Berada di dalam dimensi kegelapan itu membuat Max benar-benar merasa kalau dirinya berada di tempat asing dan antah berantah sedikit muak dan juga muntah di saat yang bersamaan. Namun setelah keluar dari tempat itu, Max langsung berpikir kalau dirinya sudah sembuh dari luka-luka yang ada di badannya dan menempel membuatnya benar-benar terluka. Dia merasa kalau berada di tempat tadi, waktu berjalan tidak semestinya dan lebih cepat daripada saat ia berjalan di dunia biasa dengan waktu yang normal. Max memegang anak panahnya dengan erat-erat, menjaganya agar tidak terjatuh ataupun terbawa ke orang lain, karena Max tahu misi dan juga tujuannya ke tempat ini belum berakhir.
Berada di ruang tamu, Max langsung saja menuju ke bagian atas rumah menghampiri Mathilda yang sedang asyik menyantap para jiwa dan juga orang-orang tak berdosa. Dia belum yakin kalau Mathilda akan benar-benar bisa kalah setelah dia melawan Angela dan juga Ankha dengan kemampuannya itu, tapi setidaknya dia yakin kalau beberapa kekuatan Mathilda yang dia punya sekarang akan berkurang dengan drastis. Max berharap kalau Marcell, Julio, Alinzar, dan juga Jacob akan berada di sisinya nanti saat dia melawan Mathilda di sana. Ia berharap kalau semuanya akan berakhir baik-baik saja tanpa ada satupun dari mereka yang gagal melakukan rencana yang sudah di susun itu.
Max sudah tiba di depan pintu kamar Mathilda, bersiap-siap untuk membukanya dan langsung saja datang menghampiri dirinya. Max membuka gagang pintu di kamarnya itu, dan melihat kalau memang ada sosok Mathilda di sana. Sedang duduk dengan mulut yang diselimuti oleh darah berantakan dan tak rapi. Onggokan mayat dan juga orang-orang di sana berjejer tidak rapi tanpa kepala dan terlihat mengerikan. Max tak tahu apa saja yang sudah Mathilda lakukan kepada para pemburu dan orang-orang di depannya ini. Namun dia yakin kalau dia akan membalaskan dendam semua orang yang ada di ruangan ini dan membunuh Mathilda dengan tangannya sendiri.
“Akhirnya kau datang wahai pemburu. Kau tahu kan kalau aku sedang menunggumu sejak tadi. Hanya saja aku tak tahu kalau kau akan datang secepat ini sebelum aku bisa membereskan apa yang ada di kamar ini. Maafkan aku jika kamar ini terlihat berantakan dan kau tidak berkenan untuk melihatnya dalam situasi seperti ini.” Ucap Mathilda sambil memegang lap untuk membersihkan sebagian darah yang ada di wajahnya. Lap yang berwarna cerah itu langsung saja berubah menjadi gelap karena menempel noda-noda darah yang sangat banyak. Max tak ingin banyak omong lagi, dia langsung saja membidik panahnya dan mengincar kepala Mathilda yang ada di sana. “Untuk seorang makhluk mistis, kau sangat banyak omong. Kau akan mati saat ini di tanganku!”
Max langsung menembakkan panah itu ke kepala Mathilda, namun Mathilda langsung saja meringis dan meremehkan apa yang sudah dilakukan Max kepadanya. “Hanya panah itu? Hah. Kau pikir senjata seperti itu akan mempan untuk melawanku? Tidakkah kau mempunyai senjata lain yang memiliki keandalan lebih tinggi daripada senjata yang kau bawa sekarang? Karena aku tentu saja dapat menghindar, ataupun menangkapnya seperti ini!” Mathilda memegang panah Max yang melaju di udara menghampirinya. Namun Max tentu saja sangat cerdik tidak akan membuat Mathilda melakukan apa yang ingin ia lakukan semudah itu
“Mungkin kau bisa menahannya dengan satu tanganmu, namun apa yang terjadi jika puluhan panah akan menyerangmu dengan sekejap saat ini!” tiba-tiba dari seluruh penjuru dan juga sisi dari Mathilda, keluar sebuah panah yang akan langsung masuk menyerangnya. Mathilda tentu saja sangat panik saat itu, karena dia tidak mengantisipasi Max akan bisa melakukan itu. Mathilda langsung saja membanting panah yang baru saja dia pegang tersebut dan bergerak untuk menghindar dari setiap panah yang akan menyerang dirinya. Panah-panah itu bergerak dengan sangat cepat dan tidak teratur membuat Mathilda tidak bisa memprediksinya dengan sangat mudah. Sampai akhirnya ada 6 panah yang masuk dan mengenai badan Mathilda membuatnya berteriak kesakitan dan juga meronta-ronta.
“Pemburu kurang ajar! Jangan mengira kalau aku hanya bisa menghindar dari setiap seranganmu. Aku juga bisa melakukan ini kepadamu!” Awan hitam itu muncul dari tubuh Mathilda, menggelapkan semua yang ada di sekeliling Max dan juga seluruh ruangan ini. Hawanya benar-benar mirip seperti saat berada di dunia lain, hanya saja sesak dan juga nafas yang terengal-engal dia rasakan saat berada di sini. Panah yang melayang di segala penjuru itu juga terlihat tidak berfungsi lagi, mereka tidak mampu menembus pekatnya awan hitam ini dan bergerak untuk menyerang Mathilda sekarang.
Bahkan, Max dan juga panah-panahnya tidak mengetahui dimana lokasi Mathilda sekarang, membuatnya benar-benar terjebak dan tersesat di antara kabut dan juga asap-asap hitam yang membutakan matanya ini. Max hanya mencoba untuk membuat segala sesuatu di dalam sini menjadi lebih baik, namun berakhir menjadi lebih buruk saat ia masuk ke dalamnya.
“Kau akan mati saat berada di dalam semua kabut ini. Semenjak kau datang di rumah ini, kau telah membuat banyak sekali petaka dan juga kesialan di rumah ini. Kau tahu bukan apa yang dilakukan seseorang untuk membasmi serangga? Ya benar, membunuhnya sampai ke tulang-tulang dan mencegah mereka untuk kabur atau mengembangkan diri mereka lagi!” Ucap Mathilda dalam bayang-bayang asap hitam dan juga kabut itu. Dan tiba-tiba dari belakang punggungnya, Max merasakan sebuah benda hangat, menusuk langsung ke dalam tubuhnya dan merusaknya dengan sangat fatal. Max tertusuk oleh benda itu, saat ia melihat perutnya, ia sadar kalau itu adalah asap hitam yang memadat dan membuat organ dalamnya terluka.
Max langsung terjatuh ke lantai dan memuncratkan begitu banyak darah keluar dari perut dan juga mulutnya. Dia bisa mendengar dengan jelas suara Mathilda yang tertawa histeris bak seorang penyihir di dongeng-dongeng kuno terdengar menyebalkan sekaligus mengesalkan. Max tidak boleh kalah di sini, dia masih belum melakukan apa-apa untuk menyerang Mathilda. Dia harus segera bangkit dan juga membunuh Mathilda di tempat ini agar tidak ada terjadi sebuah penderitaan dan juga siksaan di tempat ini. “Kau sangat tangguh pemburu, kau mungkin pemburu tertangguh yang pernah aku lawan di tempat ini melebihi siapa pun. Kau seharusnya bangga dengan itu?”
“Bangga? Apakah harus tersenyum bahagia mendengar itu? Apakah aku harus tepuk tangan untuk menghargaimu sebagai orang yang telah melawanku?” tanya Max dengan sinis. Namun yang tertawa dan juga bertepuk tangan di ruangan ini malah Mathilda. “Tentu saja, jika kau tak ingin melakukannya, aku akan melakukannya untukmu. Tapi sayang sekali pemburu, riwayat dan nasibmu sebagai seorang berdarah dingin akan berakhir di sini!” Ucap Mathilda kepada Max yang langsung saja mengancamnya.
Dari belakang Max, dia bisa merasakan kalau ada sebuah awan hitam yang mengeras dan berbentuk padat akan menusuknya saat ini. Namun Max langsung berkata, “Keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama kau tahu. Kau terlalu bodoh jika menganggapku akan dapat terkena serangan itu lagi darimu!” Max membuat sebuah panah cahaya yang bersinar dengan sangat terang di dekat badannya. Terlalu terang bahkan itu bisa membuyarkan dan memecah asap hitam yang dimiliki Mathilda bersama dengan dirinya. Asap hitam yang menjadi bentuk keras itu langsung saja leleh dan terurai dengan sendirinya.
“Tidak mungkin, bagaimana ini bisa terjadi! Asapku tidak mungkin terurai dengan semudah itu!” Ucap Mathilda tak tahu kalau Max bisa melakukan sesuatu semacam itu. Mathilda pun tak ingin kalau kesempatannya agar bisa membunuh Max terbuang sia-sia, dia langsung saja memadatkan beberapa kemampuan asap hitamnya dan membuat ribuan duri yang siap untuk menyerang Max di saat yang bersamaan di sana. Max hanya diam, sangat percaya diri kalau dia mampu bertahan dari serangan yang akan diluncurkan Mathilda itu. “Ini adalah akhirnya Mathilda, kau mungkin ingin mengeluarkan kata-kata terakhir bagi orang-orang yang kau kenal atau sayangi. Tapi sayangnya, meskipun kau melakukan itu, aku tak bisa mengatakannya. Karena orang-orang yang kau sayangi sudah mati, dan akulah yang membunuh mereka!”
Dipenuhi dengan amarah dan juga rasa emosi tingkat tinggi, Mathilda langsung saja melancarkan duri-duri ganas itu menyerang Max dengan membabi buta. Max hanya berbekal sebuah panah cahaya yang melayang bersama dirinya menghindar semua duri itu dengan lincah dan juga cekatan. Duri-duri itu sangat berbahaya bahkan Max bisa melihat kalau itu mampu meleburkan apa pun yang menancap dan terkena kepadanya. Max benar-benar tak boleh terkena salah satu dari duri itu yang mungkin akan meniadakannya secara instan dan juga keji.
