Bab 1: Pernikahan yang bukan untukku
“Ooohh... Yeahhh...”
“Mikhail... Haaa... Enak sekali...”
Suara desahan yang terdengar panas memenuhi salah satu lantai di gedung pencakar langit yang berdiri dengan gagah di pusat kota. Tuxedo, gaun, dan beberapa perhiasan sisa pesta pernikahan berceceran di lantai, teronggok begitu saja setelah ditinggalkan pemiliknya untuk bercinta.
Suara erangan yang terdengar semakin nyaring, menantang gemuruh hujan diluar sana. Seolah menantang langit dengan cinta mereka yang membara.
Siapapun yang mendengarnya pasti akan berfikir demikian.
Termasuk Ophelia.
Perempuan itu mematung dari tempatnya dibalik pintu. Tangannya yang semula memegang gagang pintu dan bersiap untuk membukanya, terkulai begitu saja saat dia benar benar menyadari jika Mikhail, orang yang sudah bertunangan dengannya, telah melangsungkan pernikahannya hari ini.
Bukan dengannya—tentu saja. Melainkan dengan seseorang yang tidak pernah ingin Ophelia kenal.
Apa yang ada di hadapan matanya sudah cukup bagi Ophelia untuk mendapatkan kebenaran atas kabar yang dia dapatkan saat dirinya berada di luar negeri. Perempuan itu berbalik, beranjak pergi dari kamar yang selama ini menjadi saksi cintanya pada Mikhail dan turun dari salah satu lantai tertinggi di gedung pencakar langit itu dengan lift.
‘Jika aku berharap kalian mati saat mencapai pelepasan, aku benar benar akan dianggap sebagai seorang penjahat.’ Pikir Ophelia
Netranya yang semula menatap lantai, bergerak naik menuju pantulan dirinya pada dinding lift. Rambut kecokelatan yang tergerai cantik, fitur wajah tirus dengan mata bulat dan bibir tipis yang indah, serta gaun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan. Hal yang dapat dia lihat dari pantulan dirinya pada cermin.
Perempuan itu tersenyum dan mendengus, “Bukankah... seseorang mengatakan jika aku adalah hal terbaik yang ingin dia miliki?”
Pintu lift berdenting pelan.
Ophelia melangkahkan kedua kakinya berjalan keluar dari benda kotak itu. Seorang resepsionis yang berdiri di belakang meja, berdiri dan menatapnya dengan tatapan sungkan. Dan tentu saja, Ophelia tahu apa maksudnya.
Tanpa mengatakan apapun, Ophelia menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat agar wanita itu tidak mengatakan apapun dan merahasiakan tentang keberadaan dirinya di tempat ini. Kedua sudut bibirnya terangkat naik saat dirinya melihat resepsionis itu menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Seorang petugas keamanan yang juga melihat hal itu, menundukkan kepalanya memberi hormat. Dia meraih sebuah payung, menemani sang Nona sekaligus memayunginya saat menunggu petugas valet membawakan mobilnya diluar sana.
“Hujannya cukup deras, Nona. Haruskah saya panggilkan seorang supir pengganti?” Tanya si petugas keamanan sesaat setelah sebuah mobil berwarna hitam pekat berhenti tepat di depan mereka
Mendengar tawaran itu, Ophelia terdiam sejenak. Dia mendongkak menatap awan malam yang menurunkan hujan sebelum kemudian menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu. Aku akan berkendara sendiri.”
***
Namanya Ophelia. Ophelia Vivienne Aldrich. Seperti namanya yang menggambarkan keindahan yang klasik, parasnya menunjukan hal yang sama. Rambut panjang bergelombang berwarna cokelat terang, tubuh yang ramping nan elok dengan lekukan yang terasa pas untuk dirangkul, serta fitur wajah yang cukup untuk membuat dirinya muncul dalam list TC Candler. Tahun ini usianya menyentuh 24 tahun, seharusnya di tahun ini juga, dirinya mengubah statusnya sebagai istri dari Mikhail Aleksei.
Namun semua rencana itu lenyap entah kemana dan hanya menyisakan tanda tanya tak berujung dalam benak Ophelia.
Pandangan Ophelia memburam bersamaan dengan alkohol yang mengaburkan pikirannya. Perempuan itu menatap pinggiran cangkir tequila nya yang berbinar memantulkan cahaya lampu VIP room dari bar yang di sewa nya, tangannya meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak begitu saja diatas meja. Benda pipih itu sejak tadi bergetar menampilkan tiga nama yang terus berusaha menghubunginya belakangan ini.
