Lipstik merona
Langit biru yang indah menandakan pagi yang cukup cerah di Hawai, Gladis berada di dalam mobilnya yang sangat mewah dia duduk santai di kursi penumpang bersama dengan sopir yang menyetir mobilnya.
Tatanan rambut pirangnya yang terurai rapi dengan sentuhan bunga Lily kuning yang diselipkan disela daun telinga. Dia mengenakan kacamata coklat berukuran kecil trend saat ini.
Gladis mengenakan dress pastel yellow yang manis membuatnya makin bersinar di pagi itu, tiba-tiba getar ponselnya membuatnya membuka kacamatanya.
Pesan dari seorang klien kekasihnya yang akan dia jemput di bandara saat ini, kenapa tak Kai jemput? karena Gladis terlalu khawatir pada Kai yang sangat kelelahan seharian kemarin dia menemui 5 klien dari berbagai Negara.
Tuan Jacobs klien 1
Tak perlu menjemput, saya sudah di jalan menuju lokasi.
Senyum di wajah cantik Gladis timbul "Baiklah, ini akan mempermudah. Pak putar balik kembali ke villa" perintahnya.
Gladis sedang berliburan di Hawai bersama dengan kekasihnya Kai, dan 3 temannya Audrey, Lisa dan Hannah. Meskipun hal terpentingnya adalah pertemuan Kai dan Kliennya yang berasal dari Hawai, namun Gladis ingin menemaninya seraya berliburan disana dan teman-temannya sangat antusias untuk ikut.
Meskipun hari kemarin sebelum berangkat ada beberapa hal yang membuat Gladis curiga pada sang kekasih, dia menemukan lisptik di mobilnya yang jelas-jelas bukan punyanya. Namun Kai bilang itu adalah lipstik ibunya dan Gladis pun mempercayai kekasih yang sudah 4 tahun bersamanya.
Mobil Gladis kembali memasuki villa mewah itu, 2 bangunan villa yang menjadi satu dengan kolam besar di depannya. Satu villa untuk Kai beristirahat bersama ruang kantor untuk dia bertemu dengan kliennya dan villa satu lagi Gladis dan teman-temannya gunakan.
Kaki jenjang Gladis turun dari mobil, dia segera menuju ke villa sang kekasih yang beberapa menit dia tinggalkan. Gladis cukup khawatir dengan keadaan Kai saat dia tinggalkan, karena Kai bilang tak enak badan karena sangat lelah sehingga Gladis yang memutuskan untuk menjemput klien penting kekasihnya.
Langkah Gladis terhenti saat dia melihat sandal hotel 2 pasang di depan kamar Kai, Gladis membawanya dan menatapnya heran.
"Tunggu, kenapa ada 2 pasang? apa aku tadi memakai sandal kesini?" bingungnya.
Tanpa berfikir panjang dia segera membuka pintu kamar Kai namun tak ada siapapun disana yang ada hanya pakaian yang berceceran di ruang itu, dengan suara air yang deras di kamar mandi Gladis hendak pergi kesana berfikir Kai sedang mandi namun sudut matanya seakan memberi tanda untuk berhenti.
Ada celana dalam perempuan yang berwarna merah disana, saat Gladis sadar ada 2 pasang piyama hotel yang ada dilantai. Saat itu pun kecurigaan Gladis memuncak, dia segera memungut celana dalam perempuan tadi dan menuju ke arah kamar mandi.
Braakk!!!
Gladis diambang kemarahan saat dia melihat dengan matanya sendiri, Kai bermesraan dengan seorang sahabatnya di bak mandi di penuhi busa sabun, mereka saling berpelukan dan ciuman hangat tanpa sehelai benang.
Mereka berdua sangat terkejut, Kai segera berdiri dan turun dari bak meraih handuk pendek yang digantung disana.
"Sayang, dengarkan dulu! ini salah paham" gugup Kai mencoba mendekati Gladis yang sedari tadi memberikan kode dengan tangannya untuk menjauh.
Air mata Gladis terjatuh begitu saja yang dia lihat hanyalah Audrey sahabatnya yang sudah lama dia kenal kini mengkhianatinya. Gladis menunjuk Audrey dengan tatapan jijik dan gemetar.
"Audrey! apa yang kamu lakukan?" Gladis mundur dengan tatapan kosong, rasanya dunianya hancur dan berhenti saat itu juga, rencana pernikahan mereka yang baru saja akan di bahas minggu ini rasanya hancur berantakan.
Dia kembali menatap sahabatnya yang tak berkutik dengan sendu. "Kau melakukan ini dengan Kai? yang bahkan aku sendiri tunangannya tidak pernah sampai sejauh ini dengannya tapi KAU! KAU MURAHAN" teriak Gladis dengan degup jantung yang berdegup kencang.
Sementara sahabatnya hanya terdiam namun tak sekalipun menunjukkan rasa bersalah, dia hanya memalingkan mukanya.
"Sayang, aku tak melakukan apapun dengannya" jelas Kai mencoba memeluknya dan memegangi ke dua bahunya.
"Tutup mulutmu Kai! Tak melakukan apapun katamu? orang gila mana yang tak melakukan apapun saat kalian berdua telanjang bulat! Gila! kalian GILA" teriak Gladis menatap jijik kekasihnya.
Kai sangat terguncang dia sangat ketakutan kehilangan Gladis yang sudah menemani dirinya selama 4 tahun dalam suka maupun duka. "Sayang stop, sini" ucapnya mencoba memeluknya.
"Aku khilaf sayang, cinta aku cuman buat kamu Gladis kamu tahu itu" lirih Kai memaksanya memeluk Gladis.
"Lepas! aku sudah jijik sama kamu Kai, hubungan kita tinggal menentukan tanggal pernikahan dan ini ini yang kamu lakukan?"
"Sejak kapan semua ini terjadi? SEJAK KAPAN?"
Gladis melepas pelukan Kai dan mendorongnya jauh ke arah Audrey "Sayang tidak, ini tidak yang seperti kamu fikirkan"
"JAWAB KAI!"
"Baru kemarin kami berciuman di mobil, baru kemarin hubungan kami terjalin" jawab Audrey dengan datar tanpa merasa bersalah.
"Audrey, diam" teriak Kai memarahinya dengan mata memelotot.
Suasana semakin menegang, Kai menatap Audrey kesal sementara Gladis mendekatinya lalu menamparnya sangat keras hingga bunyinya sangat nyaring.
"Kurang ajar! sahabat macam apa kau ini! dasar murah!" umpat Gladis.
"Jadi.." Gladis mengingat hal yang terjadi kemarin.
Gladis bertepuk tangan dengan tertawa muak "Lipstik itu bukan milik ibumu Kai? melainkan milik w************n ini? haha pantas saja aku merasa mengenalnya" tawanya.
Terdengar suara berlari mendekat ke arah mereka yang ternyata adalah Lisa dan Hannah yang sangat syok dengan kejadian ini, mereka menatap Audrey kecewa.
"Gladis" sahut Lisa yang terlihat bersedih, begitupun dengan Hannah yang menangis dan ke duanya langsung memeluk Gladis yang terisak.
Audrey berdiri dengan telanjang bulat, Kai memelototinya untuk diam dan jangan membuat ulah. Audrey turun dari bak mandi dan menatap ke tiga sahabatnya dingin.
"Perlu aku jelaskan Glad, setelah kamu datang kesini kami sudah melakukannya dan Kai sudah menjadi milikku bukan milikmu yang bahkan tak pernah kau sentuh kan?" ucapnya lagi datar.
"Hentikan jalang!" bentak Kai di depan wajah Audrey keras, hingga membuatnya sedikit mundur dan gemetar menatap kemarahan Kai.
Ke dua sahabat Gladis menatapnya murka "Kurang ajar, Audrey kau setan atau sejenis iblis?"
"Stop! stop!" Audrey menjauh seraya menutup ke dua telinganya dan segera pergi dari sana dengan air mata yang terus berjatuhan.
Kai terlihat sangat panik dan gelisah, dia hendak mengejar Gladis namun langkahnya berhenti di Audrey sebentar dengan tatapan tajam dan murka.
"Hubungan kita hanya sebatas ini Audrey, jangan harapkan apapun dariku apalagi menganggap aku milikmu? aku adalah calon suami Gladis ingat itu!" tekannya lalu segera pergi begitu saja.
Hannah dan Lisa menatap Audrey jijik dan menggeleng tak habis pikir. "Kenapa kau selalu tertarik dengan apa yang Gladis miliki? sejak SMA obsesi kau itu adalah yang dimiliki Gladis, kamu pikir kita tidak menyadari itu Audrey?" tekan Hannah.
"Berawal dari barang-barang branded Gladis hingga pada lelaki yang Gladis cintai juga aku pikir gak akan berakhir seperti ini, Kai itu cinta pertama Gladis Audrey sadar!" teriak Lisa lagi.
Audrey kembali duduk di bak mandi lalu menutup matanya rileks "Entahlah, mengapa ini sangat membuatku terasa hidup? memiliki apa yang Gladis miliki rasanya menyenangkan" lirihnya pelan.
"Dasar psikopat!"
Dia tersenyum dan membuka matanya menatap teman-temannya yang terus mengumpat tentangnya.
"Aku hanya bercanda, aku merasa bersalah sekali sampai tak mampu melihat wajah Gladis karena rasa bersalahku. Aku meminta maaf dan memperbaiki semuanya, aku berjanji"