Tapi tentu saja Max tidak memiliki stamina tanpa habis, ada waktunya juga dia berakhir menjadi sangat lelah bahkan kakinya tak mampu ia gerakkan atau angkat lagi. Dia pun terpaksa hanya mengandalkan panahnya itu yang membantunya untuk mengelak dan juga menebas semua duri yang ada akan menusuk ke dalam dirinya. Dan pada akhirnya, Max tertusuk beberapa duri kegelapan milik Mathilda itu. Dia pun kembali terjatuh karena menerima rasa sakit yang amat sangat besar di punggungnya. Panah cahaya milik Max ikut terjatuh dan berada di sampingnya, menemaninya sampai dia mungkin tak sadarkan diri. Max bisa merasakan kalau duri itu akan melebur dan melelehkan tubuhnya sekarang.
“Jangan mengira kalau serangan seperti itu akan mampu membunuhmu wahai pemburu! Aku tahu kalau kau masih belum kalah dalam bentukmu yang seperti itu. Maka dari itu akan mencabik-cabik kulit dan juga tubuhmu dengan sangat sadis sekarang juga!” Dengan bentuk werewolf besarnya, Mathilda tidak terlihat segan-segan untuk terus saja menyiksa dan membuat Max menikmati rasa sakit yang dia derita sekarang. Mathilda langsung saja berjalan dan berlari ke arah Max sambil menumbuhkan cakar di tangan dan juga kakinya yang mengerikan. Max tak bisa berbuat apa-apa soal itu, bahkan pikirannya benar-benar buntu memikirkan apa yang mungkin terjadi kepada dirinya.
Namun entah secara tiba-tiba ataupun dengan tanpa sengaja, Mathilda tidak terlihat langsung menyerang Max dengan kemampuan yang ia miliki. Ada sesuatu yang ditahan oleh Mathilda membuatnya tertahan dan tidak menyerang Max. Max bingung, apakah mungkin kesunyian yang dia rasakan sekarang adalah suatu sapaan atau bisikan dari akhirat dan dia berada di ujung tanduk antara kehidupan dan kematian sekarang? Tapi kemudian Mathilda berteriak dengan sangat histeris seperti tak percaya dengan apa yang ia lihat di mata kepalanya sendiri sekarang. “Tidak, tidak mungkin. Bagaimana ini semua bisa terjadi! panah-panah itu, Apa mereka sebenarnya!”
Max mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat untuk dilakukan. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan Mathilda sampai berteriak sekencang itu. Dia menoleh ke belakangnya, dan melihat kalau tepat di depan Max ada puluhan, ratusan, atau mungkin ribuan anak panah yang melayang menghadapkan muncung dan juga mata panah mereka ke arah Mathilda. Wanita itu kemudian mencoba melangkah pelan-pelan, melihat apakah mungkin anak-anak panah itu sedang menandainya sebagai sebuah target. Dan benar saja, anak panah itu mengikuti Mathilda kemanapun ia pergi melangkah. Membuatnya benar-benar tak memiliki celah untuk kabur ataupun lari dari target yang sedang dipindai itu. “Ini hanya terjadi di alam mimpi. Tidak ada sesuatu di sini yang nyata atau benar-benar terjadi!”
Mathilda mengeluarkan asap-asap kegelapannya, mencoba untuk menyelimuti setiap dari panah itu dan membuatnya tak mengincar Mathilda lagi di sana. Namun sayang sekali, hal itu tidak membuat Mathilda menjadi semakin aman dan juga semakin tentram, asap-asap kegelapan itu tidak berhasil menyelimuti setiap anak panah itu karena saat asap itu mencoba menyelimutinya, asap-asap itu terburai dan hancur berantakan di sana. Kekuatan yang dimiliki Mathilda benar-benar tak berguna di hadapan semua panah itu yang mengincarnya. Tak kehabisan akal, Mathilda langsung saja melompat dan mencoba untuk mengambil atau merusak setiap panah itu dengan taring dan juga cakar di dalam tubuh Werewolfnya yang sekarang. “Jika sihir tak mampu menghalau mereka, maka taring dan juga tenaga akan mampu untuk menghancurkannya!”
Mathilda melompat, namun seketika, panah itu terbang dan melaju masuk mengenai tubuh Mathilda dalam wujud werewolfnya itu. Mathilda tak bisa menghindarinya karena dia tidak bisa mengontrol dirinya saat berada di udara. Panah-panah itu melesat bak sebuah cahaya yang masuk ke dalam ruangan dan tempat gelap, membuat siapa pun yang berada di sana tentu tak bisa berkutik ataupun kabur.
Berdiri terperangah melihat apa yang sedang ia saksikan sekarang ini. Max tak paham apa yang sedang terjadi di dalam tempat ini. Dia melihat tubuh wanita itu yang hancur lebur bahkan tak tersisa lagi tanda-tanda kalau dia masih hidup. Max langsung saja bergumam kepada dirinya sendiri. “Sesungguhnya, apa ini semua?”