Namun entah kenapa Ophelia tidak memilki niat untuk mengangkat semua telfon yang masuk ke dalam ponselnya. Dia tidak berniat untuk terlihat frustasi dan menyedihkan disaat yang sama di depan orang orang itu.
Klik
“Huh?”
“Terima kasih, bawa ini. Kau bisa pergi sekarang.”
Ophelia mengerjapkan kedua mata satunya saat mendengar suara yang cukup akrab di telinganya. Dia menipiskan bibirnya saat melihat pemilik suara itu muncul dari balik pintu dan kembali menutup pintu dibelakang tubuhnya.
Kedua mata Ophelia kembali mengedip perlahan saat melihat siluet tubuh seorang pria yang berjalan ke arahnya. Pria itu melepaskan jas yang dipakainya dan melemparkannya begitu saja ke sofa sebelum kemudian bersidekap sambil balas menatap ke arahnya.
“Tamu tak di undang, huh? Apa ini kebiasaanmu? Masuk ke dalam ruangan VIP yang sudah disewa seseorang? Ini pelanggaran.” Tukas Ophelia datar. Dia merebahkan kepalanya pada sandaran sofa yang sejak tadi didudukinya, “aku akan mengeluhkan hal ini pada pemiliknya.” Lanjutnya pelan sambil menutup kedua matanya dan bersidekap sambil menyilangkan kakinya
“Aku pemiliknya. Dan aku datang untuk mencegah seseorang mati disini.” Tandas pria itu
“Dan? Siapa itu?” tanya Ophelia malas
“Kau. Dasar bodoh! Ditinggalkan Mikhail seharusnya tidak membuatmu semenyedihkan ini, Ophe! Apa dia seberharga itu hingga kau memesan 8 botol minuman dengan kadar alkohol yang tinggi seorang diri?!” sembur pria itu kesal
Mendengar kalimat bernada tinggi itu, Ophelia kembali membuka kedua matanya secara perlahan. Dia melirik pria yang sedang menatapnya dengan kerutan dalam di dahinya, “Kau marah? Seharusnya pemilik Bar sepertimu senang karena ada orang yang membayar mahal sepertiku.”
“Aku tidak senang jika itu kau, Ophe. Tidak berniat sombong, tapi tanpa kau membeli banyak minuman mahal ku, aku sudah punya banyak uang.”
Ophelia berdecih.
“Kau pasti Alvin. Karena Calvin tidak akan memamerkan uangnya.” Gumam Ophelia tenang
“Apa butuh waktu lama bagimu untuk menyadari jika yang datang adalah aku dan bukan Calvin? Berapa banyak yang kau minum?” keluh Alvin, kesal
“Satu.”
“Satu botol?”
“Satu gelas, bodoh.” Balas Ophelia tidak kalah kesalnya. Dia menipiskan bibirnya dan menutup kedua matanya sebelum kemudian bertanya dengan pelan, “Alvin... apa aku terlihat menyedihkan?”
“Sangat. Apa Mikhail seberharga itu untukmu? Bagiku dia tidak lebih dari b******n yang selalu berpura pura tenang. Dia serigala berbulu domba!” Sahut Alvin datar
Seulas senyuman terbit dibibir Ophelia.
Alvin tidak mengerti. Bagi seseorang yang sudah bergantung pada Mikhail sejak kematian Ibunya, pria itu memiliki posisi tersendiri dalam hatinya. Mikhail memang sejak dulu cukup pendiam. Pria itu menunjukan perhatiannya melalui tindakan.
“Aku bertumpu pada Mikhail saat kehilangan, Alvin. Kau tidak akan mengerti rasanya.” Gumam Ophelia tanpa membuka kedua matanya
“Dan kau juga harus melupakan perasaan itu. Ingat hal ini, Ophe. Pria itu, Mikhail. Dia menikahi seseorang yang menjadi salah satu alasan kematian Ibumu! Dia menikahi anak dari pembunuh ibumu!”
Ophelia mengulas senyuman tipisnya.
Benar. Orang yang menikah dengan Mikhail adalah saudara tirinya—atau lebih tepatnya, anak dari wanita yang membunuh Ibunya untuk naik ke posisi sebagai istri CEO.