Pria kharismatik

1282 Kata
Mimpi-mimpi buruk yang sering Gladis alami sejak kecil, mimpi yang terasa nyata, mimpi yang berulang dan sama. Bahwa di dalam mimpi itu dia adalah seorang putri bangsawan. Namun ada sosok penyihir yang selalu mengusiknya, mengincar hartanya, keluarganya dan kekasihnya. "Akan kuhancurkan wajahmu putri Isabella, lalu aku akan menjadi dirimu! berkuasa, ditakuti, disanjung-sanjung, dicintai oleh semua orang ahaha" teriak penyihir berambut hitam yang tiba-tiba datang ke istananya. Isabella mundur perlahan, tidak ada penjaga di sisinya semuanya telah pingsan disihir oleh Medusa. "Berhenti Medusa" teriak Isabella kencang lalu berlari ke dinding membawa pedang panjang milik keluarganya. Medusa tertawa nyaring "Tidak akan pernah, aku tidak akan berhenti bahkan setelah kita mati. Aku akan bereinkarnasi dan mencarimu lalu merebut semua milikmu haha" ** Dua jam sebelum keberangkatan ke Hawai.. Mobil Kai terparkir di sebuah hotel, dia sedang menemui seorang klien yang berasal dari Jepang untuk peluncuran produk terbarunya. Setelah beberapa jam di sana, akhirnya mereka pun keluar seraya bersalaman tangan. Kai pun pulang dan menuju rumahnya untuk mempersiapkan keberangkatan ke Hawai, namun di pinggir jalan dia melihat seorang gadis yang sedang memperbaiki mobilnya di pinggir jalan, dia mengenalnya itu Audrey. "Itu temannya Gladis kan?" dia segera menepi dan turun dari mobilnya. Audrey terlihat senang saat Kai datang membantunya, Kai mencoba menjadi mekanik untuknya hingga tangan dan jasnya mulai hitam karena dari mesin mobilnya. Di sela-sela itu degup jantung Audrey berdegup cepat, dia sangat menantikan moment berdua bersama dengan kekasih sahabatnya itu. Sesekali ke duanya tertawa canggung karena mereka gagal memperbaiki mobilnya. "Aku menyerah Audrey, ayo aku antar saja pulang" ajaknya sembari membersihkan jasnya. "Tapi" Kai menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil, dia juga memasangkan sabuk pengaman untuknya. "Kau sahabatnya Gladis, jadi kau sahabatku juga" ucapnya. Jujur Audrey sangat kesal mendengar pernyataan itu karena dia sama sekali tak menganggapnya seperti itu, sejak mengenal Gladis Audrey selalu terobsesi untuk memiliki semua yang dia miliki. Lipstik, tas, dress bahkan mobil yang sama, dia tidak tahu akan sejauh ini sampai menyukai cinta pertama Gladis. Saat ini di benak Audrey hanyalah bagaimana caranya agar Kai jatuh ke pelukannya, tiba-tiba ide gila itu muncul saat dirinya melihat botol air mineral yang di simpan diantara mereka. "Boleh aku minta minum?" gugup Audrey menunjuk botolnya. "Tentu ambil saja" Dia segera meraih botol dan membukanya, sesuai rencananya botol itu dibiarkan terjatuh ke tubuhnya hingga basah kuyup membentuk sesuatu yang menonjol yang indah. "Astaga!" ucap Audrey mengumpat, Kai segera menepi dan mencoba mengelap badan Audrey menggunakan tissue namun itu percuma saja. "Kamu kedinginan? bagaimana ini aku tak membawa pakaian" bingung Kai, dia lalu menatap jasnya dan membukanya cepat. Audrey tersenyum "Tapi pakaiannya harus aku lepas dulu, ini sangat basah" gerutunya. "Baik lepas lah dulu aku tak akan lihat" sahut Kai segera membelakanginya. Dia perlahan membuka pakaiannya, namun dia kesulitan bergerak karena sabuk pengamannya tak memberinya ruang. "Kai, bisakah tolong bukakan ini aku mohon" lirihnya pelan. "Apa? hah ya?" Kai menoleh tak bisa dia pungkiri pertahanan dirinya tak sekuat itu, sekilas dia melihat d**a indah Audrey yang menimbul meski Audrey halangi sedikit. Kai berusaha dengan cepat membuka sabuknya namun karena gugup membuatnya makin lama. "Ah!" teriak Audrey saat tangannya malah kejepit sabuk pengaman, Kai panik dan malah terjatuh ke d**a Audrey. "Astaga maaf" panik Kai menatap Audrey dari bawah keindahan sana. Namun tatapan Audrey nampak berbeda seakan mengajaknya untuk hal yang sejak tadi Kai takutkan. Tatapan ke duanya memiliki arti yang sama, semakin mendekat dan ciuman panas itu tak bisa dihindarkan. Berlanjut dengan Kai yang sejak tadi tak bisa menahannya untuk memainkan d**a Audrey. ** Langkahnya berlaju cepat, menuruni anak tangga mengejar sang kekasih yang sudah berada di bawah. Wajah panik Kai terlihat begitu menonjol, sejak dulu berpacaran Kai yang paling tergila-gila dengan Gladis. "Sayang berhenti!" teriaknya berulang. Gladis sama sekali tak mendengarkan kekasihnya, dia menaiki mobil mewahnya dan duduk di kursi penumpang. Di saat yang bersamaan mobil lain datang, klien Kai yang baru sampai meliat dengan jelas bagaimana Gladis di dalam mobil dia terlihat kacau dengan wajah menangis. "Ada apa ini? nona Gladis mau kemana?" ucap pria berlogat Hawai menggunakan bahasa Indonesia sebisanya. Namun tak ada jawaban dari Gladis, mobil itu berlalu pergi sementara Kai terlihat kacau dan berteriak kesal. "Arrgh! Sialan" ucapnya. "Tunggu, jangan bilang kau menyelingkuhi kekasihmu?" tanya kliennya kecewa, seraya menatapi penampilan Kai dari atas sampai bawah yang hanya mengenakan handuk pendek. Kai segera menggeleng "Pak mari masuk ke dalam, aku akan bersiap-siap" jelasnya. "Tak perlu! perjanjian batal! aku tak pernah mau bekerja sama dengan lelaki pecundang yang menyakiti kekasihnya!" tegas pria bule itu lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. "Kekasihmu sudah merepotkan dirinya untuk menjemput kami ke bandara, tapi kau malah bermesraan dengan wanita lain? pria macam apa kau ini, kau tak pantas menjadi penerus Antonio!" cerocosnya lagi lalu menutup pintu mobilnya keras. Mereka berlalu pergi, kaca mobil terbuka perlahan memperlihatkan sosok istri klien Kai yang menatapnya jijik. "Perbaiki dirimu" "Sialan! semua gara-gara Audrey!" ** Penerbangan terasa begitu sepi dan menyayat hati setiap detiknya, Gladis duduk dengan tatapan kosong ke luar jendela pesawat menatapi deretan awan putih yang terasa memeluknya. Sedetikpun dia tak pernah membayangkan bahwa Kai akan mengkhianatinya, cinta pertamanya yang sudah bersamanya selama 4 tahun berakhir menduakannya dengan sahabatnya sendiri. Bagian paling menyakitkan bagi Gladis adalah sahabat yang menyakitinya tanpa rasa bersalah dan terang-terangan bangga telah merebut Kai darinya, Audrey menyakitinya dengan cara luar biasa. "Audrey, mengapa kau sejahat itu?" gemetarnya dengan air mata yang terus berjatuhan. Sesampainya di Indonesia dengan perjalanan yang sangat panjang Gladis sama sekali tidak tertidur dan tak berhenti menangis, ponselnya dia matikan. Dia duduk di kursi tunggu menunggu sopirnya datang, disana sudah sepi karena waktu menjelang larut malam. Sesekali Gladis tertidur sebentar namun terbangun kembali dengan kepala yang terasa begitu nyeri. "Sial, kepalaku sakit sekali" umpatnya. Suara beberapa langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, Gladis terpaku pada seorang pria yang kini berhenti di depannya dengan tatapan dingin. "Anda siapa?" tanya Gladis kikuk seraya melihat ke sekeliling. Pria itu sangat tampan, tatanan rambut yang rapi dan jas yang membawanya semakin berwibawa. Alisnya tebal, matanya elang dan tajam, dia menggunakan jam tangan mahal dan aroma mintnya tercium olehnya. Pria itu tak sendirian dia bersama dua bodyguard di belakangnya. "Kenapa dia kharismatik sekali" gerutu Gladis dalam hatinya. "Kau tak mengingatku? bertahun-tahun aku menunggu moment untuk bertemu denganmu" ucap pria itu lalu senyum tipis di bibirnya muncul. Gladis terlihat semakin bingung karena dia sama sekali tak mengenalnya. "Aku antar pulang ayo" ajak pria itu lagi. "Tunggu, tapi anda siapa" panik Gladis menatapnya tak suka dan sedikit takut dia mundur. "Saya Galaxy Osmond" ucapnya datar. "Saya bukan penjahat" jelasnya. Dia termenung sebentar, seperti mengenal marga yang di sebutkan di akhir namanya. "Osmond?" perlahannya sambil terus berpikir. "Gladis! sudah ayah bilang jangan dulu berpacaran sekalipun dia anak pengusaha. Karena beberapa tahun lagi tuan Osmond sahabat terbaik ayah akan mengenalkan putranya ke keluarga kita, mungkin 3 atau 4 tahun lagi!" "Ayah gila ya? ini bukan zaman dulu ayah, ini zaman modern aku ingin memilih priaku sendiri" Bayangan itu tiba-tiba teringat oleh Gladis, dia lalu menatapi Galaxy takut sambil terus menatapnya rinci. "Jadi pria ini yang dimaksud ayah putranya tuan Osmond?" ucapnya pelan sembari membelakanginya. "Sudah tahu? mari saya antarkan pulang" ajak Galaxy lagi. "Apa dia pergi ke Indonesia hanya untuk menemuiku?" tanya Gladis dalam hatinya lagi. Gladis segera menggeleng "Tidak perlu, sopir akan menjemputku sebentar lagi" tolaknya mentah-mentah seraya cepat pergi. Namun dengan langkah cepat Galaxy memegang tangan Gladis "Pak Kenzo Dirgantara akan kecewa padaku jika dia tahu saya membiarkan putrinya duduk sendirian disini dengan air mata di pipinya" ucapnya datar dengan tatapan penuh arti pada Gladis, disaat itupun degup jantung Gladis berpacu menatap seorang pria yang nyaris sempurna dan wangi yang khas. "Apa kau sedang menangisi pacarmu?" "Tidak" "Benarkah?" "Anda jangan melewati batas tuan Osmond" tekan Gladis menatapnya kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN