kereta yang membutuhkan waktu 2 jam. Setelah tiba di stasiun, dari sana ia harus menaiki bus kota untuk sampai di daerah tempat tinggalnya dengan waktu 1 jam. Di pinggir jalan, ibunya sudah menunggu dengan tersenyum saat Lily turun dari mini bus yang dinaikinya. Tidak dipungkiri, meskipun ia kesal tapi ia merindukan ibunya. Hingga ia setengah berlari dan memeluk ibunya yang disambut dekapan hangat sang ibu. "Bagaimana kabar mu nak?" Melinda, ibunya mengusap lembut kepala Lily. "Baik kok mom, bagaimana dengan mommy?" "Baik juga" Melinda tersenyum. "Dad?" Lily kembali menanyakan kabar ayahnya. Melinda dia sebentar, seolah bingung dengan jawaban yang ia ingin ia berikan "Baik, ayo kita langsung ke rumah" Melinda menggandeng Lily untuk menuju rumah mereka. *** Malam begitu cepat berganti pagi. Lily tersenyum dalam tidurnya di pagi itu mendengar suara kicauan burung bersahutan, lalu suara gemericik air yang mengaliri sawah, dan suara auman sapi ternak milik orang tuanya dan para tetangganya. Lily bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Hanya setiap pulang ke rumah lah ia bisa tidur nyenyak karena suasana tenangnya. Usai membersihkan diri lalu sarapan. Ia lantas pergi ke kandang sapi di samping rumahnya. Orang tuanya memiliki 2 ekor sapi perah yang selalu diambil susunya untu dijual ke pasar yang merupakan salah satu mata pencaharian keluarganya. Selain itu juga mata pencaharian mereka dengan bertani di ladang di bukit atas rumahnya. Dengan riang Lily menyapa sapi-sapi itu seolah mereka bisa diajak bicara. Ia membawa satu ember khusus untuk memeras s**u. "Apa kabar bunny? Sudah lama aku tidak pulang buka? Bagaimana, apa s**u mu seenak biasanya, hm?" Kicauannya sembari memerah s**u salah satu sapi yang ia panggil bunny itu. Setelah itu ia beralih pada sapi satunya lagi yang panggil Viona. Namun baru ia akan memerah satu sapi lagi ia dikejutkan dengan suara ibunya bersama seorang– tunggu, ibunya bersama seorang pria? Mata Lily membelalak. Kenapa tiba-tiba ada seorang pria di rumahnya. Apa jangan-jangan dia...? "Lily! Kau mommy cari-cari ke mana-mana?" "Dia siapa mom?" Lily menunjuk seseorang di belakang ibunya. Ibunya sedikit melotot dengan bibir bergumam oh my god lalu perlahan menoleh ke belakang dan tersenyum kikuk "Nak Richard, maaf atas situasi yang kurang pas ini. Lily baru kembali ke rumah jadi ia merindukanmu hewan-hewan ternak kami" Tutur Melinda sedikit tersenyum canggung. "Bukan masalah, tadi aku hanya berjalan-jalan dan tidak sengaja melihat kalian disini" Jelasnya dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali. "O-oh y-ya, silahkan untuk menikmati lagi suana disini, saya akan membawa Lily untuk bersiap-siap terlebih dahulu" Melinda sedikit membungkuk tanda tata krama lalu menarik tangan Lily untuk mengikutinya. Tatapan Lily dan pria itu sempat bertemu beberapa saat sebelum pria itu memutus kontak matanya. To be continued

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook